Bagian 4 Hijrah
Suatu saat nanti kan kau dapatkan
Pujaan hati yang kan kau dambakan
Ini semua tlah Tuhan rencanakan
Jadi jangan bersedih lagi
Mungkin dia memang bukan jodohmu
Dipaksakan nanti sakit hatimu
Pilihan Tuhan pasti jauh terbaik
Jadi jangan bersedih lagi
(Tiffani Kenanga-Jangan Bersedih)
***
Tubuhku mulai sehat pascakeguguran. Sedihku masih ada saat mengingat kelalaian tidak menjaga calon anakku dengan baik. Sampai sekarang aku berandai-andai. Coba waktu itu aku tahu kehamilanku, aku akan menjaganya dengan baik. Pasti senang sekali menjadi ibu. Merasakan kehamilan, melahirkan, menyusui, menimangnya di tanganku.
Ah, Nak ... Mama enggak akan melupakanmu.
Jika ingat dia, air mata ini tak bisa ditahan. Aku menyesal, kenapa bodoh sekali? Mau saja diajak berkubang ke lembah dosa. Apakah aku boleh kembali ke jalan-Nya?
“Kamu bertanya bagaimana taubat dari perzinaan?”
Aku mengangguk untuk meyakinkan Ustazah Aisyah. Dapat alamat rumah ini dari Melo. Ustazah Aisyah ini nasabah sepupu s***p.
“Kamu menyesal? Benar-benar menyesal melakukan perbuatan dosa itu?” Aku mengangguk. Kalau waktu bisa diulang, aku akan menghindari peristiwa memalukan itu.
“Baiklah. Kamu tahu taubatan nasuha?”
“Saya pernah dengar, Ustazah. Boleh saya tahu cara melaksanakannya?”
Ustazah Aisyah menghela napas. “Ada satu syarat lagi yang harus kamu penuhi.”
Harap-harap cemas menunggu jawaban Ustazah Aisyah, aku meneguk ludah pelan.
“Kamu harus melupakan lelaki itu. Hapus semua kontaknya dan usahakan jangan pernah mengingat-ngingatnya lagi. Carilah pasangan yang bukan dia, yang akan membimbing dirimu ke jalan yang benar.”
“Harus melupakan dia?”
Ustazah Aisyah mengangguk sebagai jawaban. “Kamu harus menebus dengan melakukan kebaikan.”
“Kembalilah ke fitrahmu sebagai muslimah. Tegakkan perintah-Nya, jauhi larangan-Nya. Dan istiqomah-lah berhijrah.” Ustazah Aisyah menutup nasihatnya dengan menunjukkan tertib salat yang harus kulakukan.
***
Setelah menceritakan semuanya kepada Ustazah Aisyah, hatiku terasa lebih tenang. Menurut beliau, aku tak perlu meminta maaf kepada Anel dan jangan sampai bertemu dia lagi. Ya Allah, tolong bantu aku melupakannya.
Bismillahirrahmaanirraahiim. Ya Allah, aku berniat untuk kembali kepada-Mu. Ampunilah segala dosa-dosaku. Bimbinglah tanganku dan tuntunlah langkahku untuk selalu berada di jalan yang Engkau ridai. Ya Allah, sesungguhnya kepada Engkaulah aku kembali. Dekap aku dalam hangat Islam-Mu, Ya Rabb.
Pertama kalinya aku menutup rambutku dari hati. Waktu kuliah aku memakai hijab, tapi tidak seterusnya. Kalau keluar dari kelas, maka aku tak peduli mau pakai jilbab atau tidak. Vayola sering ngomel saat kami keluar, aku tidak pakai hijab. Dulu aku jahiliyah banget.
Ya Allah, aku ingin kembali.
“Vifey?!” Dia berdiri di pintu masuk. Terkesima dengan perubahanku. Ini juga berkat dorongannya yang bilang aku harus mengingat Tuhan. Kadang Melo memang bisa bersikap dewasa. Walau jarang banget.
“Kalau Vifey udah kayak begini—” aAku bersedekap. Dia mendekat dan akhirnya berdiri satu meter di hadapanku.
Melo menggaruk kepalanya. “—Nggak bisa peluk dan cium Vifey lagi.”
“Memang biasanya aku bolehin?”
Melo tersenyum manis banget. Dia lucu. Wajahnya enak dilihat, tapi mulai sekarang aku akan membiasakan untuk tidak menatap lama dia. Melo bukan mahramku.
“Damelo akan usahakan menghalalkan Vifey untukku. Damelo ‘kan cintanya—”
Aku tidak ingin Melo memulai dramanya.
“Aku mau ke rumah Avika. Kamu tinggal di dalam atau keluar?”
Melo berjalan di belakangku.
“Melo!” Aku berbalik menghadap Melo dan menunjuk wajahnya. Dia menggaruk-garuk rambut di atas telinga. Tangan satunya lagi memegang pinggang. Aku tahu dia akan melingkarkan tangan yang panjang itu ke tubuhku.
“Aku ingin berubah, Lo. Tolong kamu bantu, ya. Jaga jarak sama aku.”
Wajah Melo membuatku enggak tega. Tapi gimana lagi, aku dan dia memang tak baik berduaan seperti sekarang. Walaupun rasa sayangku kepadanya adalah rasa sayang kepada adik kandung sendiri.
“Damelo akan nikahin Vifey. Aku akan membuat Vifey bahagia.”
Aku menggeleng-gelengkan kepala lalu berjalan meninggalkannya.
***
“Jadi begitu, Von. Bisa gantikan Vika?”
Mengajar ngaji, ah apa aku bisa? Aku ini kotor. Apakah anak-anak itu enggak apa-apa aku ajar?
Kuremas jemari, mungkin inilah salah satu jalan untuk memulai kebaikan. Kuhela napas pelan lalu mengembuskannya perlahan. Kuulangi lagi hingga tiga kali. Bismillah.
“Baiklah, Bang. Aku akan gantiin Vika.”
Vika tersenyum lebar sementara Bang Andy mengangguk-angguk.
“Maaf nih, Von. Kamu nggak kerja? Saya nggak ada niat apa-apa. Kalau kamu udah kerja, kamu datangnya Jumat sampai Minggu aja. Tapi kalau kamu mau, malamnya juga ada, untuk tartil quran.”
“Sekarang ini aku belum kerja, Bang. Tapi kayaknya aku mau cari deh. Kemarin ada wawancara dari perusahaan sih, tapi ada sedikit masalah makanya aku nggak lanjutin prosesnya.”
Setelah Bang Andy meninggalkan kami berdua, Avika mulai bertanya tentang penampilanku.
“Ya aku mutusin hijrah.”
Bang Andy memintaku untuk menggantikan Avika mengajar mengaji. Padahal Avika masih sanggup ke masjid di komplek sebelah itu.
“Kamu seperti orang lain deh.”
Aku hanya tersenyum. Kalau aku boleh jujur, rasanya agak tenang dengan berhijrah. Semoga saja Allah membantuku untuk tetap istiqomah.
“Aku ingin jadi wanita yang baik. Minimal untuk diriku sendiri dulu, setelah itu untuk orang lain, dan mungkin untuk Almarhum Papa di sana.”
“Hhm ... Aku doakan yang terbaik. Kamu belum mau cerita?”
Aku menatapnya ragu. Sahabat sejak kecil tahu saja kalau kita menyembunyikan sesuatu.
Setitik air mata kembali jatuh. Aku buru-buru menghapusnya. “Aku hanya ingin memperbaiki diri supaya ada yang rela memanggilku ibu.”
Avika tak menyahuti jadi aku lanjut bercerita. “Aku tidak mau karena tubuh kotorku ini, Allah enggak mengizinkanku dititipi seorang bayi.
Aku keguguran. Dua puluh hari. Ternyata aku akan jadi mama. Sayangnya anakku tidak mau mengenalku. Dia pergi tanpa bisa kucegah sedikit pun. Bahkan aku baru tahu dia ada bersamaku setelah keguguran.”
Entah sejak kapan, pipiku kembali basah. Setiap mengingat kehilangannya, hatiku dipenuhi penyesalan. Sesak sekali sehingga aku tidak bisa menahan air mata yang terus jatuh.
Avika memelukku. Kukira setelah mengakui dosa kepada Allah, aku tidak akan sedih. Ternyata tetap susah melupakan kelihangan. Mungkin Allah ingin aku berbuat hati-hati sehingga tetap memberikanku penyesalan ini. Agar aku selalu ingat bahwa perbuatan dosaku akan selalu menjadi penyesalan seumur hidup.
***
Aku dan Avika memasuki kafe cokelat yang paling terkenal di kota ini, Istana Cokelat. Kafe ini mengusung suasana vintage. Cocok sekali untuk mengistirahatkan tubuh dan pikiran dari segala aktivitas yang melelahkan. Kami mendapatkan satu set meja di dekat jendela.
Setelah pesanan kami datang, kami menikmati hidangan cokelat dingin masing-masing. Sudah menjadi kebiasaan dari dulu, sewaktu makan kami fokus kepada makanan saja. Tidak ada suara sebelum piring kosong. Cake coklat dengan fla strawberry sudah tinggal jejaknya saja. Semuanya habis dalam beberapa menit.
“Gimana, merasa baikan?” Avika menyilangkan sendok dan garpu dalam posisi telungkup. Aku sudah melakukannya sejak tadi.
“Iya. Sudah bisa ketawa lagi.” Aku pamerkan gigi rapiku kepadanya.
“Rencana kamu gimana ke depan?”
Aku sandarkan punggungku ke sandaran kursi. Belum tahu, kalau dulu impianku adalah menikah. Sekarang tidak lagi. Aku tidak kepikiran masalah itu lagi.
“Pengin kerja.” Aku mengedarkan pandangan ke penjuru kafe dan melihat sesuatu yang janggal. Aku kembali memalingkan pandangan dari sana.
“Vika, apa baiknya aku cari kerja ke luar kota saja?”
Avika membuka mulut ingin menyanggah, tapi enggak jadi karena aku tak ingin membiarkan dia menyela.
“Aku ingin melupakan semua yang pernah terjadi di sini. Aku mau pergi ke tempat baru biar lupa kejadian kelamku.” Tapi kenapa aku enggak yakin dengan pilihan ini? Aku takut nanti akan terjerumus lagi melakukan perbuatan nista itu.
“Gimana sih, kamu sudah janji gantiin aku ke Bang Andy. Masa kamu keluar kota?”
Iya juga. Aku baru saja menerima amanah.
“Aku cari kerja di sini saja. Haah ... Parah, ya. Kuliah lima tahun, nganggur setahun, sekarang waktu kepikiran mau kerja, enggak tahu mau kerja di mana. Umur semakin tua lagi.”
“Gimana kalau kamu aku kenalin ke teman-temannya Bang Andy?”
Aku menegakkan badanku. Kayaknya ada yang enggak enak nih.
“Mungkin dari mereka ada yang sedang membutuhkan tenaga bantuan.” Avika senyumnya aneh.
Kalau dipikir-pikir, kerja dari suatu koneksi boleh juga. Walaupun harus melewati proses seperti biasa, minimal aku dapat info lowongan dari sana. Tidak harus seperti orang-orang di luar sana yang bawa map ke mana-mana, tapi perusahaan yang dilamar tidak butuh karyawan.
“Enak ‘kan kerjanya di rumah, dapat duit masuk lagi.” Avika melanjutkan dan membuatku mulai berprasangka buruk.
“Kerja apa yang cuma di rumah?”
“Jadi istri dan ibu yang baik ...”
“Kurang asem!” Aku teriak sambil berdiri membuat kursi di belakangku terjengkang. Suara gaduh itu mendominasi ruangan.
Orang-orang yang menjadi penonton tak lagi kuhiraukan. “Serius dong, Avika!” Aku menarik kursi tadi dan duduk dengan manis di atasnya.
Enak saja aku disuruh nikah biar enggak kerja.
“Bercanda ah, Voni. Kalau kamu tertarik, boleh juga. Aku nggak apa-apa loh jadi ibu rumah tangga. Biar kita enggak bosan, kita buat perkumpulan ibu-ibu gaul.”
“Mimpi saja selamanya!” Aku berdiri duluan, berniat ingin membayar ke kasir. Dari sudut mataku, kulihat Avika ikut berdiri. Beberapa detik kemudian dia berdiri di sampingku.
“Berubahnya jangan drastis gini lah, Von. Pelan-pelan. Kalau kamunya berubah banget seperti ini, bikin kaget aku tahu.”
Apanya yang berubah drastis? “Perasaan aku biasa aja.” Aku mengendikkan bahu. Mbak-mbak kasir menyerahkan uang kembalian dan langsung kumasukkan ke dalam dompet.
“Kamu sekarang suka ngambek.”
Aku berhenti dan menatap Avika dengan kesal. Cerewet banget sih si Avika kalau lagi hamil. Perasaan ... dia aslinya pendiam. Aku harus bilang Bang Andy untuk nasihatin Avika supaya kembali ke asalnya. Kasihan nanti anak mereka lahir dan besarnya suka nyinyir.
“Eh, Mas ... Teman saya bawa genderang segede ini. Dia nggak bakalan mau gantiin bapak anaknya sama situ.”
Selagi Avika komat-kamit, aku kembali mengedarkan pandangan dan mendapati seseorang yang tadi sempat kulihat masih melihati kami. Ada apa dengan lelaki zaman sekarang?
***