Ucapan Hansel benar, malam belum larut dan Jessica sudah mendengar adanya mobil masuk. Mobil yang tak lain adalah milik Mike yang tentu saja membawa Mike dan Maura.
Jessica segera keluar dari kamarnya dan berjalan dengan cepat menuju lantai 1.
Sesampainya di lantai 1, Jessica melihat Mike dan Maura yang baru saja masuk ke dalam rumah.
Wajah Mike dan Maura yang nampak kelelahan membuat Maura mengurungkan niatnya untuk memeluk kedua orang yang sedari kemarin ia rindukan itu.
Namun, wajah lelah Mike dan Maura seketika pudar ketika mereka berdua melihat Jessica berdiri di tangga paling bawah.
“Enggak rindu dengan kami?” tanya Mike sembari tersenyum.
Jessica yang tadinya mengurungkan niat untuk menghampiri kedua orangtuanya itu, kini ia malah berlari menuju Mike dan Maura lalu memeluk keduanya secara bersamaan.
“Bagaimana tadi lepas jahitannya? Sakit nggak?” tanya Mike.
“Enggak, Pa,” jawab Jessica.
“Maaf, ya. Tadi Mama langsung pergi lagi,” ucap Maura.
“Enggak apa-apa, Ma,” jawab Jessica. “Pelukannya mau sampai kapan? Besok?” tanyanya.
Mereka pun melepaskan pelukan secara bersamaan, kemudian Mike menyuruh Jessica kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
“Dia hanya tahu permasalahan di markas saja, ‘kan?” tanya Mike pada Maura.
“Kamu pikir?” tanya Maura kembali.
“Ra, dia tahu semuanya?”
Maura menganggukkan kepalanya kemudian ia menjawab “Bukan Jessica namanya kalau dia enggak tahu apa-apa. Lagian, kamu kadang telfon ke orang rumah. Jelas aja Jessica mendengarnya.”
“Tapi, enggak apa-apa. Yang penting Jessica enggak ikut turun tangan dan semuanya juga berjalan dengan cepat,” ucap Mike.
“Jessica sempat telfon Ivan, teman SMA-nya dulu yang tadi pagi jadi asisten dadakannya Hansel. Ivan bilang kalau Jessica mau dia bantuin kamu. Tapi ternyata Ivan sudah bantuin kamu sebelum Jessica minta,” pungkas Maura.
“Ayok istirahat. Aku merindukan kasurku,” ucap Mike kemudian ia berjalan menaiki anak tangga.
“Hey! Tunggu aku!” teriak Maura lalu ia menyusul Mike.
...
“Bagus. Sangat bagus! Kalian sudah berhasil membuatnya kerepotan 2 hari ini,” ucap seorang pria paruh baya kepada 2 orang di hadapannya. “Ternyata benar, saya tidak akan pernah mengalami kesulitan ketika mencari anak buah dan sepertinya kalian sangat cocok menjadi anak buah andalan saya,” tuturnya.
Wajah beringas dan nampak tiada hati itu terlukis di wajah pria yang tak lain ayah dari Hansel. Seorang ayah yang seharusnya mempunyai perangai baik agar anaknya menjadi anak yang baik, kalau dengannya malah menjadi kebalikan. Ia memiliki perangai yang buruk sedangkan anaknya menentang keras apa yang ia lakukan selama ini.
...
Setelah 3 hari tidak masuk kampus, akhirnya hari ini Mike mengizinkan Jessica untuk melakukan aktivitas pendidikannya lagi. Bahkan Mike mengizinkan Jessica untuk beraktivitas seperti sedia kala lagi. Tanpa adanya Hanna dan Gian yang mengikutinya sampai ke dalam kelas tentunya.
“Ivan?” Jessica terperanjat kaget ketika ia melihat Ivan berada di kampus yang sama dengannya.
“Hai!”sapa Ivan kemudian ia berjalan di samping Jessica.
“Ngapain di sini?” tanya Jessica.
“Nyari botol bekas,” jawab Ivan kemudian ia terkekeh.
“Gue serius tanya, Van,” ucap Jessica lagi.
“Kuliah lah. Ngapain lagi coba?” sahut Ivan.
“Enggak salah?” tanya Jessica sembari mengernyitkan dahinya.
“Setelah gue pikir-pikir lagi, kampus di sini sepertinya lebih baik daripada kampus gue dulu. Apalagi dengan adanya elo,” sahut Ivan lagi.
Jessica langsung mencubit pergelangan Ivan. “Lo ini!” kesalnya.
“Lo nyubit atau ngapain sih? Enggak berasa sakit sama sekali,” ledek Ivan.
“Mau yang sakit?” tawar Jessica.
“Enggak, terima kasih, Nona,” sahut Ivan sembari tersenyum.
“By the way, terima kasih ya karena semalam elo mau bantuin Mama dan Papa gue,” ucap Jessica yang kali ini ia berkata dengan nada suaranya yang terdengar serius.
“Iya, Jes. Sudah tugas keluarga gue untuk saling bantu dengan sahabat-sahabatnya,” sahut Ivan.
“Lo masuk kelas mana?” tanya Jessica untuk kesekian kalinya.
“Kelas elo,” jawab Ivan dengan santainya.
“Seriusan? Lo satu jurusan sama gue?” tanya Jessica yang nampak tidak percaya dengan lelaki di sampingnya.
“Lo lihat gue lagi bercanda atau enggak?” tanya Ivan.
Jessica menggelengkan kepalanya.
Ternyata benar, Ivan memang satu jurusan dengan Jessica. Hal itu dikonfirmasi langsung oleh dosen yang baru saja memasuki kelas mereka.
...
“Setelah Gian, terbitlah Ivan. Setelah ini lelaki mana lagi yang dekatin elo, Jes?” Hansel bergumam ketika ia melihat kedekatan Ivan dan Jessica.
Lelaki itu jelas saja cemburu. Ia sudah menanamkan rasa cinta untuk Jessica di dalam hatinya.
“Tapi, gue pastikan kalau hanya gue yang akan bisa memiliki elo, Jes,” gumam Hansel sebelum ia pergi dari tempat di mana ia bisa memperhatikan Ivan dan Jessica.
Berbeda dengan Hansel yang memperhatikannya dari jarak yang sedikit jauh, Jessica justru mencari-cari di mana Hansel berada.
“Mau ke mana lo?” tanya Ivan.
“Ada urusan sebentar,” jawab Jessica kemudian ia pergi dari kelas karena mata kuliah pertama sudah selesai.
Jessica langsung berjalan menuju ruangan dosen di mana ia tahu pasti di sana ada Hansel.
Jessica menyusul Hansel karena biasanya pagi-pagi Hansel sudah menghampirinya namun pagi ini lelaki itu tidak menampakkan batang hidungnya di hadapan Jessica.
“Cari siapa, Jes?” tanya Ghea, salah satu dosen yang baru saja hendak masuk ke dalam ruang dosen.
“Pak Hansel, Bu,” jawab Jessica.
“Ada bimbingan, ya?” tanya Ghea lagi.
“Iya, Bu,” jawab Jessica. “Bimbingan hati!” Jessica membatin.
“Tunggu sebentar, ya. Saya panggilkan Pak Hanselnya,” ucap Ghea kemudian ia berjalan memasuki ruang dosen.
“Awas aja kalau Ibu naksir Om Hansel,” gerutu Jessica.
Tidak lama, Hansel keluar dari dalam ruangan dosen. “Ada apa?” tanyanya dengan nada bicaranya yang terdengar begitu datar.
“Kenapa bicaranya begitu?” heran Jessica.
“Cepat, ada perihal apa kamu menemui saya?” tanya Hansel lagi.
Melihat kondisi di sekitarnya yang cukup ramai, Jessica pun menarik Hansel ke rooftop kampus.
“Om Hansel tuh yang kenapa,” ucap Jessica sesaat setelah mereka sampai di rooftop.
“Gua baik-baik saja,” jawab Hansel dengan santai.
“Terus, tadi pagi ke mana?” tanya Jessica. “Biasanya kalau pagi pasti nungguin aku di parkiran,” sambungnya.
“Tadi gua kesiangan. Jam 9 baru jalan ke sini,” ungkap Hansel.
“Kecapean tuh pasti. Makanya sampai bangun kesiangan, ‘kan?” tebak Jessica.
Namun, tebakan Jessica itu malah direspon berbeda dengan Hansel. Hansel meresponnya dengan terkekeh kemudian ia berkata “Semalam gua enggak bisa tidur lagi.”
“Lagi? Berarti Om Hansel sering insomnia?” tanya Jessica sembari mengernyitkan dahinya.
“Bisa dibilang begitu,” sahut Hansel sembari tersenyum.
To Be Continued...