Chapter 26

1085 Words
Jessica terdiam di tempat. Langkah kakinya terhenti. Pandangannya seketika hanya tertuju pada seseorang yang berdiri tegap di hadapannya. Orang itu adalah orang yang selama ini ia cari-cari keberadaannya. Jessica mengepalkan tangannya kuat-kuat, matanya juga nampak memerah. Amarahnya nampak membara. “Jumpa lagi, gadis kecil,” ucap pria itu sembari menyeringai tajam. Jessica mengeluarkan pistol dari dalam jaketnya. Ia bersiap hendak menembak pria itu. Namun... Doorrr!!! Pria itu lebih dulu mengeluarkan peluru panasnya dan membuat pistol yang ada di tangan Jessica terjatuh ke tanah. Pria itu hanya menembak mengenai pistol yang ada di tangan Jessica, tanpa terkena bagian tubuh Jessica sedikitpun. ... Napas Jessica terdengar terengah-engah. Gadis itu menyeka keringat dingin yang membasahi wajahnya. “Mimpi itu kenapa terasa nyata?” gumamnya. Jessica hanya bermimpi bahwa ia sudah bertemu dengan salah seorang pembunuh orangtuanya. Gadis itu meraih gelas kaca yang ada di atas nakas, kemudian ia berjalan keluar kamar untuk mengambil minum di dapur. “Seandainya saja mimpi itu menjadi kenyataan. Karena aku sangat ingin bertemu dengannya. Dengan dia yang sudah begitu kejam mengambil kedua orangtuaku dengan tangan kotornya itu,” Jessica membatin lagi. “Jes? Enggak tidur?” tanya Mike yang melewati area dapur. “Tadi aku terbangun, Pa. Setelah ini aku tidur lagi kok,” jawab Jessica. “Papa baru pulang?” tanyanya. “Iya. Tadi pekerjaan cukup banyak,” sahut Mike. Jessica hanya memakluminya. Sebab, sekarang masih pukul 11 malam. Menurutnya wajar saja jika Mike menyelesaikan pekerjaannya sampai selarut ini. ... Sebuah rasa yang datang tanpa terduga. Perasaan yang membuat jantung seseorang menjadi berdetak lebih cepat dari biasanya. Ya, apa lagi kalau bukan perasaan cinta. Hal itu sangat dirasakan dengan jelas oleh Jessica kala Hansel menatapnya lekat-lekat. “O-om Hansel kenapa menatap aku begitu?” tanya Jessica yang tergagap. “Ada daun di rambut elo,” jawab Hansel kemudian ia mengambil sebuah daun di kepala Jessica. Karena saat ini mereka sedang duduk di kafe outdoor yang tentunya ada pepohonan di sekitar mereka. Setelah mengambil daun yang ada di kepala Jessica, Hansel pun kembali duduk dan ia menatap wajah Jessica yang nampak kemerahan. “Kenapa wajah lo merah begitu?” tanya Hansel dengan santai. “Panas,” jawab Jessica tanpa menatap dengan siapa ia berbicara. Hansel nampak sedang menahan tawanya. “Jangan salah tingkah begitu,” ucapnya. Seketika itu juga, Jessica menatap Hansel dengan tajam. “Siapa juga yang salah tingkah?” sargahnya. “Lalu, wajah elo memerah, itu tandanya apa? Sedangkan cuaca sore ini enggak begitu panas,” ucap Hansel. “Sudahlah. Berdebat dengan Om Hansel enggak ada habisnya,” sahut Jessica. Jessica mengambil sendok dan melanjutkan memakan wafle kesukaannya. “Wafle, kapucino dengan sedikit es batu,” gerutu Hansel sembari fokus pada layar ponselnya. “Catat apa? Tagihan jajan aku?” tanya Jessica. Hansel langsung menggelengkan kepalanya dan mengatakan “Gua catat apa yang lo suka.” Jessica hanya menganggukkan kepalanya, kemudian ia menyeruput es kapucinonya. Saat itu, pandangan Jessica tiba-tiba saja terarah pada seseorang yang duduk tidak jauh darinya. Lelaki itu nampak menatap Jessica namun saat Jessica menatapnya juga, ia langsung mengalihkan pandangannya dan itu dilihat oleh Jessica. “Kenapa, Jes?” tanya Hansel seraya mengikuti arah pandangan Jessica. “Aku sadar kalau aku dilihatin, pas aku lihatin balik, dia malah mengalihkan pandangannya,” jawab Jessica dengan nada suaranya yang rendah namun tetap bisa didengar oleh Hansel. Hansel langsung berdiri, ia hendak berjalan menghampiri orang itu. Namun, Jessica segera menahannya. “Kenapa?” “Ini tempat umum, Om. Jangan membuat keributan.” Barulah Hansel menyadarinya lalu ia kembali duduk. Hansel menatap ke arah lelaki itu hingga lelaki itu merasa risih dan langsung pergi. “Nyalinya seperti kutu,” gerutu Hansel. ... Setelah dari kafe, Hansel membawa Jessica ke sirkuit balapan mobil. Di sana, Hansel langsung menyuruh Jessica untuk mengelilingi sirkuit dengan kecepatan tinggi. Jessica tentu saja senang. Baru kali ini ia mengemudi di atas 100 kilometer perjam. “1 putaran lagi, boleh?” tanya Jessica saat ia sudah menyelesaikan 1 putaran penuh. “2 putaran juga boleh,” sahut Hansel. Tanpa aba-aba lagi, Jessica menginjak menginjak gas dan membuat Hansel terkejut. “Jangan langsung ngebut begini, Jes. Untung aja gua enggak jantungan,” ucap Hansel. Jessica hanya terkekeh, ia terlalu bersemangat hingga senyuman di wajahnya enggan pergi. 200 kilometer perjam dan tanpa adanya hambatan sedikitpun membuat Hansel terkagum akan keahlian Jessica dalam menyetir. “Sepertinya elo wajib ikut balapan F1,” ucap Hansel. “Kalau Papa sama Mama bolehin,” sahut Jessica. “Mau izin?” tanya Hansel. “Enggak usah deh. Aku belum terlalu mahir,” sahut Jessica. ... Dari sore sampai malam Jessica bersama dengan Hansel. Jam 8 malam ia baru pulang ke rumah. Raut wajah suka cita nampak menghiasi wajahnya. “Jessica pulang,” ucap Jessica yang baru saja memasuki rumah. “Senang banget, Jes. Seperti habis menang taruhan,” ucap Maura yang saat itu sedang duduk di sofa ruang tamu. “Senang dong. Tadi Om Hansel ajak aku ke sirkuit dan untuk pertama kalinya aku nyetir dengan kecepatan tinggi,” ungkap Jessica. “Tadi Hansel ada kirim videonya ke Papa. Kamu benar-benar top!” timpal Mike yang baru saja menuruni anak tangga. “Beneran? Om Hansel rekam?” tanya Jessica yang sedikit terkejut. Jelas saja, Jessica tidak tahu kapan Hansel merekam saat ia mengemudi di sirkuit tadi. “Iya. Katanya sih itu pas putaran kedua. 200 kilometer perjam. Kamu hebat!” kagum Mike. Jessica langsung bingung, antara takut atau senang. “Kenapa wajahnya malah begitu?” tanya Mike heran. “Aku bingung, mau takut atau mau senang,” lirih Jessica. “Kenapa begitu?” kali ini, Maura lah yang melontarkan pertanyaan. “Aku takut kalau Papa marah karena aku menyetir dengan begitu cepat,” suara Jessica hampir tidak bisa didengar oleh Maura dan Mike. “Papa kamu itu enggak pernah begitu, Jes. Kalau dia marah, dia akan bilang kalau dia marah. Kalau enggak, ya dia bilang kalau enggak,” jelas Maura. “Papa senang, Jes. Kamu bisa mengemudi dengan kecepatan tinggi dan itu stabil. Papa juga senang karena kamu tahu di mana kamu harus mengemudi pada kecepatan tinggi dan di mana kamu harus mengemudi dengan kecepatan normal,” tutur Mike. “Lusa pekerjaan Papa sedikit. Kita ke sirkuit lagi, ya. Nanti kita balapan berempat,” ajaknya. “Beneran, Pa?” tanya Jessica yang langsung menjadi exited. “Iya. Papa janji,” sahut Mike. Jessica langsung melompat kegirangan. Ini untuk pertama kalinya ia akan balapan mobil dengan kedua orangtuanya dan tentu saja dengan Hansel juga. Sebab, tadi Mike mengatakan berempat. Sudah pasti Hansel lah orangnya. To Be Continued...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD