Terbongkar

1259 Words
Bagian 2 Terbongkar   Tante Vana berkacak pinggang saat aku turun dari mobil. Wanita yang seusia dengan ibuku itu dalam posisi siap menyerang. Dia selalu begitu kepadaku. Sehari saja tidak mengajak ribut, mungkin bisa keluar cicak dari mulutnya. Hobi sekali mengajakku debat. “Pagi-pagi sudah keluar, baru pulang malam. Mau jadi apa kamu?!” Dari rumah Avika, aku bukan mengarah pulang. Aku bawa mobil tanpa tujuan. Lelah itulah yang kurasakan malam ini. Aku melewati Tante Vana yang masih mengomel tak jelas. Dia pun ikut ke dalam lalu aku menutup pintu di belakangnya. “Masih tidak mau jujur hah?! Kamu kira saya tidak tahu apa yang kamu lakukan tadi malam?” What the ...  Kenapa dia enggak tidur sih? “Beraninya kamu bawa laki-laki bermalam di rumah. Anak kecil juga tahu, apa yang kalian lakukan berdua!” “Lalu aku harus lapor sama Tante saat aku akan tidur dengan pacarku?!” Plaaak ... Tangan kasar bercincin emas di jari manisnya menempel kuat di wajahku. Cincin kuning itu jatuh tepat di tulang pipiku. Wajahku rasa terbakar,  panas, dan perih. Aku menatapnya tidak takut. “Jalang!” Wanita itu memelototiku. Matanya yang besar terlihat sepeti ban mobil sedang menggelinding hendak menabrakku. “Punyo lubang ciek, kau ngangoan kaingkin-kamari. (Punya lubang satu, kamu ngangakan kesana-kemari.) Iko ko kau nan sabananyo, samo kumuahnyo jo sarok. (Ini nih dirimu yang asli, sama kotornya dengan sampah.) Lai tau kau, sarok-sarok masyarakaik takah kau ko, sapatuik e lanyok dalam tanah. (Asal kau tahu, sampah masyarakat sepertimu seharusnya lenyap ditelan tanah.) Memalukan keluarga.” Tante menyerangku dengan emosinya yang meletup-letup, “A gunoe kau baraja agamo sajak ketek kalau malonte takah iko nan kau pabuek? (Apa gunanya kamu belajar mengaji sejak kecil kalau akhirnya melonte seperti ini yang kau lakukan?) Yo takah ko anak nan indak ado urang gaek, maraso bebas kau yeh. (Anak yang tidak punya orang tua, memang menganggap hidupnya bebas.) Indak baradaik, indak tahu nan ma nan bana jo nan salah lay doh. (Tidak tahu lagi mana yang benar mana yang salah.)” Aku mendelik mendengar dia membawa orang tuaku. Aku sudah lupa bagaimana rupa mereka. Tepat saat itu, seorang lelaki yang menuruni keindahan wajah tante judes ini datang menengahi.  “Sudahlah, Mama. Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Jangan dihakimi, berikan dia waktu untuk merenungi kesalahannya. Dia akan sadar nanti, Mama.” Ia berkata membujuk. Terima kasih kepada Melo yang membuka suara. Wanita itu memperbaiki daster yang ia pakai. Daster lusuhnya berkibar saat dia meninggalkan rumahku bersama Melo. Beberapa waktu kemudian, Melo kembali masuk ke rumah. “Ada yang ingin kamu luahkan? Punya masalah berat? Mengadulah kepada Damelo.” Kulempar kemeja bekas yang baru kubuka kepadanya. “Najis, bau banget ini baju cewek. Sudah enggak mandi berapa lama kamu, Vifey?!” Mulut Melo bener-bener minta dipelintir. “Kalau dia manggil kamu Vofey, ya, bukan Vifey. Lovey Dofey. Sepertinya itu karena kalian sudah sering berbagi rahasia.” Dia tertawa. “Woaah, kamu enggak pernah cerita soal ini, Fey!” Aku tidak tahan dengan mulut comberannya. Beneran, dia minta dipelintir. “Setaaan!! Perih banget bibir gue! Kuku lo panjang gitu, Fey. Main cubit bibir seksi gue sembarangan. Mending lu jepit pakai bibir aja daripada jari plus kukunya.” “Amit-amit.” Aku ke kamar dan mengunci dari dalam. Melo berteriak-teriak dari luar. “Kalau sudah putus, bilang ya! Damelo menunggu kamu dengan tangan terbuka. Walaupun bukan aku yang pertama untukmu, aku akan menjadikan kamu yang pertama, Vifey!” “Adek sepupu s***p! Keluar sana!” Aku balas berteriak dari dalam kamar. Melo tertawa. “Tapi ... Kami emang udah putus! Yang semalam itu adalah pelukan perpisahan!” Melo harus tahu status terbaruku karena dari dulu dia selalu bercanda tentang putus dan menerima dia. “Fey! Buka pintunya! Fey!” Melo menggedor-gedor pintu. “Jangan panggil aku dengan sebutan itu, Damelo! Jijik tahu!” “Memangnya kenapa? Kamu bolehin cinel-cinel itu panggil kamu Vofey! Kedengarannya memang manis kok, Fey. Buka pintunya dong, Fey! Beneran udah putus, ‘kan? Kamu sekarang harus terima aku gantiin posisi cinel-cinel itu. Aku daftar dari dulu loh.” “Mimpi aja sana, Melo!!” “Tiap malam, Fey! Aku mimpiin kamu setiap malam. Mama saksinya! Mama enggak akan marah-marah kalau aku enggak ngigauin nama kamu pas tidur.” Aku tak ingin meladeni keisengan Melo. Didiami, dia pasti pergi. Lebih baik aku mandi dan salat seperti yang disuruh Avika. Setelah melakukan ritual pribadi, aku membuka pintu kamar pelan-pelan takut Melo masih ada. Setelah yakin dia pulang, aku mengunci pintu. “Huuuft ....” Apa yang dikatakan wanita itu memang benar. Aku memang jalang. Aku kotor. Aku tidak suci lagi. Aku tidur dengan mantan pacarku. Dan lelaki berengsek itu akan menikah besok.   ***   “Fey ... Fey ... Fey!” Uuugh ... Damelo! Damn, lo! “Mau ke mana, Fey? Damelo ikut, ya!” Secepat kilat dia telah duduk di sampingku. Dia lantas memasang seat belt dan tersenyum manja. Ya ampun, ini anak! “Turun enggak?” Melo pura-pura tidak dengar. Ya ampun, aku harus menyimpan stok sabar banyak-banyak kalau berhadapan dengan anak ini. “Fey cantik banget. Melo makin suka.” Biarkan saja dia memanggiku Fey. Toh, namaku Femitha. Jangan harap dia mau memanggilku kakak! Kalau sudah kusinggung tentang panggilan kesopanan itu, maka dia akan jawab, “Enggak ada suami yang panggil kakak pada istrinya.” Ya sudahlah! “Jangan bikin ulah ya, Lo. Awas kalau kamu macem-macem, aku tinggal di tengah jalan.” “Memangnya Fey mau ke mana?” Kuabaikan lagi dia. Lebih baik aku fokus mengemudi. Kota Padang, aku datang lagi. Kami tiba di kota tempatku kuliah dulu. “Oh pesta nikahannya cinel-cinel itu, ya?” Melo mencari kesempatan dengan menempelkan wajahnya di telingaku. Satu dorongan membuatnya terpelanting ke belakang. “Anel.” “Iya, cinel-cinel. Imut banget sih namanya. Lakik apaan coba yang imut?! Lihat, Damelo, lelaki sejati!” Aku terus melangkah sambil dikintili sepupu s***p yang berceloteh ria di belakangku. Kini fokusku adalah sepasang pengantin bahagia yang tersenyum dengan lebarnya kepada tetamu yang tiba.  “Fey ... Fey ... Hani!” Bahuku ditepuk. Aah ... Kenapa air mata ini jatuh? Aku ‘kan enggak bisa nangis. Tapi, ini apa? Kurasakan usapan lembut di bawah mata. Jarinya membuang air tak berguna yang dikeluarkan netraku. Penglihatanku memburam. Tapi aku bisa melihat pasangan yang sedang tersenyum sambil menyalami para undangan di bawah pelaminan. “Udah, nangis aja! Kamu bodoh kalau enggak nangis. Tapi lebih bodoh lagi kalau sampai menangis berhari-hari untuk cowok seperti dia.” Untuk kali ini, aku tidak menolak kedekatan fisik dengan Melo. Sepupu yang seringkali mengambil kesempatan dekat-dekat denganku: mencuri ciuman di pipiku, melingkarkan tangan di tubuhku, atau menggendong dan membawaku berlari. Biasanya dia akan mendapat satu tendangan di tulang kering setelah melakukannya. Tapi sekarang aku balas melingkarkan tanganku di pinggangnya, menyurukkan wajahku di dadanya yang  sore ini tetap wangi. Seperti ini yang dia bilang semuanya sudah berubah? Iya, kini aku percaya. Aku bisa membaca perasannya, dia memuja wanita di sebelahnya. Lelaki berengsek itu meniduriku di saat dia yakin untuk menikahi wanita lain. Jadi, inikah alasan Vayola dan Avika sangat membenci Anel? Untung aku memutuskan untuk datang ke pernikahan ini. Kalau tidak, aku mungkin akan menjadi wanita d***u yang menunggu seseorang. Padahal dia jelas tidak akan kembali. Lelaki biadab yang membuatku cinta mati. “Kamu punya sesuatu yang bikin laki-laki bisa lupa diri,” tatap Melo ke bagian depan tubuhku saat pelukan ia urai. “Kurang ajar!” Aku mendorongnya sehingga sepupu s***p itu mundur beberapa kilo—meter. “Enggak sopan!” Damelo kejang-kejang. Tawanya membahana di lobby hotel ini. Aku langsung kabur, takut dikira memelihara orang gila.   ***  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD