"Siapa akun rambut merah ini?!" Fitri, Musuh bebuyutan di kelas sekaligus perempuan yang mengklaim diri sebagai cewek paling cantik dan sexy itu berteriak marah. Sejak tadi dia terlihat uring-uringan.
Aixa dan Sheza berbisik-bisik, Aixa merahasiakan user ID nya. Bahkan yang tahu kalau dia juga player COS hanya Sheza dan Rendra, Rendra sendiri tidak mengatahui user Aixa. Dia cuma tahu kalau Aixa bermain game COS.
"Kenapa marah sayang?" Pacar cewek itu memeluknya mesra, mereka memang tidak tahu tempat. Pacaran seperti anak ABG saja. Semakin dinasehati, semakin menjadi. Begitulah kelakuan Fitri dan kekasihnya.
"Dia mulai naik ke peringkat seratus lokal, dan semua berkata kalau dia gadis yang cantik." Fitri berkata dengan emosi, nada suaranya sedikit meningkat.
"Mana mungkin, dia pasti hode. Hanya kamu gamer perempuan top lokal yang paling cantik sayang." Puja puji dari sang kekasih membuat Fitri semakin besar kepala.
"Benar juga kalau wajahnya nggak jelek, mana mungkin dia tidak memajang fotonya, ya." Fitri kemudian tersenyum sumringah. Mereka tertawa tanpa peduli kalau di sekitar mereka ramai dikelilingi oleh mahasiswa dan mahasiswi.
Aixa mengalihkan pandangannya dari perempuan itu.
"Jijik dengernya, mau muntah," kata Aixa.
Ucapannya diiyakan oleh Sheza. "Ayo kita pergi saja." Sheza mengajak Aixa keluar agar racun Fitri tidak mencemari mereka.
"Kayak paling kecakepan," rutuk Aixa lagi. Dia yakin masih banyak player perempuan yang lebih jago dan berparas cantik dibanding Fitri, selain itu tidak berotak culas sepertinya.
"Tau tuh," dengus Yulia.
Mereka kemudian menuju kantin kampus. Duduk di meja yang kosong untuk mengobrol, "Jadi sudah ada perkembangan tentang Semut Merah?" tanya Sheza.
Aixa menggeleng. "Tapi temannya yang pemilik galeri sedang mempertimbangkan untuk mensponsori kegiatan jurusan kita."
"Kamu tempelin aja nanti temannya itu untuk cari informasi." Sheza menyarankan. Padahal, Aixa jelas sudah memikirkan cara itu. Aixa harus tahu siapa sosok di balik Semut Merah yang membuatnya penasaran selama ini. Lagipula, selama dia bermain game banyak lelaki yang tidak sopan dan kurang ajar. Sangat berbeda dari gaya bahasa Semut Merah, dia pastilah seorang yang terpelajar dan berwawasan. Dia sangat sopan terhadap perempuan.
"Tanpa kamu suruh juga aku pasti akan mengintai dengan ketat."
"Seandainya dia tidak sesuai ekspektasi kamu bagaimana? Misal dia udah punya cewek?"
"Aku itu penasaran, bukannya mau menjadikan dia pacar. Mentang-mentang aku jomlo, jangan menuduhku begitu, Shez."
"Kenapa ini bahas-bahas jomlo?" Terdengar suara Rendra. Ternyata pria itu menyusul mereka ke kantin. Dia segera duduk di dekat Aixa dan Sheza tanpa izin.
Mereka menggeleng. Rendra memperhatikan menu pesanan Aixa dan Sheza, kemudian dia menjentikkan jemarinya.
"Hei kalian main COS juga bukan?" tanya Rendra tiba-tiba.
"Ya," jawab Aixa dan Sheza.
"Ada turnamen tuh khusus cewek se-Asia tenggara, ikutan, lah." Rendra berkata lagi.
"Belum pede," sahut Aixa. Seandainya dia punya sedikit saja kemampuan dari Semut Merah, dia pasti luar biasa. Mungkin, Aixa akan direkrut untuk tim ladies.
"Apalagi aku." Sheza menggelengkan kepalanya.
"Coba-coba saja," bujuk Rendra. "Walaupun gagal, kalian bisa aja udah dapat fans. Lumayan untuk membuka karir menjadi vloger."
"Nggak mau," jawab Aixa cepat, belum-belum saja dia sudah dibully oleh Fitri, bagaimana kalau nanti ketahuan user IDnya dan dia kalah di babak pertama? Bisa habis di bully dia. Fitri mana pedulu kalau dia berkemampuan, dia hanya akan menjatuhkan saingannya.
Tampaknya Aixa harus segera berbincang dengan Semut Merah, astaga baru semalam mereka ngobrol dan sekarang, dia ingin chat lagi dengan pria itu. Berbicara dengannya membuat Aixa deg-degan.
Aixa mulai marah karena Semut Merah berjanji memberikannya nomor ponsel tapi tidak terealisasi. Dia memutuskan untuk berpura-pura ngambek, sekalipun dia sangat kangen chat dengan pria itu. Aixa akan melihat apakah pria itu peduli padanya ketika dia bersikap cuek.
"Pikirkan aja dulu, kalau kalian minat. Nanti kita berlatih bersama." Rendra menawarkan.
Aixa menyeruput minumannya hingga habis.
***
Aixa pulang ke rumah sudah malam, karena, dia tadi pergi ke mall bersama Sheza. Uh sangat lelah, Aixa segera meletakkan tas di kamarnya yang simple minimalis dengan warna lembut. Aixa berpikir untuk mendekor ulang kamarnya dengan warna-warni yang cerah, supaya ada penyegaran. Dia akan mengatakan pada ayahnya nanti soal itu.
Dia segera menghidupkan laptopnya dan tersenyum saat melihat Semut Merah sedang online.
"Haloo malem..." Dengan segera dia mendapat pesan dari semut merah.
Aixa memutuskan untuk tidak membalas chat itu. Tapi dia terus menerus berharap kalau Semut Merah menyadari kemarahan Aixa dan membujuknya dengan sedikit mengungkap jati diri.
"Kelly, apa kau di sana?" Semut merah bertanya lagi.
Sepuluh menit Aixa bertahan, apa sebaiknya dia bilang dia marah? Ponselnya berbunyi, Aixa melirik. Nomor tak di kenal. Harusnya tadi dia tidak langsung menerima.
"Halo." Aixa menjawab.
"Kamu ngambek?" Terdengar suara renyah di seberang. Aixa tersenyum penuh kemenangan, taktiknya memang berhasil.
"Nggak, cuma agak capek di kampus." Aixa berdalih.
Suara di seberang bergumam. "Maaf."
Tampaknya semut merah cukup peka, tahu kalau dia sedang ngambek. Apa benar dia seorang penggombal? Aixa jadi kepikiran.
"Aku akan memberikan nomor ponselku, simpan segera." Akhirnya semut merah mengatakan hal yang ditunggu oleh Aixa. Aixa bersorak gembira. Ternyata taktiknya berhasil.
"Jadi, apa yang sedang kau lakukan? Kenapa baru online? Aku menunggumu sejak tadi." Semut merah mengiri pesan lagi.
"Apa kau bermain?" Aixa akhirnya tidak tahan untuk tidak membalas, lagipula, misinya telah berhasil.
"Belum, aku menunggumu."
"Aku tadi, pergi ke mall bersama temanku. Dia juga bermain COS." Sheza bilang kalau dia ingin diajak bermain bersama semut merah. Namun, rasanya untuk saat ini Aixa tidak ingin menanyakan soal itu pada Al. Dia tahu kalau dengan kemampuannya, pria itu telah terbebani saat mereka bermain bersama. Apalagi, ditambah dengan Sheza. Kemampuannya sangat buruk.
"Aku rasa sekarang, hampir semua orang menjadi coser." Semut merah menjawab. Memang benar, game ini telah meluas secara mengagetkan.
"Temanku berkata soal turnamen se-asia tenggara. Apa kau telah mendengarnya?" tanya Aixa.
"Ya. Kau ingin ikut?" Semut merah bertanya.
"Aku nggak senekat itu, Al."
"Nggak ada yang nggak mungkin, aku akan mendukungmu."
Aixa mengirim icon tertawa terbahak-bahak. "Lagipula Al, aku nggak siap muncul di depan umum."
"Nggak ada salahnya menjaga privasi, orang berhak melakukan itu."
Ternyata semut merah memang berbeda, dia tidak memaksa Aixa untuk mengungkap jati dirinya. Padahal biasanya, dalam dunia game, begitu mengetahui ada seorang player perempuan, pria rata-rata akan memintanya membuktikan kalau dia seorang perempuan. Apalagi kalau dia cukup jago bermain.
"Di kelasku ada seorang player top lokal perempuan."
"Oh ya?"
Aixa menyebutkan id player Fitri. Kemudian dia bercerita soal apa yang Fitri katakan.
"Jangan khawatir, top lokal terlalu mudah untukmu. Aku pasti akan membawamu menjadi top global, Kelly."
***