Chapter 13

1002 Words
Sepulang sekolah, Jessica sudah ditunggu oleh Leena di depan gerbang. Gadis itu membawa sekotak cokelat di tangannya. "Jessica!" panggilnya ketika ia melihat Jessica berjalan keluar dari gerbang sekolah. Leena pun berjalan mendekati Jessica, kemudian ia menyerahkan sekotak cokelat itu kepada Jessica. "Buat elo," ucapnya. "Ada perayaan apa nih?' tanya Jessica seraya terkekeh. "Anggap saja sebagai tanda terima kasih karena elo mau mendengarkan alasan gue menghampiri Dona," jelas Leena. "Tapi ini terlalu banyak, Na," ucap Jessica. "Buat stok elo setahun ke depan," sahut Leena dengan candaannya. "Terima kasih banyak, ya. Padahal gue enggak ada berharap dapat imbalan begini," ucap Jessica. Leena hanya tersenyum dan ia menepuk bahu Jessica dengan lembut. "Semoga lo mau berteman dengan gue, ya," sambungnya. Jessica lantas menganggukkan kepalanya. "Jemputan gue sudah datang, gue duluan, ya," pamitnya. Setelah melihat Leena menganggukkan kepala, Jessica pun memasuki mobil yang menjemputnya. ... Sesampainya di rumah, Jessica langsung memasuki kamarnya. Tanpa mengganti seragam sekolah, gadis itu berjalan menuju meja belajarnya. Di sana, ia langsung membuka laptopnya dan mulai membuka situs web sekolah. Yang dicari Jessica adalah biodata Leena dan biodata Dona. Saat ia selesai membaca biodata kedua orang itu, sekarang ia paham kenapa mereka berdua seperti musuh bebuyutan. Bukan hanya karena seorang lelaki, melainkan karena kedua orangtua mereka sedang mengalami konflik. "Pantas saja kalian nampak bukan hanya mempermasalahkan sebuah hal," gumam Jessica. Ponsel yang masih berada di dalam tas Jessica berdering. Menandakan 1 panggilan masuk di sana. Jessica pun membuka tasnya dan mengambil ponsel miliknya. ... Jessica berjalan keluar dari kamarnya setelah ia mendapat panggilan suara. Gadis itu masih belum mengganti pakaiannya. "Nona mau ke mana?" tanya Bi Hani ketika ia melihat Jessica berjalan menuju ruang bawah tanah. "Di suruh Papa ke ruang bawah tanah, Bi," jawab Jessica apa adanya. 'Tahu jalan, Non?" tanya Bi Hani lagi. "Tadi sudah dikasih tau sama Papa, Bi," jawab Jessica lagi. "Mau Bibi antar?" tawar Bi Hani. "Enggak perlu, Bi," sahut Jessica sebelum ia kembali melanjutkan langkah kakinya menuju ruang bawah tanah. Sesampainya di ruang bawah tanah, mata Jessica nampak berbinar. "Ini 10 kali lebih keren dari ruang kerja Papa di kantor," ucapnya yang terperangah dengan deretan senjata tajam dan senjata api yang ada di ruang bawah tanah. "Hai, Jes," sapa seorang lelaki yang tiba-tiba muncul di hadapan Jessica dan membuat Jessica mencibir asal. "Sudah aku duga," gumam Jessica. "Papa mana, Om?" tanyanya kepada lelaki itu yang tak lain adalah Hansel. "Papa lo gua ikat tadi. Gua jadikan sandera," jawab Hansel. "Seriusan?" tanya Jessica dengan santai. "Santai banget, Jes. Papa lo loh," ucap Hansel lagi. "Karena mustahil kalau Om Hansel usir Papa," sahut Jessica. "Hai, Nak. Ayok ke sini," ajak Mike. Jessica pun menganggukkan kepalanya sebelum ia berjalan di belakang Mike. Sampailah mereka di tengah ruang bawah tanah itu. Di mana di sekeliling mereka benar-benar hanya ada senjata api dan senjata tajam "Perfect!" gumam Jessica lagi. "Papa mau tanya sama kamu, Jes," ucap Mike. "Tanya apa, Pa?" tanya Jessica. "Pertama, kenapa kamu belum ganti baju?" tanya Mike seraya menaikkan alis sebelah kanannya. Jessica hanya terkekeh. "Tanya yang lain aja, Pa," ucapnya. "Mau mulai belajar dengan senjata tajam?" tanya Mike to the pont. Jessica nampak terdiam sejenak, raut wajahnya nampak sekali bahwa ia sedang memikirkan sesuatu. Senjata tajam membuatnya berpikir 2 kali lebih keras dari biasanya. Menurut Jessica, lebih aman memegang senjata api dibandingkan senjata tajam. Sebab, senjata api tidak akan melukai tuannya, sedangkan senjata tajam bisa melukai tuannya sekalipun senjata itu sedang berada di tangan tuannya. "Jes," panggil Mike. "Boleh nggak kalau nanti aja?" tanya Jessica. "Papa enggak memaksa, Jes. Papa hanya bertanya. Jangan merasa tertekan begitu," ucap Mike. "Kalau aku merasa sudah siap, aku akan kasih tahu Papa. Mungkin, untuk sekarang, aku merasa belum siap untuk memegangnya," jawab Jessica. "Iya, Jes. Pokoknya kalau kamu sudah siap, kamu harus langsung bilang ke Papa, ya?" pinta Mike. Jessica menganggukkan kepalanya. "Aku tahu kalau Papa berharap banyak sama aku. Tapi, maaf, Pa. Aku beneran belum siap memegangnya. Mereka terlalu tajam untukku," Jessica membatin. "Kamu ganti baju dan setelah itu langsung ke halaman belakang, ya. Hari ini Hansel harus kembali lebih cepat, makanya dia juga datang lebih cepat," jelas Mike sebelum ia pergi dari hadapan Hansel dan Jessica. "Iya, Pa," jawab Jessica seraya menatap punggung Mike. Setelah Mike pergi, Jessica menahan tangan Hansel untuk tinggal beberapa saat di sana. "Kenapa?" tanya Hansel heran. "Papa nampak kecewa sama aku," ucap Jessica yang sudah menundukkan kepalanya. "Mike itu orangnya tegas. Dan juga, kalau dia menginginkan sesuatu, dia tahu sebatas mana dia harus berusaha," sahut Hansel. "Jangan dipikirkan. Sekarang, ayok kita latihan," ajaknya. ... Setelah Jessica selesai berganti pakaian, ia langsung menghampiri Hansel di halaman belakang rumah. "Fokus ya. Seperti kemarin," ucap Hansel seraya menatap Jessica yang sudah mengarahkan ujung pistol ke target. Namun, kali ini performa Jessica nampak turun. Ia yang biasanya tidak pernah mengenai target di angka kurang dari 9, namun kini ia malah mengenai angka nomor 5. "Jes, ada apa dengan elo?" tanya Hansel heran. Hansel yang tadinya duduk santai, kini ia berjalan menghampiri Jessica. Jessica mengembuskan napasnya dengan begitu berat. Raut wajahnya nampak berbeda hari ini. "Jes," panggil Hansel lagi. "Aku coba sekali lagi," ucap Jessica. Namun, tarikan kedua Jessica malah mengenakan target nomor 3. "Jangan dipaksakan kalau elo enggak fokus," tegur Hansel. "Minum dulu sana," perintahnya. Jessica pun menuruti perintah Hansel, ia mengambil botol minumnya dan meminum air putihnya. ... "Hari ini tembakan Jessica banyak yang melesat. Dia nampak enggak fokus," ungkap Hansel saat ia dan Mike duduk bersama di teras rumah Mike. "Apa dia kepikiran yang tadi, ya?" tebak Mike. "Pas masih di ruang bawah tanah, setelah elo pergi, dia tahan gua. Terus, dia tanya apa elo marah sama dia," ungkap Hansel. "Terus lo jawab apa?" tanya Mike. "Gua hanya bilang kalau elo bukan tipe orang yang marah langsung pergi," jawab Hansel. ... Di sisi lain. Diam-diam Jessica kembali ke ruang bawah tanah sendirian. Gadis itu nampak berdiri di depan sebuah meja yang di atasnya tersusun banyaknya senjata tajam. "Kalau aku pegang kalian, janji untuk tidak menyakitiku, ya?" pinta Jessica sebelum ia mengangkat sebuah pisau yang berukuran sedang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD