Part 7 Bersiap

1029 Words
Sheza menggelengkan kepalanya, mereka baru saja selesai menghadiri rapat untuk pembahasan masalah CSR dan berakhir tanpa mendapatkan solusi yang begitu penting karena rapat didominasi oleh Fitri. Tapi ucapannya tidak ada yang relevan. "Lihatkan bagaimana dia? Aku saja heran kenapa Reno merekrutnya sebagai bagian dari seksi acara, tampaknya kau akan mendapat seseorang yang menyebalkan di tim," keluh Sheza lagi. "Iya mau bagaimana lagi, dia memang pintar melobi sebenarnya." Aixa juga merasa kesal karena dia harus satu bidang dengan Fitri, bukan apa-apa, dia bukan tipe orang yang bisa menyembunyikan perasaannya ketika dia tidak menyukai seseorang. Takutnya bersama Fitri dalam kepanitiaan hanya akan menimbulkan masalah. Dia berharap perempuan itu tidak bertengkar dengannya nanti. "Dan Reno juga nggak peka, seharusnya sebagai ketua panitia dia bisa mempertimbangkan hal ini." "Udah nggak apa. Semoga aja nggak ada masalah apa-apa. Aku lapar banget kita makan lagi, yuk." Padahal tadi siang mereka udah makan di kantin tapi banyaknya aktivitas membuat perut kembali keroncongan. Aixa dan Sheza memutuskan untuk makan menjelang malam di gerbang dekat kampus, tadinya Reno mengajak mereka makan bersama. Hanya saja, Sheza sangat malas bertatap muka lebih lama lagi dengan Fitri. Padahal, Fitri bersikap cukup baik pads Sheza, namun bersikap kompetitif pada Aixa. Aixa sendiri tidak terlalu memperdulikan Fitri pada awalnya, namun sikapnya yang semakin menjadi membuat Aixa ikut kesal. Belum lagi masalah COS. Aixa paling tidak suka melihat player yang menyombongkan diri, padahal kemampuannga masih biasa saja. Jika dibandingkan dengan Semut Merah, dia tidak ada apa-apanya. Tapi ... Aixa memikirkan kenapa dengan kemampuan sehebat itu, Al belum menjadi seorang top player. Apa mungkin akun Semut Merah hanyalah akun kloningan? Apa sebenarnya dia memiliki akun dengan level yang lebih tinggi. Ternyata Al memang memiliki banyak misteri yang belum bisa diungkapkan tampaknya Aisyah harus lebih lama lagi memperdalam soal pria itu. Rasanya tidak sabar bertemu. Walaupun Al tampak belum begitu ingin bertemu dirinya dibandingkan dibandingkan dia. "Menurutmu acara kita akan sukses? Dana di proposal cukup banyak, galeri milik teman Al menyanggupi menjadi sponsor tunggal." Aixa membuka bahasan, dia memesan mie goreng dan air mineral lagi. Padahal tadi siang dia sudah makan mie di kantin. "Apa itu karena teman virtualmu? Dia membujuk temannya untuk tampil keren?" goda Sheza. "Rasanya, aku nggak sabar bertemu dengan pemilik galeri." Aixa memakan mienya dengan terburu-buru. "Kira-kira apa hal yang akan kau tanyakan pertama kali seandainya bertemu dengan owner galeri? Apa langsung memberondongnya dengan pertanyaan siapa Al?" Sheza tertawa. "Mana mungkin, aku akan mencoba mengakrabkan diri padanya. Lalu, tentu saja setelah itu aku akan menyelidiki soal Al." Sheza tertawa hingga tersedak makanannya, wajahnya memerah. "Aku udah bilang dari tadi." "She, menurutmu, Al merekomendasikan temannya karena dia ingin aku mengetahui jati dirinya, kan?" "Aku harap begitu, tapi aku rasa kau harus mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan." "Kemungkinan? Maksudmu kemungkinan kalau dia udah memiliki seorang pasangan?" "Sebenarnya nggak masalah kalau dia udah memiliki istri atau nggak. Tapi, apa kau bisa menerima atau nggak. Aku khawatir jadi down dan mendadak hilang dari peredaran game COS." Aixa tertawa lagi lebih keras. "Memangnya kenapa kalau aku menghilang dari peredaran game?" "Aku baru saja menyukai game ini dan mau latihan agar bisa