"Kenapa hari ini terlihat sangat murung?" Sheza bertanya padanya.
"Entahlah, aku bertanya pada Al apakah dia akan datang ke galeri temannya. Tapi dia bilang dia nggak bisa. Aku rasa dia masih belum ingin bertemu denganku."
"Hei, jangan terlalu sedih, itu hanya galeri milik temannya. Mungkin dia memang banyak pekerjaan." Sheza menenangkan.
"Sheza, aku jadi heran padamu. Saat aku berpikiran positif tentang Al, kau menakut-nakutiku. Di saat aku mulai berpikir negatif tentang dirinya, kau malah berkata hal yang positif. Benar-benar aneh."
Sheza tertawa, "bukan seperti itu, aku hanya ingin kau tetap berpijak pada realita, sayangku. Aku nggak ingin ada seorang pria yang mempermainkanmu, itu gunanya sahabat, untuk mengingatkan.'
"Aku berterima kasih padamu," gelak Aixa.
"Kalau begitu, hari ini kita belum akan bertemu dengan lelaki itu. Seorang pro player?"
"Aku rasa nggak, soalnya dia bilang, kalau dia akan sibuk hari ini."
"Mungkin, kita bisa pura-pura sok akrab dengan pemilik galeri dan bertanya tentang siapa dia sebenarnya, seorang lelaki nggak tahan pada rayuan perempuan cantik."
"Kepercayaan dirimu luar biasa Sheza." Aixa menggelengkan kepalanya.
"Kau tahu apa julukan kita? Duo maut dari jurusan manajemen."
"Aku nggak yakin. Fitri mana mungkin menyetujui julukan itu, karena dia adalah satu-satunya perempuan cantik di sini."
"Dia terlalu percaya diri dan bangga pada dirinya, seorang perempuan yang benar-benar cantik nggak akan menyombongkan dirinya karena orang akan mengetahui kualitas seorang ratu tanpa perlu berkoar-koar."
"Bertemu denganmu memang suatu hal yang luar biasa." Aixa berdecak.
Lagi-lagi dia tertawa mendengar itu. "Apa maksudnya dengan kata-kata itu?"
"Aku hanya berkata sejujurnya."
"Aixa, Sheza, ayo kita berangkat." Reno masuk ke dalam kelas dan memanggil mereka. Jam dua siang ini, mereka akan pergi ke galeri untuk rapat.
"Kita numpang sama siapa? Aku malas ikut mobilmu, kalau ada Fitri." Sheza merengut.
Aixa mencubit pelan pinggangnya, sekalipun mereka akrab dengan Reno, rasanya tidak enak kalau pria itu mendengar permasalahan ini. Karena, Aixa tidak ingin dianggap kalau di tim mereka ternyata ada perselisihan.
Tapi Reno tidak bertanya. Dia berkata, "Fitri nggak ikut sama aku, dia sama pacarnya." Reno menjelaskan.
"Kalau begitu, kita ikut sama Reno aja, daripada naik motornya Sheza. Apa sebaiknya kita tinggalin motor Sheza di suatu tempat?"
Mereka kemudian bersama Reno menuju ke galeri milik teman dari Al.
Tapi di sepanjang perjalanan, Aixa larut dalam pikirannya sendiri. Ketika dia bertanya pada Al kemarin, apakah dia mau datang pada pertemuan kali ini? Tapi, Al bilang, dia banyak pekerjaan. Aixa tahu soal itu dan dia berusaha untuk memaklumi, namun tetap saja dia berpikiran kalau Al belum ingin bertemu dengannya, seolah dia mengulur waktu. Aixa sangat berharap mereka bisa segera bertemu.
Begitu sampai di galeri, mereka segera disambut oleh seorang perempuan yang amat cantik, dia tampak seperti wanita karir yang berkelas. Perempuan itu memperkenalkan dirinya sebagai Alisa.
Aixa dan Sheza secara terus-menerus melirik ke arahnya, dia terlihat anggun dan berkelas. Kemudian mereka melihat galeri itu, sungguh amat luar biasa, tampak seperti bekerja di tempat impian.
"Mohon maaf atasan nggak bisa datang hari ini, tetapi hal-hal yang penting sudah diserahkan pada saya." Alisa berkata.
Reno dan yang lain berpandangan.
"Bapak bukannya nggak menghargai kehadiran kalian, tetapi ada pekerjaan yang sangat penting." Alisa menjelaskan.
"Kami mengerti." Reno menjawab.
Alisa kemudian mengajak mereka ke ruang rapat. Ternyata galeri itu memiliki ruang rapat dan ruangan yang menarik, pemilihan peralatannya juga terlihat artistik dengan sentuhan elegan. Tampaknya pemilik galeri memiliki taste yang sangat baik.
Wanita bernama Alisa berkata kalau dia asisten dari pemilik galeri itu, juga mengatakan kalau mereka diminta untuk memastikan jadwal kegiatan agar tidak bertabrakan dengan jadwal pemilik galeri yang akan mendatangi kegiatan nanti.
Tentu saja panitia menyanggupi hal itu, Alisa juga berkata kalau seandainya nanti ada perubahan atas permintaan pemilik galeri, maka mereka harus berembuk lagi untuk acaranya, karena sebagai pemilik galeri beliau sangat sibuk.
Jumlah tim kepanitiaan yang datang pada hari itu ada sekitar orang dua puluh orang, tetapi yang saling bercakap-cakap cuma sedikit.
Berdasarkan kata-kata Alisa ternyata galeri mereka menyanggupi untuk menjadi sponsor tunggal, mereka akan melakukan pembayaran lima puluh persen dari jumlah anggaran sekitar satu minggu dan kemudian akan melakukan pelunasan pembayaran pada saat hari-H. Dengan kata lain, mereka harus mencari sponsor untuk kegiatan terlebih dahulu.
Tetapi sponsor seperti itu lebih baik, karena ada beberapa yang membayar hanya pada saat acara artinya mereka tidak perlu mencari modak besar. Fitri segera menyombong kalau dia memiliki kenalan untuk membantu mereka dalam meminjamkan dana sampai acara.
Reno berkata kalau mereka akan menanyakan pada dosen atau dekan terlebih dahulu sebelum memutuskan pihak lain untuk membantu meminjamkan dana.
Mereka juga dijamu dengan coffee break yang menyenangkan, terlihat sekali kalau galeri melakukan servis dengan baik. Reno yang sudah beberapa kali menjadi panitia kegiatan berkata kalau tampaknya galeri itu memiliki sumber dana yang baik sehingga bisa membantu kegiatan mahasiswa begitu saja.
Dalam hal ini tentu saja yang menjadi pahlawannya, karena Aisyah yang merekomendasikan dan mengirimkan proposal sehingga galeri tersebut menerima proposal mereka, tapi tampaknya itu terlihat membuat Fitri tidak menyukainya. Tetapi Aisyah berusaha untuk mengabaikan tatapannya yang berbeda memperdulikan persaingan.
Aixa bahkan tidak mengetahui siapa nama pemilik galeri karena sampai sekarang, Alisa tidak menyebutkannya. Sementara saat rapat mereka hanya meminta Reno yang menjadi perwakilan dan beberapa ketua seksi untuk menghindari terlalu banyak orang-orang yang berbicara dan mengurangi miskonsepsi, jadi rasanya tidak sopan Aixa tiba-tiba bertanya sekalipun dia amat penasaran.
Tetapi dengan matanya dia mengawasi, hampir keseluruhan galeri. Setelah mereka rapat dan membahas hal-hal yang penting, Alisa mengajak mereka untuk berkeliling galeri. Aisyah semakin terpana dengan penglihatannya, dia jadi heran karena tidak bekerja di bidang seni sejak dulu, ketika melihat keindahan terpampang di hadapannya.
Tetapi pastilah hanya sebagian orang yang bisa mencapai kesuksesan seperti ini, belum tentu ketika dia berkecimpung di dunia seni dia bisa meraih kesuksesan seperti orang-orang, Aixa yakin itu. Dia tahu pastilah tidak mudah bagi sang pemilik galeri untuk membangun semua ini .
Dia juga mengambil video, namun ada beberapa lukisan yang tidak boleh diambil foto dan videonya. Itu berada di area khusus.
"Ini pertama kalinya aku datang ke galeri lukisan." Sheza berbisik padanya.
Dulu Aixa merasa kalau dia pernah pergi ke galeri lukisan, Tetapi dia nyaris melupakannya. Jadi dia sendiri tidak pasti, Apakah dia telah pergi atau belum. Aixa memandangi lukisan seorang perempuan yang sedang bersedih, entah kenapa, seperti ada yang berbisik di dalam hatinya. Kemudian dia melihat siapa nama pelukis yang bisa melukis seindah itu. Dan siapa model di dalam lukisannya, dia terlihat seperti peri, begitu cantik sehingga nyaris mata.
"Kau melihat apa?" Sheza bertanya,
"Melihat bagaimana seseorang bisa menghasilkan karya yang sangat indah seperti ini," jawab Aixa.
Sangat menyenangkan kalau memiliki hobi dan bekerja dengan hobi yang dia sukai, "mlnenurutmu sebagai panitol mahasiswa ekonomi tidak punya harapan yang lebih baik Aixa tertawa
"Bukan begitu, aku yakin semuanya udah memiliki jalan masing-masing.banya saja di dalam galeri ini merasa sangat terharu itu karena lukisan-lukisannya begitu hidup juga didesain sedemikian rupa untuk membuat orang betah di sini.
Aixa kemudian mendengar Alisa mengangkat telepon, dia menarik Sheza sedikit berusaha mendekat mereka tidak akan dicurigai kan karena mereka berpura-pura melihat padahal pernah menguping pembicaraan antara asisten pemilik galeri video.
"Halo Pak Zio," sapa Alisa.
***