Sepulangnya dari galeri, lagi-lagi Aixa dibuat memikirkan sesuatu. Dia tadi menguping pembicaraan asisten pemilik galeri di telepon. Berarti, nama dari pemilik galeri yang akan bekerja sama dengan mereka adalah Zio.
Tadinya Aixa sedikit berharap kalau pemilik galeri adalah sosok Al, teman gamenya selama ini. Bukankah itu bisa saja terjadi? Dia berpura-pura mengatakan kalau temannya pemilik galeri itu, kemudian, kenapa hari ini dia tidak datang?
Dia hanya menyuruh asistennya yang menjelaskan segalanya. Perempuan yang sangat cantik bernama Alisa itu, Aixa sama sekali tidak bisa melupakan bayangannya. Dia sangat menarik.
Dan terlihat dewasa, berbeda sekali dengan mereka. Dia saja terlihat lusuh, karena langsung dari kampus.
Melihat Aixa melamun, Sheza menegurnya.
"Kenapa sih melamun?"
Reno juga melihat. Kebetulan Sheza yang duduk di kursi penumpang di sebelah sopir. Sedangkan Aixa duduk di tengah.,
"Nggak, aku mikirin galeri tadi, keren banget, ya?" Aixa berkata.
Reno dan Sheza mengiyakan.
"Bagaimana kalau kita nongkrong dulu minum kopi?"
"Aku sih oke aja, tapi nggak tahu gimana Aixa? Apa mau pulang lebih dulu?" tanya Sheza.
Tadinya Aixa ingin pulang dan beristirahat, tetapi ternyata dia memutuskan untuk bersantai dulu.
"Oke, aku akan ikutan."
"Apa nggak mabar?" tanya Sheza, memang aktivitas Aixa akhir-akhir ini tidak ada yang hilang dari luputannya.
"Sepertinya nggak," sahut Aixa. Al bilang dia bekerja hari ini sampai sore.
"Apa kalian aktif bermain COS?" Reno bertanya.
"Bermain setiap hari apakah bisa dibilang aktif?"
"Tentu saja." Reno tertawa mendengar jawaban dari Sheza.
Reno memarkirkan mobilnya di sebuah kafe dekat dengan kampus. Itu memang sering menjadi tongkrongan mahasiswa, seperti biasa Aixa memesan cappucino.
"Akhir-akhir ini aku menonton live streaming Fitri saat dia mengikuti turnamen Asia Tenggara, kemampuannya cukup hebat. Tapi itu juga karena dia memiliki tim yang bagus." Reno memulai obrolan mereka dengan membahas mengenai game.
"Aku rasa Aixa juga bisa kalau dia mau."
"Aixa? Apakah sudah masuk ke jajaran top lokal?" tanya Rino.
Aixa tidak mau mengatakan hal itu, dia lebih nyaman menyembunyikan diri. Lagipula saat ini, dia merasa belum layak untuk disebut sebagai player perempuan yang hebat. Dia saja bisa masuk ke top lokal, karena bantuan dari Al.
"Sheza terlalu berlebihan, aku pemula." Aixa berkata.
"Biasanyanya yang jago sering merendah." Reno tersenyum.
"Bagaimana denganmu, No?" Sheza balik bertanya.
"Akhir-akhir ini aku sangat sibuk, terutama ketika proposal kegiatan kita di-acc. Aku merasa perlu untuk bekerja lebih giat."
"Kau memang ketua panitia yang bertanggung jawab, No."
"Tapi sejujurnya, aku tadi sangat ingin bertemu dengan pemilik galeri. Beliau pasti sangat sibuk. Aku dengar, seorang kolektor saja sekarang berpergian ke mana-mana untuk mencari koleksi buruannya. Apalagi pemilik galeri seperti itu."
"Oh ya, aku mengetahui namanya, bagaimana kita kalau kita mencari apakah dia memiliki profil? Aixa berkata.
Kata Alisa asistennya, bosnya sangat jarang tampil di publik. Dia juga tidak menyukai pemberitaan mengenai dirinya. Tampaknya seseorang yang tertutup.
"Benarkah? Sepertinya orangnya introvert."
Aixa berhasil menemukan beberapa foto pemilik galeri, Sheza melongok melihat ponselnya.
"Wah, terlihat tampan."
Hanya ada beberapa foto di pencarian internet. Seorang pria bernama Alzio. Nama itu, membuat kening Aixa berkerut. Al? Dia semakin penasaran. Apa mungkin feeling-nya tepat, bahwa Al adalah pemilik galeri yang bersembunyi? Tapi, bukankah itu sangat hebat. Bagaimana dia bisa membagi waktunya untuk bermain game dan menjadi pemilik galeri dalam sekali waktu?
"Aixa, kenapa sih ngelamun terus hari ini?"
Aixa menggelengkan kepala, tapi dia merasa sedikit lesu.
***
"Bagaimana pertemuan hari ini?"
Dia dan Al, tengah berbincang di telepon. Al segera meneleponnya, ketika dia telah pulang kantor dan tengah beristirahat.
"Menarik, aku sangat menyukai galerinya. Rasanya penuh dengan sesuatu yang luar biasa."
"Begitu?"
"Ya, sekalipun aku nggak mengerti banyak tentang lukisan."
"Kau bisa belajar."
"Siapa yang akan mengajari, lagipula jurusanku Iya bentar bentar doangbukan kesenian. Aku berusaha menjadi seorang pebisnis."
"Justru berbisnis di bidang kesenian cukup menarik."
Aixa tampak berpikir, Al berkata begitu bukan karena dia merupakan pemilik galeri, kan? Pria itu juga masih merahasiakan pekerjaannya.
"Tapi, temanmu nggak datang Al." Aixa berkata lagi. "Hanya ada asistennya yang mendampingi kami."
"Aku rasa dia sibuk."
"Ya."
"Tetapi pelayanan untuk kami sangat baik. Sepertinya, akan sangat menyenangkan bekerja sama dengan galeri nanti. Aku berharap acara kami sukses."
"Semoga saja." Al ikut mendoakan.
"Apa malam ini, apa kau ingin bermain?"
"Terserah padamu, Aixa. Kau tahu kalau akhir-akhir ini aku tidak bermain solo. Semenjak bertemu denganmu."
Aixa tidak tahu apakah itu merupakan suatu bentuk pujian, yang pasti, dia udah cukup senang dengan kata-kata Al.
"Aku ingin belajar memainkan satu karakter hero malam ini. Apa boleh?" Di dalam game, biasanya mengijinkan Aixa diizinkan untuk melatih Hero.
"Kenapa harus bertanya? Apa ada yang terjadi hari ini?" Ternyata Al merasakan kalau nada suaranya sedikit berubah, Aisyah merasa murung. Hubungan secara virtual tampaknya, menguras emosi.
Padahal Al seharusnya yang lebih penasaran terhadap dirinya, bukankah lelaki begitu? Sayangnya, Al tampak tidak begitu ingin tahu siapa dia dan bertemu secar real.
"Al, apa Di mana kau berkenalan dengan pemilik galeri yang bernama Aldo itu. Aku pikir-pikir nama kalian mirip." Aixa memancing.
"Itu benar, nama kami memang mirip tapi nama lengkap sangat jauh berbeda."
"Temanmu itu apakah dia teman satu sekolah, Aixa masih berusaha. Dia tahu kalau saat ini mengetahui kalau dia berusaha untuk mencari informasi. Tetapi dia tidak memperdulikan soal itu, Al juga tidak keberatan. Dia tertawa sesekali.
"Aixa, pada waktunya nanti kau akan mengetahui semua tentangku. Jadi untuk apa mengetahui sekarang."
"Aku hanya bertanya apa, kalau nggak Yang menjawabnya ya sudah." Dia berharap Al tidak dapat membaca nada suaranya yang ngambek.
Terdengar suara tawa Al di seberang.
"Sepertinya suara ini terdengar sedang merajuk."
"Sedikit, tapi nggak apa."
"Lusa aku akan berangkat lagi, kita nggak bisa mabar sementara. Tapi, aku akan menelepon setiap malam." Al berjanji.
"Mau ke mana?" Pastilah dia akan merasa sepi, rutinitas bermain game sekarang mereka lakukan hampir setiap hari.
"Aku ada rencana bepergian ke luar negeri, nggak terlalu lama hanya satu minggu. Jangan main game dulu, nanti peringkatnya turun." Al mengingatkan.
Biasanya, kalau Aixa tidak melihat Al tengah online. Dia akan bermain sendirian, namun tidak jarang, dia mengalami ketenangan. Tapi, dia kerap mendapatkan kekalahan beruntun. Karena itu, Aixa kali ini sepertinya
"Aku nggak akan main sendiri." Aixa akhirnya memutuskan.
"Itu lebih baik, tunggu aku."
"Tapi, Al, di sana nanti apa memang tidak bisa login?" Aixa masih bertanya.
"Aku khawatir tidak bisa."
***