Selama beberapa hari ke depan, Jessica akan dilarang untuk menyetir sendiri. Bahkan, harus ada yang ikut dengannya ke manapun ia pergi. Hal itu tentu saja atas perintah dari Mike.
“Cuman luka sedikit, Pa. Masa ke mana-mana jadinya harus sama pengawal? Dua lagi,” kesal Jessica.
“Kamu lupa kemarin dokter bilang apa?” tanya Mike.
“Ingat,” sahut Jessica.
“Apa?” tanya Mike lagi.
“Tangannya enggak boleh terlalu banyak gerak. Terus, enggak boleh kena air juga,” jawab Jessica.
“Jadi?”
“Tapi enggak begini juga, Pa,” potong Jessica.
“Kalau ada pelajaran yang harus kamu tulis atau ketik di laptop, kamu bisa langsung suruh Hanna. Kalau ada yang coba buat nyentuh luka kamu, ada Gian yang akan lindungin,” ucap Mike panjang lebar.
“Pa...”
Belum selesai Jessica berucap, Maura sudah meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Jessica. Kemudian, Maura berkata “Pilih, mau kuliah dengan mereka ikut bersama kamu atau enggak usah kuliah sampai jahitan kamu dilepas?”
“Ma...”
“Pilih,” sahut Maura.
“Yasudah iya. Aku kuliah dengan mereka.” Akhirnya Jessica memilih hal itu. Sebab, Jessica adalah tipe anak yang tidak mau ketinggalan pelajaran.
“Begitu dong. Enggak perlu debat panjang,” ucap Maura.
Jessica hanya bisa menuruti perkataan Mike dan Maura. Ia melanjutkan sarapannya sebelum ia pergi ke kampus.
Meski dengan perasaan tidak enak hati karena ia akan datang bersama dengan dua orang yang berada di sisi kanan dan kirinya.
“Tapi, enggak apa-apa kalau Bi Hanna masuk kelas juga?” tanya Jessica lagi.
“Kalau Papa suruh, berarti boleh,” sahut Mike.
Sampai saat Jessica selesai dengan sarapannya, gadis itu langsung berjalan keluar dari rumah dan berjalan menuju mobilnya. Hari ini Jessica tidak duduk di kursi depan, melainkan ia memilih untuk duduk di bangku penumpang bagian belakang.
“Bi Hanna duduk di depan saja. Aku mau duduk di sini sendiri,” ucap Jessica.
Dengan terpaksa, Hanna pun duduk di bangku penumpang bagian depan.
Sepeninggal Jessica, Mike dan Maura saling tatap.
“Hanya seminggu, sayang. Meski Jessica terlihat risih, tapi ini demi kebaikannya juga,” ucap Mike seraya menatap istrinya itu.
“Semoga aja Jessica paham apa maksud kamu,” sahut Maura.
...
Sesampainya di kampus, Jessica langsung memasuki kelas. Di dalam kelasnya, rupanya ada meja yang sudah siap sedia untuknya dan Hanna.
“Niat banget,” gumam Jessica sebelum ia duduk.
Hanna pun juga duduk di samping Jessica. Ya, hanya bangku mereka berdua yang berdempetan. Sedangkan bangku lainnya hanya seperti biasanya saja.
Setelah duduk, Hanna langsung mengeluarkan segala peralatan yang akan dipakai untuk memulai mata kuliah pagi ini.
...
Sampai saat pelajaran selesai, Jessica merasa sangat bingung. Sebab, semua teman sekelasnya melihatnya dengan biasa saja. Padahal, semua pelajaran yang dijelaskan oleh dosen tadi dicatat oleh Hanna, bukan dirinya.
“Bi, kenapa mereka bersikap biasa saja?” tanya Jessica dengan berbisik kepada Hanna.
“Karena rumornya sudah beredar,” jawab Hanna dengan santai.
Jessica mengernyitkan dahinya dengan sempurna, kemudian ia sekali lagi melontarkan pertanyaan “ Maksud Bi Hanna?”
“Seluruh kampus sudah tahu kalau kemarin Nona menjadi korban penusukan,” jawab Hanna.
“Lalu, apa yang terjadi dengan pelakunya?”
“Dia langsung dikeluarkan dari kampus karena bukti yang sangat kuat,” jawab Hanna.
Jessica mendecik kesal. Rencananya untuk balas dendam pada lelaki itu sudah gagal.
“Nona kesal?” Kini, Hanna yang balik melontarkan pertanyaan pada Nonanya.
“Bi, aku sudah berenana untuk balas dendam dengan dia. Tapi, kalau dia dikeluarkan dari kampus, bagaimana caranya aku balas dendam?” tanya Jessica.
Hanna yang sudah selesai membereskan meja, ia lantas menatap Jessica. “Sepertinya Nona enggak perlu turun tangan untuk balas dendam padanya.”
“Kenapa begitu?”
Hanna mengeluarkan ponselnya, ia menunjukkan sebuah video yang dikirim oleh salah satu anak buah Mike lainnya melalui pesan grup. “Nona harus melihatnya.”M
Jessica mengambil alih ponsel dari tangan Hanna, ia melihat dengan seksama isi video yang ditunjukkan oleh Hanna.Video yang menunjukkan bahwa pelaku penusukannya sudah dibantai habis-habisan oleh anak buah Mike. Bahkan tanpa ampun.
Dari raut wajah Jessica, tidak ada rasa iba maupun kasihan. Ia malah tersenyum dengan sinis. Meski bukan dengan tangannya sendiri yang melakukan balas dendam, namun ia tetap merasa puas.
Bahkan, anak buah Mike membuat pelakunya merasakan 10 kali lipat lebih dari dari Jessica.
Video berakhir, Jessica mengembalikan ponsel Hanna kemudian ia berdiri. Sebab, saat ini Hansel sudah berdiri di tengah pintu kelasnya.
“Aku hampiri Om Hansel dulu, Bi,” ucap Jessica sebelum ia berjalan menghampiri Hansel.
Hansel yang melihat Jessica berjalan ke arahnya, lelaki itu nampak tersenyum dengan begitu manis.
“Bagaimana?” pertanyaan itu membuat Jessica lagi-lagi mendecik.
“Pertanyaan macam apa itu?” tanya Jessica.
“Saya bertanya karena untuk pertama kalinya kamu kuliah tapi didampingi,” sahut Hansel.
Saat Hansel dan Jessica berbincang di tengah pintu, tiba-tiba saja Gian datang.
“Om Gian habis dari mana?” tanya Jessica pada Gian. Karena, setahu Jessica, Gian seharusnya berjaga di depan kelas dan tentu saja itu atas perintah dari Mike.
“Tadi Pak Hansel suruh saya membeli burger, Nona,” jawab Gian.
Jessica menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Namun, beberapa detik kemudian, Jessica malah dibuat terkejut dengan kedatangan 2 orang anak buah Hansel.
Mereka datang bukan dengan tangan kosong, melainkan dengan banyaknya kantong pelastik berisi burger.
“Jangan bilang kalau Pak Hansel yang terhormat yang suruh beli semua ini,” ucap Jessica.
Hansel menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
“Buat apa, Pak?” tanya Jessica seraya menatap Hansel.
“Buat kamu bagi ke teman-teman kamu,” jawab Hansel.
“Ini Pak Hansel yang beli, bukan aku. Jadi, Pak Hansel yang bagi,” sahut Jessica.
“Saya memberi ini kepada Nona Jessica yang cantik. Jika Nona sanggup menghabiskannya, maka acara bagi-bagi burger-nya dibatalkan,” ucap Hansel dengan nada bicaranya yang terdengar seperti orang meledek.
Jessica menghela napasnya dengan panjang, kemudian ia berkata “Oke, aku kalah.”
Kini, Jessica dan Hanna berdiri di depan kelas. Mereka memberikan burger-burger itu ke setiap mahasiswa yang lewat. Untungnya, hal yang dilakukan Jessica ini disambut baik oleh mahasiswa dan mahasiswi sana. Bahkan mereka juga mendoakan supaya luka Jessica cepat pulih.
Sementara itu, Hansel memperhatikan Jessica dari jarak beberapa meter. Raut wajahnya menjelaskan bahwa ia merasa puas karena berhasil mengerjai Jessica.
To Be Continued...