Aixa Kristal Dellyan,
Ai memasukkan laptop ke ranselnya, dia menstarter motor.
"Ai."
"Bang Raka."
"Abang antar aja, yuk, mau hujan nih." Itu adalah Raka Dellyan, abang tiri Ai. Ibunya menikah lagi dengan Ayah Raka sekitar empat tahun yang lalu.
"Nggak usah deh bang, aku pulangnya mau main ke rumah temen."
"Jangan kemalaman lho. Nanti aku diomeli papa. Ya udah, aku duluan." Bang Raka masuk ke mobilnya, usia Ai dan Raka sebaya tapi karena Raka lahir di bulan Februari dan Ai di bulan oktober maka Ai memanggilnya abang. Papa tirinya sangat menyayangi Ai dan mamanya bahkan terkadang sangat protektif pada Ai, maklum saja Ai anak perempuan. Raka sampai kerap mengeluh karena papanya terlalu sayang pada Ai ketimbang dia.
Ai segera mengendarai motornya ke sekretariat Magister Ilmu Kesejahteraan Sosial. Ya saat ini Ai sedang menempuh pendidikan S2 di kampus ternama.
"Ai!" Teman kampusnya yang sebaya menghampirinya. "Gimana caranya dalam satu minggu kamu naik ke level 30?!" tuntut Seza. Mereka membuat ID di hari yang sama kira-kira sebulan yang lalu.
"Aku bertemu gamer yang sangat jago, pokoknya gila sangat gila. Dia dewa. Aku mabar terus sama dia." Mata Ai berbinar menceritakan Semut Merah yang mempesonanya selama seminggu ini. Mereka bahkan selalu berbalas chat walaupun tidak melakukan match. Obrolan mereka sangat nyambung.
"Ajak aku kenapa sih."
"Boleh saja, tapi kami sering main di jam sembilan malam ke atas."
"Kalian main game atau main apa tengah malam?" ejek Seza genit.
"Hihi ... aku pikir dia cowok yang sangat keren." Ai mengeluarkan laptop dari ranselnya.
"Hah? Kamu lihat foto profilnya?"
"Nggak." Ai menggeleng.
"Jangan tertipu, bisa saja dia gendut, buncit dan sudah punya istri."
"Kenapa kalau gendut dan buncit, kalau kepribadiannya keren ya tetap aja keren. Kamu bisa di penjara kalau ada yang dengar kata-katamu Sez, body shamming!"
"Kamu nggak penasaran?"
"Sangat penasaran."
"Jadi kamu nggak mau cari info tentangnya?"
"Dia merahasiakannya, yang aku tau umurnya sekitar 25 karena dia bilang sudah hidup seperempat abad. Kemudian dia menyebut monet, itu berarti dia menyukai lukisan."
"Cuma itu?" Seza menggeleng tak percaya.
"Kamu tau, aku menduga dia pria berkelas."
"Astaga kamu jatuh cinta online!"
"Kalau bisa aku ingin memelet dia secara online." Ai terkikik. "Tapi yang ada aku malah menghabiskan uang jajanku untuk mengirimi dia hadiah."
"Ya Tuhan! Kamu gila!"
"Nggak gila, aku menontonnya saat dia dan tim memenangkan kontes tingkat kota, tapi timnya kalah pas ke tingkat provinsi tebak kenapa? Karena dia tidak ikut."
"Membuatku penasaran saja, apa dia bisa joki akun? Aku akan jualin bajuku secara preloved untuk membayar jasanya."
"Kurasa tidak. Dia tampaknya tak butuh uang."
"Mana ada orang seperti itu."
"Soalnya aku bertanya agar dia membuat konten youtube tapi dia hanya tertawa aneh."
"Bagaimana kamu tau dia tertawa aneh? Memang kamu melihat wajahnya?"
"Feeling saja."
"Luar biasa ya."
"Aduh, aku kesengsem banget sama dia, Sezaaaa ... gimana ya? Aku jadi penasaran."
"Kamu pancing-pancing dia, seperti inisial namanya terus dia kerja atau kuliah atau pengangguran. Tinggal di mana?"
"Udah. Tapi dia kayanya nggak mudah terpancing."
"Jangan-jangan dia sudah sering gombal secara online, mencari mangsa-mangsa."
"Aku nggak bilang kalau aku cewek."
"Ya itu basi. Bisa saja dia sudah feeling. Laki-laki seperti apa yang punya ID rambut merah, kalau laki-laki dia akan buat rambut botak atau rambut gondrong atau rambut bawah."
Pipi Ai memerah, "Astaga Seza! v****r sekali kata-katamu."
"Otakmu yang v****r Ai." Seza tertawa, "Maksudnya bulu kaki."
"Ish jorok," rutuk Ai. "Tapi kan banyak gamer yang menyamar jadi cewek supaya banyak perhatian, bisa juga dikirimi hadiah."
