8

1431 Words
Semalam, Luna diminta Keenan untuk tidur sedikit lebih malam. Bukan lagi untuk menuruti kegilaan Keenan, tapi untuk menceritakan semua tentang keluarga Luna yang perlu Keenan tahu. Ia perlu informasi untuk Ibu percaya mereka benar-benar bertunangan dan dekat dengan satu sama lain. Awalnya sulit untuk membuka hati pada Keenan, terlebih lagi Luna ingin membatasi hati untuk lelaki itu agar tidak berakhir tersakiti. Luna menceritakan hampir semua. Tentang kematian Ayah, pernikahan Ibu dengan John suami barunya, masa lalu Ibu, masa kecil Luna, tujuh adik sambung Luna beserta nama dan foto-foto mereka yang ditunjukkan dari ponsel Luna, bahkan nama tengah mereka. Keenan belajar banyak tentang Luna dari sana. Sosok lembut dan penyayang di luar yang ternyata kuat dan kokoh di dalam, Keenan benar-benar tidak salah pilih ibu untuk anak-anaknya. Semalam pula Luna tidur tidak tenang. Keenan merasa berkali-kali hembusan napas berat dikeluarkan Luna, juga pergerakannya yang gelisah di ranjang. Bayi mereka sepertinya tidak jauh dari kakaknya, menendang Mamanya tanpa tahu waktu dan situasi. "Shhhh," bisik Keenan sambil bangkit dari tidurnya dan mengusap perut Luna. Ia membuat gerakan melingkar. "Mainnya besok lagi, Nak, kita tidur, ya," bisiknya mendekatkan wajahnya pada perut buncit Luna. Gerakan tangan Keenan sesekali dibalas tendangan, membuat Keenan tersenyum. Gerakan dari bayi mereka perlahan mereda kemudian selesai, meski harus menunggu sampai pukul 1 dini hari. Ketika mereka hendak tidur, rengekan Kale lewat baby monitor membangunkan lagi. Kale memang masih sering terbangun tengah malam, seperti bayi pada umumnya. "Biar aku bawa Kale ke sini," kata Keenan, mencegah Luna yang hendak bangkit dari tidurnya. Biasanya memang begitu, Luna yang bangun tengah malam, menyusui Kale sampai putranya kembali tidur. Tidak berapa lama, Keenan kembali ke kamar mereka dengan Kale yang masih menangis dalam gendongannya. Luna menerima Kale dalam dekapannya, sesegera mungkin mengeluarkan p******a sisi kanan yang putingnya langsung ditangkap mulut kecil Kale. "Aku pikir hanya ingin ganti popok, ternyata mau minum juga," kata Keenan yang duduk di samping Luna. Ia memperhatikan putranya yang mulai kembali tidur, masih dengan mulutnya menghisap p****g Mamanya. Luna tersenyum. "Kamu tidur dulu saja, biar Kale aku yang kembalikan ke kamarnya." Keenan menggeleng. "Dia tidur sini saja malam ini." Luna hanya bisa mengangguk. Lagipula ia suka jika tidur di sebelah Kale. Wangi khas bayinya menenangkan sekali. "Kale dari bayi mukanya selalu mirip kamu," kata Luna yang masih memandangi wajah Kale. "Semoga kalau sampai besar nanti, dia tidak kecewa," sahut Keenan yang membuat Luna tertawa kecil. Kale tidur lelap tidak lama setelahnya. Ia tidur di antara Papa dan Mamanya. Dan Luna tidak pernah tidur sedamai semalam. Tidurnya amat damai sampai ia terlambat bangun pagi ini. "Luna, masa jam segini baru bangun?" menjadi sapaan pertama yang ia terima dari Ibu yang menikmati teh hangat di mini bar dapur. "Jadi Keenan yang ngurus semua." Keenan yang sedang membalik French toast tertawa kecil. "Tidak apa, Bu. Semalam anak-anak rewel minta perhatian Mamanya. Luna baru tidur menjelang pagi, kasihan." Luna seringkali mengurus Kale yang