Chapter 45

1050 Words
Bukan Jessica namanya jika ia hanya diam saja saat ada hal yang membuat tanda tanya besar di kepalanya. Gadis itu menurut dengan perintah yang diperantarakan Mike dan Maura pada Hanna. Namun, ia diam-diam mencari tahu sendiri. Mulai dari, terkadang Jessica mendengarkan percakapan anak buah Mike yang diutus Mike untuk menjaga Jessica di rumah. Sampai Jessica mendengar saat Hanna menerima sambungan telfon yang mungkin itu dari Mike atau Maura. Intinya, Jessica tahu bahwa sekarang ada masalah yang amat besar. Bukan hanya masalah yang diberitahukan Hansel padanya. Melainkan, gudang persenjataan milik Mike mengalami kebakaran. Yang jelas, kebakaran itu bukan karena kesalahan teknis. Melainkan karena ada yang membakarnya. Untungnya, seluruh anak buah Mike bekerja dengan begitu gesit dan baik hingga kebakaran tidak meluas dan membuat Mike merugi. Satu hal yang Jessica yakini bahwa pasti ada penyusup di antara semua anak buah yang Mike miliki. Sebab, Jessica tahu bahwa semua anak buah Mike selalu bekerja dengan baik. Ini semua terjadi setelah ada beberapa anak buah baru dalam kelompok Mike. “Pokoknya, aku akan menemukan siapa kalian. Dari markas Papa yang mengalami penjarahan sampai gudang Papa yang mengalami kebakaran. Aku yakin kalau ini semua ada hubungannya dengan Papanya Om Hansel,” Jessica membatin. ... Hari ini hari di mana Jessica akan melakukan pelepasan jahitan pada lukanya. Pelepasan jahitan yang seharusnya dilakukan di rumah sakit, namun untuk Jessica hari ini, ia melepas jahitannya di rumah. Tentu saja dengan penanganan yang khusus dari dokter yang dipercaya oleh Mike. “Dokter tahu kalau Papa saya itu mafia?” tanya Jessica. Bukannya terkejut, dokter itu malah tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Kemudian ia berkata “Semua orang tahu siapa Mike Delano Arsen.” “Jadi, Pak Dokter tahu siapa Papa saya?” tanya Jessica sekali lagi. “Jelas, Nona. Bahkan, Pak Mike yang banyak membantu saya sampai saya bisa menjadi seperti sekarang,” jawab dokter itu. Jessica menganggukkan kepalanya tanda bahwa ia memahami pembicaraan dokter itu. Sampai saat pelepasan jahitan pada tangannya selesai. Dokter itu langsung berpamitan pergi meski ia tidak sempat bertemu dengan Mike. “Ma, Papa ke mana sih?” tanya Jessica pada Maura. “Urusan Papa masih banyak,” jawab Maura. “Kamu istirahat, ya,” sambungnya. Setelah mengatakan itu, Maura pun pergi dari kamar Jessica. Bukannya menuruti perkataan Maura, Jessica malah beranjak dari kasurnya dan berjalan menuju jendela kaca kamarnya. Gadis itu melihat ada banyak orang-orang suruhan Mike yang berjaga di setiap sudut rumah. “Gimana caranya aku kabur kalau mereka berjaga begini?” Jessica bergumam. “Dan aku yakin kalau aku punya alasan untuk keluar rumah, pasti akan ada satu mobil yang akan mengikutiku – yang jelas isinya mereka,” sambungnya. Memakan waktu yang cukup lama untuk Jessica menemukan ide agar ia bisa keluar rumah untuk menyusul Mike menyelesaikan permasalahan yang ada. Lalu, muncullah satu ide yang sedikit tidak masuk akal. Jessica tidak akan keluar dari rumah. Melainkan ia akan meminta pada Ivan, teman SMA-nya untuk melihat apa yang terjadi. [Dalam panggilan telfon] “Boleh, ‘kan?” “Papa gue juga sedang berusaha bantu Papa elo, Jes. Lo tahu kalau mereka berteman, ‘kan?” “Gue enggak tenang, Van. Beneran deh.” “Pertama, tebakan elo benar soal orang dalam itu.” “Kan... Kenapa bisa sampai lengah, ya?” “Permainan yang mereka buat terlalu rapi. Tapi, lo tenang aja, Jes. Paling lambat besok untuk tahu siapa pelakunya.” “Kalau enggak besok?” “Lo boleh bunuh gue.” “Lo salah apa sampai minta bunuh sama gue? Yasuda, ya. Terima kasih banyak.” “Iya, Jes. Sama-sama. Nanti gue kabarin kalau ada perkembangan kondisi.” “Siap.” ... Sampai saat kesabaran Jessica berada di ujung, ia tidak bisa menahan diri untuk berdiam saja ketika melihat kedua orangtuanya sedang berjuang untuk menemukan siapa pelaku dari semua kekacauan ini. “Aku diam samadengan aku durhaka,” ucap Jessica kemudian ia beranjak dari kasurnya dan berjalan keluar dari kamarnya. Namun, langkah gadis itu terhenti saat ia melihat Hansel yang sudah berdiri di depan pintu kamarnya. “Sejak kapan Om Hansel di sini?” tanya Jessica sembari mengernyitkan dahinya. “Baru aja sampai dan gua baru aja mau ketuk pintu,” jawab Hansel. “Lo sendiri mau ke mana?” tanyanya. “Aku mau ke dapur,” jawab Jessica. “Ngapain?” tanya Hansel lagi. “Cari makanan. Aku lapar,” sahut Jessica kemudian ia berjalan melewati Hansel. Tentu saja Hansel tidak mau tinggal diam saja. Ia mengikuti Jessica sampai ke dapur. “Gagal!” Jessica membatin. “Sudah 2 hari Papa enggak pulang. Bahkan, tadi Mama pulang hanya untuk menemani aku lepas jahitan. Setelah itu, Mama pergi lagi,” ungkap Jessica. “Malam ini mereka akan pulang,” sahut Hansel. Seketika itu juga Jessica membalikkan tubuhnya untuk menghadap Hansel yang berjalan di belakangnya. “Sudah ketemu siapa pelakunya?” tanya Jessica. “Sudah dong. Makanya gua bisa ke sini,” jawab Hansel. Jessica merasa sedikit lega dan bersyukur setelah mendengar informasi itu dari Hansel. “Pelaku penjarahan markas dan pelaku pembakaran gudang. Semuanya sudah ditemukan, ‘kan?” tanya Jessica memastikan. “Lo tahu dari mana kalau gudangnya Mike kebakaran?” tanya Hansel dengan heran. “Om pikir aku punya 2 kuping buat apa? Buat makan?” tanya Jessica kemudian ia memasukkan buah anggur ke dalam mulutnya. “Jadi, lo tahu semua permasalahannya?” tanya Hansel lagi. Jessica menganggukkan kepalanya. “Dari kapan?” “Dari semalam,” jawab Jessica. “Pantesan elo telfon Ivan,” ucap Hansel. “Maksud Om Hansel?” “Tadi siang pas elo telfon Ivan, dia lagi sama gua di kantor. Jadi asisten gua sehari,” ungkap Hansel yang kemudian tertawa. Jessica menarik sebuah kursi yang ada di dekat meja makan, kemudian ia duduk di sana. "Berapa orang?" kali ini Jessica bertanya dengan nada bicaranya yang terdengar cukup serius. "2 orang saja," jawab Hansel. "Kenapa bisa kebobolan begini?" tanya Jessica lagi. "Mereka belum masuk ke dalam kelompok Papa gua. Tapi, syarat dari Papa gua, kalau mereka berhasil membuat Mike repot, maka mereka resmi masuk ke dalam kelompok dia," jelas Hansel. Wajah Jessica seketika menjadi merah padam. Jelas saja ia merasa marah. Lagi dan lagi pelakunya adalah orang yang sama. "Gua juga bingung, Jes. Di satu sisi, dia papa gua. Tapi, di sisi lain, dia orang yang paling jahat yang pernah gua temui," Hansel membatin. To Be Continued...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD