Kehilangan

1424 Words
Bagian 3 Kehilangan   “Aduh. Sakit, Fey! Stop! Stop!” Rasa lelah membuat perasaan di dalam sana istirahat sejenak. Awan di langit yang berarak tenang ditemani embusan angin pantai menyeimbangkan pasokan udara di paru-paru. Kuturunkan raket dan mengempaskan tubuh di atas pasir. “Kalau kamu ngamuknya begini terus, aku sarankan mending kamu datangi tuh cinel-cinel terus minta pertanggungjawaban sama dia!” Melo mengikuti posisi dudukku. Kami menghadap ke laut lepas, menikmati embusan angin yang terasa pas membelai kulit. “Dua minggu dan setiap hari yang jadi samsaknya adalah Damelo. Kalau aku yang salah, aku terima mau kamu apain aja. Cuman, Fey, sekarang yang bikin kamu jadi begini bukan aku.” Dia mengelus punggungku. “Sedihnya jangan ditahan-tahan, Vifey.” Matahari mulai tergelincir ke balik laut. Bulatan orange yang menyilaukan itu perlahan lenyap. Waktunya pulang. “Ayo!” Seperti tahu apa yang kupikirkan, Melo mengulurkan tangannya. Melo tidak menuruni sifat menyebalkan mamanya. Setiap Tante Vana marah-marah, Melolah yang menurunkan suhu ibunya. Selain itu, Melo selalu bisa diandalkan. Seperti yang terjadi saat ini, dia menjadi temanku melampiaskan kemarahan,  kesedihan, atau kekecewaan terhadap lelaki itu. Aku tidak ingin membebani Avika dengan keluh kesahku ini. Apalagi Vayola dan Zura. Ini aib. Aku tidak ingin membagi aibku kepada mereka. Untung ada Melo yang mengerti dan tidak pernah menyalahkanku atas apa yang pernah kulakukan. Tapi entahlah di dalam hatinya. Melo berkali-kali memintaku untuk mendatangi dan mendamprat lelaki itu. Melo juga menyarankan—memaksa—ku agar Anel bertanggung jawab. Tapi aku berpikir lagi, aku tidak mau merusak rumah tangga orang. Aku hanya kehilangan keperawanan. Kupikir itu biasa saja. Sepertinya itu sangat hina. Aku tidak hamil, sama seperti  dulu. Tapi kurasa kali ini ... “Fey! Voni! Kamu kenapa?” Melo pun berhenti jalan dan melihat apa yang sedang sepasang mataku perhatikan. “Aaah ... Hehe ... Kayaknya aku dapet deh.” Melo buru-buru membuka kemeja hitamnya lalu melingkarkannya ke pinggangku. Aku menarik ikat rambut kain yang kupakai lalu menggunakannya untuk menyeka darah yang telah mengalir mencapai betis. “Lo ... Kurasa aku sedikit pusing. Hmmm ....” Serangan sakit kepala itu menggempur kepalaku sehingga kakiku tak bertenaga. Satu hal yang masih bisa kutangkap sebelum semuanya menghitam ialah teriakan Melo menyebut namaku. Oh bukan, dia masih setia memanggilku Vifey.   ***   “Haha ... Aku hamil. Ternyata selama dua puluh hari ini ada benda asing dalam perutku. Kenapa aku tidak sadar? Padahal waktu kelilipan, aku tahu ada benda asing masuk mata. Waktu sesuatu nyelip di gigi juga aku tahu. Tapi kenapa aku bisa tak tahu ada sebentuk bayi, ah janin, ah apa ya anak kali ya, dalam perutku? Kenapa aku enggak sadar? Mungkin anakku ngambek, soalnya mamanya enggak tahu kalau dia ada. Makanya dia enggak mau ketemu. Terus, kapan aku bisa lihat anakku, Lo? Kenapa dia perginya cepat banget? Apa aku enggak boleh melihat siapa dia? Dia pasti malu kalau sampai punya mama seperti aku.” “Udaah ... Tegar ya, Fey. Hm ... Relakan, ya.” Melo memelukku sangat kuat. Aku masih terisak dalam dekapannya. Rasanya ada yang hilang. Sakitnya lebih dari nyeri yang kurasakan di sekitar pinggang. Bahkan lebih perih bila dibandingkan sakit saat melahirkan. Karena kalau sakit melahirkan, aku pasti bahagia bisa melihat dia hidup. Apa yang kualami sekarang adalah kesakitan yang paling parah selama aku bernapas. Dia menolak hidup bersamaku. Bahkan dia tidak memberitahukan keberadaannya. Aku hina dan dosa. Anakku sendiri tidak ingin ditimang oleh tangan kotor ini. Dia tak mau berbagi dunia bersamaku. Aku kotor, Ya Allah. Ampuni aku. Anakku. Maafkan Mama, Nak. Kucengkeram punggung Melo, tetapi hanya kaus luarnya yang bisa kujangkau. Tubuhnya yang keras tak bisa kuapa-apakan. Jeritanku pun teredam di d**a bidangnya. Tuhan ... Kenapa dia tidak hidup? Kenapa harus pergi? “Allah mungkin memberikan pilihan kepadamu, Fey. Kamu dipilihkan untuk bertemu dia nanti di sana, bukan di dunia ini. Kamu bisa bertemu dia nanti. Dia pasti ingin kamu bahagia dan ... dia ingin kamu melupakan masa lalu. Kalau dia ada, maka kamu akan selalu mengingat peristiwa kelam itu.” “Aku enggak akan menyalahkan dia. Aku enggak akan menganggap dia sebagai suatu kesalahan. Asal dia hidup aja, aku akan jadi mama yang baik untuk dia. Aku enggak akan ninggalin dia. Aku akan jaga dia, aku sayangi dia dan cintai dia.” “Allah lebih tahu, Fey. Kamu harus bangkit. Enggak boleh sedih lagi. Kamu mulai semuanya dari awal lagi.” “Aku kotor, Lo. Anel enggak mau aku. Anakku juga tidak. Apa yang bisa kulakukan kalau semua orang menolakku?” “Ssssh ... Ada yang sayang kepada kamu.” Aku terdiam, menunggu jawabannya. Meskipun aku tidak terlalu yakin itu benar atau tidak. “Dia. Allah sayang kamu, Fey.” Tangisku tak bisa kubendung lagi. Apakah Allah mengampuni dosa-dosaku? Aku telah berzina dan aku membunuh anakku sendiri. Apakah ada pintu maaf untukku? Dia mau membukakan pintu taubat?   ***   Pagi saat aku bangun, darah masih keluar dari kewanitaanku. Perutku juga terasa tak baik. Entah kenapa, mungkin karena belum makan sejak kemarin. Kakiku terasa lemah. Aku tidak bisa berdiri lama-lama. Setelah membersihkan diri, aku kembali duduk di pinggiran tempat tidur. Saat diam seperti ini, pikiranku kembali pada anakku yang sudah tiada. Kalau saja, seandainya, aku rajin mengingat periode datang bulan, mungkin aku tahu aku telat. Tidak mungkin aku melakukan aktivitas berat dan sampai kecapaian. Kalau saja aku tahu, aku akan jaga dia supaya aman di dalam sana. Waktu pertama kali melakukannya, aku juga terlambat datang bulan. Kata dokter, itu hanya masalah hormon sehingga aku tidak sampai hamil. Waktu itu aku ragu, apakah aku bisa menjadi ibu di usia muda. Ini juga karena aku yang larut dalam kesedihan. Aku terlalu berambisi untuk menyembuhkan sakit hati dengan memforsir tenaga. Karena yang kulakukan itu, bisa membuatku melupakan rasa sakit ditinggalkan. Aku tidak ingat bahwa ‘cairan itu’ akan mengubah sel dalam rahimku menjadi sebentuk benda. Benda itu jika dibiarkan hidup akan menjadi manusia yang akan menyerupaiku. Sakit ketika dia meninggalkanku tidak sebanding dengan kehilangan satu sosok yang akan memanggilku mama. Aku sudah gagal menjadi wanita. “Fey ....” Ketukan di pintu disertai suara Melo menginterupsi kesedihanku. Sejak kapan Melo menghilangkan nada manja suaranya? “Enggak dikunci, Lo.” Melo muncul dari balik daun pintu. Ia berjalan ke sisiku. Melo telah rapi. Sepertinya dia akan berangkat ke kantor. Kemeja polos biru berlengan panjang tanpa dasi. Celana kain hitam yang lembut dan sepatu pantofel. Dia adalah karyawan bank swasta. Dengan seragamnya, Melo kelihatan dewasa. “Kamu sudah rapi. Mau berangkat?” Melo menatap lama wajahku. Akhirnya aku yang kalah kemudian membuang pandangan ke arah lain. “Jangan sedih lagi dong, Fey. Nanti Damelo enggak konsen kerjanya.” “Hahahaa.” Tawa pertama sejak kehilangan calon anakku membuat Melo menyilangkan tangan di d**a dengan sebal. Baru saja aku memuji kedewasaannya, dia kembali menjadi adik kecilku. “Aku enggak sedih lagi. Kamu kerja yang benar. Jangan sampai salah ngitung duit orang, dibui nanti.” Melo menarik rambutku pelan, tapi tetap membuatku sedikit meringis karena kaget. “Aku akan sukses. Enggak lama, aku ajak kamu ke KUA.” Aku memelototkan mata. “Aku tidak mau diajak ke sana, aku maunya yang jauh. Tempat di mana aku bisa menjadi diriku sendiri.” Melo kelihatan berpikir lalu menyerongkan badan hingga menghadapku. Kurasa dia baru saja mendapat pencerahan ke mana akan membawaku. “Pertama, Damelo ke KUA mengurus izin nikahin Vifey. Terus aku akan bawa kamu honeymoon ke pulau yang hanya ada kita berdua. Kamu bisa jadi dirimu sendiri di sana.” Hiburan seperti ini sangat berguna dalam dukaku. Kata-kata yang Melo ucapkan menjadi obat penghilang sakit di hatiku. Aku menepuk punggung tangannya. Dia berhenti menatapku dan kelihatan salah tingkah. “Makasih selalu ada. Kamu sangat peduli padahal aku selalu nyela dan marahin kamu. Aku yang tidak enak kamu baikin terus karena Tante Vana enggak suka. Kamu jadi melawan kata-kata Tante Vana karena aku.” Kami duduk berdampingan. Aku berbicara tanpa melihat wajahnya. Kurasa Melo itu baiknya keterlaluan. Dia anak yang manja kepada mamanya. Tapi jika berhubungan denganku, Melo tidak peduli untuk membantah mamanya. “Sudah aku ucapkan sering-sering. Masak kamu masih enggak percaya? Damelo itu cinta Vifey.” “Haha ... Iya iya, Melo. Aku percaya. Kayaknya kalau kamu masih duduk di sini, gaji kamu bakal dipotong deh.” Melo terkejut melihat jam di nakas samping tempat tidurku. Dia segera berdiri lalu ragu-ragu untuk beranjak. “Kenapa Melo?” Melo merunduk lalu merangkum wajahku dengan kedua tangan besarnya. Aku terpaksa mendongak heran. Dia menyentuhkan bibirnya di atas keningku. Satu detik Dua detik Tiga detik Empat detik Lima detik Enam detik Jika aku tidak segera bersuara, Melo tidak akan melepaskanku. “Melo cintanya sama Vifey.”   ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD