Chapter 41

1070 Words
Saat Jessica berjalan memasuki area kampus, langkah kaki gadis itu tiba-tiba saja terhenti saat ia berpapasan dengan seorang lelaki yang nampak misterius. Jessica merasa bahwa pergelangan tangannya terasa begitu perih. Gian yang memperhatikan gadis itu dari kejauhan, ia segera berlari menghampiri Jessica. “Tangan Nona,” ucap Gian tanpa mengalihkan pandangannya dari pergelangan tangan Jessica. Kemeja biru yang Jessica kenakan tiba-tiba saja berubah warna menjadi merah. Bahkan, bagian pergelangan tangannya sudah sobek akibat benda tajam. “Kita ke rumah sakit sekarang,” ucap Gian kemudian ia merangkul bahu Jessica dan membawa gadis itu kembali ke mobil. Gian juga merebut kunci mobil yang masih dipegang oleh Jessica. Sedangkan Jessica, ia masih terdiam. Nampaknya gadis ini masih tertegun dengan kejadian yang begitu cepat terjadinya. “Nona jangan diam saja. Saya jadi gugup,” ucap Gian yang tengah mencoba untuk fokus menyetir. “Perih...” Suara itu membuat Gian merasa sedikit lega. “Tahan, Nona. Sebentar lagi kita akan sampai,” ucap Gian. ... “Mike, kenapa buru-buru begitu?” heran Maura kala ia yang tadinya melihat Mike duduk dengan santai sembari mengerjakan pekerjaannya dan kini lelaki itu malah berdiri dan langsung memasang jasnya. “Ada yang lukai Jessica. Sekarang Gian bawa Jessica ke rumah sakit,” sahut Mike. Mendengar info itu dari Mike, Maura pun juga ikut berdiri. “Kita susul mereka sekarang,” ucapnya. Mike dan Maura pun segera meninggalkan area kantor. Keduanya pergi ke rumah sakit yang sudah diinfokan oleh Gian melalui pesan daring pada Mike sebelumnya. ... Tidak lama, Mike dan Maura sampai di rumah sakit. Mereka berdua langsung menghampiri Gian yang berdiri di depan pintu UGD. “Bagaimana Jessica?!” tanya Mike. “Nona mendapat jahitan pada lengan kanannya, Boss,” sahut Gian. “Berapa jahitan?” tanya Maura. “5 jahitan,” sahut Gian. “Bagaimana bisa? Bukannya elo jaga dia dengan baik? Hah?” Emosi Mike benar-benar naik saat ini. “Sepertinya hanya Nona yang bisa menjelaskan semuanya dengan rinci,” sahut Gian. “Lo kerjanya bagaimana sih?” tanya Mike lagi. “Kejadiannya begitu cepat, Boss. Bahkan saat kampus sedang ramai tadi,” sahut Gian. Tidak lama, seorang dokter keluar. Dokter yang menangani Jessica tidak lain adalah dokter pribadi Mike. Bahkan, rumah sakit yang dikunjungi Gian untuk membawa Jessica adalah rumah sakit yang keamanannya sudah begitu baik. “Bagaimana keadaan Jessica?” tanya Mike sembari menatap dokter itu. “Keadaan Nona sudah baik. Lukanya juga tidak begitu dalam,” sahut dokter itu. “Boleh masuk, ‘kan?” tanya Maura. “Silakan, Nyonya,” ucap dokter itu. Maura pun segera memasuki UGD. Ia melihat bahwa Jessica sudah duduk di atas ranjang sendirian. Maura menghampirinya dan duduk di sampinnya. “Apa yang terjadi, Nak?” tanya Maura dengan nada suaranya yang terdengar begitu lembut. “Aku juga enggak tahu, Ma. Yang jelas, saat aku hendak masuk ke dalam gedung kampus, aku papasan sama cowok yang pakaiannya serba hitam. Dia hanya pakai kaos biasa. Tapi, dia pakai topi dan masker. Setelah dia lewat di samping aku, tiba-tiba aja tanganku langsung mati rasa,” ungkap Jessica. Tanpa pikir panjang, Mike langsung menelfon Hansel dan menyuruhnya untuk memeriksa CCTV yang ada di kampus. ... “Pa! Papa suruh anak kampus untuk lukai Jessica?!” “Kenapa? Sudah dapat informasi kalau Jessica berada di rumah sakit?” “Papa benar-benar enggak punya hati!” Hansel mematikan sambungan telfonnya. Saat ini, lelaki itu berada di dalam mobilnya yang ia parkirkan di depan sebuah rumah sakit. “Jes, semakin ke sini, mereka semakin mengejamkan diri. Gua harus bagaimana lagi? Rasanya, gua sudah melakukan berbagai cara untuk melindungi elo. Tapi apa? Mereka juga memiliki banyak cara untuk menyakiti elo,” Hansel berbicara seraya menatap gedung rumah sakit yang ada di hadapannya. Setelah beberapa saat merenung, Hansel pun keluar dari mobil dan langsung berjalan menuju UGD, tempat di mana Jessica berada. “Sudah dapat rekaman CCTV-nya?” tanya Mike saat ia melihat Hansel memasuki ruang UGD. “Sudah,” jawab Hansel dengan singkat. “Anak buah bokap lo lagi pelakunya?” tebak Mike. “Kalau bokap gua bayar anak kampus untuk melakukan hal ini kepada Jessica, apa dia disebut anak buah bapak tua itu?” tanya Hansel kembali. “Apa?! Jadi bokap lo suruh anak kampus buat lukain Jessica?!” kaget Maura. “Iya, Ra. Ternyata, dia juga adalah anak dari salah satu partner bokap gua yang baru,” ungkap Hansel. “Mau pindah kampus, Jes?” tanya Mike pada Jessica. “Kalau aku pindah kampus dan ternyata di kampus aku yang baru ada salah satu anggota kelompok mereka juga, bagaimana?” tanya Jessica. “Papa akan memastikan bahwa semuanya aman untuk kamu, Jes,” sahut Mike. “Aku punya rencana untuk menyingkirkan dia tanpa harus aku yang pergi,” ucap Jessica. “Apa?” tanya Maura yang nampak penasaran. “Kalian punya foto anaknya nggak?” tanya Jessica. “Anak siapa? Anak ayam?” tanya Mike dengan candaan. “Foto anak kampus yang lukain aku, Pa. Aku tadi lihatnya dia pakai masker, ‘kan. Jadinya enggak jelas wajahnya bagaimana,” sahut Jessica. Mike pun mengeluarkan ponselnya. Lelaki itu mengutak-atik benda persegi panjang itu selama beberapa menit, kemudian ia menyerahkannya pada Jessica. “Ganteng, Pa,” gumam Jessica saat ia melihat foto yang diperlihatkan Mike padanya. “Kemarin Gian, sekarang anak ini,” ucap Hansel dengan kesal. “Lo sengaja bikin gua cemburu?” tanyanya. “Cieee yang cemburu,” ledek Jessica. Jessica hanya tersenyum sebentar, kemudian raut wajahnya kembali menjadi serius seraya menatap layar ponsel Mike yang berada di tangannya. “Dia ini anak dari salah satu anggota kelompok yang kerjasama dengan Papanya Om Hansel. Lalu, kenapa tadi Om Hansel bilang kalau dia dibayar?” heran Jessica. “Lo pernah dengar kalimat kalau duit adalah segalanya nggak?” tanya Hansel pada Jessica. “Pernah,” jawab Jessica. “Nah, itu prinsip hidupnya,” sahut Hansel. “Walaupun sama ayahnya dia juga tetap minta bayaran?” tanya Jessica lagi. Hansel menganggukkan kepalanya. “Ini obat anti nyerinya. Diminum 2 kali sehari saja. Pagi dan malam, ya,” ucap dokter yang baru saja memasuki UGD yang kemudian beliau menyerahkan sekantong obat kepada Mike. “Minggu depan saya akan ke rumah Tuan untuk kontrol jahitan Nona Jessica,” sambungnya. “Kalau bisa, tangannya jangan terlalu banyak gerak dulu. Takutnya, jahitan terbuka sebelum waktunya dan malah akan memakan waktu lagi untuk sembuh.” “Iya, Dok. Terima kasih banyak,” sahut Jessica sembari tersenyum. To Be Continued...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD