Part 15 Berita Bohong

1037 Words
Aixa merasa kesal hari ini, lagi lagi, Fitri membual soal bagaimana hebatnya dia bermain di turnamen se-asia tenggara. Bukannya Aixa tidak ingin mendukungnya untuk lolos babak selanjutnya. Tapi Fitri terlalu sombong, padahal, kemampuannya hanya standar. Hanya saja, dia mendapat tim yang hebat. Belum lagi, karena tiba-tiba Aixa mengunggulinya di ranking top lokal. Fitri mulai mengatakan, dan menyebar hoax di komunitas. Kalau, pemilik ID rambut merah adalah seorang pria. Yang mengaku menjadi perempuan untuk mendapatkan simpati dan fans. Kenapa Aixa bisa mengetahui kalau dia adalah orang yang melakukan fitnah itu di komunitas? Karena dia menyombongkan dirinya di kelas, berkata pada kekasihnya, kalau tidak ada perempuan lain yang lebih jago dan lebih cantik ketimbang dirinya. Bicara soal cantik, Aixa memang tidak merasa dirinya cantik. Tetapi bicara soal jago? Aixa tentu tidak mau kalah, apalagi Fitri juga selalu membanggakan kekasihnya. Padahal dibandingkan dengan pacar si Fitri, Aixa yakin kalau Al seribu kali lipat lebih baik. Sayangnya, Al tidak fokus mengejar level yang lebih tinggi. Dia hanya bermain untuk kesenangan dan mengisi waktu luang. Walaupun beberapa saat terakhir ini, Al berkata kalau dia jadi sering online karena menemani Aixa bermain. Begitu pula yang dirasakan oleh Aixa, dia main karena menunggu pria itu muncul. "Semua orang dibodohi oleh-olehnya. Tapi sayangnya, dia nggak mau mengungkapkan jati dirinya. Setidaknya dia mempublish fotonya di album, kalau memang dia cewek, kenapa harus takut?" cecar Fitri lagi. Aixa mulai mendengar Fitri berkoar-koar. Beberapa teman sekelas yang juga bermain COS, terlibat dalam isu itu. Mereka mendengarkan Fitri dengan serius, karena, mereka juga penasaran dengan sosok player perempuan yang sudah mengungguli Fitri. "Seorang new comer, yang melesat dengan cepat." "Dan aku rasa, dia adalah akun kecil dari seorang player yang udah lama main, lihat aja mainnya baru sedikit tapi dia sudah berhasil menjajal top lokal." Fitri melanjutkan. "Tapi aku benar-benar berharap kalau dia perempuan, dan aku penasaran bagaimana wajahnya. ID rambut merah terlihat mencolok." Fitri berkata dengan sinis, "nggak perlu penasaran dengan dirinya. Aku sudah menemukan bukti kalau ternyata dia seorang laki-laki." Fitri berkata dengan percaya diri. "Apa bukti yang kau temukan Fitri? Apa kau serius?" Yang lain bertanya. Fitri diam tidak menjawab. Sementara itu, Sheza masuk dengan tergopoh-gopoh. "Ai!" Dia memanggil Aixa. Aixa menoleh, "kenapa?" Sebenarnya bukan hal yang luar biasa melihat Sheza bertingkah seperti itu, dia selalu pecicilan. Namun kali ini wajahnya terlihat sumringah. Jadi Aixa bisa menduga, dia pasti telah mendapat kabar kalau Aixa melampaui Fitri di rank lokal. "Keren. Sebagai hadiahnya, hari ini aku akan traktir minum jus. Bagaimana?" Aixa tertawa. Tampaknya Sheza begitu gembira, karena berhasil membuat Fitri marah. Dia malah ingin mentraktir Aixa, walaupun hanya sekedar jus. "Boleh saja, aku nggak menolak. Kalau perlu ditambah dengan makanan yang lain." "Ini akhir bulan Ai, jatah bulananku udah nyaris habis." Sheza menggeleng. Mereka berbisik-bisik, agar suaranya tidak terdengar. Sheza tampak emosi mendengar kata-kata Fitri, namun dia terus menguping pembicaraan itu. Pasti, dia sudah tidak tahan untuk mengungkapkan jati diri rambut merah. Namun dia terikat janji pada Aixa, janji kalau dia tidak boleh mengungkapkannya sekalipun hanya sebuah isyarat. Sebelum Aixa mengizinkan. Sangat mengherankan, Sheza bertahan untuk menyimpan rapat-rapat rahasia itu. "Nggak ada yang perlu dibanggakan." Aixa berkata. "Aku