Alzio merasa geli, salahkah dia saat merasa kalau Aixa lucu dan menggemaskan? Sekalipun, dia belum mengetahui bagaimana sosok perempuan itu. Tapi dari kata-katanya, membuat Alzio kegelian.
Saat ini, Aixa pasti sangat penasaran terhadap sosok dirinya. Terlihat jelas dari kata-katanya yang terus mendesak, rupanya dia termasuk tipe perempuan yang tidak sabaran. Tapi, itu wajar saja, dia masih cukup muda kalau dibandingkan dengan sosok Alzio. Pastilah emosinya masih meledak-ledak.
Dia dan tim galeri yang juga terdiri dari kurator akan pergi ke Belanda untuk memburu lukisan. Lukisan itu tadinya merupakan karya pelukis dalam negeri, namun telah berpindah tangan sekian lama. Baru-baru ini, seorang kolektor di Belanda berkata kalau dia memilikinya dan ingin melepasnya.
Alzio tidak akan melewatkan kesempatan ini, sekalipun harus menggelontorkan biaya yang amat besar. Dia akan mendapatkannya. Setelah setahun terakhir, Alzio belum mendapatkan lukisan yang membuat galerinya kembali eksist.
Alzio melirik ponselnya, ada telepon dari ibunya di benua paman sam.
"Halo." Suara ibunya tidak pernah berubah sejak kali terakahir mereka bertemu.
"Hai, Ma."
"Anakku apa yang kau lakukan saat ini?" tanya beliau di seberang.
"Bermain game," sahut Alzio.
Terdengar tawa renyah ibunya. "Itu bagus, mama khawatir kalau kau terlalu banyak bekerja dan kurang bersenang-senang."
"Bersenang-senang seperti apa yang mama maksud?" Alzio ikut tertawa. Di ponsel yang satu lagi dia melihat Kelly mengirim pesan beruntun, seolah kesal karena dia tiba-tiba menghilang. Perempuan ternyata amat posesif, tapi, Alzio menyukai perlakuan Kelly terhadapnya.
Alzio harus mencari tahu siapa nama asli gadis itu.
"Aku akan berangkat ke Belanda beberapa hari lagi, Ma." Alzio berkata. Dia memang selalu mengabari orang tuanya kalau bepergian.
"Hebat, luar biasa sekali. Mama yakin anak mama pasti mendapatkan keinginannya."
Alzio tersenyum. Sejak dulu, sekalipun orang tuanya amat sibuk. Mereka selalu berbincang, mereka terus meyakinkan dirinya kalau dia mampu. Mungkin, itulah yang membuat Alzio sanggup menjalankan sebuah galeri lukisan sekalipun dia memiliki basic teknik.
"Terima kasih, Ma. Nanti aku akan menghubungi mama kalau butuh dana tambahan."
Ibunya tertawa. " Kau bisa menggunakan dana keluarga kita sesukamu, sayang."
"Ma, apa mama dan papa akan kembali dalam waktu dekat?"
Ibunya terdiam. "Akan kami usahakan, tapi sangat sibuk belakangan ini, Zio."
"Aku hanya bertanya, mama dan papa nggak perlu khawatir. Aku banyak kesibukan."
"Zio, berikan mama seorang menantu."
Lagi-lagi Alzio tertawa. "Mama mau menggantikan kehadiran mama dengan seorang menantu, ya?"
"Tentu saja, setidaknya mama tau kalau kau nggak akan kesepian dan memiliki teman di sana. Papamu juga sudah ingin anak perempuan dan seorang cucu."
"Mama doakan saja."
Beliau bergumam. "Mama rasa, kau telah memiliki calonnya, Zio."
Alzio diam saja dan tidak menjawab ibunya, sekarang dia memiliki teman dekat virtual. Lucunya, Alzio merasa kalau Kelly sekarang jadi pasangannya. Hampir setiap malam mereka berbicara dan berbincang.
"Nanti aku kenalkan, kalau sudah resmi. Papa di mana?" Alzio mengalihkan pembicaraannyq, soal pasangan, ibunya pasti akan amat heboh.
"Tadi keluar bersama temannya. Zio, baik-baik di sana. Mama dan papa akan usahakan pulang kalau memiliki waktu yang lebih luang."
"Ya, Ma."
Ibunya memutuskan sambungan telepon. Alzio kembali mengecek pesan dari Kelly. Sudah terhenti sekitar lima menit yang lalu. Sepertinya dia benar-benar kesal.
***
"Aixa."
Aixa mendengar pintu kamarnya diketuk.
"Lagi ngapain?" Abangnya itu bertanya saat melihat Aixa terus menerus melihat ke arah ponsel. Sambil membuka lebar laptopnya. "Apa ada tugas kampus?" Dia bertanya lagi.
Aixa menggeleng.
"Ayo keluar, mama suruh siapkan makan malam. Ada papa juga baru pulang."
Aixa melihat ponselnya dan belum ada balasan dari Al, akhirnya dia beringsut bangun dari tempat tidurnya dan keluar mengikuti Raka.
"Putri tidur udah bangun?" ejek ibu Aixa saat melihatnya keluar.
"Aixa nggak tidur, Ma?" Protesnya.
"Terus, ngapain sejak balik kampus tadi di kamar terus?"
"Main game."
Ayahnya tertawa mendengar itu. "Biar aja, Ma. Mahasiswi perlu bersantai juga biar nggak terlalu stres dengan materi kuliah."
"Tuh, kan, Ma, papa aja setuju. Bang Raka juga mendukung Ai, kan?"
"Abang nggak ikut-ikutan sekarang, nanti jadi sasaran kemarahan mama."
Aixa mencibir. Biasanya Raka akan membelanya juga, setelah menjadi bagian keluarga mereka, Aixa mendapat dua bala bantuan saat menghadapi sang ibu.
"Aixa sedang berlatih untuk menjadi content creator."
"Apa itu?" tanya ayahnya.
"Nanti, Ai akan buat video permainan game terus Ai upload ke internet. Semakin banyak yang menonton, Ai akan dapat uang."
"Tumben sekarang mau buat begitu," celetuk Raka.
"Ya, karena sekarang permainan game Ai udah jago abang."
Raka tertawa. "Yakin karena itu? Bukan karena yang lain?"
"Yang lain apa?" Ibunya ikut bertanya.
"Ada pacar mungkin," jawab Raka. "Soalnya, abang perhatikan suka lihat ponsel sambil senyum senyum."
Wajah Aixa memerah. Itu membuat semuanya tertawa.
"Wah, ternyata putri papa udah punya pacar. Ayo dong dikenalkan ke rumah."
"Nggak, Pa. Bohong ... Bang Raka sembarangan." Aixa merengut.
Memang keluarganya sangat akrab dan hangat, membuat hal semacam itu tidak canggung kalau dibahas bersama.
"Tunggu Bang Raka bawa pacarnya juga ke rumah." Aixa berkata tidak mau kalah.
"Kenapa abang? Abang nggak punya pacar," elak Raka.
"Bohong, mana mungkin cowok seganteng abang nggak punya pacar," balas Aixa tak kalah sengit. Dia menyendokkan nasi ke piring ayahnya dan Raka. Semua tertawa mendengar ucapan Aixa.
"Nggak apa, punya pacar satu dua orang. Asalkan tetap ingat untuk menjaga diri." Ayahnya berpesan.
"Iya, Pa," jawab Aixa dan Raka serentak.
"Bagaimana soal kuliah? Apa ada yang menarik?" Ayahnya bertanya pada Aixa.
"Oh, iya, rencananya kami akan mengadakan kegiatan, Pa. Kayak kunjungan ke masyarakat pesisir begitu."
"Bagus sekali itu."
"Kebetulan proposalnya juga udah tembus, ada sebuah galeri yang mau mendanai kegiatan kami."
"Galeri?" tanya Raka yang ternyata ikut menyimak pembicaraan.
Aixa mengangguk. "Galeri lukisan."
"Sangat jarang galeri mau menjadi sponsor kegiatan mahasiswa." Raka berkata lagi. Aixa tersenyum gembira, ini kasus yang berbeda, karena Aixa mendapatkan bantuan dari Al, teman main gamenya.
"Itulah gunanya relasi, abang." Aixa menjulurkan lidahnya.
Raka tertawa mendengar itu. "Sombong banget."
"Ai bilang yang sebenarnya, karena ... sponsor kali ini juga berhasil didapatkan berdasarkan rekomendasi."
Tapi Aixa memutuskan untuk tidak memberi tahu bahwa dia adalah penyambung antara sponsor dan kepanitiaan, bagaimana juga nanti pasti ada pembahasan yang lebih panjang. Soal kenapa Aixa bisa mengenal dan mengetahui galeri yang menjadi sponsor mereka.
"Semoga acaranya sukses." Ayahnya menyemangati.
Aixa mengangguk-angguk. Dia mulai menyantap hidangan makan malam. Tadi, dia mengirim pesan yang sangat panjang pada Al. Apa Al akan menganggapnya sebagai perempuan yang tidak tahu malu? Aixa mengeluh, dia seharusnya menjaga sikap di depan pria itu.
Al sampai tidak membalas pesannya lagi, apa dia terganggu dengan sikapnya? Tapi, Al sendiri yang mengatakan kalau dia boleh bersikap seperti yang dia inginkan di hadapan pria itu.
***