Nasi sudah menjadi bubur, percuma juga kalau Gevan hanya menangisi apa yang sekarang menimpanya. Mungkin ini memang balasan dari Allah atas kesalahan yang dilakukannya di masa lalu. Matanya kini tak lagi bisa melihat segala keindahan dunia, kakinya tak lagi bisa berjalan dengan normal. Semua yang terjadi memang atas kehendak yang Maha Kuasa. Gevan segera bersiap-siap ke ruang operasi untuk pemasangan pen di kakinya yang retak. "Sayang, Mami doakan yang terbaik untukmu." Tante Indi mencium kening Gevan yang sedari tadi hanya diam saja. "Gev, yang kuat." Aku hanya bisa berkata seperti itu untuk memberinya semangat. "Iya, Gev. Kamu itu jagoan." Om Vino ikut menyemangati. Gevan masih bergeming, setelah dia siuman dan mengetahui kondisinya dia cenderung menjadi pendiam, siapapun yang berad

