Chapter 40

1046 Words
Mike tiba-tiba saja meminta pada Jessica untuk memilih senjata mana yang ia inginkan. “Maksud Papa, aku sudah boleh membawa senjataku sendiri?” tanya Jessica yang masih belum percaya dengan apa yang diperintahkan oleh Mike. Mike menganggukkan kepalanya tanda bahwa ia membenarkan ucapan Jessica tadi. “Ingat, ya. Papa membekali kamu ini untuk penjagaan diri. Bukan untuk show your kemampuan ke teman-teman kamu danmembuat teman-teman kamu terkagum,” ucap Mike mengingatkan. “Dan hanya saat sedang genting saja kamu boleh mengeluarkannya,” sambungnya. “Siap, Pa,” sahut Jessica yang saat ini nampak sekali bahwa ia sedang bersenang hati. “Silakan pilih,” perintah Mike. Jessica memperhatikan satu-persatu senjata api yang tersusun di atas meja. “Aku mau yang ini,” ucap Jessica yang kemudian ia mengambil satu senjata api yang berukuran paling kecil di antara yang ada di atas meja. Mike yang melihatnya, ia menaikkan alis sebelah kanannya. “Dari beberapa senjata ini, kenapa kamu memilih yang paling kecil?” tanya Mike. “Besar atau kecil hanya bentuk, Pa. Fungsinya boleh lah disaingi,” sahut Jessica kemudian ia mengedipkan mata kanannya. “Anak Papa sekarang sudah mulai nakal, ya,” ucap Mike. Jessica hanya terkekeh, kemudian ia berjalan menuju kamarnya. “Aku ke kamar dulu, Pa. Terima kasih senjatanya,” ucapnya sebelum ia berjalan menaiki anak tangga. Mike dan Maura yang melihatnya, mereka hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Sebab, baru kali ini ia melihat seorang gadis yang begitu girang saat mendapatkan sebuah senjata api. “Kok gua enggak tahu perihal ini?” tanya Hansel. “Gua dan Maura saja baru tahu tadi, Sel. Jangan emosian deh,” sahut Mike. “Kali ini dari kelompok mana?” tanya Hansel yang sudah menetralkan nada suaranya. “Yang kerjasama dengan Papa elo,” sahut Maura sembari menatap Hansel dengan tatapan tajam. Hansel mengembuskan napasnya dengan berat, ia benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang ada di pikiran orang-orang itu sampai mereka ingin membawa Jessica. “Gua balik,” ucap Hansel kemudian ia pergi dari rumah Mike. “Yakin kalau dia balik?” tanya Maura sembari menatap punggung Hansel yang perlahan menjauh darinya. “Enggak lah. Pasti nyari pelarian tuh,” sahut Mike. ... Sementara itu, Jessica yang baru saja sampai di kamarnya, gadis itu langsung berlari menuju jendela kaca yang ada di kamarnya saat ia mendengar sebuah mobil melaju keluar dari pekarangan rumah. Tebakan Jessica benar. Mobil yang baru saja pergi adalah mobil milik Hansel. Jelas saja Jessica merasa heran dengan lelaki itu. Sebab, biasanya jika Hansel ke rumah, maka akan memakan banyak waktu sampai ia akan pulang. Bahkan, Hansel bisa saja menginap di rumah Mike. Namun, kali ini berbeda. Hansel pulang saat ia baru beberapa menit berada di rumah Mike. “Tumben banget pulangnya cepat,” Jessica bergumam kemudian ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Jessica pun keluar dari kamarnya dan berjalan menuju dapur. Di dapur, gadis itu membuka kulkas dan mencari beberapa buah yang ia inginkan. “Cari apa, Nona?” tanya Hanna yang tiba-tiba saja berada di belakang Jessica. “Aku hanya ambil buah, Bi,” sahut Jessica. “Mau bikin jus?” tanya Hanna lagi. Jessica menggelengkan kepalanya dan berkata “Aku mau makan begini saja.” Jessica mengambil sebuah apel dan beberapa buah anggur. Kemudian ia mencucinya sebelum memotongnya. Hanna yang berada di sana, ia hendak membantu Jessica. Namun, Jessica menolaknya dan malah menyuruh Hanna untuk beristirahat saja. Jelas saja, sebagai asisten rumah tangga, Hanna merasa tidak enak hati melihat majikannya bekerja dan ia malah diam saja. “Jangan merasa enggak enak hati, Bi. Aku sudah terbiasa melakukan semuanya sendiri,” ucap Jessica. Saya tunggu sampai Nona selesai saja,” sahut Hanna. “Enggak capek berdiri saja?” tanya Jessica. “Tadi saya sudah duduk beberapa jam,” sahut Hanna. “Ngapain? Duduk sampai berjam-jam?” tanya Jessica lagi. “Tadi saya menyetrika pakaian, Non,” jawab Hanna. “Bukannya bagian laundy ada orang lain yang mengurus, ya?” Jessica mengetahui hal itu. Sebab, di rumah Mike, masing-masing asisten memiliki tugasnya masing-masing. Seperti, ada yang tugasnya mengurus dapur, ada yang tugasnya membersihkan rumah, ada yang tugasnya mengurus pakaian dan tentunya ada yang tugasnya mengurus halaman depan dan belakang rumah. “Yang biasa mengurus pakaian sedang izin pulang,” jawab Hanna. Jessica menganggukkan kepalanya tanda bahwa ia mengerti dengan ucapan Hanna. Setelah Jessica selesai memotong buah, ia mencuci pisau yang tadi ia gunakan. Jessica juga mencuci peralatan lain yang ia gunakan tadi. “Nona, kenapa enggak dibiarkan saja?” tanya Hanna. “Hanya sedikit, Bi,” sahut Jessica sembari tersenyum. “Aku ke kamar lagi,ya,” pamitnya sebelum ia berjalan meninggalkan area dapur. Sesampainya di kamar, Jessica meletakkan sepiring buah tadi di atas meja belajarnya. Kemudian, gadis itu duduk di kursi dan menyalakan laptopnya untuk membuka beberapa artikel yang beberapa jam lalu menarik perhatiannya. Sebuah cara untuk balas dendam terbaik. Tajuk yang terlihat menyeramkan itu membuat Jessica menyeringai tajam. Sorot matanya tidak teralih dari banyaknya kata yang tertulis di layar laptopnya. Tangannya sesekali meraih garpu yang ia tancapkan ke buah dan memakannya. “Lihat saja, aku akan menyusun segala rencana untuk membuat anda merasakan apa yang aku rasakan, bapak tua!” Jessica membatin. ... “Ini anak kenapa tidur di meja belajar sih,” gumam Maura saat ia memasuki kamar Jessica dan mendapati Jessica sudah tertidur dengan pulas – dengan posisi duduk di kursi dan menjadikan meja belajarnya sebagai pangkuan kepalanya. Saat Maura hendak membangunkan gadis itu, ia tidak sengaja membaca layar laptop Jessica yang masih menyala. Layar laptop yang masih menampakkan sebuah situs web tentang bagaimana caranya membalas dendam itu membuat Maura terdiam beberapa saat. Sebab, Maura sempat mengira bahwa ambisi Jessica untuk balas dendam sudah sedikit memudar. Rupanya, Jessica tetaplah Jessica yang tumbuh menjadi seorang gadis dengan rasa keinginannya untuk balas dendam terhadap orang yang sudah membuatnya kehilangan orang yang ia sayangi. Maura lantas mengusap kepala Jessica dengan lembut. Matanya menatap nanar ke arah Jessica yang benar-benar sudah tertidur dengan lelap sekarang. "Mama tahu kalau rasa sayang dan cinta kamu terhadap orangtua kandung kamu lebih besar daripada rasa cinta dan sayang kamu ke kami. Tapi, kamu harus ingat satu hal, sayang. Rasa cinta dan sayang kami terhadap kamu itu sama besarnya dengan rasa cinta dan sayang orangtua kandung terhadap anaknya," Maura membatin. To Be Continued...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD