Andika POV
"Assalamualaikum, Bun di depan ada mobil, apa tamunya sudah...." ucap putri pertama dari keluarga Om Fais terpotong ketika mengikuti isyarat mata bundanya ke arah kami yang sedang duduk di ruang tamu.
"Waalaikumsalam.." jawab kami semua yang ada di ruang tamu. Kulihatnya melihatku sampai tak berkedip lumayan lama, hingga bundanya menegur untuk tidak melihatku seperti. Aku sadar aku tampan, dan dasar wanita seperti mau keluar itu bola mata kalau lihat lawan jenisnya yang tampan. Bukankah kata Papa dia anak yang taat dalam agamanya? Tapi kenapa dia berani memandang lawan jenisnya lama. apa gak takut dosa itu mata, dibilang zina mata baru terasa. Terbukti bukan bahwa tidak ada satupun wanita yang tak akan memuja ketampanan, dan juga bentar lagi akan memuja yang namanya kekayaan setelah tahu siapa aku, CEO Herlambang Group. Termasuk penguasa terkaya di negeri ini. aku yakin pasti dia sudah klepek-klepek akan semua yang aku punya. Dan aku harus membuat dia sadar dari mimpinya tak mudah untuk mendapatkanku.
Bundanya membawa dia menuju sofa tempat kami duduk, memperkenalkan dirinya terhadap Mama dan Papa, terus baru terdengar dia menyebut namanya Vira terhadap Mama, setelah memperkenalkan aku dan papa, gadis itu tidak mencium tangan Papa, atau mengulurkan tangannya terhadapku untuk kenalan? Apa dia sedang menjaga hijab? Yang benar saja, meskipun aku selalu hidup dalam kebebasan dunia barat selama masa kuliah, namun aku juga punya teman-teman yang sangat taat menurutku dalam beragama, yang mana auratnya tertutup dengan busana yang sangat kebesaran, dan tak pernah terlihat memakai celana jeans. Pakaian yang digunakan selalu rok atau baju terusan dan juga selalu menundukkan pandangan katanya takut itu zina mata.
Nah dia? Pakai celana, dan tadi berani memandangku lama yang jelas bukan muhrimnya, dan dia tidak mau bersalaman? Mau bicara soal bukan muhrim? Gadis yang aneh, tapi mampu membuatku penasaran tentang sosoknya, apalagi setelah ia menjawab pertanyaan Papa tentang dia yang tidak bersedia di jodohkan dengan ku.
Kupikir dia beneran gadis rumah yang tidak akan pernah membantah, namun cara halusnya untuk meminta waktu untuk bisa mengenalku sepertinya dia belum siap menerima perjodohan ini? Apa dia mau mencari petunjuk dulu dengan melakukan sholat sunnah apa namanya ya? Dulu lupa dan sekarang tidak tau dengan nama sholat sunnah tersebut. Intinya sholat tersebut bertujuan meminta petunjuk dalam memilih yang terbaik. Apa dia mau melakukan sholat itu sebelum menjawab lamaran atau lebih tepatnya paksaan lamaran dari Papa? Semakin membuatku penasaran dengannya.
Bagai gayung yang bersambut, ketika ia meminta untuk mengenalku dalam jangka waktu dan aku meng-iya-kan. Karena aku juga mau tau siapa dia, biar tidak beli kucing dalam karung. Namun apa daya papa langsung tak menyetujui dan hanya memberikan waktu tiga bulan untuk mengenal, katanya itu sudah cukup. Dan dia yang sepertinya tidak mampu membantah papaku dan bundanya hingga pasrah untuk mempertimbangkan kembali lamaran yang dilakukan Papa. Tapi bukankah ia bekerja di kantor ini? Yah, Dia Karyawan di kantor ini. dan langsung aku raih ganggang telfon yang terletak di ujung meja menghubungi adikku sekaligus sekertaris pribadiku.
"Kei.. tolong hubungi devisi keuangan, anterin laporan Cabang yang di Makasar, dan suruh Vira yang mengantar kesini, SEKARANG!" perintahku setelah panggilan terhubung dan langsung kuputuskan sepihak sebelum Kezia mencecarku atau menanyakan aneh-aneh.
ALVIRA POV
"Vira tolong sekarang kamu print kiriman Laporan keuangan Cabang Makassar, terus kamu antarkan keruangan CEO, Ditunggu Vir," instruksi Pak Darma, Direktur Keuangan Perusahaan Herlambang Group.
"Apa saya juga yang mengantarkannya Pak?"
"Iya, dilantai 9 ya, lantai khusus CEO. Naik Lift nya yang khusus jajaran direksi aja, gak papa"
"Loh, kamu tidak tahu Vir? Andika ini kan CEOnya Herlambang Group, masa kamu karyawan tidak tau siapa bos mu di kantor?" Ucapan tante Fitri dua hari lalu tergiang di telingaku kembali.
Dika itu CEO perusahaan ini, berarti harus ketemu dia dong? Malas banget, tapi bukankah pekerjaanku seharusnya tidak berhubungan dengan dia? Karena aku kan laporannya ke Direktur Keuangan dan direktur keuangan yang berurusan dengan CEO?
"Saya kan hanya karyawan biasa, Kenapa tidak bapak yang mengantarkannya langsung, biar saya yang siapkan," tolak halusku.
"Pak Dika minta kamu yang mengantarkannya Vira! Udah cepat Print dan segera antarkan!" ck, gak berhasil menolak lagi.
Setelah semua laporan yang diminta selesai aku print, akhirnya aku melangkah keluar untuk mengantarkannya ke ruang CEO. Berniat naik lift khusus Jajaran direksi, namun tekanan tanganku dihentikan oleh Satpam
"Mbak Vira ma'af, Mbak tidak boleh menggunakan lift ini, ini hanya khusus untuk jajaran direksi. Mbak bisa menggunakan Lift untuk karyawan." Reflek aku membelalakan mata mendengar teguran Pak Mono Satpam yang setiap pagi aku dan Yunda sapa, sehingga tidak kaget kalau beliau mengenal namaku walau aku disini baru bekerja satu minggu.
"Tapi Pak Saya mau mengantarkan ini keruangannya CEO, hanya lift ini yang berhenti di lantai ruangan CEO."
"Oh gitu ya mbak, kalau gitu mbak bisa lewat tangga darurat saja mbak. Cuma naik satu lantai saja kan"
"Hah? Beneran pak saya tidak boleh naik lift ini?" nada memohon agar diperbolehkan.
"Ma'af ya mbak. Selama ini tidak ada karyawan biasa yang menggunakan lift ini."
"Baik lah pak."
Daripada mendebat dengan satpam, kuputuskan untuk melangkahkan kaki menuju lift karyawan, ketika lift sudah ku buka, aku masuk dan ku tekan tombol sepuluh, lebih mudah atau tidak capek menuruni anak tangga dari pada naik.
Aku sudah berada di meja sekertaris CEO, dan ketika sekertarisnya mengangkat wajahnya, aku mengenalinya, dia perempuan yang memeluk manja tangan Dika di Lobby Kantor, Apa sekertaris Dika itu pacarnya Dika? Kalau iya ngapain dia mau dijodohkan denganku, kenapa dia tidak bilang kalau dia pacaran sama sekertarisnya. Dan jujur jika dibandingkanku aku tidak ada apa-apanya jika dibandingkan sekertarisnya.
"Ma'af ada yang bisa saya bantu?" suara lembutnya menyadarkanku dari lamunan, dan subhanallah, senyumnya ramahya pasti membuat orang senang dekat dengannya.
"Eh, ma'af, ini ada titipan dari keuangan untuk menyerahkan laporan Keuangan Cabang Makassar ke Pak CEO." Senyum ramah di sudut bibirku untuk mbak cantik sambil memperlihatkan map yang aku bawa "Saya titipkan ke mbak saja ya"
"Apa nama Kakak itu Kak Alvira?"
"Iya, saya Alvira."
"Oh mari saya antarkan ke ruangannya Kak Dika, dia sudah menunggu Kakak," ucapnya sambil keluar dari meja sekertarisnya mendekat kearahku. "Kenalin Kak, nama saya Keizia." Dia mengulurkan tangannya saat kami berjalan bersisian.
Aku pun menyambut uluran tangannya dengan senyum, bagaimanapun orang baik juga harus di sambut baik bukan, tapi dia kan pacar calon tunanganku? Peduliku apa, aku saja belum siap menerima dia calon tunanganku.
"Loh Kak kok tadi keluar dari tangga darurat, kenapa tidak menggunakan lift saja?" Kezia sudah membukakan pintu CEO.
"Loh tidak perlu ketok pintu?"
"Sudah biasa seperti ini," Ck, bodohnya aku bukankah mereka waktu itu terlihat mesra di loby, kalau mereka pasangan, kan tidak perlu ketok pintu dulu kalau mau masuk.
"Oh ya Kak Alvira belum jawab pertanyaan Kei, kenapa kok lewat tangga darurat? Ini perusahaan tidak minim fasilitas loh Kak, ada liftnya"
Hufft.. dikira aku gadis kampung yang gak tau kalau ada lift, terus terlalu udiknya takut naik lift dan memilih lewat tangga darurat, ini semua karena lift yang ada itu khusus untuk direksi, karyawan biasa tidak di perkenankan menggunakan lift itu. Aku anggap itu pertanyaan basa-basi yang tidak perlu di jawab, karena aku yakin dia punya jawabannya.
"Kak ini Kak Alvira sudah datang, Kei tinggal keluar ya Kak."
Setelah Keizia keluar dan pintu tertutup, Dika yang memandangku intens membuat aku takut, tidak biasa aku di tatap lawan jenis seperti itu dan apalagi ini hanya berdua, Allah tolong selamatkanlah aku dari situasi yang tidak nyaman seperti ini.
"Ehem,, ini pak laporan yang anda minta, untuk penjelasan terkait laporan tersebut, bapak bisa menghubungi Pak Darma, kalau begitu saya permisi," ucapku memecahkan keheningan dan membuat proses cepat, tidak berlama-lama di ruangan CEO ini.
"Aku memanggilmu kesini bukan untuk mengantarkan map itu. Duduk, aku mau bicara." Kalau seperti ini sikapnya, tidak jadi aku ralat kata-kataku dua hari lalu, buah tidak akan jatuh dari pohonnya, sikap superiornya sama seperti ayahnya yang tidak mau di bantah.
"Anda mau bicarakan apa? Saya rasa tidak ada pekerjaan yang langsung membuat saya bertanggung jawab terhadap anda langsung." Responsku yang tidak ingin berlamaan dengan Dika di ruangan yang hanya berdua, potensi fitnahnya besar.
Tak menjawab pertanyaanku dia justru bangkit dari kursi kebesarannya beralih duduk di sofa. "Duduklah di sini, kita akan saling mengenal satu sama lain, bukankah itu yang kamu minta?"
Aku yang hanya menatapnya, sambil kedua tangan aku silangkan di depan d**a, sebagai pertahananku dan aku menolak duduk di sofa.
"Kemarilah Duduk disini, Aku tidak sedang menginterview calon pegawai baru."
"Untuk urusan itu kita bisa bicarakan diluar jam kantor, bisa di jam istirahat atau setelah pulang kantor."
Aku pun melangkahkan kaki bukan untuk menuju sofa tersebut, namun hendak keluar, namun sayangnya pintu di kunci otomatis, membuatku sebal, menatapnya dan memintanya untuk membukakan pintunya.
"Kamu tidak akan keluar, sebelum kita bicara, sehingga duduklah dulu, jangan mengulur waktu."
Dengan enggan aku pun melangkah kearah sofa. "Katakan Apa yang ingin kamu bicarakan," ucapku tanpa basa-basi setelah berhasil duduk di sofa seberang dia duduk, menurutku ini jarak yang aman.
"Kenapa kamu mau untuk dijodohkan denganku?
"Sepertinya malam itu saya belum menjawab soal lamaran Papa anda? Sehingga di sini belum bisa disimpulkan saya menerima perjodohan tersebut."
"Tapi kamu tidak menolaknya, malam itu."
"Memangnya Papa anda menerima penolakan?"
"Alasan, Bilang saja kamu tidak menolak karena kapan lagi dapat satu paket langsung. Pria tampan, CEO dari Herlambang Group, dan itu bisa langsung merubah status kehidupanmu?"
Aku yang merasa harga diriku direndahkan, yang mana secara tidak langsung dia mengatakanku orang yang berani melakukan apapun demi uang ataupun status sosial?
"Jika Anda memang tidak mau di jodohkan, silahkan bilang pada orangtua anda. Saya rasa saya tidak perlu mengenal anda. Karena di detik ini saya sudah mengenal Anda, dan dengan senang hati jika perjodohan ini akhirnya batal."
Setelah itu aku berdiri dari sofa tersebut. "Pembicaraan selesai tolong buka kunci pintunya."
Setelah itu dia mengambil remote dan menekannya, yang mana langsung aku buka pintu tersebut, setelah itu kulihat Kezia berdiri dari duduknya. Dia yang tadinya baik denganku, tidak mungkin aku menampilkan sikap emosiku kepadanya, dia tidak bersalah, dan bukan objek kemarahanku. Aku mencoba untuk memaksakan senyum dan menganggukkan kepala sekali kepadanya. Setelah itu berjalan kearah tangga darurat.
***