Ai menopang kepala dengan tangan, dia nyaris tertidur saat rapat panitia untuk kegiatan CSR mereka. Mahasiswa magister KS sedang membuat rencana kegiatan CSR pendampingan masyarakat.
"Ai," panggil Reno. Teman sekelasnya.
Ai mengangkat wajahnya, matanya yang mengantuk menatap Reno.
"Kenapa?" jawabnya pelan.
"Astaga kamu tertidur?" Reno menggelengkan kepala.
Uuh, dia semalam mengantuk sekali karena mabar dan chatting sampai pagi dengan Semut Merah. Karena hari ini pria bernama Al itu akan pergi ke Singapura untuk urusan bisnis. Berarti dia seorang pebisnis dan sudah bekerja. Ai mencatat lagi informasi mengenai Semut Merah di agendanya.
"Jadi apa program CSR kita kali ini?" tanya Ai pada Reno yang didaulat menjadi koordinator lapangan.
"Penyuluhan di wilayah pesisir, meningkatkan kesadaran anak nelayan untuk melanjutkan jenjang sekolah sampai perguruan tinggi," jelas Reno.
"Nice." Mata Ai berbinar cerah, dia suka sekali kegiatan-kegiatan semacam itu. Tampak cocok dengan jiwanya.
"Hanya saja sponsor kita yang biasa menarik diri kita harus mengajukan ke sponsor yang baru." Reno mengeluh.
"Kenapa? Apa sudah ada target yang lain?"
"Masih di list, tapi belum ada yang konfirmasi."
Aixa mengangguk, dia melirik laptop-nya, tidak ada yang menarik. Sejak mabar bersama Semut Merah dia malas main solo. Lagipula sekarang dia lebih gembira saat login melihat ID itu online. Dia menangkupkan kepalanya lagi.
"Game itu bikin kecanduan, ya." Reno tertawa. Reno termasuk player pro, dia sudah di top lokal. Kalau Ai main game bersama Semut Merah terus, bisa dipastikan cepat atau lambat dia akan naik ke top lokal.
Ping.
Aixa seketika berbinar, ada chat.
Sm: Halo
Dengan mata super berbinar Aixa menjawab.
Rm: Halooo, sibuk sekali ya?
Sm: Baru kelar acaranya, may I call you?
What? Benarkah?
Rm: oh okey. 08xxx
Selang beberapa detik kemudian panggilan masuk ke ponselnya dengan kode +65. Kelly buru- buru keluar ruangan dan mencari bangku yang agak sepi.
Dengan gugup Ai mengangkat.
"H-haloo ...."
"Hai Kelly." Suaranya serak dan indah, Ai buru-buru menekan tombol perekam.
"Ohh hai Al. Having a good day?"
"Untuk kerjaan di sini, dan aku gagal mendapatkannya."
"Kamu bisa mencoba lagi nanti."
"Ya Makasih. Oh kamu sedang apa? Aku sedikit ragu menelpon tadi, takut mengganggu."
"Aku di kampus ... ah."
"Kamu kuliah?" Suara itu tertawa, "Kemarin bukannya kamu bilang sudah kerja?"
"Tidak semua yang kamu dengar itu benar Al, terutama di dunia online."
Dia tertawa lagi, "Aku selalu jujur lho."
"Jelas saja, hanya sedikit sekali informasi yang kamu berikan."
"Jadi kamu sedang apa?"
"Rapat untuk kegiatan CSR, tapi sponsor kami menarik diri."
"Kalian butuh sponsor?" Al bertanya di seberang.
"Yap." Ai menjawab cepat.
"Mau aku bantu?"
Ai menganga lagi. "Nggak usah Al, kamu kan orang asing." Ai tertawa lagi.
"Kita sudah saling kenal sebulan. Aku akan meneruskan email ke temanku, dia seorang pemilik galeri. Kamu emailkan saja proposalnya. Tapi aku tidak janji ya."
"Wah, baik kalau begitu."
"Jangan sungkan, Kelly, kebetulan temanku bilang kemarin dia butuh kegiatan CSR juga," lanjutnya.
"Okey. Al kerjaanmu apa?" Dia pasti menelepon dengan nomor palsu.
"Aku berada di pelelangan tadi."
"Barang ilegal?" Pelelangan? Aixa mulai menganalisis pekerjaan yang berhubungan dengan lelang.
Dia tertawa lagi, "Jelas tidak, aku tidak senekat itu."
"Hei, kenapa aku memberimu nomorku? Kalau kamu tidak memberikan nomor ponselmu setelah ini. Aku akan marah."
"Suara kamu merdu, memang pas dengan dugaanku."
"Apa kamu lelaki seperti itu? Perayu."
Dia tertawa.
Ai melanjutkan, "Jadi nanti malam mau ke mana?"
"Mungkin ke Clarke Quay."
"Mencari bule?"
"Aku lebih suka citarasa lokal."
Kali ini Ai yang tertawa, "Aku nggak push hari ini males main solo."
"Besok aku pulang, lagian target hari ini gagal. Makasih sudah menghiburku ya."
"Menghibur kamu?" Aixa merasa tidak melakukan apa-apa.
"Ya, aku sedikit merasa terhibur dengan suaramu."
"Ow. Oh aku dipanggil. Bye." Aixa terpaksa memutus sambungan itu karena mendengar Seza memanggilnya.
"Bye."
Ai berlari cepat menuju ruang kelasnya. Semoga nanti dia punya kesempatan untuk berbincang lagi dengan Semut Merah.
***
Wah suaranya lembut dan merdu, Zio tersenyum. Dia bilang kemarin bekerja dan ternyata kuliah, tapi bukankah dia pernah keceplosan bilang 'waktu kuliah dulu'? Mahasiswi magister?
Zio mengirim alamat email galeri ke nomor Kelly. Nanti, dia akan memantau siapa sebenarnya sosok yang telah menarik perhatiannya itu, harus dia duluan yang tau biar lebih seru. Hufft! Zio sedikit kesal mereka gagal mendapatkan lukisan, seorang kolektor pribadi membayar harga sangat mahal.
Sial mendengar suara Kelly tadi membuat dirinya berdebar, padahal di dunia nyata bisa dipastikan Zio tidak akan semudah itu berbincang dengan lawan jenis. Semua berbeda saat berada di dunia maya.
Alisa telah mem-forward proposal CSR dari Magister Kesejahteraan Sosial Universitas Nusantara. Yang pertama kali dilakukan oleh Zio adalah mengecek nama panitia. Kenapa tidak ada yang bernama Kelly? Jangan katakan itu nama palsu? Alzio tertawa. Walaupun dia sudah merasakan bahwa Rambut Merah memang seorang wanita, tetap saja dia merasa gembira telah bercakap-cakap walau hanya sebentar.
Tadi, dia begitu suntuk karena tidak berhasil memenangkan pelelangan, dan entah kenapa dia ingin mendengar suara teman online-nya selama sebulan ini. Ternyata suaranya memabukkan, menggema di kepala Alzio. Mungkin ini juga efek jangka panjang kejomloan.
Zio mengecek pesan masuk, banyak sekali pesan masuk ke ID Macan Belang, dari club profesional maupun dari player-player yang menantangnya, baik untuk pembuktian diri ataupun untuk konten di dunia maya.
Seharusnya malam ini dia ingin nongkrong di Clarke Quay, mendadak dia merasa malas. Dia terus mengingat Kelly. Lucu juga kadang dunia maya seperti dunia nyata, begitupun sebaliknya. Zio membayangkan matanya, hidungnya, bibirnya, saat berbicara mereka sangat cocok dan selalu memiliki bahan pembicaraan. Semoga saja Ai belum memiliki suami, Zio terkekeh.
Bel kamarnya berbunyi. Itu pasti Alisa, dia membuka pintu kamarnya. Alisa mengajak makan malam di restoran hotel kalau mereka tidak jadi pergi keluar. Alzio merasa tidak lapar, dia hanya makan saat lapar bukan sesuai jadwal, herannya tubuhnya tetap normal tidak menjadi kurus.
"Kamu sendiri saja ya. Aku nggak lapar," kata Zio. Alisa mengangguk, heran, rasanya hanya Alzio yang memilih tidur ketimbang makan berduaan dengan wanita cantik seperti Alisa.
Alzio berjalan lagi ke kamar mandi. Dia membersihkan diri sebelum nanti berbaring di ataa tempat tidur hotel yang empuk. Seandainya dia meminta foto pada Kelly apa Kelly akan memberikannya? Lumayan foto itu bisa jadi hiburannya saat sedang senggang.
***