rewel sampai tidur menjelang pagi, dan baru kali ini Luna melihat Keenan membantunya mengurus keperluan rumah. Biasanya ia hanya akan membuat sarapannya sendiri atau menyeduh kopi jika Luna amat sangat tidak bisa membuatkan sarapan, tentu saja dengan hukuman menanti Luna sepulang Keenan dari kantor. Ia harap ketika Ibu pulang tidak akan ada hukuman dari Keenan. Luna hanya tersenyum lebar pada Ibu. Segera ia menuju dapur untuk mengambil alih pekerjaan Keenan. Lelaki itu menolak, entah karena ada Ibu atau bagaimana. Tanpa Luna sadari, ada Kale yang memeluk kaki Papanya. Bayi mereka itu sedang belajar merambat dan berjalan. Mungkin ia bisa membantu Keenan dengan mengalihkan perhatian Kale. "Kale sama Mama saja, yuk!" ajak Luna yang sudah bersimpuh menyamakan tingginya dengan Kale. Bayi besar itu hanya menggeleng dan tertawa. Keenan memang tidak pernah canggung di dekat Kale, tapi mereka tidak pernah sedekat ini. "Kita lihat Papa masak dari atas, yuk!" ajak Luna, kali ini tidak meminta respon Kale. Segera ia menggendong bayi itu, memastikan posisinya tidak menekan kandungan Luna. Keenan yang melihat Luna dan Kale berada di sebelahnya, benar-benar melihatnya memasak, membuatnya tertawa kecil. "Cium satu-satu, nih," katanya. Setelah mematikan kompor, diciumnya Kale di pipi, lalu membungkuk dan mencium perut Luna sebelum mencium bibir Luna lembut. Jika Keenan saat ini sedang berakting, Luna bersumpah ia harus mendapatkan Piala Oscar. Pagi ini, menu sarapan mereka adalah French toast dan s**u sapi. Sementara untuk Kale ada bubur MPASI yang sudah disiapkan Luna. Di meja makan, mereka saling melempar canda sambil sesekali menjawab pertanyaan dari Ibu atau balik menanyainya. Agar satu suara, Luna membiarkan Keenan menjawab terlebih dulu pertanyaan dari Ibu, ia hanya memberi penguatan setelahnya. "Kalian ada rencana apa hari Sabtu ini? Keenan libur, kan?" tanya Ibu. "Iya, Bu, libur. Biasanya kalau Kale tidak rewel dan bayi di perut Luna juga kooperatif, kita ke taman bermain. Tapi kalau kebalikannya, kita biasanya di rumah saja," jawab Keenan mantap, padahal rewel atau tidaknya Kale, mereka ke taman bermain hanya jika Luna melakukan seks kasar sebelumnya dengan Keenan. Hanya sebagai hadiah. "Bagaimana kalau hari ini kita ke taman bermain?" tawar Keenan yang disetujui Luna. Berada di dalam rumah terus-terusan dengan ada Ibu di antara mereka membuat Luna bingung harus bertingkah seperti apa. Semoga berada di ruang terbuka bisa membuatnya sedikit tidak terintimidasi. Setelah menyiapkan berbagai kebutuhan, mulai dari makanan, alas duduk, popok dan baju ganti Kale, mereka kemudian berangkat. Hari ini Kale juga kooperatif dengan akting Papanya. Biasanya ia akan menolak didudukkan di carseat oleh Keenan, tapi lain hari ini. Kedekatan Keenan dan Kale dimanfaatkan Luna untuk duduk-duduk santai di taman bermain, membiarkan Keenan yang memegangi tangan Kale sambil ia belajar berjalan. Ia membiarkan kaki Kale nyeker karena akan membantunya melatih keseimbangan tubuh. Semoga Keenan tidak menghukumnya karena sakit punggung nanti. "Keenan baik orangnya, ya, Lun?" tanya Ibu pada Luna tiba-tiba. "Iya, Bu. Baik sekali," jawab Luna. "Kamu bahagia, kan?" tanya Ibu lagi. Luna terdiam sesaat sebelum memberi senyuman yang paling meyakinkan. "Tentu saja." "Siapa yang tidak bahagia memiliki pasangan seorang petinggi perusahaan konsultan arsitektur besar di Aachen, tapi juga bisa turun tangan mengurus rumah dan anak, romantis lagi ke kamu?" goda Ibu. "Romantis apanya, Bu?" tanya Luna tersipu malu. "Dia cerita banyak tentang kalian. Pertama kali bertemu, berpacaran, pindah serumah, memutuskan bertunangan, lahirlah Kale, semuanya dia ceritakan," kata Ibu membuat Luna tersenyum miris. Ibu tidak perlu tahu kalau bisa jadi semua yang diceritakan Keenan bohong. Ibu saja tidak tahu Luna dulu bekerja sebagai ibu pengganti. "Kamu sudah pernah diajak ke Indonesia?" tanya Ibu. Keenan bahkan memberitahu Ibu tentang negara asal dari sisi ayahnya, Luna saja hanya tahu sedikit sekali. Sebatas Keenan ras campuran antara Jerman-Indonesia, keluarga besar dari sisi ayahnya masih ada di Indonesia. Luna menggeleng. "Sewaktu Kale sudah cukup umur naik pesawat jarak jauh, eh aku hamil lagi," kata Luna, tidak sepenuhnya berbohong. Ibu tertawa mendengarnya. "Kalau adiknya Kale sudah lahir, jangan lupa kabari Ibu. Masa ketemu cucu pertama waktu umurnya sudah mau satu tahun?" ucap Ibu yang disambut anggukan dari Luna. Ia tidak keberatan mengabari Ibu asalkan Ibu tidak datang di hari-H kelahiran, hati Ibu mana yang tega melihat anaknya disiksa orang yang menurutnya mencintai anaknya? Tidak berapa lama, Keenan dan Kale sudah kembali. Kale tidak lagi mencoba berjalan sendiri tapi digendong Papanya. "Kale main-main sama Oma, yuk," ajak Ibu pada Kale yang menerima dengan naik ke gendongan Ibu, meninggalkan Luna berdua dengan Keenan. "Punggungku sakit, Lun," keluh Keenan. "Kale jalannya sudah mulai ngebut." Sekarang kamu bayangkan menuntun jalannya anakmu sambil membawa perut berisi anakmu yang lainnya, batin Luna. "Mau aku pijat?" tawar Luna pada Keenan yang memegangi pundaknya kesakitan. Tanpa pikir panjang, Keenan kini sudah memunggungi Luna. Dengan cekatan, tangan Luna bergerak merelaksasi otot-otot tubuh Keenan yang kaku. "Sudah mendingan?" tanya Luna beberapa saat kemudian. Keenan mengangguk sebelum menoleh ke belakang sebentar kemudian membaringkan diri di pangkuan Luna. "Pantas Kale suka tidur di pangkuan kamu, Lun," kata Keenan yang memejamkan mata menikmati hembusan angin musim semi. Luna tertawa kecil. "Kalau Kale biasanya aku giniin biar makin nyaman," tangan Luna bergerak mengusap lembut kening Keenan. "Teruskan, Lun," katanya yang dituruti Luna. "Coba Ibu di rumah lebih lama, ya," katanya lagi. "Enak juga punya kamu di hidup aku." "Kalau begitu, anggap saja selalu ada Ibu di rumah," balas Luna. Luna juga berharap Ibu di rumah lebih lama lagi, agar ia bisa menikmati hal-hal kecil namun berarti yang dilakukan Keenan. Ia takut jika tiba waktunya untuk Ibu pulang, semua akan kembali seperti sebelumnya. Ia takut mengakui bahwa ia menikmati diperlakukan manis oleh Keenan, ia menikmati melayani Keenan tanpa perintah, ia menikmati ada untuk Keenan, ia menikmati mencintai Keenan sendirian. "Kontraknya berakhir kapan ya, Kee?" tanya Luna tiba-tiba. "Sampai aku mau," jawabnya singkat. Sampai kapanpun Luna mau, asalkan dengan Keenan. Bodoh memang, tapi semuanya memang bodoh jika menyangkut perasaan, bukan?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD