Chapter 33

1128 Words
“Bagaimana tidur semalam, Jes?” tanya Maura kepada Jessica yang duduk di sebrangnya sembari menyantap sarapannya pagi ini. “Nyenyak, Ma,” jawab Jessica dengan singkat. “Acaranya jam 10 nanti, ya. Setelah sarapan, kita siap-siap,” kini, Mike yang berbicara pada Jessica. “Iya, Pa,” lagi-lagi, Jessica menyahut dengan singkat. Sesekali, Jessica melirik ke arah Hansel yang duduk di sampingnya. Gadis ini selalu memikirkan bagaimana caranya ia berjarak dengan Hansel tanpa harus menimbulkan sebuah kecurigaan. Terlebih, Hansel yang sangat dekat dengan kedua orangtua sambungnya. Setelah selesai sarapan, Jessica pun kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian dan memoles sedikit make up pada wajahnya. Kaos berwarna putih polos dan rok jeans selutut serta dengan bucket hat berwarna senada dengan roknya, dilengkapi dengan sepatu kets putih. Hanya pakaian sederhana karena acara yang dihadiri oleh Mike dan Maura adalah acara santai saja. Setelah selesai, Jessica keluar dari kamarnya dan langsung duduk di sofa ruang tamu untuk menunggu Mike dan Maura yang masih bersiap juga. Gadis itu mengeluarkan ponselnya dan memainkan game online di sana. Saking fokusnya dengan layar ponsel, Jessica sampai tidak sadar bahwa Hansel sudah duduk di sampingnya. Hansel sendiri pun hanya diam, ia membiarkan Jessica sampai Jessica sadar sendiri bahwa Hansel sudah berada di sampingnya. “Om Hansel! Bikin kaget aja!” ucap Jessica yang terperanjat melihat Hansel sudah duduk di sampingnya. “Lagian lo, main HP sudah kayak kena sihir sampai enggak sadar kalau di sampingnya ada orang,” sahut Hansel. “Katanya kalau bicara itu harus natap lawan bicaranya,” ucap Jessica sembari menatap ke arah Hansel yang duduk di sampingnya tanpa menatap ke arahnya sedikitpun. Namun, saat mendengar ucapan Jessica tadi, Hansel langsung mengarahkan pandangannya kepada Jessica yang sudah menatapnya sedari tadi. “Beberapa hari ini gua memperhatian elo, Jes. Elo yang selalu melamun, elo yang selalu berusaha mencari alasan untuk menghindar dari gua. Sampai elo yang berusaha mencari alasan, kenapa elo harus menghindari gua. Gua merasa, semua itu ada jawabannya yang sampai sekarang masih elo simpan sendiri,” ucap Hansel panjang lebar. Jessica nampak menundukkan kepalanya, gadis itu merasa bahwa semua hal yang sudah ia pikir akan menjadi baik-baik saja untuk saat ini, malah diketahui oleh Hansel. “Apa yang elo simpan di dalam hati elo, Jes?” tanya Hansel dengan nada suaranya yang terdengar begitu berat. Jessica semakin menundukkan kepalanya. Gadis itu ingin mengeluarkan isi hatinya. Namun, sekali lagi ia berpikir, bagaimana jika Hansel tahu dan malah membunuhnya di tempat. “Heh! Pacaran terus, ya,” ucap Maura yang baru saja datang di antara Hansel dan Jessica. Seketika itu juga, Hansel dan Jessica langsung menatap ke arah di mana Mike dan Maura berdiri. “Ayok berangkat sekarang,” ajak Mike. Jessica dan Hansel pun beranjak dan mereka berjalan mengikuti Mike dan Maura. ... Beberapa saat kemudian, mereka sampai di sebuah tempat wisata terkenal di Bali. Restoran yang berada di pinggiran pantai dan dengan jejeran mobil sport yang terparkir di depannya menjadi tempat yang akan dihadiri Mike, Maura, Jessica dan Hansel untuk sebuah acara. “Kok aku kayak kenal sama itu orang,” Jessica bergumam sembari menatap punggung seseorang yang familiar di matanya. Saat Jessica berjalan memasuki area restoran dan tentu saja ia berada semakin dekat dengan lelaki yang sedari tadi membelakanginya. Namun, saat salah satu teman Mike menyapa Mike, lelaki itu berpaling dan menghadap Jessica. “Ivan?” Jessica terperanjat ketika dugaannya benar bahwa lelaki tadi adalah Ivan. “Di mana-mana ada elo, ya,” ucap Hansel yang nampak kesal. “Papa saya adalah teman dari yang punya acara juga. Jadi, wajar saja jika saya ada di sini,” sahut Ivan. “Kok malah berantem?” tanya Jessica sembari menatap Hansel dan Ivan secara bergantian. “Ingat, di sekolah kita dulu enggak ada guru BK,” sambungnya kemudian ia pergi dari hadapan Hansel dan Ivan. “Mau ke mana lo?” tanya Hansel sembari menatap punggung Jessica. “Minta air buat nyiram kalian,” sahut Jessica dengan asal. “Elo sih,” kesal Hansel pada Ivan. “Kok saya, Pak?” tanya Ivan yang bingung. “Kalau elo enggak datang, Jessica enggak akan minggat dari samping gua,” ucap Hansel. “Salah bapak. Bapak yang duluan mengajak saya beradu argumen,” sahut Ivan kemudian ia juga pergi dari hadapan Hansel. “Dasar bocah!” kesal Hansel. “Jessica, ya?” tanya seseorang pada Jessica yang sedang sibuk memilih minuman. “Iya,” jawab Jessica dengan singkat. Orang itu pun mengulurkan tangannya ke hadapan Jessica dan memperkenalkan namanya pada gadis ini. “Aku Sandra, temannya Maura,” ucapnya. Jessica menjabat tangan perempuan itu, kemudian ia tersenyum. “Tante sudah tahu nama aku, bukan?” tanyanya. “Jangan panggil Tante, panggil Kakak saja,” ucap Sandra kemudian ia menarik tangannya kembali. “Dih, sudah tua juga,” ucap Maura yang tiba-tiba saja ada di antara Jessica dan Sandra. “Anak gue aja masih TK, Ra,” ucap Sandra. “Enggak Mama, enggak Om Hansel. Sama aja. Kalau sudah bertemu dengan teman, pasti ada adegan adu argumen,” gumam Jessica. “Jes, ini Sandra. Yang hari ini ulang tahun,” ucap Maura yang mengalihkan pembicaraan. “Beneran?” tanya Jessica yang terkejut. Jessica hanya tahu bahwa ia akan menghadiri acara ulang tahun teman Mamanya tanpa tahu siapa nama yang sedang berulang tahun. “Lo enggak kasih tahu anak lo kalau hari ini gue yang ulang tahun?” tanya Sandra yang kesal pada Maura. “Kasih tahu kok,” sahut Maura. “Kapan?” tanya Sandra lagi. “Mama cuman kasih tahu kalau temannya yang ulang tahun. Tapi enggak kasih tahu siapa namanya,” timpal Jessica. “Bener-bener lo!” kesal Sandra. “Selamat ulang tahun, Tante,” ucap Jessica kemudian ia memeluk Sandra. “Aku enggak terima ucapan kamu kalau masih manggil aku dengan sebutan Tante,” sahut Sandra. “Iyasudah. Selamat ulang tahun, Kak Sandra,” ucap Jessica lagi. Setelah itu, barulah Sandra membalas pelukan Jessica dan mengucapkan terima kasih atas ucapan gadis itu. Setelah beberapa saat, mereka pun melepaskan pelukan satu sama lain. “Jessica sudah kelas berapa?” tanya Sandra. “Baru masuk kuliah, Kak,” jawab Jessica apa adanya. “Hah?! Seriusan?!” kaget Sandra. “Aku pikir masih SMP atau SMA,” sambungnya. “Enggaklah. Dia ini seumuran sama Ivan,” timpal Maura. “Awet muda ya anak lo ini,” ucap Sandra pada Maura. “Jelas lah. Siapa dulu keturunannya,” sahut Maura. Saat Maura dan Sandra sedang asik berbincang, Jessica malah mengarahkan pandangannya ke arah lain. Sebuah pojokan resto yang mana di sana ada seorang lelaki yang memperhatikannya. Jelas saja Jessica merasa risih dengan hal itu. Jessica menatap lelaki itu sembari mengernyitkan dahinya dan karena merasa bahwa ia sudah dipergoki oleh Jessica, lelaki itu pun langsung pergi dari sana. “Aneh banget,” Jessica membatin. To Be Continued...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD