“Gua takut kalau suatu saat nanti akan ada yang membenci Jessica diam-diam.”
Ucapan Mike itu tentu saja membuat Hansel terdiam. Hansel nampak sedang berpikir. Ia rasa, ucapan Mike ada benarnya juga.
“Jangan khawatir, gua akan berusaha untuk selalu mengawasinya,” ucap Hansel dengan lantang.
“Siapa yang Om Hansel maksud?” tanya Jessica yang tiba-tiba saja sudah berada di antara Mike dan Hansel.
“Kucing sekolahan,” jawab Hansel asal.
Jessica yang mendapatkan jawaban yang menurutnya nyeleneh, ia pun mencibir asal.
“Ini kopi Papa,” ucap Jessica seraya meletakkan secangkir kopi di atas meja hadapan Mike.
“Punya gua mana?” tanya Hansel.
“Om Hansel enggak ada bilang mau kopi tadi,” sahut Jessica.
“Inisiatif kek bikinin,” gerutu Hansel.
“Bikin sendiri aja sana,” perintah Jessica.
“Masa sama Omnya begitu?” tegur Mike.
Jessica terkekeh kemudian ia kembali masuk ke dalam rumah untuk mengambil secangkir kopi lagi. Yang mana kopi itu sebenarnya sudah ia siapkan – namun ia hendak meledek Hansel terlebih dahulu.
“Cepat banget bikinnya,” ucap Hansel saat ia melihat Jessica datang setelah beberapa saat.
“Aku bisa sulap,” sahut Jessica.
“Gimana sekolah kamu, Jes?” tanya Mike.
“Tanya aja Om Hansel,” sahut Jessica. “Sekolahan masih bagus, ‘kan? Sekolahan masih berdiri kokoh, ‘kan? Iya kan, Om?”
“Anak siapa sih kamu?” tanya Mike.
“Anak Papa sama Mama,” sahut Jessica seraya menunjukkan deretan gigi rapinya.
“Duh, jadi pengin punya anak,” gerutu Hansel.
“Aku carikan, mau?” tawar Jessica.
“Anak lo lama-lama pengin gue gantung di pohon cabe, Mike,” kesal Hansel.
Mike terkekeh, kemudian ia berkata kepada Jessica “Teruskan, Jes. Teruskan sampai Hansel merasa stress.”
“Sudahlah, kasian Om Hansel,” ucap Jessica. “Aku ke kamar dulu, Pa. Ada tugas yang belum aku selesaikan,” pamitnya.
“Yasudah sana,” sahut Mike.
“Aku tinggal, Om,” ucap Jessica kepada Hansel. “Good night.” Jessica pun berjalan memasuki rumah.
Sedangkan Hansel yang baru saja mendapat ucapan selamat malam dari Jessica, ia nampak terdiam membisu layaknya patung.
“Hoy!” Mike membuat Hansel menyadarkan diri dari lamunan.
“Apa?” tanya Hansel.
“Baru diucapin selamat malam, sudah kayak mau meninggal aja,” ledek Mike.
“Gua kaget, Mike. Masa Jessica tiba-tiba ngomong begitu?” heran Hansel. “Apa gua sedang bermimpi, ya?”
Dengan sengaja, Mike melempar sebuah sendok yang tadi ia gunakan untuk mengaduk kopi miliknya.
“Sakit!” ringis Hansel.
“Kalau sakit, artiny apa?” tanya Mike.
“Gua tahu mana mimpi dan mana kenyataan, Mike. Jangan bikin gua emosi deh,” kesal Hansel.
Namun, kekesalan Hansel justru tidak membuat Mike merasa bersalah. Lelaki itu malah terkekeh kemudian ia menyeruput kopi panasnya dengan hati-hati.
...
Keesokan harinya.
Hari masih pagi namun Jessica sudah melihat adanya perundungan di sekolah. Kali ini bukan antara lelaki lagi. Namun antara perempuan.
“Kenapa sih? Kenapa sekarang banyak banget orang yang membuly dan beraninya main keroyokan?” gerutu Jessica sebelum ia menghampiri beberapa siswi yang sedang berada di ujung koridor sekolah.
“Butuh bantuan?” tanya Jessica dengan santainya.
“Lebih baik kalau lo pergi dari sini, Jes. Jangan sok jadi pahlawan di sini,” ucap salah seorang perempuan yang nampak dominan dibandingkan dengan perempuan yang ada di kanan dan kirinya.
“Aku mau bantuin kalian,” jawab Jessica. “Bukan mau bantuin dia,” sambungnya seraya menatap seorang perempuan yang menjadi bahan bullying itu.
“Beneran? Lo mau bantuin kami?”
“Tapi ada syaratnya.”
“Sebut aja.”
“Gampang kok. Lo hanya perlu kasih tahu gue tentang akar masalah yang membuat kalian menyiksa dia. Kalau menurut gue sikap kalian benar, maka akan gue bantu,” jelas Jessica.
Ketiga siswi itu pun menyetujui permintaan Jessica.
Leena, siswi yang nampak dominan di antara 3 siswi yang melakukan perundungan itu pun menjelaskan dengan detail dan jelas apa akar permasalahannya.
“Dia beberapa kali bikin mobil gue tergores. Itu bukan tanpa disengaja, tapi dia sengaja melakukannya,” penjelasan pertama Leena dijeda oleh Jessica.
“Ada bukti?” tanya Jessica.
Leena mengeluarkan ponselnya dan memberikannya kepada Jessica. Jessica pun menerima ponsel itu dan melihat sebuah video yang terputar dengan jelas di ponsel milik Leena.
“Gue ada CCTV dari dalam mobil. Mulanya, Papa bilang kalau itu untuk perlindungan gue. Yang mana, kalau ada apa-apa sama gue, maka CCTV yang membuktikannya. Tapi, gue malah dapat itu,” jelas Leena panjang lebar.
“Apa ada permasalahan lain?” tanya Jessica setelah itu selesai menonton 5 video yang menampakkan bahwa gadis yang nampak sedang takut sekarang – pernah berbuat hal yang tidak memiliki etika sama sekali.
“Kedua, Dona pikir kalau gue yang rebut pacar dia. Padahal, dia dan pacarnya sudah putus setahun yang lalu,” Leena menjelaskan lagi.
“Jadi, nama kamu Dona, sayang?” tanya Jessica seraya menatap Dona dengan tatapan tajam.
Raut wajah Dona tentu saja semakin nampak bahwa ia semakin takut.
“Aku paham sekarang!” seru Jessica. “Kamu berpikir bahwa dia merebut pacar kamu dan kamu balas dendam dengan membuat mobilnya tergores. Bukan begitu, Dona?”
“Kalau iya, kenapa?!” Dona menaikkan pandangannya dan menatap Jessica dengan tatapan amarah.
“Akhirnya, wajah asli lo nampak juga, Na,” timpal Leena.
“Mana Dona yang tadi? Mana Dona yang nampak lemah tadi? Lalu, mana yang benar? Tadi kamu sedang akting atau sekarang kamu sedang akting?” tanya Jessica.
“JESSICA!”
Suara panggilan namanya itu membuat Jessica berdecik kesal. Seab, ia tahu siapa yang memanggil namanya barusan.
“Kamu ngapain di sini?” tanya orang yang memanggil Jessica tadi – ia tak lain adalah Hansel.
“HP lo tadi mana?” tanya Jessica kepada Leena.
Leena kembali mengeluarkan ponselnya dan memberikannya kepada Jessica.
Jessica menerimanya dan meminta Leena untuk memutar video yang tadi ia lihat. Leena tentu saja mengikuti perintah Jessica.
“Coba Pak Hansel lihat video ini,” ucap Jessica.
Hansel pun menonton video yang sama dengan yang ditonton oleh Jessica beberapa detik yang lalu.
“Dia sudah membuat mobil Leena tergores banyak. Leena pasti mengeluarkan uang yang banyak untuk memperbaikinya,” ucap Jessica. “Kira-kira, berapa banyak uang ganti rugi yang harus Dona bayar untuk Leena?” tanya Jessica.
“Pertanyaan lo kayak pertanyaan essay matematika anak SD, Jes,” timpal Leena seraya terkekeh.
“Eh, iya ya,” sahut Jessica yang baru tersadar.
“Lagipula, gue enggak butuh uang ganti ruginya. Yang gue butuh hanya itikad baiknya untuk meminta maaf,” ucap Leena.
Bukannya meminta maaf, Dona malah menerobos pergi dari kerumunan itu.
“EH!” bentak Jessica.
“Saya akan melakukan tindakan tegas jika kamu mau,” ucap Hansel kepada Leena.
“Enggak perlu, Pak dan terima kasih sebelumnya. Yang aku inginkan hanya permintaan maaf yang tulus. Kalau dia enggak mau, aku juga enggak memaksa,” tutur Leena.
“Yasudah. Kalau begitu, kalian kembali ke kelas masing-masing sana. Sebentar lagi bel akan berbunyi,” ucap Hansel.
Siswi-siswi itu pun berjalan memasuki kelas masing-masing. Tidak terkecuali Jessica, ia juga pergi ke kelasnya dan meninggalkan Hansel sendirian.
“Awas aja lo, Jessica!”