"Aixa. Baru saja aku ditelepon oleh asisten pemilik galeri yang menerima proposal CSR kita kemarin."
Aixa menoleh ke arah Reno, "Benarkah? Jadi apa tanggapannya?"
"Dia sangat menyukai ide dan sepertinya, dia akan menjadi sponsor kegiatan kita kali ini. Makasih ya udah merekomendasikannya."
Aixa merasa sangat gembira, ternyata, Al bukan orang yang suka bicara omong kosong. Dia bahkan bisa menjanjikan sesuatu seperti ini, kekaguman Aixa terhadap Al semakin bertambah. Sekalipun dia hobi bermain game, namun tampaknya, dia punya karir yang cukup lumayan di dunia nyata. Karena dia memiliki relasi yang baik. Lagipula, Aixa mengingat-ingat. Dia memiliki seorang sekretaris, secara tidak langsung Aixa berpikir kalau dia kemungkinan punya posisi yang cukup lumayan.
Tapi, apa dia seorang pria tua? Aixa mendesah. Bagaimana kalau itu benar? Seandainya dia telah memiliki istri seperti yang dikatakan oleh Sheza. Ternyata, memiliki hubungan virtual, membuat perasaan deg-degan dan penasaran. Namun juga ada rasa takut dan kebingungan. Ini karena, hubungan mereka cukup instan saat ini.
"Kalau begitu, sebaiknya kita mengadakan rapat untuk membahas masalah ini?" Aixa berkata pada Reno.
"Memang itu yang juga ingin aku sampaikan, nanti kita rapat jam tiga ya. Aku akan info teman-teman yang lain."
Aixa mengangguk setuju. Dia sekarang telah memiliki kontak milik Al, lucunya, Aixa pernah memeriksa nomor itu di internet. Namun, dia tidak mendapatkan hasil. Aixa kemudian mengirim pesan pada Al untuk menceritakan apa yang baru saja Reni sampaikan, bahwa mereka akan bekerja sama dengan galeri milik teman pria itu. Aixa bertanya, apakah Al akan datang galeri untuk bertemu dengannya?
Setelah dia mengirim pesan seperti itu, Aixa menjadi gelisah. Bagaimana kalau Al menganggapnya sebagai perempuan yang agresif? Pasti saat ini dia sedang mencari alasan apa yang akan dipakai, seandainya mereka tidak bisa bertemu. Tapi, Aixa sungguh berharap kalau Al bersedia bertemu dengannya.
"Apa mungkin, permintaan Aixa ini terlalu cepat? Oke ... dia tidak akan mempermasalahkan kenyataannya kalau mungkin, Al sudah memiliki pasangan, mereka tetap bisa menjadi teman main bersama, hanya sebatas game. Setidaknya, itu akan menambah relasi Aixa nanti.
Lama sekali, pria itu tidak membalas pesan darinya. Apa dia tengah sibuk bekerja?
"Aixa." Sheza mendatanginya. Tampaknya dia baru saja datang.
"Sheza kau terlambat." Aixa berkata. "Tadi Reno bilang padaku kalau kita akan rapat jam tiga sore, apa dia sudah mengirim pesan di grup?"
"Aku belum memeriksa ponsel, memang ada apa?"
"Sepertinya, proposal yang kita kirim ke galeri lukisan kemarin diterima."
Sheza sedikit terkejut mendengar kata-kata Aixa.
"Kau serius? Itu galeri yang direkomendasikan oleh si Al, bukan?"
Aixa mengangguk, "ternyata dia nggak sembarang bicara. Kemarin, dia memang bilang padaku kalau, dia akan bertemu dengan temannya. Mungkin karena itu, temannya yang menjadi pemilik galeri segera memberi keputusan. Reno baru saja mendapat telepon dari asistennya."
"Dengan kata lain, rasa penasaran akan terjawab sebentar lagi?" Reza mengerjapkan matanya.
"Belum tentu, aku sudah mengirim pesan pada Al. Tapi, dia nggak menjawab. Mungkin, dia nggak ingin bertemu denganku." Aixa mengeluh, dia memandangi ponselnya sejak tadi. Belum ada jawaban dari pemilik ID Semut Merah itu.
"Kalau dia nggak ingin bertemu, itu tandanya, dia memiliki rahasia yang nggak ingin kau ketahui." Sheza menaikkan alis, seolah tampak curiga.
"Sheza, jangan menakut-nakutiku seperti itu. Aku sungguh berharap, kalau Al belum menikah dan dia juga seorang bujangan." Aixa menangkupkan kedua tahannya seolah berdoa.
"Kau bilang kemarin, kalau nggak mempermasalahkannya apabila dia adalah seorang pria buncit yang telah memiliki istri. Nyatanya sekarang, kau sangat berubah. Kau ingin dia jadi seorang bujangan agar bisa menjalin hubungan yang lebih akrab dengan, bukan?" Selidik Sheza.
Aixa tertawa. "Inikan seandainya, aku akan menerima semua kemungkinan terburuk. Tapi, bolehkan aku berharap kalau dia single, agar aku nggak punya perasaan bersalah saat berkirim pesan dan meneleponnya."
"Seorang bujangan dan juga single, masih banyak lelaki seperti itu di sekelilingmu, di dunia nyata. Mereka jelas lebih menarik. Ketimbang mengharapkan seseorang yang sama sekali nggak diketahui siapa. Aixa ... Aixa ... aku sangat nggak merekomendasikan hubungan di dunia maya."
Aixa mengabaikan kata-kata Sheza begitu mendengar bunyi pesan masuk di ponselnya.
"Boleh, aku akan mengabari nanti." Aixa membaca pesan itu keras-keras. Kemudian dia berkata pada Sheza.
"Al, dia mau bertemu." Aixa sangat kegirangan, membuat Sheza menggelengkan kepala. Jujur saja, Sheza juga gembira kalau Aixa bisa menjadi lebih akrab dengan pria bernama Al yang seorang gamer itu. Lagipula, tidak ada yang bisa mengetahui jodoh akan datang darimana. Hanya saja, Sheza tidak ingin, Aixa jadi terluka ketika menyadari kalau Al adalah seorang pembohong.
"Bertemu di dunia nyata juga baik, setidaknya aku bisa mengetahui seperti apa dia." Aixa berkata lagi. "Aku berharap, kalau kami bisa main bersama bersebelahan." Aixa tersenyum gembira.
"Ternyata jatuh cinta virtual lebih mengerikan ketimbang di dunia nyata." Sheza mendesah.
***
Aixa dan Sheza berjalan menuju ruang rapat sekretariat jurusan mereka yang dibuat sebagai fasilitas rapat-rapat mahasiswa untuk kegiatan. Di sana, mereka melihat Fitri dan kekasihnya, sudah lebih dulu datang.
Fitri tertawa gembira, sambil memiringkan ponselnya. Tampaknya mereka sedang bermain COS.
"Sheza." Fitri memanggil Sheza saat melihat mereka duduk, "aku dengar kau bermain COS juga? Kenapa kita belum berteman?"
"Levelku masih rendah, aku juga belum main bareng dengan player lain," jawab Sheza. Dia melirik Aixa, jadi Fitri tidak mengetahui kalau dia bermain game itu juga. Atau dia mengetahui, tapi pura-pura mengabaikan Aixa.
Tidak ada yang memungkiri, kalau Aixa berparas cantik dan menarik. Kelebihannya, dia juga cerdas dan berwawasan. Karena itu, Fitri selalu menganggapnya sebagai saingan. Bagaimana kalau dia tahu bahwa Aixa sudah masuk di rank top lokal berkat bermain terus-menerus bersama Semut Merah. Pastilah dia akan merasa amat kesal.
"Kita berteman dulu, urusan level itu nanti, aku bisa membantumu dengan akun kecilku." Fitri berkata dengan suara manja. Kekasihnya juga berkata kalau dia akan, membantu seandainya mereka main bersama sebagai tim.
Dengan berat hati, Sheza berteman dengan Fitri, karena dia merasa tidak enak menolak Fitri yang memaksa. Fitri melihat-lihat profil dan riwayat pertandingan Sheza di game, kemudian memberikan nasehat-nasehat seperti pro player sangat handal. Itu membuat Sheza sedikit kesal, dia tidak menyukai Fitri karena Fitri tidak menyukai sahabatnya. Begitulah lingkaran kehidupan.
"Aku akan beritahu sesuatu, aku sudah mendaftar di turnamen se-Asia Tenggara, jangan lupa menonton live-nya nanti." Fitri berkata dengan sangat bersemangat, dia juga mengatakan itu pada Aixa.
"Aixa, sebaiknya kau bermain game ini juga, ini sangat menyenangkan."
***