"Benar-benar tidak berguna! Pergi kalian dari hadapan saya!"
Pria paruh baya itu nampak sangat geram dengan 3 orang lelaki yang berdiri tegap menghadapnya.
"Hanya menculik gadis kecil saja tidak becus!" sargahnya lagi.
"Seandainya bapak tahu bagaimana kuatnya tameng yang mereka miliki. Mungkin, bapak juga akan mundur pelan-pelan. Bahkan, anak dari salah satu anggota bapak mengalami koma hanya karena melakukan penusukan terhadap gadis itu." Salah satu diantara 3 orang itu memberanikan diri untuk menjawab ucapan yang boss besarnya lontarkan.
Sebab, selama ini mereka merasa bahwa, setiap kegagalan yang mereka lakukan seperti sebuah kesalahan yang amat besar.
"Anda berani melawan saya?" tanya lelaki paruh baya itu sembari membelalakkan matanya menatap pria di hadapannya.
"Sekarang kami bukan lagi anak buah bapak. Jadi, kenapa kami harus takut?"
Praaannnkkkk!!!
Sebuah gelas kaca berhasil pecah dengan sempurna sesaat setelah pria paruh baya itu melemparnya dengan begitu kencang. "Pergi kalian semua!" usirnya.
Ketiga pria di hadapannya itu pun langsung pergi meninggalkannya.
Sepeninggal ketiga anak buah yang baru saja ia berhentikan itu, ia duduk di sofa panjang yang ada di ruangan yang saat ini ia tempati.
Tangannya memijat pelipis kananya. Pria itu benar-benar sudah kehabisan akal.
Di satu sisi ia ingin membuat ambisinya terpenuhi. Di sisi lain, target ambisinya memiliki pelindung yang sangat kuat. Ini untuk kali pertama baginya mengalami kesusahan dalam hal seperti ini.
...
"Bagaimana jalan-jalannya? Seru?" tanya Maura terhadap Jessica yang baru saja pulang dari mall.
"Seru dong," sahut Jessica yang nampak sumringah malam in."Tapi ada bagian yang enggak serunya," sambungnya.
"Apa?" tanya Mike.
"Masa tadi aku ajak main ke time zone dan Om Hansel malah enggak mau," ungkap Jessica.
"Terus, akhirnya enggak jadi main ke time zone-nya?" tanya Mike lagi.
"Jadi dong," sahut Jessica.
"Ke time zone-nya enggak sama Hansel?" tanya Maura.
"Sama Om Hansel," jawab Jessica. "Pas Om Hansel nolak aku ajak, aku bilang aja kalau mau enggak mau, aku bakalan tetap main. Akhirnya dia ngalah," paparnya.
"Besok kamu libur kuliah dulu, 'kan?" tanya Maura.
"Besok memang libur, Mama," sahut Jessica sembari tersenyum.
"Pantas saja pas Papa suruh izin kuliah dan kamu iyain aja," ucap Mike.
Jessica hanya terkekeh pelan.
"Hari ini tangannya ada terasa sakit nggak?" tanya Mike.
Jessica menggelengkan kepalanya.
Setelah berbincang banyak dengan Mike dan Maura, Jessica pun berpamitan untuk ke kamarnya karena jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.
Sesampainya di kamar, Jessica tidak langsung tidur. Melainkan ia memainkan ponselnya hanya untuk sekadar membuka sosial media.
Belum sampai 30 menit Jessica memainkan ponselnya dengan tenang, sebuah panggilan masuk menjadi pengusiknya. Terlebih lagi saat nama Hansel terpampang dengan jelas di layar ponselnya.
Bukannya menerima sambungan telfon dari Hansel, Jessica malah meletakkan ponselnya di atas meja nakas, kemudian ia berbaring dan bersiap untuk tidur.
Dering ponsel Jessica kembali berbunyi sesaat setelah hening. Namun, Jessica lagi-lagi mengabaikannya.
"Tidur ya, Jes. Jangan dihiraukan nada deringnya. Anggap aja itu musik pengantar tidur," gumam Jessica seraya mengeratkan pelukannya terhadap guling miliknya.
Sampai ponsel itu berbunyi untuk ketiga kalinya dan Jessica tetap mengabaikannya.
...
Keesokan harinya.
Jessica baru bangun dan ia langsung berjalan keluar dari kamarnya. Gadis itu yang biasanya selalu mandi di pagi hari, namun pagi ini ia tidak mandi terlebih dahulu dan langsung keluar dari kamarnya saja.
Sebab, baru membuka mata Jessica sudah mendengar adanya keributan dari dalam rumah.
Pada saat gadis itu sampai di lantai 1, ia melihat adanya orang asing yang nampak berdiri menghadap Mike.
Tanpa pikir panjang, Jessica menghampirinya.
"Ada apa ini?" tanya Jessica.
"Jes... Kenapa kamu malah turun?" tanya Mike.
"Aku dengar ada ribut-ribut. Makanya aku turun," jawab Jessica. "Mereka siapa?" tanyanya.
"Kamu kembali ke kamar. Ini urusan Papa," ucap Mike dengan tegas.
Jessica yang paham situasi, ia pun kembali ke kamarnya. Meski rasa penasaran masih memenuhi isi pikirannya sekarang.
Sesampainya di kamar, Jessica langsung mengambil ponselnya dan menelfon Hansel.
[Dalam panggilan telfon]
"Hallo, Om Hansel."
"Kenapa?"
"Dingin banget. Padahal cuacanya lagi cerah loh pagi ini."
"Langsung ke intinya, Jes."
"Om Hansel marah sama aku karena semalam telfonnya enggak aku angkat?"
"Enggak. Gua tahu lo semalam pasti sudah tidur."
"Terus, kenapa nada bicaranya begitu?"
"Gua lagi ada kerjaan mendadak. Buruan, lo mau ngapain telfon gua?"
"Tadi ada orang yang enggak aku kenal ada di rumah. Mereka ngobrol sama Papa."
"Palingan anak buah Mike."
"Kelihatannya lagi ada masalah juga. Tadi sudah aku tanya, tapi Papa malah suruh aku balik ke kamar."
"Dini hari tadi markas mereka kena serang. Akhirnya, markas mengalami kerusakan. Kendaraan beberapa anak buah Mike juga hilang."
"Separah itu?"
"Iya, Jes. Kemarin-kemarin hal begini memang sering terjadi. Tapi enggak pernah sampai separah ini."
"Jadi, ini yang terparah?"
"Iya. Bahkan, rekaman CCTV dan CCTV yang ada di markas mereka juga ikut hilang."
"Parah banget kalau begitu ceritanya."
"Makanya sekarang gua lagi bantuin Mike untuk mencari siapa dalangnya."
"Anak buah Papa enggak ada yang tahu siapa pelakunya?"
"Semuanya memakai topeng. Bahkan kendaraan yang mereka pakai nampak asing bagi mereka."
"Aku bantuin, ya?"
"Lo mau kena marah sama Mike?"
"Memangnya Om Hansel pernah lihat Papa marahin aku?"
"Di saat seperti ini, emosi Mike enggak akan stabil, Jes. Akan lebih baik kalau elo diam saja."
"Y-yasudah."
"Kalau enggak ada hal yang mau dikatakan lagi, telfonnya gua tutup, ya?"
"Hm."
Sambungan telfon berakhir saat Hansel yang memutuskannya.
Jessica sendiri ia hanya bisa duduk diam di sisi ranjang. Gadis itu tahu bahwa ucapan Hansel ada benarnya. terlebih lagi Hansel pasti tahu bagaimana sifat sahabatnya itu.
...
2 jam kemudian. Saat Jessica melihat kawanan itu pergi meninggalkan pekarangan rumah. Barulah ia berani keluar dari kamar dan berjalan menuju lantai 1.
Rupanya, setelah kawanan itu pergi, Mike juga ikut pergi dengan mereka.
Sebab, lantai 1 yang tadinya dipenuhi oleh anak buah Mike, kini malah menjadi sepi.
"Mereka tadi anak buah Papa, ya?" tanya Jessica pada Hanna yang saat ini mereka berada di dapur.
"Iya, Nona," jawab Hanna apa adanya.
"Papa ikut pergi bersama mereka tadi, Bi?" tanya Jessica lagi.
"Bukan hanya boss besar, Nyonya Maura juga ikut bersama mereka," jawab Hanna.
"Ke mana tujuannya?" tanya Jessica lagi.
"Nyonya bilang kalau Nona tidak boleh tahu dan tugas saya di sini mengawasi Nona agar tidak pergi ke mana-mana hari ini karena kondisi di luar sedang tidak baik-baik saja," pungkas Hanna.
Jessica tentu saja merasa heran dengan hal itu. Ia juga penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Mike dan Maura sampai-sampai mereka berdua menyembunyikan hal ini darinya.
To Be Continued...