“Lo pulang sendiri, Jessica biar sama gua,” ucap Hansel kepada Gian.
“Tapi, Nona adalah tanggung jawab saya, Pak,” sahut Gian.
“Lo mau kalau gua minta Mike untuk pecat elo?” tanya Hansel dengan nada ancaman.
Jessica hanya bisa diam seraya menyimak setiap perkataan yang dilontarkan oleh Hansel kepada Gian. Gadis ini sama sekali tidak bisa menyela karena keduanya saling menyahut tanpa adanya jeda sedikitpun. Bahkan, saat ini Jessica berdiri di belakang Hansel karena lelaki itu menariknya ke belakangnya.
“Yasudah. Tapi, saya mengikuti kalian, ‘kan?” tanya Gian kembali.
“Ada gua dan elo enggak perlu khawatir untuk melepas Jessica,” sahut Hansel. “Bukannya ini juga bukan kali pertama Jessica hanya pergi dengan gua?” tanyanya.
“Jika ada apa-apa dengan Nona, maka itu tanggung jawab Pak Hansel,” sahut Gian.
Hansel mengulurkan tangan kanannya ke hadapan Gian, kemudian ia berkata “Deal?”
Gian meraih tangan itu dan menyahut “Deal!” Lalu ia melepaskan tangan Hansel dan melanjutkan perkataannya “Ini semua juga disaksikan oleh Nona Jessica.”
Jessica yang sedari tadi hanya diam sembari menyimak, ia tiba-tiba saja menguap dan membuat kedua lelaki yang beradu argumen tadi menatap ke arahnya.
“Kenapa? Debatnya belum selesai? Sampai berapa lama lagi?” tanya Jessica sembari menatap Hansel dan Gian secara bergantian.
“Sudah,” sahut Hansel. “Masuk mobil,” perintahnya sembari menunjuk mobil miliknya dengan dagunya.
“Jadi, aku pulangnya bareng Om Hansel? Bukan Om Gian?” tanya Jessica.
“Dari tadi lo berdiri di sini dan enggak dengar percakapan kami, Jes?!” tanya Hansel dengan nada bicaranya yang terdengar tidak percaya dengan pertanyaan Jessica tadi.
Jessica menggelengkan kepalanya dan hal itu membuat Gian dan Hansel menepuk dahinya masing-masing.
“Yuk pulang,” ajak Hansel kemudian ia menarik Jessica untuk masuk ke dalam mobilnya.
...
“Setelah semua bukti kita pegang dengan kuat, barulah kita jatuhkan dia, sejatuh-jatuhnya,” ucap Mike seraya menatap sebuah layar TV yang menampakkan sebuah rekaman cctv di rumah seseorang.
“Kopi kamu, sayang,” ucap Maura seraya memberikan secangkir kopi panas pada Mike.
Mike menerima cangkir itu dari tangan Maura, lelaki itu menatap Maura sembari tersenyum dan mengucapkan terima kasih sebelum ia menyeruput kopi buatan istrinya itu.
“Bagaimana progress-nya?” tanya Maura yang kemudian ia juga menatap layar TV yang tadinya menjadi satu-satunya objek yang membuat Mike fokus.
“Masih ada banyak hal yang harus aku kumpulkan untuk membuatnya benar-benar jatuh,” sahut Mike.
Tangan Maura naik ke punggung Mike dan mengusapnya dengan lembut. “Jangan terlalu dipaksakan, sayang. Pelan-pelan saja. Menjatuhkan seseorang yang sudah berhati iblis memang bukan hal yang mudah,” ucap Maura dengan nada suaranya yang terdengar begitu lembut.
Mike menatap istrinya yang berdiri di sampingnya itu. Kemudian, senyumannya kembali terlukis. “Terima kasih, sayang,” ucapnya dengan nada suaranya yang tak kalah lembut dengan Maura. Tangannya juga naik ke pucuk kepala Maura dan mengusap rambut coklat milik Maura itu.
“Boss, Nona Jessica sudah pulang,” ucap Vernon.
“Siapkan semuanya,” perintah Mike.
“Siap, Boss,” sahut Vernon kemudian ia permisi untuk keluar dari ruangan Mike.
Vernon segera berjalan menuju sebuah gudang yang ada di belakang rumah Mike. Gudang yang berada terpisah dengan rumah itu nampak sekali bahwa sangat jarang dikunjungi.
Beberapa orang mengikuti Vernon, mereka berjalan di belakang Vernon dan membantu Vernon mengeluarkan beberapa barang dari dalam gudang itu.
Barang yang tak lain adalah beberapa senjata api yang sangat jarang dilihat banyak orang. Kemudian, beberapa senjata api itu dibawa Vernon dan beberapa orang itu ke ruang tamu dan meletakkannya di atas meja tamu.
“Loh, ada apa ini?” heran Jessica saat ia baru saja memasuki rumah.
“Boss besar menyuruh kami untuk meletakkannya di sini,” sahut Vernon.
“Papa ada di rumah?” tanya Jessica.
Sebab, Mike sangat jarang berada di rumah saat hari masih siang.
“Sebentar lagi Boss besar akan turun,” ucap Vernon lagi.
Hanya berselang beberapa detik setelah Vernon mengatakan hal itu, Mike dan Maura nampak berjalan menuruni anak tangga.
Salah seorang asisten rumah tangga di rumah Mike mengambil alih ransel yang sedari tadi berada di pundak Jessica dan membawanya ke kamar Jessica lebih dulu.
Bahkan, Hansel yang saat ini ikut masuk ke dalam rumah Mike, ia nampak bingung dengan apa yang dilakukan Mike.
Menyuruh anak buahnya menyusuh beberapa senjata api yang jelas saja bahwa senjata api itu tidak dijual di mana pun dengan tujuan yang saat ini hanya Mike dan Maura yang mengetahuinya.
“Lo ngapain selalu muncul sih? Enggak bisa sehari aja enggak ngikutin Jessica?” tanya Mike sembari menatap Hansel.
“Sudah janji gua untuk jaga Jessica,” sahut Hansel dengan begitu santai.
“Sekarang Jessica sudah aman di rumah gua,” ucap Mike lagi. “Jadi...”
“Lo kenapa mengeluarkan senjata ini?” Hansel memotong ucapan Mike yang jelas-jelas masih belum selesai Mike ucapkan.
“Pengin banget gua cubit ginjal elo, Sel,” kesal Mike.
“Lo itu sudah seperti abang gua, Mike. Jangan usir gua secara halus,” ucap Hansel sembari terkekeh.
“Langsung saja keintinya, sayang. Kasian Jessica. Dia sudah capek seharian kuliah. Pulang-pulang malah lihat kalian berantem,” timpal Maura.
Mike pun duduk di sebuah sofa yang hanya muat satu orang, lelaki itu menyilang kakinya. Sorot matanya yang tajam kini menatap ke arah Jessica yang masih terpaku di tempatnya berdiri tadi.
“Bukannya Papa mau menganggu waktu kamu yang seharusnya sekarang kamu istirahat. Tapi, menurut Papa, lebih cepat, lebih baik,” ucap Mike.
Jessica hanya diam, ia benar-benar menunggu apa yang akan dikatakan oleh Mike dan apa tujuan Mike menyusun senjata api itu di atas meja.
"Keamanan Jessica sekarang semakin harus diperketat. Selain mereka yang mengincar Jessica ingin segera menangkap Jessica, rupanya ada orang lain yang juga mengincar Jessica," ungkap Mike.
"S-siapa, Pa?" tanya Jessica dengan suaranya yang tergagap.
Jelas saja Jessica menjadi takut. Ia yang tadinya berpikir bahwa hanya kelompok Papanya Hansel yang mengincarnya, rupanya ada kelompok lain yang juga mengincarnya.
"Papa belum bisa memastikan dia siapa. Yang jelas, dia menginginkan kamu untuk menjadi salah satu anggota mereka. Jelas sih, mereka pasti melihat bagaimana watak kamu," tutur Mike panjang lebar.
"Tujuannya hanya itu?" kini, Hansel lah yang mengajukan pertanyaan.
Mike menganggukkan kepalanya tanda bahwa ia membenarkan ucapan Hansel tadi.
To Be Continued...