Bahkan perkelahian yang mengundang banyaknya murid yang menonton tidak ditegur oleh guru karena hal itu sudah terlalu biasa bagi mereka. Anak mafia samadengan pertengkaran. Tentu saja lumrah. Bukan mafia namanya jika tidak ada pertengkaran.
Bahkan, saat ini Jessica mendapatkan 1 fakta baru. Yakni; di sekolah Cabrigte tidak ada yang namanya ruang BK (Bimbingan Konseling).
Setelah selesai makan di kantin, Jessica dan Anne kembali ke kelas. Di sana mereka berdua mendapati Evan yang sedang tertidur dengan tenang di mejanya.
"Dia memang begitu, ya?" tanya Jessica pada Anne.
"Iya. Setiap jam istirahat, dia selalu tidur," jawab Anne.
Jessica mengambil sekaleng cola pemberian salah seorang murid sesekolahnya. Kemudian, Jessica meletakkan kaleng itu di samping Evan.
"Aku enggak dikasih?" tanya Anne seraya memajukan bibirnya.
Jessica terkekeh dan ia mengambil 2 kotak s**u dan memberikannya untuk Anne. "Jangan marah," ucapnya.
Anne pun tertawa, sebenarnya ia hanya menggoda Jessica.
...
Sepulang sekolah, Jessica dijemput oleh salah seorang supir pribadi Mike. Supir itu diarahkan Mike untuk mengantar Jessica ke kantornya saja. Jessica tentu saja penasaran dengan apa yang terjadi sampai ayah angkatnya itu menyuruhnya untuk menghampiri ke kantor.
Jessica bertanya pada supir pribadi Mike, namun supir itu sendiri pun tidak tahu maksud dan tujuan Mike.
Sepanjang perjalanan, tanda tanya besar dan perasaan gugup meliputi Jessica. Gadis itu hanya bisa diam sembari menatap ke arah luar mobil melalui jendela kaca.
...
Sesampainya di kantor Mike, Jessica langsung diarahkan oleh seorang perempuan menuju ruang kerja Mike yang terletak di lantai paling atas gedung.
"Namanya siapa, Kak?" tanya Jessica ketika mereka sedang berada di dalam lift.
"Yenni, Nona," jawabnya seraya tersenyum.
"Kerja bagian apa sama Papa?" tanya Jessica lagi.
"Sekretaris, Nona," jawab Yenni.
"Sudah berapa lama?" tanya Jessica.
"4 tahun, Nona," jawab Yenni lagi.
Ting!
Pintu lift terbuka ketika sudah sampai di lantai 15. Yenni segera berjalan mendahului Jessica agar ia bisa membukakan pintu untuk Nonanya itu.
Tok! Tok! Tok! Yenni mengetuk pintu sebuah ruangan yang di depannya bertuliskan Direktur utama Room.
"Permisi, Tuan. Nona sudah sampai," ucap Yenni kemudian ia mendorong pintu dan mempersilakan Jessica untuk masuk ke dalamnya.
Saat Jessica memasuki ruang kerja Mike, ia melihat Mike dan Maura sedang duduk berdampingan seraya menatap ke sebuah layar komputer di hadapan mereka.
Kemudian, jejeran senjata api dari yang terkecil sampai yang terbesar terpajang di dinding sebelah kanan ruangan Mike. Sedangkan di dinding bagian kiri, terdapat jejeran berbagai jenis pisau dan bentuknya terpajang juga di sana.
"Woah," gumam Jessica. Matanya nampak berbinar ketika ia melihat pemandangan itu benar-benar nyata di hadapannya sekarang.
"Eh, Jes. Ke sini sebentar, Nak," perintah Maura.
Jessica pun berjalan menghampiri Maura dan Mike. Kemudian ia berdiri di antara Mike dan Maura yang masih duduk di kursi mereka masing-masing.
"Kenapa, Ma?" tanya Jessica kemudian ia mengarahkan pandangannya ke layar komputer yang ada di hadapannya juga.
Video yang sama dengan apa yang ditunjukkan oleh Hansel saat di rooftop tadi pagi juga terputar di layar komputer milik Mike.
"Maaf, Pa, Ma. Aku hanya membela yang benar. Aku enggak suka lihat mereka yang berkelahi namun beraninya keroyokan," sesal Jessica.
"Papa dan Mama enggak marah sama kamu, Jes. Malah kami senang karena keberanian kamu," sahut Mike.
"Iya, Jes. Kami pun juga tahu bagaimana kronologinya," timpal Maura. "Lanjutkan, ya."
Mata Jessica membulat sempurna ketika ia mendengar kata itu keluar dari mulut Maura.
"Karena dunia butuh orang-orang seperti kamu," timpal Mike.
Jessica tersenyum senang, tebakan Hansel menjadi kebenaran.
"Tadi Om Hansel juga bilang begitu sama aku," ungkap Jessica.
"Walaupun sering berantem, walaupun sering bikin kesal satu sama lain, ternyata kalau masalah begini, kalian akur juga," sahut Mike.
Jessica pun terkekeh. Dalam hatinya, ia berharap kalau segala tindakan yang ia ambil akan menjadi sebuah kebanggaan untuk Mike maupun Maura.
"Ma, boleh nggak aku ke sana," pinta Jessica seraya menunjuk pintu kaca yang tersambung langsung dengan space khusus untuk Mike bersantai. Yang mana, tempat itu adalah tempat outdoor yang view-nya langsung ke jalan raya.
"Boleh, sayang," sahut Maura.
Jessica pun berjalan ke sana. Kemudian, gadis itu berdiri di ujung dan berpegangan pada pagr pembatas. Matanya menatap ke arah langit.
"Ayah... Ibu... Apa kabar kalian di sana? Apa baik-baik saja? Lihat Jessi sekarang, 'kan? Jessi sudah bisa mulai menjalankan kehidupan lagi setelah kalian pergi. Kalian yang tenang di sana, ya? Jessi janji kalau Jessi akan membalas apa yang sudah mereka lakukan kepada kalian. Darah harus dibayar dengan darah juga, 'kan?"
...
"Kenapa telfon aku, Om? Kangen, ya? Cieee."
"Anda di mana wahai Nona Jessica? Mau kena marah Mike, ya?"
"Kenapa lah? Ngomong yang jelas, Om. Jangan belibet!"
"Gua di rumah elo. Kata Bi Hani, elo enggak ada pulang."
"Jangan marah-marah, Om. Jangan bilang Papa juga, ya? Aku..."
"Lo di mana sih?!"
"Aku sudah jalan mau balik kok. Palingan sebentar lagi sampai rumah."
"Habis dari mana, hah?!"
"Nanti aku kasih tahu kalau aku sudah sampai rumah. Oke, Om? Bye!"
...
Jessica memutuskan sambungan telfon secara sepihak, kemudian ia tertawa puas.
"Mulai, 'kan?" tegur Maura.
"Habis, Om Hansel posesifnya melebihi Papa," sahut Jessica.
"Pasti nanti dia tambah emosi pas lihat kamu datang sama kami," timpal Mike.
"Bikin aku enggak sabar lihat wajah emosinya," sahut Jessica seraya terkekeh.
...
Sesampainya di rumah, Jessica melihat Hansel sudah duduk di sofa ruang tamu sendirian.
"Sore, Om," sapa Jessica.
"Ganti pakaian dulu, Jes. Habis itu baru mulai latihan," perintah Mike.
Mendengar adanya suara Mike, Hansel langsung mengarahkan pandangannya ke daun pintu di mana di sana ada Mike dan Maura yang baru masuk ke dalam rumah juga.
"Lah, kalian?!" kaget Hansel.
"Makanya, sama anak gua jangan terlalu posesif. Dikerjainnya terus baru tau rasa," ucap Maura sebelum ia berjalan menaiki anak tangga.
'"Jessicaaaaa!" kesal Hansel.
"Ampun, Om," ucap Jessica kemudian ia berlari menuju kamarnya untuk berganti pakaian.
"Jadi, dari pulang sekolah, Jessica sama kalian?"tanya Hansel pada Mike.
"Benar sekali," sahut Mike.
Raut wajah Hansel nampak sekali bahwa ia sedang kesal kepada Jessica. Lantaran Jessica sudah membuatnya marah. Mulanya Hansel berpikir kalau Jessica pergi tanpa sepengetahuan Mike maupun Maura. Rupanya ia salah, nyatanya Jessica pergi menghampiri Mike dan Maura.
"Ngomong-ngomong, kalian sudah lihat video Jessica?"
"Sudah. Kami juga sudah kasih tahu dia."
"Kasih tahu apa?"
"Supaya dia meneruskan hal-hal positif seperti apa yang dia lakukan pagi tadi."
"Asal lo tahu, sejak video itu tersebar di lingkungan sekolah, Jessica jadi banyak punya teman. bahkan, enggak sedikit yang kasih gift ke dia."
"Gift?"
"Enggak besar. Hanya puluhan kaleng minuman soda dan puluhan s**u kotak. Banyak camilan juga yang dia dapat secara cuma-cuma dari murid lain."
"Pantesan di mobil tadi aku kantong besar. Gua kira apaan isinya. Taunya gift itu."
"Tapi, ada hal yang gua takutkan, Mike."
"Apa?"