Joanna tampak menganggukkan kepalanya setelah mendengar penjelasanku. tampak dia sangat mengerti dengan yang barusan aku bicarakan dengannya.
"Jadi kapan kita akan memulainya?" tanya Joanna.
Jujur aku sendiri juga belum tahu kapan harus memulainya. Jika bisa aku ingin segera memulainya agar waktu yang digunakan tidak terlalu banyak.
“Bagaimana kalau Senin depan?” tanyaku balik meminta saran.
"Boleh, tapi kalau begitu hari minggu nanti kita harus cari referensi dari matahari buatan ini, sekaligus mencari alat serta cara kerjanya.”
“Kalau begitu minggu nanti...”
“Iya, untuk sementara waktu kita tidak akan bisa pergi kencan dulu.”
Aku menghela nafas panjang. Aku sudah tahu kalau ini akan terjadi suatu saat nanti. Inilah kenapa aku sedikit ragu untuk menerima proyek ini.
“Kalau begitu Sabtu besok kita janjian ketemu di Perpustakaan Kota, bagaimana?” Aku menambah usulan lagi.
“Sabtu?”
“Iya Sabtu. Kamu yakin bakal bisa nemuin semua yang kamu sebut tadi dalam sehari penuh? Setidaknya manfaatkan waktu akhir pekan kita sebaik mungkin.”
Joanna hanya terdiam, lalu mengangguk kecil. Sepertinya dia setuju dengan usulanku barusan. Tidak ada alasan baginya untuk menolak usulanku. Bagaimana pun juga, tidak baik hanya mengandalkan satu hari penuh untuk mencari referensi.
“Sekarang sudah hari Kamis ya, berarti dua hari lagi....”
“Iya, waktu yang singkat ya.”
Aku meraih gelas berisi es teh yang ada di depanku, lalu menyedot sedotan yang ada di sana. Dua hari ya, seolah olah ingin sekali aku melewati garis waktu dan langsung loncat melewati hari Jumat begitu saja.
“Ya sudah, jam istirahat juga sudah mau selesai. Lebih baik kita segera masuk ke kelas selanjutnya.” Joanna pun beranjak dari tempat duduknya.
Aku hanya menyetujuinya dan mengikuti Joanna dari belakang. Sembari berjalan aku terus mengutak-atik layar ponselku, memeriksa sekali lagi bentukan matahari buatan yang cocok untuk dibangun di universitas ini.
“Kurasa memang seharinya berbentuk seperti donat ya,” gumam Joanna tiiba-tiba yang membuatku terkejut.
“Kenapa terdiam begitu? Memangnya kamu kira aku tidak mencarinya juga selama aku di rumah semalam?”
Itu sudah pasti dilakukan juga oleh Joanna, tapi bukan itu yang membuatku terkejut. Kebetulan ucapannya yang sama dengan yang sedang aku cari di ponselku itulah yang membuatku terkejut.
“Tidak apa-apa. Menurut kamu bagusnya kita bangun di mana?” tanyaku mengalihkan topik pembicaraan.
“Kalau melihat yang dibuat universitas yang ada di luar negri, seharusnya kita membuat satu ruangan khusus tersendiri. Tapi karena kita tidak mempunyai waktu untuk itu, mungkin kita bisa menggunakan aula atau laboratorium. Pak Albert bilang sudah bicara dengan rektor, kan, seharusnya jika kita minta salah satu dari ruangan itu tidak ada masalah.”
Aku hanya mengangguk mendengarkan penjelasan Joanna. Seperti biasa, dia selalu selangkah di depanku dalam memikirkan hal seperti ini.
“Kalau begitu sekalian saja kita minta Pak Albert untuk memberikan salah satu dari ruangan itu sekarang. Bukankah lebih cepat lebih baik,” timpalku.
“Kalau kamu maunya di mana?” Joanna berbalik menanyaiku.
“Kalau aku inginnya sih di laboratorium, terutama laboratorium fisika yang ada di gedung utama. Di sana cukup luas dan alatnya cukup lengkap. Jadi bisa jadi tempat yang cocok.”
“Aku juga sependapat. Kalau gitu setelah pelajaran aku yang akan bicara dengan Pak Albert tentang ruangan yang akan kita pakai untuk matahari buatannya.”
Rasanya seperti pekerjaan sedang diambil alih oleh seseorang. Tapi menurutku itu bagus, setidaknya aku mendapat bantuan di bagian yang tidak ingin aku lakukan.
Joanna memang selalu seperti ini. Dia sudah tahu apa yang ingin aku lakukan dan yang tidak. Dia sudah terbiasa mengambil alih pekerjaan yang tidak ingin aku lakukan, seperti meminta izin atas suatu hak yang memang bisa kami dapatkan. Bagiku Joanna sangat bisa diandalkan untuk saat saat seperti ini.
