Cerita di rumah Herlambang

2472 Words
"Vir... ayo cepat!"   Suara bunda dari ambang pintu kamar. Sedangkan aku masih memasukkan High heels 5cm agar gaun toscaku tidak menyapu lantai. Polesan make-up sederhana di wajah dan jilbab pashmina motif flower kecil-kecil berwarna senada ku pakai simple namun tetap menutupi d**a. Setelah itu berjalan mendekati bunda siap berangkat ke kediaman Keluarga Herlambang.   Malam ini ada undangan untuk kami sekeluarga. Mulai Ayah, Bunda, Aku dan adikku Vania juga ikut untuk menghormati undangan makan malam dari keluarga Om Hendra. Sebenarnya malas untuk berangkat. Tapi kalau tidak ikut taulah bagaimana nanti membuat nyonya besar dirumah ini bisa marah. Lihat saja aku nurut ikut saja, sudah tidak sabaran untuk menyeret kami sekeluarga datang ke kediaman om hendra. Apalagi kalau aku sampai menolak, tidak dikutuk jadi seperti legenda maling kundang mungkin itu sebuah anugrah.   Bunda sebenarnya bukan tipe orang yang pemaksa kehendaknya terhadap kedua putrinya. Tapi entah kenapa untuk kasus perjodohan dengan Dika seperti tak ada celah agar perjodohan ini batal. Bunda sama kerasnya dengan om Hendra yang menginginkan perjodohan ini terjadi.   Mobil yang di kemudikan Ayah, sudah berhenti di depan rumah berpagar tinggi. Di buka kaca samping kemudi dan ayah mengklakson, serta melihat kearah CCTV yang ada salah satu sudut kanan pagar. kemudian barulah pagar terbuka.   Mobil ayah melewati pagar. Seorang satpam mengangkat tangan kanannya ke atas dan memberi senyum menyapa ramah. Sedangkan ayah hanya memberikan senyum dan menganggukkan kepala dan tanganya terus mengemudikan mobil masuk melewati pagar, kemudian taman yang sangat panjang hingga ayah memarkirkan mobil di salah satu car sport yang masih kosong.   "Wah... Taman depan yang bagus, deretan mobil mahal dan sekarang rumah layaknya istana... AMAZING" ucap Vania adik perempuanku satu-satunya yang menatap kagum Rumah seperti istana setelah keluar dari mobil.   Tapi kalau aku tidak senorak adikku yang sepertinya sangat mengagumi kediaman Herlambang. Rumah dengan gaya seperti ini sudah pernah aku masuki. Rumah Kak Farel, Keluarga Bachtiar juga bedesain hampir sama seperti rumah milik keluarga Herlambang. dengan Jarak antara gerbang dan rumah sekitar 30 meter. Bersekat taman dan air mancur di tengah dengan jalur sistem satu arah (SSA). Baru setelah itu akan di suguhi rumah yang amat besar, mewah dan sangat indah.   "Wah Kak calon suami kakak bener-bener tajir, rumah kayak istana, carspot yang seperti showroom dengan deret mobil mewah. Kakak sepertinya beruntung," lanjutnya lagi yang kini sudah berdiri di sampingku. Aku hanya melihatnya dan menggeleng atas kelakuannya dan kemudian melangkah meninggalkannya dan mendekat kesamping ayah. Vania juga juga menyusul setengah berlari mensejajarkan dirinya di samping kiri Bunda.   Sudah berada di depan pintu yang di biarkan terbuka. Sepertinya memang dipersiapkan bahwa ada tamu yang akan datang. Benar saja awal masuk rumah ini sudah di sambut oleh empat orang maid.   "Selamat malam Tuan. Anda sekeluarga udah di tunggu di ruang makan." Seorang pelayan perempuan yang menyambut kami di depan pintu rumah kemudian mengantarkan kami ke meja makan.   "Assalamualaikum," salam Ayah ketika kami sudah mulai masuk area ruang makan.   "Waalaikumsalam, kalian sudah datang..." balas Om hendra yang kemudian memeluk Papa,. Begitu pula dengan Tante yang sudah senyum ramah ke Bunda juga saling berpelukan. Saat itu mataku menatap kearah meja makan yang mana ada Dika dan what KEIZIA sekertaris itu ada disini? Mereka berdua berdiri di samping meja yang bersebrangan.   "Hai... Kak Alvira kita ketemu lagi," dengan senyum ramah menyapaku seperti waktu bertemu di depan ruangannya Dika. Sekarang ia berjalan kearahku kemudian memelukku.   "Ayo kak, kita duduk," kata Keizia sambil menarik tanganku.   Aku pun mengikutinya. Dengan tatapan mataku yang tak lepas melihatnya. Kedua alisku hampir bertaut. Bukan aku marah, tapi bingung dengan kondisi ini, kenapa dia begitu ramah? Apa dia tidak tau kalau aku orang yang bakal di jodohkan dengan pacarnya?   Sibuk memikirkan tentang sikap Keizia aku tidak sadar kalau aku di bimbingnya kearah kursi samping Dika.   "Ayo kak duduk," ucap Keizia sambil menarik kursi tepat di samping Dika. Aku hanya memandang Dika sekilas akhirnya duduk. Kemudian Keizia memutar duduk tepat diseberangku.   Semuanya sekarang kini sudah berpindah ke meja makan. kami makan dalam keheningan. Hal ini karena baik dari keluargaku dan keluarga om hendra tidak ada yang suka makan sambil berbicara.   Kami berpindah ke ruang keluarga. obrolan hangat dua keluarga terjadi. Ayah, Bunda, Om Hendra, dan tante Fitri bernostalgia membahas masa remaja mereka. Kisah persahabatan mereka. Keizia dan Vania menjadi pendengar yang antusias, sedangkan Aku dan Dika hanya bersandar pada sofa menunjukkan ketidak berminatan. Mataku menjelajah ruang keluarga tersebut hingga berhenti di foto keluarga om Hendra terpampang di dinding.   "Kak lihatin apa? Kok diam aja dari tadi?" itu suara Keizia yang sekarang duduk di sofa yang sama denganku, anak itu benar-benar SKSD denganku.   "Eh, i..ni, eh tuh foto keluarga ya?" kataku sambil menunjuk foto yang kulihat tadi.   "Iya kak, itu foto keluarga kami. Yang sedang gendong balita itu, kakak pertamaku Alexa Nindya Herlambang. Sebelahnya itu, suaminya Kak Alexa, Roy Marcello. mereka meninggal lima tahun lalu akibat kecelakaan saat menghadiri pesta pernikahan kolega Kak Roy. Untungnya anak mereka Tiara yang masih dua tahun tidak ikut di titipin ke mama. Hingga sekarang saudaraku cuma tinggal Kak Dika saja."   Aku yang melihat Keizia menangis. Menghapus air matanya. Sisi perasaanku terusik, bahwa Ia merindukan kakak perempuannya. Tanganku merengkuh tubuh Keizia. Aku memeluknya. Kini aku tau kalau ternyata Keizia bukanlah seperti yang ada di otakku. Dia adiknya Dika. Pantas saja dia tidak menandakan adanya kecemburuan.   "Wah.. wah ada yang seperti teletubies nih..," ucap tante Fitri membuatku melepaskan pelukan dari Keizia, dan keizia menghapus sisa air matanya.   "Loh Kei.. kenapa kamu menangis sayang?"   "Enggak Ma.. cuma keinget almarhumah Kak Alexa"   "Sabar ya sayang, kami juga sayang sama Alexa. Tidak percaya dia meninggalkan kita secepat ini," ucap tante maya sendu.   "Opaa..," suara anak kecil sambil berlari kearah om Hendra. Dan menghilangkan kesedihan yang meliputi Tante Maya dan Keizia   "Itu Tiara Kak, anak Kak Alexa." seru Keizia lagi   "Loh cucu opa sudah pulang? Mana om Angganya?"   "Pulang Opa."   "Oh ya ayo sayang cium tangan yang lainnya juga."   Anak kecil itu memutarkan badannya melihat banyak orang di ruang keluarga "Mereka siapa Opa?"   "Teman opa sama oma sayang, dan Tante itu bakal jadi Tantenya Tiara. Bentar lagi mau nikah sama Om Dika." Om Hendra menunjuk ke arahku.   Ya aku mampu mendengar percakapan mereka, karena seisi ruang keluarga ini memperhatikan interaksi opa dan cucunya itu. Sehingga sunyi dan suara itu mampu di dengar dengan sangat jelas.   Anak kecil itu, Tiara, kini turun dari pangkuan Om Hendra, kemudian menciumi tangan satu-satu orang yang ada di ruangan ini mulai dari omanya ke Ayah, Bunda, Kak Dika, Vania, Kezia dan terakhir ke aku.   "Tante...cantik, kata Opa Tante bakal jadi Tanteku?"   "Cantik... siapa namanmu Sayang," pertanyaan pengalihan dengan tangan kecilnya masih ada dalam peganganku,sambil membungkukkan badanku agar kepala kami sejajar. Ia tidak harus mendangak melihatku.   "Mutiara Ziffara Marcello, Tante," sambil tersenyum memperlihatkan lesung pipinya.   "Tante... mau temani Tiara main Barbie?"   "Tiara, besok kan sekolah sayang, tidur ya..!"   Belum sempat aku menjawab ajakan Tiara, Keizia sudah mengingtruksi menyuruh untuk istirahat.   "Ih.. tante Zia, Tiara kan pengen main Barbie sama tante cantic," protes Tiara dengan menghentakkan kakinya ke lantai.   "Tiara, kalau kamu main dulu tidurnya malam nanti. Kalau besok bangun kesiangan. Om Dika gak mau ngater Tiara sekolah loh." Kini Dika yang berbicara, setelah dari tadi diam, sepertinya ini orang benar-bener irit bicaranya.   "Ya udah Tiara bobo, tapi tante cantik temani ya...!. Dongengin Tiara," ucapnya sambil memegang kedua tanganku penuh permohonan.   "Hah?!"   "Ayolah tante cantik, pliss..," dengan pupil eyesnya, aku tak sanggunp menolaknya.   "Hmm... okelah, ayo sayang"   Lebih baik nemani nih bocil tidur dari pada diam saja di sofa ini, tidak tau mau apa.   "Ini kamarnya Tiara?" ucapku setelah ada di depan kamar yang di bukanya, dan dia pun hanya menganggukkan kepalanya. Sungguh sangat girlly sekali dekor kamarnya. Paduan warna pink dan peach, terdapat tempat tidur yang sama-sama berwarna putih. Selimut pink bergambar tokoh Aurora. Boneka Teddy Bear berada diatas tempat tidur dan lemari anak-anak yang bergambar Aurora. Di beberapa sudut dinding ada stiker princess yang menempel serta meja belajar disamping lemari tersebut, karpet berbulu yang tebal sepertinya sangat nyaman kalau di buat nemani Tiara yang ada di dalam kamarnya.   "Tante Tiara ganti baju tidur dulu ya, nanti ceritakan kisahnya Aurora ya Tante!" dan sekarang ia berlari ke lemari pakaianya mengambil baju tidurnya yang putih polos, di pinggirnya terdapat pita berwarna pink, sedangkan aku belum mengiyakan permintaannya untuk menceritakan kisah Aurora, aduh gimana ini aku tidak tahu ceritanya Aurora.   kini aku dan Tiara sudah berada di atas tempat tidur, bersiap mendongeng, tapi apa yang dari Aurora bisa di ceritakan.   "Hmm.. cantik,, tante tidak tau bagaimana ceritanya Aurora. Bagaimana kalau ceritanya ganti Cinderella atau Rapunsel? Kalau itu tante tau," cicitku bernegosiasi dengan bocah.   "Bosen tante, kamarin Tante Zia udah dongengin Cinderella, kalau Rapunsel udah baca buku ceritanya tadi di sekolah."   "Hmm... gimana kalau cerita kok bisa ada harta karun?" Entahlah hanya ide itu yang terlintas, atau aku yang minim cerita anak kecil.   "Harta Karun Tante?" kroscek Tiara sangat antusias, dan hanya aku jawab dengan anggukan kepala sekali dan senyum tiga jari.   "Mau.. mau.. Tante," jawabnya antusias.   " Okey, Tante cantik mulai ceritanya," pengantarku sambil membentulkan selimut Tiara.   "Pada masa Nabi Musa as di perintah Allah untuk melakukan perbaikan terhadap kaumnya, saat itu Nabi Musa as mempunyai seorang kaum yang bernama Qorun. Awalnya Qorun ini orang yang sangat miskin, dalam kemiskinanannya ini Qorun berdoa kepada Allah agar Qorun menjadi kaya, sepertinya Allah mengabulkan do'a Qorun. Kehidupan Qorun berubah menjadi sangat kaya raya. Rumahnya besar, gudang untuk menyimpan hartanya banyak, sampai-sampai perlu menyewa orang untuk menjaga kunci-kunci tempat menyimpan hartanya. Karena harta yang banyak ini Qorun sangatlah sombong, sangat suka memamerkan kekayaannya, kemana dia pergi selalu membawa pengawal yang membawdataa hartanya." Aku memulai cerita dengan intonasi yang datar, mengondisikan ketenangan suasana agar Tiara cepat tertidur.   "Setiap orang yang melihat Qorun berjalan, mereka berkata, "andai aku punya kekayaan sama seperti Qorun." dan kali ini aku suaraku seperti berguman dengan jari telunjukku aku ketukkan ke dagu. Memperagakan orang yang berandai karena pameran harta Qorun. Tiara hanya fokus melihatku. Dan akupun melanjutkan kembali ceritanya   "Kehidupan yang sangat berbeda jauh. Qorun yang mempunyai harta yang berlimpah, namun masyarakat selainnya hidup dalam kemiskinan. Dengan kondisi Qorun yang di beri kelebihan harta, dan keadaan orang-orang disekitarnya yang kekurangan, tidak tergerak sedikitpun bagi Qorun untuk menolong orang-orang tersebut. Yang ada karena mendengar suara pengandaian yang menginginkan kehidupan seperti Qorun, bukannya mengingat bagaimana perasaan dan kondisi orang-orang tersebut. Sebagaimana dulu ia sebelum di beri nikmat kekayaan, malah membuat Qorun semakin ingin membawa semua hartanya untuk dipamerin. Maka dari itu Allah mengutus Nabi Musa untuk menyuruh Qorun berbagi. Bersedekah atau mengeluarkan zakat hartanya untuk diberikan terhadap yang kekurangan. Karena sebagian kekayaan yang dititipkan Allah itu ada sebagian haknya orang miskin. Maka Musa yang taat kepada Allah mendatangi ke Qorun untuk memperingati Qorun mengeluarkan zakatnya. Saat pertama kali Musa datang, Qorun ketakutan atas kedatangan Musa, sehingga ia bermanis-manis ketika menemui Musa.   "Wahai Musa... ada apakah engkau sampai mengunjungi kediamanumahku?'' ucapku dengan intonasi sedikit lebih tinggi menirukan suara dialog Qorun. Seolah akulah pemeran Qorun. dan untuk membedakan mana yang dialog dan narasi.   "Wahai Qorun, aku di perintahkan Allah untuk menyuruhmu mengeluarkan zakat atas sebagian hartamu untuk di berikan atau menolong orang-orang yang kekurangan dan membutuhkan." Dan kali ini aku memperagakan sebagai Musa dengan dialog ramah terhadap qorun. dengan intonasi yang sama seperti saat memperagakan Qorun. Kemudian aku mengembalikan ke intonasi yang datar saat memulai cerita yang narasi kembali.   "Karena takut akhirnya Qorun menanyakan berapa besaran yang harus Qorun keluarkan. Maka dipanggilah penjaga harta Qorun, untuk menghitung jumlah zakat yang harus ia keluarkan. Ternyata karena hartanya banyak maka jumlah yang di keluarkan cukup besar, Qorun yang takut akan kedatangan Nabi Musa akhirnya berjanji akan mengeluarkan zakatnya. Musa yang mendengarnya senang dan pamit pulang. Namun hal ini berbeda dengan Qorun, ia merasa datangnya Musa dan perilakunya yang seperti orang ketakutan dihadapan Musa. Merasa harga dirinya jatuh di depan para pengawalnya. Dimana Qorun yang berkuasa? Akhirnya Qorun bertekad tidak akan mengeluarkan zakatnya. Dan akan menentang Musa dengan tidak mau mengeluarkan zakat.   Musa berpikir kok lama sekali ya Qorun tidak kunjung mengeluarkan zakatnya, akhirnya Musa datang kembali ke Qorun untuk mengingatkan Qorun akan janjinya. Namun yang didapatkan Musa adalah penolakan dari Qorun untuk mengeluarkan Zakatnya.   "Loh, Musa ada apa lagi kamu kesini?" Dengan suara yang meninggi, setengah membentak, dan tak lupa dengan tatapan tajam. aku memperagakan dialog Qorun.   "Qorun, kamu waktu itu berjanji mau mengeluarkan zakatmu, kenapa sampai sekarang tidak kau keluarkan juga zakatmu?" dengan senyum yang mengiasi sudut bibirku, dan intonasi yang tidak tinggi seperti Qorun aku menggambarkan perbedaan karakter antara Nabi Musa as dan Qorun terhadap Tiara.   "Dengan nada tinggi Qorun akhirnya berucap," sebagai pengantar dialog aku merendahkan kembali intonasiku. Kemudian ketika memperagakan dialog Qorun suaraku dibuat meninggi lagi dengan mata yang menatap tajam kearah depan, dan alis yang bertaut. "Mimpi kamu Musa, jika aku bersedia mengeluarkan zakat, kalau mereka menginginkan harta seperti yang aku punya maka mereka harus bekerja, jangan seenaknya mereka mereka meminta kekayaan yang susah payah aku kumpulkan."   "Tapi Qorun, bukankah kamu berjanji untuk mengeluarkan zakat hartamu?" suaraku merendah lagi, menyiratkan nada pengingat yang halus.   "Namun Qorun yang masih dengan kesombongannya yang tak mau mengalah atau mau melakukan perintah Nabi Musa kembali mengucap dengan suara keras kepada Nabi Musa. "Kapan aku pernah berjanji? Dan seandainya aku benar berjanji demikian, tetap tidak akan aku keluarkan zakatku, bilang ke mereka, jika ingin harta mereka harus bekerja."   "Qorun kau langgar janjimu pada Allah, sadarlah Qorun siska Allah sangat pedih, bertaubatlah" Dialogku memperagakan kembali Nabi Musa yang masih berusaha menyadarkan Qorun.   "Musa masih berusaha untuk menyadarkan Qorun, dan reaksi yang di berikan Qorun adalah mengusir musa dari rumahnya. Musa yang tak berhasil membuat Qorun untuk sadar akan kekeliruannya akhirnya berdoa untuk menunjukkan kekuasaan Allah terhadap umatnya. Akhirnya setelah Nabi Musa berdoa. Tanah tempat Qorun berada dan rumah serta harta-hartanya di timbun retak membelah hingga seperi longsong Qorun beserta hartanya tertelan Bumi. Dan sejak itulah setiap menemukan barang-barang berharga dari dalam bumi di sebut harta karun atau yang di maksudnya adalah Harta Qorun yang mereka temui. Dan cerita Qorun yang melegenda Harta Karunpun selesai." ucapku mengakhiri dongeng sebelum tidur ini dengan senyum yang mengembang.   "Tiara ndak mau rumah Tiara dan Tiara dimakan bumi kayak Qorun tante..." sela Tiara setelah aku menyelesaikan cerita dengan mata yang berulang kali berkedip membuatnya tambah lucu.   Mendengar pertanyaannya dan ekspresi yang ditampilkan membuat senyumku mengembang melihat kepolosan dari Tiara, apa aku cerita yang terlalu berat ya untuk anak seusia Tiara   "Hmm... Qorun dan hartanya dimakan bumi kan karena Qorun salah sayang, dia tidak mau mengikuti perintah Allah, dia ingkar janji. Suka pamerin apa yang dia punya dan tidak mau menolong orang lain yang membutuhkan. Kalau Tiara tidak berbuat kayak Qorun ya Allah tidak akan menghukum Tiara dengan di makan bumi."   "Sekarang Tiara tidur ya, tapi sebelum itu kita berdoa dulu yuk," lanjutku kemudian yang hanya dijawab anggukan kecil kepalanya. Kemudian ia mengangkat tangan hingga menengadah keatas yang letaknya presisi dengan dadanya untuk memulai berdoa.   "Bismika.. Allahumma ah ya wabismika amuud....." Doa Tiara dan Vira bersamaan dan tak lama Tiarapun dibawa oleh alam mimpi yang indah.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD