Chapter 23

1053 Words
Hal yang tidak siap untuk dihadapi oleh hampir semua orangtua di muka bumi adalah ketika mereka melihat anaknya sudah beranjak dewasa. Layaknya Mike dan Maura yang merasa bahwa Jessica sudah mulai dewasa. Mereka berdua memang bukanlah orangtua kandung Jessica. Namun, kasih sayangnya sama rata seperti kasih sayang kedua orangtua kandung Jessica. Ya, hari ini adalah hari di mana Jessica akan melaksanakan upacara kelulusan sekolah menengah atasnya. Mike dan Maura nampak sudah siap dengan pakaian rapi mereka untuk hadir ke sekolah. Begitu pula dengan Jessica, bahkan ia lebih dulu siap dibandingkan dengan kedua orangtuanya itu. ... Seluruh mata nampak tertuju pada Jessica yang baru saja datang dan berjalan di belakang Mike dan Maura. Jelas, Mike dan Maura adalah orang yang berpengaruh di sekolahan. Itu sebabnya juga Jessica enggan untuk membuat teman-temannya tahu bahwa ia adalah anak angkat dari Mike dan Maura. "Pantas saja selama ini aku melihat Jessica begitu berani. Rupanya dia adalah anak dari salah satu orang yang berpengaruh di sekolah ini." "Sifatnya seperti Om Mike, 'kan? Yang enggak suka kalau lihat orang ditindas di hadapannya." "Benar banget. Kenapa kita jadi baru tahu, ya?" Suara dua orang yang nampak sedang membicarakan sosok Jessica itu terdengar sampai ke telinga Jessica. Namun, Jessica malah hanya diam sembari tersenyum. Baginya, itu adalah sebuah pujian. Ia yang bahkan tidak memiliki hubungan darah dengan Mike malah dikatakan memiliki sifat yang hampir sama persis dengan ayah angkatnya itu. ... "Selamat pagi, semuanya. Salam sejahtera untuk kita semua. Di hari yang berbahagia ini, terutama bagi seluruh murid kelas 12 yang akan menerima rapor kelulusan mereka. Saya selaku kepala sekolah, mengucapkan selamat kepada kalian semua yang sudah dinyatakan lulus di jenjang pendidikan ini. Selain itu, saya juga akan memanggil beberapa murid berprestasi di sini. Mulai dari yang terbaik, ya," ucap kepala sekolah yang berdiri di atas panggung di dalam aula. Kemudian, ia melanjutkan "Jessica Eveline Guinno." Ketika namanya disebut, Jessica langsung menatap Mike dan Maura secara bergantian, gadis itu begitu tidak menyangka jika ia termasuk ke dalam salah satu murid paling berprestasi di sekolah. "Silakan Jessica naik ke atas panggung untuk menerima penghargaan," ucap kepala sekolah lagi. Jessica berdiri dan seketika itu juga tepuk tangan yang terdengar gemuruh terdengar. Bukan hanya Jessica, ada 2 orang lainnya yang dipanggil. Setiap kelulusan pasti ada 3 nama yang akan disebutkan karena mereka memiliki nilai yang begitu memuaskan. Setelah itu, barulah beberapa nama lain dipanggil atas kejuaraan mereka. Puas, itu yang dirasakan Mike dan Maura. Keduanya juga bangga dengan Jessica. "Setelah ini, apa ada rencana mau kuliah ke luar negeri?" tanya Hansel ketika acara kelulusan sudah selesai. "Jessica akan kuliah di sini saja. Dia enggak akan jauh-jauh dari gua," tegas Mike. Jessica hanya bisa menunduk seraya tersenyum ketika mendengar ucapan yang terdengar tegas itu keluar dari mulut Mike. "Nada bicara lo kayak mau bunuh gua, Mike," sungut Hansel. "Lagian lo tanya begitu. Bikin gua naik pitam saja," sahut Mike. "Beneran enggak mau kuliah ke luar negeri aja, Jes?" tanya Hansel sekali lagi. "Jangan sampai piala Jessica gua lempar ke wajah lo, Sel," ancam Mike. "Ampun, Mike," timpal Hansel seraya terkekeh. ... Saat Mike, Maura dan Jessica baru saja memasuki mobil yang akan mengantar mereka untuk pulang, Mike bertanya pada Jessica "Mau mampir ke makam dulu?" Jessica menatap Mike yang duduk di balik setir, kemudian ia menganggukkan kepalanya. "Mampir beli bunga dulu, sayang," ucap Maura. Mike menganggukkan kepalanya kemudian ia menginjak gas. Sepanjang perjalanan menuju makam kedua orangtuanya, Jessica nampak begitu bersemangat karena ia akan menunjukkan pada kedua orangtua kandungnya bahwa ia telah berhasil lulus dengan predikat siswi terbaik. Memang sebelumnya Jessica selalu mendapat nilai yang bagus di sekolah. Namun, baru kali ini ia mendapat predikat itu. Setelah membeli bunga tabur dan 2 buket bunga mawar putih, Mike, Maura dan Jessica pun kembali melanjutkan perjalanan menuju pemakaman umum yang hanya berjarak beberapa kilo meter dari toko bunga. Lalu, saat ketiganya sampai di area pemakaman dan sudah memarkirkan mobil di parkiran, Jessica dikejutkan dengan adanya Hansel yang ternyata mengikuti mereka dari sekolah tadi. "Bikin kaget aja!" ucap Jessica yang baru saja keluar dari mobil. Hansel hanya terkekeh karena bahkan ia tidak berencana untuk membuat Jessica terkejut. Ia juga berpikir bahwa Jessica, Mike dan Maura menyadari kalau sedari keluar dari gedung sekolah Hansel mengikutinya. "Kenapa enggak bilang kalau mau ikut?" tanya Maura. "Supaya kejutan," sahut Hansel dengan percaya dirinya. "Ayok, Ma," ajak Jessica sembari menggandeng pergelangan tangan Maura. Kemudian mereka berdua berjalan mendahului Mike dan Hansel. Dua gundukan tanah yang di atasnya ditanami rumput yang nampak begitu rapi dengan batu nisan yang bertuliskan nama kedua orangtua kandung Jessica. Gadis itu menabur bunga di atas makam kedua orangtuanya. Kemudian ia juga meletakkan dua buket bunga masing-masing satu untuk 1 makam. Lalu, Jessica berjongkok di antara batu nisan kedua orangtua kandungnya itu. "Ibu... Ayah... Ini Jessica datang bersama dengan Mama Maura, Papa Mike dan Om Hansel. Mereka bertiga lah yang selama ini mengurus Jessica sampai..." Jessica menghentikan ucapannya saat ia mengeluarkan sebuah sertifikat yang ia dapatkan di sekolah tadi. "Sampai Jessica mendapatkan predikat siswi dengan nilai ujian terbaik," sambungnya. "Jessica yakin kalau kalian senang. Jessica akan terus mendoakan yang terbaik untuk kalian di sana. Bahagia selalu, Bu, Yah." Tanpa Jessica sadari, setiap kata yang keluar dari mulutnya membuat Mike, Maura dan Hansel menjadi terharu. Mereka bertiga sesekali menyeka air mata mereka yang keluar dari pelupuk mata. Saat Jessica mendongakkan kepalanya untuk melihat, Mike, Maura dan Hansel langsung bersikap biasa saja. Tentu saja mereka tidak ingin jika Jessica melihat mereka menangis. Namun sayang, Jessica menyadarinya. "Kalian menangis?" Pertanyaan yang keluar dari mulut Jessica membuat Mike, Maura dan Hansel menjadi salah tingkah. Mereka nampak seperti sedang mencari alasan namun tidak mereka dapatkan. "Kenapa menangis?" tanya Jessica lagi. "Siapa yang menangis sih?" elak Hansel. "Sembunyikan dulu mata merahnya, baru boleh mengelak," sahut Jessica. Jessica nampak ingin mencairkan suasana. Ia tidak ingin melihat orang-orang yang selama ini membuatnya keluar dari rasa keterpurukan menjadi bersedih hati kala melihatnya berkata di atas pusara kedua orangtuanya. Prinsip yang Jessica pegang sejak ia memulai lembaran baru dengan keluarga barunya adalah; ia akan membuat orang yang membahagiaannya bahagia juga, begitu juga sebalinya. Setelah selesai berdoa, mereka berempat pun beranjak hendak pergi. Namun, langkah mereka terhenti ketika mereka melihat sekelompok orang yang menatap tajam ke arah mereka. Hansel segera menarik Jessica untuk berdiri di belakangnya. Sebuah perlindungan yang membuat Jessica terpana. "Hajar sekarang?" tanya Mike seraya menyeringai. To Be Continued...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD