Seperti yang sudah ditakdirkan, bahwa setiap manusia yang hidup pasti akan bertumbuh. Dari seorang anak yang bisanya hanya mengandalkan orangtua dan kini sudah bisa mengandalkan diri sendiri.
Meski kenyataan berkata bahwa Jessica bukanlah anak kandungnya, namun perasaan itu tetap saja hinggap pada diri kedua orangtua angkat Jessica, yakni Mike dan Maura.
“Kemarin aku sudah mengirim email ke kampus yang Papa rekomendasikan. Hari ini aku disuruh untuk mengantar dokumen dan mengambil formulir ke sana,” jelas Jessica kepada Mike dan Maura.
“Mau Mama temani?” tanya Maura.
“Kalau misalkan aku pergi sama Om Hansel, apa boleh?”
Pertanyaan itu membuat Mike dan Maura yang duduk berdampingan pun saling bertukar pandangan.
“Tadi pagi pada saat Mama dan Papa pergi, Om Hansel ada ke sini sebentar. Terus ajak aku ngobrol. Aku kasih tahu saja sekalian,” ungkap Jessica.
“Anak Papa sudah dewasa, ya,” ucap Mike.
“Kok Papa bicara begitu?” tanya Jessica sembari memanyunkan bibirnya.
“Kalau kamu mau pergi dengan Hansel, pergi saja. Asalkan kalian hati-hati di jalan. Beri tahu Hansel supaya jangan mengebut. Itu anak kadang suka enggak sadar diri kalau menginjak pedal gas,” ucap Maura panjang lebar.
“Jadi boleh, Ma?” tanya Jessica dengan begitu semangat.
“Iya, Boleh,” jawab Maura.
“Bukannya aku enggak mau pergi dengan Mama atau Papa. Tapi, aku enggak mau menganggu pekerjaan kalian,” ucap Jessica sembari menundukkan kepalanya.
Mike dan Maura mencoba untuk menerima alasan Jessica itu. Ucapan Jessica menurut mereka juga ada benarnya. Mereka yang selaku orangtua angkat terlalu sibuk sehingga sering menitipkan Jessica kepada Hansel dan membuat Jessica malah begitu dekat dengan sahabat baik mereka itu.
...
“Jadi, lo dari tadi diam aja karena lo galau Jessica maunya ditemani gua?” tanya Hansel kepada Mike yang duduk di hadapannya.
“Sepertinya gua terlalu sibuk, ya?” tanya Mike kembali.
“Lo kerja, Mike. Bukan main-main,” sahut Hansel.
“Tetap saja gua terlalu sibuk selama ini sampai membuat Jessica berpikiran kalau setiap dia hendak ada perlu, dia mengatakan kalau dia takut menganggu,” ungkap Mike.
“Lalu, lo mau apa?” tanya Hansel sekali lagi. “Kalau mengurangi pekerjaan, gua rasa itu enggak mungkin. Karena kerjaan elo itu tak terhingga sepanjang masa, Mike.”
Seketika itu juga, Mike menatap Hansel dengan tatapan tajam.
“Benar, bukan?”
Ya, perkataan Hansel benar. Pekerjaan Mike tidak akan pernah berkurang dan justru selalu bertambah setiap harinya.
...
Di sisi lain.
Jessica tengah asik membuka sebuah situs web di laptop miliknya. Berita mengenai pembunuhan sekeluarga kembali terjadi kemarin. Hal ini membuat Jessica semakin berambisi untuk mencari siapa sebenarnya pelaku dibalik pembunuhan berantai yang selalu terjadi setiap tahunnya.
“Saat aku menemukan kalian, jangan harap kalau aku akan menyerah. Bahkan sampai napas terakhir aku, aku akan membuat pembelajaran untuk kalian. Kalian yang begitu kejam dengan orang-orang yang enggak bersalah,” Jessica membatin.
...
Keesokan harinya. Seperti planning Jessica kemarin. Hari ini ia akan pergi ke kampus bersama dengan Hansel untuk mengantar dokumen pendaftaran kuliahnya.
Di dalam mobil, hari ini bukan Hansel yang menyetir mobilnya, melainkan Jessica. Gadis itu sudah mulai lancar mengemudi. Tentu saja, ia sudah beranjak dewasa.
“Apa kata Mike tadi?”
“Papa enggak bicara apa-apa. Hanya suruh hati-hati.”
“Maura?”
“Mama juga sama.”
“Beneran?”
“Memangnya kenapa?”
“Gua pikir mereka akan menyuruh supaya elo enggak dekat banget sama gua.”
“Kenapa begitu?”
“Kemarin siang gua hampiri Mike di kantornya. Dia merasa kalau selama ini dia terlalu sibuk. Sehingga pada saat elo mau pergi ke mana-mana, elo malah mau sama gua.”
“Itu yang membuat aku bimbang, Om. Terkadang ada rasa mau jalan-jalan bertiga saja sama mereka. Tapi, Om Hansel bisa lihat sendiri, bukan? Sesibuk apa mereka. Aku sadar diri dan sadar posisi kok. Maaf kalau jadinya aku malah membuat Om Hansel yang repot.”
“Enggak, Jes. Malahan gua senang. Elo ada benarnya. Enggak mungkin elo segan mengekang mereka untuk selalu ada saat lo membutuhkan.”
Hansel selalu mencoba untuk membuat Jessica merasa nyaman dan ia berhasil akan hal itu. Bahkan, saat ingin mencurahkan isi hati, Hansel adalah orang yang tepat menurut Jessica.
...
Sesampainya di kampus, Jessica langsung berjalan menuju ruang dosen. Ia tahu di mana letaknya setelah melihat papan penunjuk arah yang terletak di depan gedung kampus.
Sama seperti saat pertama kali Jessica masuk ke sekolah dulu, puluhan pasang mata tertuju padanya. Hal itu yang Jessica sadari membuatnya merasa sedikit malu.
“Lo cantik, makanya mereka lihatin elo,” bisik Hansel yang berjalan di samping Jessica.
“Bisa aja, buaya jantan,” sahut Jessica dengan candaannya.
“Beneran, Jes. Bahkan mungkin mereka berpikir bahwa elo adalah bidadari yang turun dari langit,” ucap Hansel lagi.
“Buaya jantan part 2,” sahut Jessica.
Tangan Hansel yang gatal ingin menarik telinga Jessica.
“Akh!” ringis Jessica ketika Hansel berhasil menarik telinga gadis di sampingnya itu.
“Makanya, jangan ledekin gua dengan sebutan itu lagi,” kesal Hansel.
Sesampainya di ruang dosen, Jessica langsung menyerahkan dokumen yang ia bawa. Kemudian, dosen itu memberikan sebuah kertas untuk Jessica isi data diri.
Setelah selesai. “Nanti saya kirim email ke kamu kalau sudah mendapatkan info selanjutnya, ya,” ucapnya.
Jessica menganggukkan kepalanya kemudian ia permisi pergi dari hadapan dosen itu.
“Tumben banget enggak tanya siapa kamu. Biasanya kalau daftar kuliah dan bawa lawan jenis pasti ditanya. Pacarnya, ya? Suaminya, ya?”
“Kalau mereka tahu siapa gua, untuk apa bertanya lagi, bukan?”
Pernyataan Hansel yang dengan penuh teka-teki itu membuat Jessica mengernyitkan dahinya dan bertanya “Maksud Om Hansel apa?”
“Coba lo telaah dengan baik kata-kata gua tadi,” sahut Hansel.
“Mereka kenal dengan Om Hansel?” tanya Jessica memastikan.
Hansel menganggukkan kepalanya tanda bahwa ia membenarkan ucapan Jessica.
“Karena apa?” tanya Jessica sekali lagi.
“Dulu di sekolah gua adalah?” tanya Hansel kembali.
Jessica nampak dibuat berpikir dengan keras oleh Hansel.
“Berpikirnya jangan terlalu keras. Takutnya kecerdasan elo berkurang perkara memikirkan gua ini siapa,” ucap Hansel seraya tertawa kecil.
“Makanya, kasih tahu aku supaya aku enggak berpikir banyak,” sahut Jessica.
“Coba nanti lo tanya ke Mike atau Maura,” ucap Hansel.
Kali ini Jessica dibuat lebih sabar lagi. Hansel melakukannya bukan karena ia tidak ingin memberi tahu kepada Jessica siapa dia sehingga dosen-dosen di kampus itu tahu siapa seorang Hansel. Akan tetapi, Hansel juga mendapat amanah dari Mike dan Maura untuk melatih kesabaran Jessica.
Saat memasuki mobil, Jessica kembali menyetir. Saat sudah menancapkan gas, Jessica melontarkan sebuah permintaan kepada Hansel. “Om, kalau berkelahi, ajak aku, ya.”
Seketika itu juga, mata Hansel langsung terbelalak.
To Be Continued...