Part 14 Ingin Berhenti

1254 Words
"Selamat pagi, Zio." Alisa menyambutnya dengan senyum terkembang. "Selamat pagi juga, Alisa. Sepertinya hari ini cerah sekali, apa aku ketinggalan sesuatu?" tanya Alzio. Alisa menggeleng, "sebenarnya yang ada malah kabar buruk tentang kehidupan pribadiku. Tapi aku rasa, kau nggak ingin tahu, Zio." "Aku nggak bisa menjawab soal itu Alisa, Apakah aku ingin tahu atau nggak. Karena beritanya, aku juga belum mengetahui." Alzio tersenyum. "Apa kau bisa membelikan aku kopi?" Pagi ini Alzio ingin minum kopi. Padahal dia belum sarapan. Alisa mengangguk. "Kau ingin sarapan juga?" Alzio menggeleng. Alisa pergi meninggalkan ruangan untuk membeli kopi di dekat galeri mereka. Alzio kemudian melihat proposal di hadapannya, kegiatan CSR oleh teman-teman Kelly. Dia masih saja penasaran, membaca nama-nama kepanitiaan, dan menerka yang mana nama Kelly sebenarnya. Karena tidak ada yang mirip. Kelly dan ah ... perempuan itu ikut merahasiakan dirinya sekarang karena Alzio, bahkan Kelly sangat berhati-hati membahas aktivitas kesehariannya sekarang. Ternyata, dia juga berusaha menyembunyikan identitasnya. Kira-kira kenapa? Apa karena itu merupakan sebuah strategi untuk membuat Alzio penasaran? Atau balasan karena Alzio yang membuatnya merasa ingin tahu? Alzio kemudian mendapat pesan dari Rony, dia memamerkan bagaimana dia akhirnya mengetahui ID teman Mabar online-nya yaitu Princess Aqua dengan kemampuannya. Bukankah dia bilang mereka telah berteman di media sosial? Entahlah, kelakuan Rony terkadang cukup absurd. Kening Alzio berkerut, dari mana kemampuan itu dia dapatkan? Apakah dia meminta bantuan pihak ketiga? Rasanya cukup menggiurkan saat mengetahui dia bisa mengecek seperti apa rupa teman di dunia online-nya. Seperti apa rupa dan seperti apa sosoknya, supaya hubungan virtual mereka menjadi semakin baik. Alzio lagi-lagi terkekeh? Saat itulah Alisa kemudian masuk. Dia menyerahkan kopi ke Alzio. "Terima kasih, Alisa." Alzio berkata tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel. "Kau terlihat gembira belakangan ini, Zio." Alisa berkata. Alzio akhirnya menatapnya. "Begitu? Apa selama ini aku terlihat tidaj bahagia?" Alzio tertawa. Alisa menggeleng. "Kau tahu bukan itu yang aku maksud, Zio." Alisa meninggalkan Alzio karena tahu pancingannya tidak akan berhasil. Dia tahu Alisa penasaran kalau Alzio telah memiliki pasangan, terutama setelah dia menolak untuk membantu Alisa saat dia memintanya bertemu dengan orang tua perempuan itu. Sebagai asisten dan orang yang dekat dengannya, Alzio tahu kalau Alisa akan mengetahui apa saja yang terjadi dalam hidupnya. Tapi, Alzio merasa kalau hubungan virtual dan masih dalam tahap penjajakan tidak perlu untuk dipublikasikan. Dia mengirim pesan chat ke Rony, mengomentari sosok teman kencan virtualnya. Gadis yang cukup manis, Rony bahkan bisa mendapatkan beberapa fotonya yang tidak dia temukan di akun media sosial. Sekarang hidung pria itu pastilah amat mengembang, karena dulu Alzio selalu mengejek kalau Princess seorang hode. Ternyata dia benar perempuan. Lagipula kalau dipikir-pikir, dengan kemampuan Rony yang pas-pasan. Sulit untuk membuat perempuan yang hanya ingin memanfaatkan ke level tinggi bertahan. Sejauh ini, Princess terus bersamanya. Mungkin saja, Rony juga telah memamerkan fotonya pada Princess. Rony juga cukup menarik, beberapa perempuan di dunia nyata banyak yang menunjukkan ketertarikan padanya. Namun, dia memilih seorang perempuan yang ditemui di dunia maya. Lalu, apa bedanya Rony dengan dirinya saat ini? "Zio, semua persiapan keberangkatan sudah beres. Apa kau masih ingin sesuatu yang lain?" Alisa masuk kembali ke ruangannya dengan membawa berkas untuk diperiksa. Kali ini, Alisa tidak ikut dengan Alzio untuk memburu lukisan ke Belanda. Dia berkata kalau ibunya tengah sakit dan harus ada yang menjaga. "Aku akan menginfokannya nanti, Alisa. Terima kasih." Sebagai seorang asisten, Alisa memang cepat dan tanggap. Alzio banyak merasa terbantu, karena itu, Alzio berusaha menggaji Alisa dengan baik. Karena, dia tidak ingin mencari asisten baru saat ini. Alzio tidak ingin memulai dengan orang yang baru lagi. "Oh ya Zio. Ini mengenai anak-anak dari universitas." "Kenapa?" Padahal saat ini Alzio tengah membaca ulang proposal mereka. "Weekend ini, mereka akan melakukan visitasi ke wilayah pesisir pantai. Mereka ingin kau hadir, tapi aku sudah mengatakan kalau kau harus keluar negeri." Alisa berkata. "Kau bisa mewakili aku, Alisa." Tanya apa yang mereka butuhkan. "Untuk dana sponsor awal bagaimana? Apakah kita sudah bisa mentransfer ke rekening salah satu kepanitiaan?" "Baiklah, kalau mereka sudah mulai bergerak. Beri tahu saja aku, aku akan menulis cek." Alisa mengangguk. "Zio, Apa kau yakin kepergian kali ini berhasil?" Alzio tertawa. "Alisa, sejak kapan kau mulai meragukanku?" Alisa ikut tertawa, "Maafkan aku, Zio." Ketika di Singapura, Alzio memang tidak sepenuhnya mengeluarkan usaha. Dia tidak ingin jor-joran terlebih dahulu, lagipula, dia juga telah mengincar beberapa lukisan lain. Ini membuatnya sedikit tenang. Alzio beberapa kali mendapat telepon dari Ben. Dia sharing mengenai lukisan yang ingin dia belu. Kali ini Ben memiliki strategi lain untuk galerinya, dia bermaksud mengadakan pameran lukisan amatiran. Ben bisa dikatakan sangat aktif di usianya yang sudah paruh baya. Lagipula, Ben selalu mengatakan rencananya pada Alzio. Tanpa takut, kalau Alzio akan mencontek idenya. Mungkin Ben tahu, kalau Alzio bukan orang seperti itu. Sejauh ini, Alzio tidak berminat untuk mencari lukisan amatiran. Apalagi melakukan kontes-kontes untuk menaikkan nama galerinya. Alzio lebih memakai strategi menjadi sponsor bagi mahasiswa. Hal ini lebih potensial baginya untuk meningkatkan citra galeri. Ben menawarkan untuk ikut serta dengan dirinya ke Belanda, sebenarnya itu tawaran yang menarik. Ben mengiyakan dengan cepat saat Alzio berkata, kalau dia tidak masalah seandainya Ben ingin ikut pergi dengannya. Padahal dia baru saja berkata kalau dalam waktu dekat akan melakukan kontes-kontesan untuk para pelukis amatir. Tapi Ben segera mengiakan ketika Alzio berkata dia boleh pergi bersamanya. Ben berkata tadinya dia hanya bercanda, tapi ternyata Alzio menanggapinya dengan serius. Dia tidak berpikir kalau Alzio akan mengiyakan permintaannya. Dia amat senang dengan itu. Ternyata percakapan Alzio terdengar oleh Alisa. Dia bertanya penasaran. "Zio, kau mengajak Pak Ben pergi denganmu? Benarkah?" Alzio mengangguk. "Bukankah kepergianmu kali ini rahasia?" Alisa merasa heran, biasanya Alzio tidak ingin pergi bersama orang lain. Bahkan pergi bersamanya saja karena suatu keterpaksaan. "Siapa yang bilang? Aku nggak pernah merahasiakan kepergianku untuk berburu lukisan, Alisa." Alzio tertawa. Bahkan Alisa saja, orang yang telah lama bersama nya sulit mengerti dia. Roni dan El berkata kalau Alzio memang sulit untuk dimengerti, tetapi mereka berhasil sedikit banyak memahami Alzio. Mungkin hal itulah yang membuat hubungan mereka menjadi sangat akrab. Alisa meninggalkan Alzio setelah berkasa yang dia bawa ditandatangani. Alzio melirik ponselnya, dia mendapat pesan penyemangat dari Kelly. Sekarang hampir setiap pagi, teman virtualnya itu rajin mengirimkan pesan penyemangat. Alzio menghirup kopinya. Sebenarnya itu tampak terlalu posesif. Alzio menggelengkan kepalanya. Dia yakin kalau Kelly adalah orang yang amat posesif. Tetapi terkadang, dalam suatu hubungan, keposesifan itu diperlukan. Namun, jangan berlebihan. Seperti halnya Alzio mencintai lukisan-lukisannya, dia akan memperhatikan dan merawat mereka habis-habisan. Jadi bagaimana seandainya dia mencintai pasangannya? Rasa kepemilikannya pastilah amat kuat. Seperti contohnya saat ini, sekalipun Alzio berkata kalau Kelly boleh bermain bersama player lain. Tapi dia jelas tidak menyukainya, bagaimana kalau Kelly pada akhirnya mengabaikannya? Karena bertemu dengan orang lain yang tidak terlalu misterius? Jadi, apakah dia sosok yang tidak sabaran atau akan bertahan mereka sama-sama mengungkap jati diri masing-masing dan bertemu. Namun, Alzio telah bertekad untuk terlebih dahulu mengetahui identitas Kelly. "Al, apa kau masih di sana? Kenapa kau tidak membalas pesanku? Baiklah aku tahu kau sibuk bekerja, kau tidak perlu membalas pesan ini kalau kau sibuk. Aku akan berangkat ke kampus. Oh ya, kami akan melakukan kunjungan ke wilayah pesisir berharap kau bisa datang tapi kau, kan, pergi ke luar negeri." Alzio tertawa geli hanya dengan membaca chat perempuan itu, Kelly secara virtual amat bawel begitupula saat mereka bertelepon. Tetapi, apakah pribadinya yang asli seceria dan sehangat itu juga? Alzio belum bisa memastikannya, karena terkadang, sifat manusia berubah. Ketika di dunia maya, mereka berubah menjadi sosok yang sangat berbeda dengan kepribadian asli mereka. "Al, rasanya aku ingin berhenti main COS." Eh? Pesan selanjutnya dari Kelly membuatnya terkejut. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD