Aku terpaku di dalam kamarku sendirian. Jam kuliah sudah berakhir sejak 4 jam yang lalu, sekitar pukul tiga sore, tapi pikiranku masih melayang-layang membayangi ucapan dari Pak Albert.
Sayang sekali ucapan Pak Albert belum sampai pada intinya dan mendadak seluruh murid datang masuk ke ruangan dan pelajaran pun di mulai. Dengan sangat terpaksa pembicaraan harus ditunda hingga hari esok.
aku tak bisa menunggu hingga besok, sebisa mungkin aku harus bisa memahami ucapan Pak Albert yang satu ini sebelum pembicaraan mengarah ke arah yang lebih rumit lagi.
Aku memandangi rak buku yang terletak di sisi lain dari kamarku. Rak buku itu terdapat 2 lantai, bagian atas berisi komik yang sudah lama aku koleksi. Sementara bagian bawahnya berisi ensiklopedia dan beberapa buku tentang ilmu pengetahuan lainnya. Buku yang b erada di bagian bawah itu biasanya aku gunakan saat akan menghadapi lomba fisika dulu.
Aku melirik pada salah satu buku yang cukup menarik perhatianku saat ini. Buku yang berudul “Bagaimana Cara Tata Surya Kita Bekerja?” terpampang cukup jelas dari tempatku duduk karena ukuranya yang tidak terlalu kecil.
Aku mendekati rak itu perlahan. Mataku tetap tertuju dengan buku itu memastikan agar buku itu tidak sirna dari pandanganku, atau setidaknya menjaganya agar tidak bergerak dan lari dari pandanganku.
Aku kembali memastikan judulnya setelah aku tepat berada di depan buku itu. Dengan judul yang sama, aku menarik buku itu dan membukanya secara perlahan. Takut jika sampul buku dan halaman depan sudah menempel dan membuatnya robek sehingga tidak mudah lagi bagiku untuk membacanya.
Aku duduk di pinggiran kasur, memfokuskan penglihatanku hanya untuk buku yang sepertinya memuat informasi yang aku butuhkan untuk matahari buatan yang baru saja disinggung Pak Albert.
Tak ada kalimat yang terlewat dari pengawasanku. Kata demi kata, kalimat demi kalimat aku baca dengan seksama agar bisa segera mendapat intinya tanpa harus membaca ulang.
Sudah cukup lama aku duduk, diam tak bergerak sehingga perlahan tapi pasti membuat kasurku semakin melembek dan kehilangan daya empuknya di bagian yang aku duduki. Tapi itu tidak masalah, karena tak berselang lama aku sudah menemukan apa yang sedari tadi aku cari.
Senyumanku memancar keluar, memberi syarat bahwa aku sudah menemukan apa yang aku cari. Dengan begini aku tidak perlu khawatir lagi jika aku tidak mengerti dengan yang akan dijelaskan Pak Albert besok.
“Akhirnya. Kalau begini semua akan jadi mudah,” gumamku dengan suara sedang. Jika sudah begini, aku sudah selangkah lebih depan dan bisa menerima apapun yang dikatakan Pak Albert.
Aku meletakkan buku itu di meja tak jauh dari tempatku duduk sebelumnya. Kuletakkan di sana untuk jaga-jaga jika aku membutuhkannya suatu saat nanti, memudahkanku dalam pencarian.
Aku memutuskan untuk keluar kamar. Rasanya suntuk sekali jika harus berlama-lama di dalam kamar dalam waktunya yang lama.
***
Sekarang masih pukul 7 tepat, masih terlalu pagi untuk mahasiswa di kampusku sudah sampai di kampus, karena pelajaran yang paling pagi sekalipun baru akan mulai pada pukul 8.
Aku datang lebih awal bukan tidak alasan, melainkan untuk menemui seseorang yang memang sudah sangat sering datang sepagi ini, Pak Albert. Memangnya siapa lagi yang mau aku temui selain beliau?
Pak Albert memang selalu datang lebih pagi dari dosen lainnya. Biasanya jika tidak ada di kantin, maka beliau pasti ada di dalam ruangannya.
Setelah memakirkan motor aku langsung berjalan menuju kantornya dengan memutar sedikit melalui kantin. Aku sengaja memilih rute itu, jaga-jaga jika ternyata Pak Albert memang ada di kantin.
Tapi sepertinya perkiraanku di awal sudah benar. Pak Albert tidak ada di kantin, yang itu artinya tersisa satu tempat tempat beliau bersarang jika memang sudah datang sepagi ini.
Tak perlu waktu lama, aku sudah sampai di depan pintu ruangan Pak Albert. Ada sedikit rasa cemas jika saja ternyata Pak Albert belum datang ke kampus. Dengan sangat hati-hati aku mengetuk pintu sebanyak tiga kali.
Tidak butuh waktu lama, terdengar suara yang menyahut dan memintaku untuk masuk ke dalam. itu adalah suara Pak Albert. Dengan wajah yang semringah aku membuka pintu dan menemukan Pak Albert yang sedang sibuk dengan koran hariannya.
“Selamat pagi, Pak,” sapaku begitu memasuki ruangan beliau.
“Selamat pagi. Kamu Catra ya?” korannya sedikit turun, memperlihatkan sorot matanya yang sedang memandangiku yang baru saja masuk.
“Iya, Pak. Saya datang untuk melanjutkan pembicaraan yang kemarin.” Aku langsung melontarkan maksud dan niatanku datang kemari.
Meskipun sebagian besar wajahnya tertutup oleh koran, aku tahu kalau beliau tersenyum setelah mendengar jawabanku. Beliau langsung melipat korannya dan mempersilahkan aku duduk.
"Biar bapak tebak, kamu pasti sudah mencari tauh lebih dulu apa itu matahari buatan.”
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum ke arah beliau. “Sesuai tebakan, Bapak, saya sudah mencari tahu lebih dulu sampi batas yang harus saya ketahui.”
“Berarti kamu tahu apa yang sebenarnya ingin saya lakukan dengan matahari buatan ini kan?”
“Tentu saja. Tapi, Pak, bukankah itu terlalu canggih untuk kampus kita?”
Pak Albert tampak diam sejenak setelah mendengar ucapan sekilasku barusan. Sepertinya ada sedikit ketidaksetujuan beliau dalam opini yang aku lontarkan.
“Tapi ini tahun 2025, sudah seharusnya teknologi seperti ini sudah tercipta. Kampus bertaraf internasional di luar negeri sudah lebih dahulu menciptakannya sebagai prototype dari ukuran barang yang asli. Sudah saatnya kita memulai bukan hanya sekadar prototype, tapi juga menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.”
Aku hanya diam mendengar opini beliau yang terdengar lebih meyakinkan. Memang ada benarnya, tapi aku sedikit ragu akan hal itu. Karena teknologi ini selalu mundur 30 tahun dari yang diharuskan.
“Bagaimana? Kamu setuju dengan saya?”
Aku ragu menjawab apakah aku setuju atau tidak. Jauh di dalam lubuk hatiku ingin berkata tidak, tapi di sisi lain ada juga yang mengatakan agar aku mencobanya daripada tidak sama sekali.
Aku sedikit terdiam dan tidak memberikan jawaban kepada Pak Albert. Sesekali aku menatap mata dosenku lalu kembali memalingkan perhatian untuk menentukan jawaban.
"Saya setuju, Pak. Rasanya memang sudah seharusnya teknologi ini dikembangkan lebih lanjut lagi.”
Aku memilih untuk mencobanya. Jika aku menolak sekarang, maka tidak akan ada kesempatan lain lagi jika ingin mencobanya di lain waktu.
“Bagus kalau begitu,” ucap beliau singkat.
Sekarang di dalam kepalaku yang terbayang hanya soal biaya pembuatannya. Yang dibuat di kampus di luar negeri pasti memakan biaya yang tidak sedikit, begitu pun di sini. Masalahnya adalah darimana kita akan mendapatkan uang sebanyak itu.
“Soal biaya tenang saja, bapak sudah membicarakan ini dengan Rektor terlebih dahulu dan beliau setuju dengan ide bapak. Soal biaya sebagian akan dibantu pihak kampus dan sebagian dari bapak. Pembagiannya sebesar 40-60 dengan saya sebagai pemegang terbanyak.”
“bapak serius?”
Aku tidak percaya dengan apa yang barusan aku dengar. Tidak kusangka pihak kampus akan bertindak sejauh itu dengan proyek yang bahkan belum tentu berhasil ini.
“Tidak apa-apa. Lagipula saya sendiri yang berencana untuk membuatnya, memang seharusnya saya yang menerima biaya yang paling besar. Lagipula nantinya alat ini akan menjadi hak milik saya selaku penanggung biaya terbesar.”
Aku sedikit tidak mengerti dengan apa yang dibicarakn Pak Albert barusan. Tapi intinya aku tidak perlu khawatir lagi soal pembiayaan. Ini cukup membantu dalam proses pengerjaan.
“Ada lagi yang ingin kamu bicarakan? Karena kamu sudah mencari tahunya terlebih dahulu seharusnya tidak ada lagi yang harus dibicarakan. Sisanya kamu tinggal mencari alat dan bahan diperlukan.”
Aku hanya tersenyum penuh harapan ke hadapan Pak Albert. sepertinya beliau tahu jalan pikiranku setelah ini.
“Jangan lupa beritahu temanmu yang satu lagi tentang hal ini. Kamu tentu belum memberitahu dia tentang kamu yang datang lebih awal hanya untuk menemui saya, kan?”
Benar juga, hampir saja aku lupa dengan Joanna. Untung saja Pak Albert memberitahuku, jika tidak aku pasti sudah mengerjakan semuanya sendirian.
“Iya, Pak, saya akan beritahu.”
Aku bergegsa keluar dan langsung memeriksa jam pada layar ponselku. Pukul 7:45. Kurang lebih sekitar 30 menit aku berada di dalam sana. Kukira akan berada di dalam lebih lama lagi.
Aku pun bergegas berjalan mencari Joanna. Pada jam segini seharusnya Joanna sudah sampai di kampus, atau setidaknya berada di area parkir.
Aku dengan langkah kakiku yang panjang melesat menuju area parkir. Di sana ada banyak sekali mahasiswa yang baru datang.
Mataku sibuk mencari sosok yang berambut panjang dengan motor matic berwarna biru yang sangat khas. Dengan sekelibat aku berhasil menemukan motor itu, namun tidak dengan pengendaranya.
Aku hanya bisa menghela nafas. Jika begini, sedari tadi aku hanya tinggal menghubungi handphonenya saja.
Aku pun segera berbalik berjalan menuju kelas, sambil mengutak-atik layar ponselku untuk menghubungi Joanna.