Itulah kenapa Joanna selalu menjadi partner permanenku saat mengikuti lomba fisika saat masuk di bangku sekolah dulu. Tindakannya sangat membantu sehingga aku tidak perlu pusing mengurusi sesuatu yang berada di luar jangkauanku.
Kami akhirnya sampai di kelas. Tidak ada yang spesial hingga kelas berakhir. Sesuai ucapan Joanna sebelumnya, dia langsung pergi mencari Pak Albert untuk meminta izin penggunaan ruangan yang sudah kami bicarakan sebelumnya.
Dengan begini satu masalah sudah selesai. Tinggal mencari alat dan bahan serta bagaimana cara kerja alat itu nantinya. Mungkin nanti aku yang akan membuat proposal untuk alat ini. Tidak bagus jika mengandalkan Joanna untuk urusan dokumen seperti ini. Aku juga harus berbuat sesuatu.
***
Hari Sabtu pun tiba. Seusai janji kita sebelumnya, kami akan bertemu di perpustakaan kota. Kami berjanji akan bertemu di pintu depan perpustakaan sekitar pukul 10 pagi.
Aku sudah datang sejak pukul 9:45, 15 menit lebih cepat dari waktu yang dijanjikan. Aku menunggu sambil tetap mencari referensi dari ponsel tentang matahari buatan.
Tak berselang lama, 10 menit setelah aku datang, Joanna sudah terlihat tak jauh dari tempatku berdiri.
Joanna tampak sangat cantik dengan setelan gaun panjang sampai ke bawah lutut, ditambah dengan rambut panjang yang dibiarkan tergerai menambah nilai kecantikan yang ada pada dirinya.
“Kamu sudah menunggu lama?” tanya Joanna begitu sudah sampai di hadapanku.
“Tidak juga. Mau langsung masuk?”
“Iya. Di luar panas. Setidaknya aku ingin merasakan sejuknya perpustakan ketimbang di luar.”
Kami berdua pun masuk ke dalam. Sesuai ekspetasi kami, di dalam rasanya sangat sejuk. Kami segera mencari meja yang kosong dan menaruh barang barang kami di atas meja. Kami pun dengan cepat langsung berpencar mencari buku yang kami rasa sangat berhubungan dengan yang akan kami kerjakan.
Hanya butuh waktu 10 menit bagi kami agar bisa menemukan buku yang kami cari. Aku mendapatkan 3 buku yang saling berhubungan, sementara Joanna mendapatkan 5 buku, 2 buku lebih banyak dari punyaku.
Kami pun tanpa bersuara, langsung membaca buku yang sudah kami ambil. Aku yang sudah mulai asik dengan bacaanku langsung mengambil buku tulis yang sudah aku siapkan sebelumnya dari dalam tas. Aku mencatat beberapa hal yang menurutku penting.
Aku tidak tahu dengan Joanna, tapi jika aku tebak, dia pasti melakukan hal yang sama dengan yang aku lakukan.
Cukup lama kami berada di dalam perpustakaan. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang. Aku melirik ke arah Joanna yang juga tak kalah sibuknya dengan diriku.
“Joanna, mau makan sekarang? Sudah jam 12 nih,” kataku memecahkan konsentrasi Joanna.
"Oh ya? Ya sudah kalau begitu. Aku mau taruh buku ini ke raknya dulu.”
Aku pun juga mengikuti langkah Joanna, ikut menaruh buku punyaku sendiri ke tempatnya semula. Kami pun mengambil tas yang kami tinggalkan tadi di atas meja lalu berjalan meninggalkan perpustakaan kota.
Di dekat perpustakaan ada banyak sekali yang berjualan makanan, jadi tidak terlalu sulit bagi kami untuk mencari tempat yang berjualan makanan.
Aku hanya mengikuti kemana langkah kaki Joanna, memasrahkan kepada Joanna apa yang akan kami makan kali ini. Langkah kakinya tiba-tiba berhenti di sebuah warung makan yang terlihat cukup familiar untukku.
"Kita makan di sini ya, sudah lama aku ingin makan di sini.”
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Kami pun masuk dan segera duduk di tempat yang terlihat kosong. Sebenarnya tempat ini tidak berbeda dengan tempat makan yang lainnya. Tapi entah kenapa Joanna ingin seklai makan di sini. Tidak apa-apa, selama dia ingin di sini itu tidak apa-apa, daripada aku jadi korban kata “terserah” darinya.
Kami pun memesan menu sesuai selera kami masing-masing. Aku dan Joanna pun saling bertukar cacatan yang sudah kami buat dari buku yang kami baca tadi. Rata-rata yang kami catat tidak jauh berbeda. Intinya cara kerja dan alatnya rata-rata hampir sama semua.
Tak sampai 20 menit, kami sudah selesai dengan makanan kami dan langsung kembali menuju perpustakaan. Sejak hari itu, sampai hari Senin tiba pun topik pembicaraan kami tidak ada yang berubah selain membahas tentang proyek yang akan kami kerjakan.
***
Senin akhirnya tiba. Aku hanya duduk dengan tenang di kantin sampai jam pertama di mulai. Tidak banyak yang bisa aku lakukan saat ini sampai Joanna akhirnya tiba dan ikut menunggu denganku di sini.
Semua sudah kami persiapkan. Kemarin kami juga sudah berdiskusi perilah peralatan yang kami butuhkan. bahkan hanya untuk itu kami juga ikut menyertakan Pak Albert dalam diskusi kami. Tentu saja kami lakukan melalui telepon.
Sisanya tinggal proposal saja. Meskipun aku belum menyelesaikan keseluruhannya, tapi aku yakin bisa menyelesaikan saat jam istirahat nanti.
Tak lama menunggu, Joanna kini sudah bergabung denganku dalam renungan yang tidak berisi. Hanya termenung menatap pintu masuk kampus yang sedari tadi sudah dilalui banyak orang.
"Jadi bagaimana selanjutnya dengan nasib kita, Joanna?” tanyaku memecah suasana yang cukup hening diantara kita bedua.
“Tinggal menunggu barang barang itu sampai ke rumahmu dan kamu membawanya ke kampus,” jawab Joanna singkat.
“Iya ya. Berapa hari lagi ya sampai barang barang aneh itu sampai di rumahku?”
“3 hari lagi? Seingatku prosesnya kemarin 4 hari sudah sama pengiriman."
"Begitu ya,” gumamku pelan.
Ini sedikit melonggar dari yang seharusnya kita rencanakan. Kita berdua sepakat untuk mengerjakannya hari ini, tapi nyatanya alatnya baru dibeli kemarin dan baru datang 3 hari lagi. Ditambah datang secara parsial, menambah lama durasi kami berdua menunggu alat itu.
Aku menghela nafas panjang, mengeluarkan beban berat membayangkan harus membawa barang yang cukup besar dari rumah ke kampusku yang sekarang.
“Berat juga ya harus menunggu selama itu. Apalagi pesannya secara online, pasti datangnya secara parsial tu.”
Aku terkejut bukan main saat ada suara tepat di sampingku. Aku sontak menoleh sambil setengah berdiri, berjaga jarak takut jika bukan manusia yang barusan berbicara.
“Kamu kenapa, Catra? Seperti mendengar hantu berbicara saja,” ucap sosok itu sekali lagi.
Ternyata suara itu berasal dari Pak Albert. Beliau tampak sudah duduk sangat lama di sebelahku, buktinya beliau duduk dengan menyanggah tubuhnya dengan tangan yang bersandar pada lutut kaki. Rokok pada tangannya juga sudah hilang setengah batang. Pantas saja sesaat Joanna datang aku mencium aroma rokok yang cukup menyengat.
Joanna juga ikut melompat karena suara yang kami dengar dan juga dengan aktifitasku yang secara tiba-tiba.
“Jangan bilang kalian tidak menyadari kehadiran saya sedari tadi.”
Aku dan Joanna pun serentak menggelengkan kepala kami berdua. Memang benar, sedari tadi aku pun tidak menyadari kalau Pak Albert sudah duduk di sebelahku. Aura kehadirannya seperti samar sekali sampai aku tidak menyadarinya.
Bel tiba-tiba berbunyi, membuatku sontak mengarahkan kepalaku ke sumber suara yang terpasang di sudut atas kantin. Itu sebagai tanda bagi mahasiswa yang mempunyai jam pelajaran pagi untuk segera masuk ke kelas.
“Ah sudah masuk ternyata. Kalau begitu saya juga ikut undur diri. Kalian ada jam pagi kan sekarang, kenapa tidak ke kelas?”
Kami hanya temangu mendengar ucapan Pak Albert. Kami lalu mengangguk perlahan sambil memperhatikan kepergian dosen kami yang satu itu.
“Sejak kapan dia ada di situ ya,” gumamku sambil tetap melihat Pak Albert yang pergi menjauh.
“Aku juga tidak tahu.” Joanna membalas gumamanku.
Dengan penuh keheranan, kami pun mengambil tas kami masing-masing dan masuk ke dalam kelas yang akan kami masuki.