menyusulmu tau." "Nanti aku akan mengajakmu main bersama semut merah, jadi kau tahu bagaimana hebatnya dia bermain." Aixa melebarkan matanya. "Ai, kau sadar nggak sih sekarang setiap kau membicarakan tentang si semut merah ini, matamu selalu berbinar dan kau selalu tersenyum. Aku mengkhawatirkan dirimu terjerat dalam hal yang semu." "She, aku nggak separah itu." Aixa tertawa. "Lagipula, nggak semua pertemanan di dunia online itu semengarikan yang kau katakan. Aku beberapa kali melihat kalau para player saling berpasangan dan bertemu di dunia nyata." "Oke, kita lihat aja. Aku akan menjadi jaring pengamanmu." Sheza menggelengkan kepala. "Jadi, kapan rencana pertemuan dengan pemilik galeri?" "Apa tadi kau nggak mendengarnya She?" "Aku terlalu pusing mendengar ocehan Fitri, jadi aku nggak fokus." "Reno bilang dia akan dikabari oleh asisten pemilik galeri dalam minggu ini." "Dengan kata lain, pertemuanmu dengan teman virtual itu bisa jadi juga dalam waktu dekat ini?" Aixa menggelengkan kepala. "Aku sebenarnya nggak begitu yakin, tampaknya, Al nggak seantusias itu bertemu denganku." "Namanya juga laki-laki, aku rasa dia bersikap cuek untuk membuatmu penasaran." "She, kata-katamu kadang membuatku jatuh terhempas. Tapi, kadang-kadang juga membuatku melayang." Aixa tertawa. "Itu gunanya teman, nggak hanya harus mengabarkan yang baik-baik. Termasuk yang buruk juga." "Halo selamat sore." Aixa dan Sheza menoleh, mereka melihat seorang waiter yang tadi mengantar makanan mereka mendekat dan menyapa. "Iya kenapa?" Sheza bertanya. "Teman saya yang duduk di sudut." Dia menunjuk. "Kirim salam untuk mbak yang baju biru. Kalau boleh dia membayar makanan dan minuman mbak-mbak." Sontak Aixa dan Sheza menoleh, Mereka melihat seorang pria yang tampaknya berusia di atas mereka duduk di sudut sambil menganggukkan kepala. Sheza mencubit punggang Aixa. "Maaf, Mas. Kami akan bayar makanannya sendiri, terima kasih." Aixa menolak dengan halus. Waiter tersebut kemudian berlalu dari hadapan mereka. "Aku bilang juga apa, di dunia nyata banyak pria semacam ini. Abang itu terlihat menarik, mungkin dia mahasiswa semester akhir." Sheza berkata sambil berbisik. "Pada intinya, ketertarikan itu nggak bisa serta-merta hanya dari fisik semata, apalagi aku tipe yang lebih memilih kenyamanan." Aixa menggeleng. "Aku sebaiknya pulang setelah ini karena akan login. Aku janjian dengan Al untuk memainkan beberapa match malam ini." Aixa berkata dengan wajah serius. "Jadi setiap malam kalian akan main bersama? Serius dia udah bekerja? Terlalu banyak waktu luang untuk bermain game." Sheza menyipitkan matanya. "Sheza, kau ini terlalu skeptis. Tapi nggak apa-apa, itu wajar. Aku jelaskan kakau Al ... Dia main hanya di jam-jam tertentu. Dia akan main sampai pagi ketika besoknya hari libur. Menurut pengamatanku, Al nggak pernah bermain dari pagi hingga pukul enam sore, karena dia ada di kantor. Terkecuali hari libur, dia akan mengajakku main dari siang." Aixa menjelaskan panjang lebar. "Aixa, aku enggak sabar mau mabar denganmu." "Aku nggak akan bisa membantumu naik level dengan kemampuanku sendiri, yang ada nanti malah kekalahan beruntun." Aixa menggeleng. "Bilang saja kalau kau tak ingin aku berkenalan dengan semut merah. Aku nggak akan merebutnya tahu." Sheza mengejek lagi. "Nggak masalah kalau mau merebutnya, misalkan berhasil, aku bisa tahu bagaimana sifatnya kalau begitu. Dengan kata lain dia nggak layak dipertahankan." Aixa tertawa. "Jadi, kau cemburu?" Sheza memainkan matanya. "Apa? Aku nggak cemburu." Aixa tertawa lepas. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD