Alzio memandangi lukisan yang sedang dipamerkan di galeri, Ben.
Kemudian Alisa mendatanginya, "Zio, anak-anak yang kemarin memasukkan proposal ke kita ingin bertemu."
Alzio memandang ke arah Alisa. "Jadwalkan aja. Tapi, mungkin aku nggak bisa datang sebaiknya kau menemui mereka terlebih dahulu."
"Ada apa? Apa ada sesuatu yang nggak aku ketahui?" Alisa merasa sedikit aneh karena Alzio yang ingin menjadi sponsor dalam acara mahasiswa tersebut, tetapi kenapa dia tidak ingin menemui mereka?
"Bukan apa-apa, aku tetap akan berkoordinasi dengan ketua pelaksananya."
Alisa mengangguk. "Kalau begitu, aku akan jadwalkan pertemuannya lusa jam dua sore di galeri. Bagaimana?"
"Oke."
"Alzio." Seseorang memanggilnya. Alzio menoleh.
"Hai Ben, selamat untuk pamerannya." Sapa Alzio, Ben tersenyum sumringah. Pria itu telah berusia lima puluhan, rambutnya terlihat ada yang mulai memutih. Tapi, dia ingin dipanggil dengan namanya saja. Katanya biar merasa lebih muda.
"Pameran yang menarik." Alzio dapat melihat kesuksesan pameran itu.
"Tadinya aku berharap kau akan dapat lukisan di pelelangan saat di Singapura. Aku sangat ingin melihat lukisan yang menjadi incaranmu itu." Ben berkata.
"Jangan mengingatkanku pada soal itu, seorang kolektor membayarnya dengan harga yang amat tinggi."
"Alah Zio, aku rasa kau pasti akan memiliki dana yang cukup untuk mengalahkan kolektor itu."
"Aku masih mengincar beberapa lukisan lain. Jadi, aku nggak akan menghabiskannya untuk satu target."
"Lukisan apalagi yang sedang kau incar?" tanya Ben. Alzio hanya tersenyum, tidak bisa mengatakan apa yang dia inginkan.
Ben kemudian melanjutkan, "Hei, Zio. Apa kau masih single?"
Alzio tertawa mendengar pertanyaan itu. "Kenapa mendadak menanyakan pertanyaan itu?"
"Anak perempuan sahabatku, dia sedang mencari calon suami. Apa kau memiliki ketertarikan untuk berkencan?"
"Dia mencari calon suami?" Alzio lagi-lagi tertawa makin keras. "Aku bingung dengan kata-kata calon suami. Bukannya sebelum menjajaki ke jenjang yang lebih serius orang-orang seharusnya berpacaran terlebih dulu untuk saling mengenal?"
"Jangan terlalu lama berpacaran kalau ada yang mau menjalani hubungan yang lebih serius langsung terima saja."
"Bagaimana bisa seperti itu? Sedangkan memilih sebuah lukisan aja perlu pertimbangan yang sangat panjang, mencari seorang istri haruslah lebih dari itu."
"Itu hal yang berbeda, Zio. Manusia semakin tua semakin tidak berharga, berbeda dengan lukisan."
"Sekarang aku paham kenapa kau masih juga belum memiliki pasangan."
"Aku nggak memiliki pasangan bukan berarti nggak ada orang yang di sampingku, bagiku kesetiaan hanya akan aku berikan pada lukisan."
Alzio tersenyum, pengabdian kepada pekerjaan memang tugas seorang profesional. Tetapi, dia tidak ingin menjadi seperti itu. Pasangan? Alzio percaya pada cinta karena melihat bagaimana kedua orang tuanya. Itu juga menjadi impian Alzio, dia bersama pasangannya hingga mereka tua. Menghabiskan waktu bersama. Walau, pastilah akan banyak pertengkaran, tapi, mereka akan mengusahakan yang terbaik.
"Zio, aku menemui pelanggan dulu." Ben berkata, Alzio mengiyakan. Sudah banyak yang menanyakan hal serupa padanya, apa dia memiliki seorang kekasih? Alzio sampai sekarang tidak memiliki seorang tambatan hati.
"Zio." Alisa mendekatinya lagi. "Sampai jam berapa kalau ingin berada di sini?"
Alzio menggeleng. "Ayo kita pulang sekarang."
Alisa mengangguk dan tersenyum. Mereja keluar dari pameran lukisan Menuju ke tempat parkir.
"Zio, apakah memiliki rencana akhir minggu ini.
Rencananya sekarang, setiap hari adalah berkencan secara online dengan Kelly. Itu terasa sangat menyenangkan.
"Aku belum tahu, apa kau tahu, orang tuaku akan datang ... Mereka berharap akan berkenalan dengan pacarku. Tapi kau tahu sendiri kalau aku single sampai sekarang dan aku juga nggak memiliki pacar..."
"Terus, kenapa ingin mengajakku datang?"
"Yah, kalau boleh aku ingin minta bantuanmu. Untuk berpura-pura menjadi pacarku.
Alzio tersenyum. "Alisa, maaf, bukannya aku nggak mau membantumu. Aku sangat ingin. Tapi ini bukan solusi terbaik."
Alisa tersenyum, "aku mengerti Zio. Kau nggak perlu menjelaskan padaku kalau nggak bersedia, aku nggak akan tersinggung."
Alzio mengangguk. Dia tidak ingin menjalin hubungan seperti itu dengan bawahannya, setelah pertemuan pertama, nantinya akan ada pertemuan kedua ketiga dan selanjutnya bagaimana kalau nanti Alzio memiliki pasangan resmi? Hal semacam ini akan menimbulkan konflik di masa depan, Lain halnya kalau dia memang menyukai Alisa, tentulah dia tidak keberatan dengan hal-hal semacam itu.
Beberapa teman Alzio mengatakan kalau Alisa adalah kandidat pasangan yang sayang untuk dilewatkan. Cerdas juga menarik dan cantik, bukannya Alzio tidak menganut prinsip tidak ingin berhubungan dengan karyawan sendiri. Hanya saja, dia cums menganggap Alisa sebagai teman. Dia menatap wajah Alisa yang tersenyum, dia tahu kalau di balik senyuman itu, Alisa pastilah merasa amat kecewa.
"Alzio, apa kau akan kembali ke kantor?" Alzio tampak berpikir, seingatnya Kelly berkata kalau dia tidak ada kuliah siang ini karena dosennya sakit. Lebih baik dia pulang ke rumah dan bermain game.
Alzio berkata lagi, "aku akan mengantarmu ke kantor tapi setelah aku pulang ke rumah. Lagipula, hari ini nggak ada agenda lain, kan?"
"Nggak ada, Zio."
Dia menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu aku akan pulang."
"Apa kau ingin makan siang dulu?"
Alzio menggelengkan kepalanya. "Aku akan makan siang di rumah. Apa kau ingin membeli sesuatu dan mampir?"
Alisa ikut menggeleng, "aku akan makan siang di rumah makan dekat galeri."
Saat menunggu lampu lalu lintas, Alzio mengirim pesan pada Kelly.
"Hai, pulang lebih awal siang siang ini? Aku pulang cepat dari kantor.
Alzio tersenyum.
"Aku kira kenapa menolak permintaanku, biasanya Zio terlalu baik untuk menolak. Ternyata memang udah ada perempuan yang spesial?"
Alzio menoleh. Dia hanya tersenyum dan tidak menjawab pertanyaan Alisa, dia bukanlah tipe pria yang baik pada siapapun. Dia termasuk orang yang tidak ingin sikapnya disalahartikan terutama pada perempuan sejak dulu. Terhadap Alisa, pun, karena Alisa merupakan temannya juga bawahannya.
Alzio men-drop Alisa di depan gedung galeri mereka. Dia melanjutkan perjalanannya pulang ke rumah. Saat memarkirkan mobil di garasi, Alzio melihat motor Edo masih terparkir di sana.
Saat melewati kamar tamu, Alzio membuka pintu. Dia menggelengkan kepala saat melihat Edo masih tertidur pulas. Tidak tahu dia online sampai jam berapa tadi malam, tetapi belakangan, Edo melakukan streamung, live saat bermain game. Dia berkata akan menjadi content creator. Alzio berharap kalau setidaknya itu bisa menemukan kesibukan, karena, dia terlalu santai.
Alzio menuju kamarnya, kemudian memasuki permainan game. Dia menunggu sampai melihat ID rambut merah online.
Tampaknya Kelly belum online, mungkin dia masih dalam perjalanan pulang ke rumah. Alzio bahkan belum mengganti pakaiannya, dia menggelengkan kepala karena kelakuannya sendiri.
Alzio kemudian mengganti pakaian dengan kaos katun dan celana yang lebih nyaman untuk di rumah. Dia membaringkan tubuhnya ke atas tempat tidur, Alzio nyaris terpejam, ketika selang beberapa saat kemudian ponselnya berdering. Itu adalah nada khusus yang dia berikan untuk Kelly, lagi pula panggilan itu berasal dari ponsel pribadinya.
"Halo," sapa Alzio.
"Al, aku udah on di COS. Mengundangmu untuk bermain, tapi ... nggak ada respon."
Kelly langsung menyerocos, membuat Alzio tertawa.
"Aku nyaris tidur siang karena menunggumu," goda Alzio.
"Kalau begitu, ayo bermain." Suara Kelly sangat merdu. Membayangkan bagaimana paras di balik suara itu membuat Alzio jadi ingin segera mengetahui sosoknya. Tapi, dia tidak ingin terlalu terburu-buru.
Mereka memenangkan tiga pertandingan berturut-turus. Level ini masihlah amat mudah bagi Alzio.
"Zio, lusa kami akan menemui pemilik galeri untuk program CSR. Apa kau akan datang?"
Pertanyaan Kelly kali ini sudah dia prediksi.
***