"Nah kamu kebalikan, kamu malah kirim dia hadiah. Apa reaksinya?"
"Mana dia bisa menolak itukan otomatis. Dia beberapa kali komplain."
"Sabar saja, nanti juga kalo sudah kelamaan ngobrol dan kehabisan bahan pembicaraan kalian akan mepet-mepet ke dunia nyata."
***
Zio memasuki galeri lukisan ternama di pusat kota.
"Siang pak." Seorang pegawai menyambutnya, Zio mengangguk. Dia bertanya tentang lukisan dari pelukis yang kemarin dimenangkan oleh galeri mereka di pelelangan.
Pekerjaan utama Alzio adalah seorang kurator muda dan pengelola galeri lukisan, walaupun dia tak tertarik untuk menari seperti kedua orang tuanya toh bakat seni tak dapat dipungkiri.
Alzio akan datang ke galeri lukisannya jam 10 pagi dan dia memiliki operasional manager galeri yang dipercayai untuk menjalankan rutinitas galeri. Alisa, seorang wanita cantik dan aktif lulusan universitas seni di Jerman. Dia akan pulang pukul tiga sore, apabila tidak ada pameran atau lelang yang akan diikuti. Dengan kekosongan waktu di malam hari dia menyalurkan hobi dengan bermain game.
Alzio telah merintis galeri lukisan sejak masih duduk di bangku kuliah padahal jurusannya Teknik, memang benar kata ibunya, apa yang kita pelajari di bangku kuliah belum tentu mencerminkan kita di masa depan.
Dengan jerih payah, keringat dan air mata Alzio membangunnya dulu, jatuh bangun berkali-kali, tapi dia tidak menyerah. Sekarang galeri lukisan Alzio sangat terkenal bahkan sampai ke mancanegara. Mereka juga kerap memenangkan lelang lukisan-lukisan yang langka. Alzio hanya tinggal mengawasi saja, pekerjaannya tidak seberat dulu.
Alisa menyerahkan daftar lukisan yang sedang mereka incar dari daftar kolektor. Alzio mengerutkan kening, memandang Alisa. Seperti mengerti maksud bosnya Alisa berkata.
"Benar, lukisan Rula Kana akan dilelang."
Alzio berdiri, tangannya memegang kening. "Bagaimana caranya harus kita dapatkan."
Alisa mengangguk, siapa yang tidak kenal Rula Kana dalam dunia seni lukis. Lukisannya hanya ada lima buah, diburu oleh kolektor dengan harga sangat tinggi, identitasnya saja rahasia. Sudah beberapa tahun Alzio berusaha mendapatkan salah satunya, tetapi tidak ada kolektor yang melepas. Dari lima lukisan yang dikabarkan ada, hanya tiga yang saat ini telah diketahui.
"Aku akan berangkat ke Singapore." Ya acara lelang itu akan di adakan di Singapore. "Tolong siapkan semuanya."
"Aku ikut Zi?"
"Kenapa tanya, itu sudah jelas."
Alisa tertawa, "Baiklah Zio."
Alisa memanggil bosnya hanya dengan nama sesuai permintaan Zio. Dia agak geli kalau di panggil bapak, oleh orang sebayanya.
Ping.
Alzio melihat chat dari user game COS. Senyum muncul di wajahnya.
"Kamu boleh pergi."
Alisa mengangguk dan meninggalkan ruangan Zio.
Rambut Merah (RM) : Siang! Sudah makan?
Semut Merah (SM) : Belum, mau ngajak?
RM : Kalau diajak apa mau?
SM : Tergantung.
RM : Lagi makan nasi goreng pedes.
SM : Siang-siang makan nasi goreng? Oh pantes aku seperti ngebayangin ikan tadi.
RM : Ikan?
SM : Iya, ikan kalau lagi nafas mulutnya megap-megap persis kamu kalo lagi kepedesan.
RM : Lol. Kaya tau aja gimana aku kalo kepedesan. Kalau kamu kasih alamatmu, aku anterin nasi goreng via ojek online.
Zio tertawa. Bukannya dia tidak tahu kalau Rambut Merah yang mengaku bernama Kelly itu selalu memancing-mancing agar Zio membongkar identitasnya. Dia sendiri tidak bohong dia menyebutkan namanya Al. Tapi berapa banyak lelaki bernama Al di negara ini?
SM : Wah tiba-tiba sekretarisku bawa masuk makanan.
RM : Sekretaris?
SM : Hmm...
RM : Oke deh aku lanjut makan dulu. Nanti malam mau mabar?
SM : Tentu. Besok sampai tiga hari aku mau ke Singapore. Jadi mungkin tidak bisa main.
RM : Oh oke, bubye ...
Zio tersenyum-senyum sendiri dengan percakapan itu, sudah sebulan ini dia selalu menunggu mengobrol secara online dengan Rambut Merah. Bukan masalah sulit melacak IP address-nya, nanti saja kalau Zio sudah kebelet saking penasarannya.
***