berhasil di posisi itu, karena bantuan dari Semut Merah. Bukan hasil usahaku sendiri." "Jangan terlalu merendah Ai, aku pernah melihat kau bermain. Dan kau memang memiliki bakat di bidang ini, aku rasa, ketika kau mencapai top global nanti. Kau akan segera di rekrut oleh klub profesional." "Entahlah, aku belum memutuskan apakah aku akan bekerja di bidang ini. Lagipula, menjadi seorang pro player memiliki batasan usia. Aku nggak pernah melihat, seorang pemain dengan usia yang dewasa." "Setidaknya kau bisa mengumpulkan pundi-pundi uang. Bisa membuat vlog dan lainnya. Ayolah, sebagai seorang perempuan, kau punya nilai tambah di sana." "Cita-citamu tampaknya terlalu muluk Sheza, tapi aku berterima kasih, karena kau begitu mendukungku." "Mulai deh." Sheza mencibir. "Kau lihat di sana, aku heran kenapa banyak orang yang mengerubungi Fitri. Mendengar suaranya yang cempreng aja, telingaku sudah sakit." "Astaga She, kau boleh nggak menyukainya. Tapi jangan menghina fisik." "Siapa yang menghina fisik? Aku berkata sejujurnya." "Iya maksudku, suara itu pemberian Tuhan. Kalau kau menghina perilakunya aku nggak akan masalah." "Iya, iya, aku paham." Sheza tertawa memamerkan giginya. Kerumunan di sekitar Fitri bubar, karena akhirnya dosen yang mengajar mata kuliah mereka masuk. *** Aixa pulang ke rumah dengan kesal, dia tadi membaca beberapa komentar di komunitas. Tampaknya mereka telah termakan isu dari penyebar hoax, yang mengatakan kalau pemilik ID rambut merah adalah seorang hode. Sebenarnya tidak salah, dia memang memilih untuk merahasiakan identitasnya. Tapi dia tidak suka ketika dirinya menjadi bahan pembicaraan dan itu ternyata negatif. Itu mempengaruhi pikirannya. Aixa berbaring di atas tempat tidur, dia jadi tidak bersemangat. Apalagi mood-nya sedang tidak baik. Kenapa tadi dia melihat komentar-komentar itu? Sekarang, dia sebaiknya bicara dengan Al. Tapi pria itu juga sama saja, dia bahkan nggak mau bertemu. Apakah, Aixa terlalu agresif, karena menginginkan mereka segera bertemu? Jawabannya tidak ada yang tahu. Ketika dia login di akun gamenya, dia melihat Al telah online. Mereka kemudian bicara. Tetapi, entah kenapa mood Aixa sangat buruk saat itu. Padahal dia baru saja mencapai posisi rank lokal, mengalahkan Fitri yang timnya mengikuti turnamen. Namun selang beberapa saat kemudian, ketika dia menanyakan lagi soal kapan mereka akan bertemu. Al tiba-tiba menghilang, suasana hati Aixa yang buruk semakin diperparah. Yah, dia cuma perempuan biasa yang sensitif. Bahkan saat ini, amat sensitif. Aixa terus menerus mengirimi pesan pada Al, tetapi beberapa chat tidak berbalas. Kemudian, Aixa memeriksa lagi percakapan di komunitas dan akun-akun fans COS, entah kenapa dia melakukan itu. Seolah-olah, komentar-komentar yang dia baca belum parah menusuk hatinya saja. Lagipula sebenarnya kenapa dia peduli pendapat orang-orang itu? Fakta bahwa dia perempuan adalah kenyataan. Aixa hanya tidak ingin orang-orang mengawasinya hanya karena masalah gender. Dia tidak terlalu suka menjadi pusat perhatian seperti Fitri. Aixa melihat lagi sebuah komen, isinya bertuliskan kalau dia pernah main bersama gamer dengan ID Rambut Merah dan mereka saling berbicara di game. Dia mengatakan kalau Rambut Merah seorang lelaki. Aixa tidak mengenal akun yang menulis itu. Pastilah orang-orang bayaran Fitri atau orang yang tidak memiliki pekerjaan. Dia saja tidak pernah bermain bersama orang lain selain Al, apalagi sampai menghidupkan fitur suara. Komentar itu benar-benar ngawur. Tapi, Aixa tidak akan membalas komentar itu. Dia jadi berpikir untuk berhenti bermain.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD