Bab 6. Pendarahan

1031 Words
"Aku tahu kau marah padaku, tapi—" Belum selesai Bryan berbicara, Stella sudah lebih dulu beranjak dari lantai. Fokusnya kini tertuju pada wanita yang memakai piyama tidur berwarna biru itu. Kedua kakinya terlihat gemetaran, ia kehilangan keseimbangannya, lalu tubuhnya terhuyung ke depan. Dengan cepat Bryan menangkap tubuh wanita itu agar tidak jatuh menyentuh lantai. Kemudian ia membantu Stella duduk di atas ranjang. "Kau tidak apa-apa?" Stella mendesis, terdengar tawa getir dari bibirnya. "Pertanyaanmu lucu sekali. Setelah apa yang kau lakukan padaku semalam, lalu kau bertanya kepadaku, 'kau tidak apa-apa'?" "Kau mau aku bicara apa?" tanya Bryan dingin, sambil menarik napasnya dengan kasar. Wanita itu terlihat semakin marah, ia memilih bungkam karena suaranya yang serak dan hampir habis, setelah apa yang terjadi semalam. Rasanya ia ingin berbaring saja di atas tempat tidur, karena rasa sakit ini. "Eh? Aku sudah memakai pakaian? Sepertinya tubuhku tidak lengket. Apa aku sudah mandi? Apa dia memandikanku? Kurang ajar!" geram Stella dalam hatinya, saat ia menyadari kalau pakaiannya sudah diganti dan tubuhnya tidak lengket seperti, ketika terakhir kali ia tidak sadarkan diri. "Bukan aku yang memandikanmu. Aku bukan pria yang menyentuh seorang wanita sembarangan," ketus Bryan dengan tegas. Ia bicara seakan-akan ia tahu apa yang dipikirkan oleh Stella hanya lewat tatapannya. "Apa katamu?" Sontak saja Stella berteriak, usai mendengar kata-kata Bryan yang tidak sesuai dengan tindakan pria itu tadi malam kepadanya. Bukan hanya menyentuh, tapi pria itu juga merenggut miliknya yang paling berharga. "Kau bukan hanya menyentuh, tapi kau mencuri ... kau merenggut milikku yang selama ini ku jaga baik-baik untuk calon suamiku kelak!" Ya, Stella memiliki prinsip yang berbeda dari wanita kebanyakan. Mungkin banyak dari mereka disekitarnya yang sudah menyerahkan kali pertama mereka pada kekasih mereka dan bahkan melakukannya sampai berkali-kali. Akan tetapi, Stella sudah berjanji bahwa ia akan menjaga dirinya sampai ada seseorang yang akan menjadi suaminya nanti dan akan mengambil hak ats dirinya. "Pemikiran yang kuno," kata pria itu sarkas dan kontan saja membuat kedua mata amber milik Stella melebar ke arahnya. "Tidak pantas seorang binatang, menghina ideologi dan prinsip seseorang," balas Stella dengan kesal. "Kau sebut aku apa?" Tangan Bryan mengapit dagu Stella dan menekannya dengan jari. Ia tidak terima dipanggil dengan sebutan binatang oleh Stella. Melihat tatapan intimidasi kepadanya, Stella berusaha untuk tidak takut. Meskipun saat ini jantungnya tak dapat ia kendalikan. Tatapan pria itu sungguh menekan dan mengintimidasi dirinya. Sangat dalam dan tidak mampu dihindari. Rasanya seperti hawa dingin berhembus ke arahnya dan bulu kuduknya berdiri. "Aku akan bertanggungjawab atas semalam." "Jadi kau mengakui bahwa semalam kau yang sudah—" Kalimat Stella terjeda di sana, karena tiba-tiba saja ia tidak sanggup menjelaskan apa kelanjutannya. Namun, Bryan sudah tahu apa yang terjadi semalam, walaupun ia tidak ingat apa-apa. "Terserah kau mau percaya atau tidak. Tapi Maxim yang memaksamu semalam." Kening Stella berkerut, menunjukkan kebingungannya. "Apa dia saudara kembarmu?" Tebaknya. "Tunggu ... aku bahkan tak tahu siapa namamu?" sambungnya bertanya. Bryan pun memberitahukan namanya. Meskipun sebenarnya ia enggan memberitahukan namanya pada siapapun. Terlebih lagi pada orang yang tidak dikenalnya, atau baru dikenalnya. "Aku Bryan." "Namaku—" Belum sempat Stella memperkenalkan dirinya, Bryan sudah lebih dulu memotong perkataannya. "Aku sudah tahu." Stella mendengus kesal, melihat bagaimana sikap dan kata-kata sinis dari Bryan. Tapi, kenapa ia merasa kalau Bryan yang sekarang terlihat berbeda dengan Bryan yang kemarin. Bryan yang semalam sangat pemarah, kasar, berbeda dengan Bryan yang ini dan bisa diajak bicara. "Aku minta maaf atas namanya." Kata maaf pun terucap dari bibir pria itu, mengatasnamakan nama lain. Sehingga Stella berpikiran, bahwa tebakannya benar. "Jadi ... benar dia saudara kembarmu, Tuan?" Pria itu tak menjawab, tapi malah berbicara hal lain. "Aku akan panggil dokter lagi untuk memeriksa kondisimu dan seseorang juga akan mengantar makanan kemari untukmu. Sementara itu, diamlah di sini dulu." "Tapi—" Tak mau mendengarkan kata-kata dari Stella lagi. Bryan melangkah pergi begitu saja meninggalkan Stella sendirian di kamar itu. Stella benar-benar terlihat bingung, terlebih lagi pertanyaannya tidak dijawab oleh Bryan. "Kenapa dia begitu membingungkan? Entah kenapa aku merasa dia adalah pria yang aneh." Daripada memikirkan hal yang aneh, Stella mencoba untuk berdiri dari tempat duduknya. Ia bermaksud untuk pulang ke rumahnya. Namun, niat itu urung saat ia bahkan tidak bisa berdiri karena lemas. "Sakit sekali ... uggh. Dia benar-benar membunuhku. Sakit ....," lirih Stella sambil memegangi perut bagian bawahnya yang terasa nyeri. Bahkan bagian intinya juga terasa perih seperti robek. "Sakit ... aarggh." Rasa sakit di bagian intinya tak bisa ia tahan. Bahkan ia merasa sesuatu mengalir dari bagian bawahnya itu. Stella memegang celana belakangnya yang basah, ternyata basah itu adalah cairan pekat berwarna merah. "Da-darah?" gumam Stella kaget. Berkat Bryan, Stella jadi mendapatkan pengalaman pertama yang mengerikan dan mungkin akan menimbulkan trauma ke depannya. Tepat saat Stella sedang kesakitan, Bryan kembali datang bersama dengan seorang dokter wanita dan seorang wanita paruh baya ke dalam sana. Kedua mata Bryan terbelalak saat melihat Stella tampak kesakitan di lantai dekat sudut ranjang itu. "Nona!" Dokter wanita dan wanita paruh baya itu membantu Stella untuk berdiri. Stella pun kembali dinaikkan kembali ke atas ranjang. Terlihat jelas, Stella sedang menahan sakit. "Tolong ambilkan saya kain bersih dan air dingin ke dalam baskom," ujar dokter wanita itu setelah mengecek apa yang membuat Stella kesakitan seperti ini. "Baik, dokter." Wanita paruh baya itu langsung bergegas pergi keluar dari kamar untuk mengambilkan apa yang dibutuhkan oleh dokter. "Apa sangat sakit?" tanya Bryan kepada Stella yang sedari tadi hanya diam saja dan melihat. Stella kesakitan. Stella melirik ke arah Bryan dengan mata berkaca-kaca. Bibirnya terus digigitnya, guna menahan rasa sakitnya. "Per-gi- kau-" kata Stella dengan terbata, dadanya kembali sesak saat melihat Bryan dan merasakan sakit yang ia alami sekarang. "Tuan, sebaiknya anda pergi. Kehadiran anda di sini sekarang hanya memperburuk kondisi Nona," ucap dokter wanita itu berbisik kepada Bryan. Dengan terpaksa, pria itu keluar dari kamar tersebut dan membiarkan dokter melakukan tugasnya di dalam sana. *** Di belahan bumi lainnya, seorang wanita cantik sedang menangis setelah merayakan pesta ulang tahun anak kembarnya. Sang suami yang usianya sudah tidak muda lagi, tapi masih terlihat berwibawa dan gagah itu, mendekatinya. "Honey. Kau menangis lagi?" Wanita cantik itu buru-buru mengusap air matanya, ia menatap suaminya dengan sendu. Suaminya tahu, kenapa istrinya seperti ini setiap ulang tahun anak kembarnya. TBC..
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD