Chapter 32

1107 Words
“Dan sekarang malah Om Hansel yang jadi diam saja,” Jessica membatin saat dalam perjalanan menuju bandara. Sesekali, Jessica menatap Hansel yang duduk di sampingnya. Meski rasa ingin bertanyanya begitu tinggi, namun ia mengurungkannya karena takut akan merusak suasana yang sudah berhasil ia manipulasi. Dengan berpikir beberapa saat, Jessica pun menyandarkan kepalanya ke bahu Hansel. “Kenapa, Jes?” tanya Hansel dengan suaranya yang terdengar begitu halus. “Enggak apa-apa. Hanya sedikit pusing,” jawab Jessica. Tangan Hansel pun mengusap kepala Jessica dengan lembut. “Pusing banget, Jes?” tanya Mike yang duduk di belakang mereka. “Enggak, Pa,” jawab Jessica lagi. “Tadi siang makan nggak?” Kini Maura yang mengajukan pertanyaan. “Makan kok,” jawab Jessica. “Jangan diwawancara terus. Makin pusing anaknya yang ada,” timpal Hansel. “Pejamin aja matanya. Jangan dengerin kalau mereka tanya-tanya lagi,” ucap Hansel pada Jessica. PLAK! Sebuah pukulan berhasil mendarat di kepala Hansel. Lelaki itu langsung meringis dan menatap pelakunya yang tak lain adalah Mike. “Apa? Siapa suruh ngeselin?” tanya Mike dengan tanpa rasa bersalah. “Cukup ya. Kasian anak gue,” ucap Maura menengahi. ... Tidak lama, mobil yang mereka tumpangi sampai di bandara. Mike dibantu oleh Vernon menurunkan barang-barang dari dalam bagasi. “Sebisa mungkin, jangan sampai issue ini sampai ke telinga Jessica,” ucap Mike pada Vernon. “Siap, Pak,” sahut Vernon. “Mike, aku sama Jessica duluan masuk, ya?” ucap Maura. “Iya, sayang,” sahut Mike. Maura pun menggandeng tangan Jessica dan membawanya memasuki area bandara terlebih dahulu. Tentu saja mereka tidak hanya berdua. Ada 4 orang anak buah Mike yang ikut bersama mereka untuk langsung mengantar mereka langsung menuju pesawat pribadi milik Mike. “Nanti pas sudah di pesawat, tidur lagi aja, Jes,” ucap Maura. Jessica menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Setelah melihat bahwa Maura sudah membawa Jessica sedikit jauh darinya, Mike langsung menatap Hansel yang membantunya menurunkan barang-barang. “Bagaimana?” “Gua sudah kerahkan semua anak buah gua. Gua yakin kalau rencana dia akan gagal.” “Bagus deh. Sudah tua, bukannya ingat dosa, malah terus berbuat dosa.” Hansel hanya terkekeh ketika ia mendengar ucapan itu keluar dari mulut Mike. Kemudian, mereka pun berjalan menyusul Maura dan Jessica. “Kalian nurunin 4 koper kayak nurunin 20 koper aja,” gumam Maura. “Mike tuh yang ajak gua ngobrol dulu,” sahut Hansel. “Jangan debat,” kesal Maura. “Nanti Jessica duduk di samping Mama aja, ya?” pintanya pada Jessica. “Enggak! Elo sama Mike aja,” timpal Hansel. “Kok ngatur, ya, bocah?” tanya Maura sebelum ia melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju pesawat. “Tadi kasih tahu kalau jangan debat, sendirinya malah ngajak debat si bocah,” ucap Mike menengahi. Jessica menghentikan langkahnya saat ia sudah berada di dalam pesawat. Gadis itu belum duduk, ia menatap Hansel. “Om Hansel duduk di mana?” tanyanya. “Kenapa?” tanya Hansel sembari menaikkan alis sebelah kanannya. “Jawab, Om,” ucap Jessica lagi. “Di sini,” jawab Hansel kemudian ia duduk. Jessica pun juga langsung duduk di samping lelaki itu dan segera menyandarkan kepalanya ke pundak Hansel. Kemudian, Jessica memejamkan matanya. “Jangan ganggu, 15 menit aja,” ucapnya. Mike, Maura dan Hansel mengangguk tanda mengerti. Meski anggukan kepala ketiga orang itu tidak dilihat oleh Jessica karena ia sudah memejamkan matanya. ... Bukan 15 menit, melainkan 1 jam. Jessica baru bangun saat Hansel membangunkannya ketika pesawat yang mereka tumpangi sudah mendarat. Gadis itu benar-benar tidur dengan nyenyak sepanjang perjalanan. Ia yang tadinya hanya berpura-pura tidur, malah larut dalam keindahan mimpinya. “Kenapa enggak bangunin? Aku bilang 15 menit aja, ‘kan?” protes Jessica saat ia mengikuti Mike dan Maura yang berjalan meninggalkan pesawat. “Lo tidurnya nyenyak banget, Jes. Sampai iler elo kemana-mana,” sahut Hansel yang berjalan di samping Jessica. “Bohong!” sargah Jessica. “Dih, enggak percayaan jadi orang,” ucap Hansel lagi. “Baju Om Hansel aja enggak basah. Kalau aku ileran beneran, baju Om Hansel pasti basah,” sahut Jessica. “Kenapa begitu?” tanya Hansel. “Dari awal aku tidur sampai aku bangun, aku nyender aja di pundak Om Hansel,” jawab Jessica. “Benar juga, ya. Kok gua ngarang cerita enggak mikir dulu?” gumam Hansel. “Pengin aku pukul, tapi takut kualat sama yang tua,” gumam Jessica sembari menyeringai. “Kepala sudah enggak pusing lagi, Jes?” tanya Mike yang berjalan di depan Jessica. “Enggak, Pa. Mungkin karena sudah tidur lama tadi,” sahut Jessica. “Sejam lama dari mana?” kini Maura yang melontarkan pertanyaan. “Kalau Mama dan Papa terus bertanya, kepalaku nanti jadi pusing lagi,” ucap Jessica. “Tapi kalau debat sama Hansel, enggak akan pusing, ya?” tanya Mike lagi. Jessica hanya terkekeh dengan ucapan Mike itu. ... Sampai mereka semua tiba di sebuah villa yang nampak begitu luas. Villa pribadi milik Hansel. Yang mana akan menjadi tempat tinggal mereka selama mereka berada di bali. Tidak hanya Mike, Maura, Jessica, Hansel dan Vernon saja. Di sana juga akan menjadi tempat tinggal beberapa anak buah Hansel dan Mike yang tentunya mereka akan berjaga. “Kamar aku yang mana?” tanya Jessica ketika ia kebingungan kamar mana yang akan menjadi tempatnya beristirahat. “Terserah kamu, Jes. Kamu pilih gih,” sahut Hansel. “Aku enggak bisa kalau disuruh memilih, Om,” ucap Jessica. “Ayok sini,” ajak Hansel yang kemudian ia mengambil alih koper dari tangan Jessica dan menariknya menuju sebuah kamar. Kemudian, Hansel membuka sebuah kamar dan mempersilakan kepada Jessica untuk masuk lebih dahulu. Jessica nampak terpana dengan kamar yang disuguhkan oleh Hansel untuknya. Kamar yang memiliki pemandangan langsung ke laut. “Bagus banget, Om,” ucap Jessica dengan matanya yang nampak begitu berbinar. “Istirahat dan kalau ada apa-apa, elo bilang aja sama gua. Telfon gitu,” ucap Hansel. “Iya. Terima kasih, Om,” ucap Jessica. Hansel tersenyum kepada Jessica,kemudian ia berjalan meninggalkan kamar itu. Setelah Hansel keluar dan menutup kembali kamar yang ditempati Jessica, gadis itu langsung duduk di sisi ranjang dan menatap ke arah jendela kaca yang pemandangnya langsung ke laut. Raut wajah gadis itu nampak berubah 180 derajat dari saat ada Hansel di dekatnya. Murung, tatapan kosong serta dengan tangan yang mengepal kuat. “Aku pikir, Papa hanya terlibat sedikit. Ternyata, Papa juga menyembunyikan ini dari aku. Apa yang kalian inginkan dariku sebenarnya? Apa yang membuat kalian bersikap begini kepadaku dan kepada keluargaku?” Jessica membatin. Gadis itu diam di tempat tanpa bergerak sedikitpun sampai beberapa menit. Ia mencoba meredakan emosinya sebelum ada seseorang yang akan menyuruhnya untuk keluar dari kamar dan berkumpul. To Be Continued...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD