Terbiasa sendirian

1071 Words
Dalam kamar, Xhavier terlihat sibuk mempersiapkan alat kompres dan batu es untuk mengompres pipi Nhosa yang nampak mulai memerah dan sedikit membengkak. "Ssstt!.." Nhosa mengerang sakit saat alat kompres itu diarahkan ke pipinya. "Terimakasih." Ucap Nhosa tersenyum kearah Xhavier, melihat itu Xhavier lalu menatap Nhosa tajam. "Jangan berpura-pura kuat Nona," ucap Xhavier membuat Nhosa langsung menatapnya nanar. "Kenapa kau tersenyum dalam keadaan sulit seperti ini Nona? Bukankan dalam posisi seperti harusnya kau menangis, marah, menjerit dan meluapkan rasa sakitmu. Dalam keadaan seperti ini seharusnya kau cerita dan meminta tolong padaku agar aku dapat menolongmu. Kenapa kau bertingkah seolah-olah kau sendirian?" Mendengar ucapa Xhavier sorot mata Nhosa langsung berubah sendu. "Apa kau sendirian di dunia ini? Jawab aku Nona janga hanya diam dengan bibir tersenyum dan sorot mata yang seakan menangis seperti itu." Ucap Xhavier lagi "Aku memang sendirian di dunia ini Xhavier." Balas Nhosa membuat Xhavier tertegun "Kau tahu saat aku kecil, anak-anak seusiaku begitu senang menyambut hari ekstrak kulikuler di sekolah kami, karena saat hari itu kedua orang tua semua murid akan datang dan bermain game bersama di sekolah. Sementara aku setiap acara itu hanya diam di pojokan kelas dan memperhatikan anak kecil lain di kelasku yang begitu suka cinta bermain game bersama kedua orang tua mereka, sementara orang tuaku tidak perna dapat hadir diacara seperti itu mereka menganggap acara seperti itu tidak penting namun jika acara itu diadakan oleh kelas Kakakku Leana sesibuk apapun mereka, mereka selalu menyempatkan dan menyiapkan waktu untuk hadir di acara itu." Ucap Nhosa menceritakan kenangan pahit dimasa lalunya "Dulu aku sangat iri pada Leana, aku berpikir kenapa dia selalu lebih beruntung dariku, kenapa orang tua kami sangat menyayanginya sementara tidak denganku. Dulu aku selalu dapat menahan rasa iriku namun ada saat dimana aku tidak dapat lagi menahan rasa iriku, aku lalu melayangkan protes pada kedua orang tuaku. Saat itu aku menangis sejadi-jadinya namun jawaban orang tuaku saat itu membuatku berhenti untuk menangisi apapun lagi." Kenang Nhosa "Saat aku protes orang tuaku berkata bahwa mereka dapat meluangkan waktu untuk Leana karena Leana adalah anak pertama dan yang akan menjadi pewaris harta dan perusahaan jadi mereka memberikan perlakuan khusus untuk Leana." Mendengar penjelasan dari Nhosa Xhavier hanyan tertegun dalam kesedihan dia sama sekali tidak menyangka bahwa Nhosa dari kecil sudah mendapatkan perlakuan tidak adil dari kedua orang tuanya. "Sejak kejadian itu, aku tidak ingin menangisi apapun lagi. Bahkan jika aku terpuruk, dan nyaris berhenti bernafas karena pikiran dan rasa sakitku aku tetap menahan tangisanku, aku berpikir menangispun tidak akan dapat merubah keadaan yang ada akan semakin membuat kepalaku semakin sakit, karena selalu sering menahan tangisanku aku menjadi terbiasa dan berpikir itu adalah hal yang wajar, karena aku sendirian tidak ada yang menghapus atau menghiburku jika aku menangis nantinya." Xhavier nyaris menetaskan air matanya mendengar cerita dari Nhosa. Dengan lembut, Xhavier meraih tangan Nhosa menggenggam tangan itu erat lalu berkata dengan lembut "Sekarang kau tidak sendiri lagi Nona, ada aku disini aku akan selalu ada untukmu tidak akan perna meninggalkanmu. Jadi berhenti menahan diri, jika sakit menangislah jika berat teriaklah, jika marah mengamuklah jika sakit ceritalah aku akan selalu ada disetiap momenmu." Mendengar ucapa Xhavier, Nhosa tersenyum "Aku ingin melakukan itu Xhavie, menangis saat aku sedih, mengamuk saat aku marah, bercerita saat aku sakit tapi tidak bisa. Aku sudah lama memendam semua sendiri bahkan itu sudah menjadi tabiatku jadi agak sedikit susah jika di rubah." Jawab Nhosa. Xhavier meraih jari kelingking Nhosa lalu mengaitkan pada jari kelingkingnya sambil berkata "Mulai sekarang apapun yang terjadi anda tidak bisa dan tidak boleh memendam semuanya sendiri, disini ada aku Nona, anda harus cerita padaku tentang apa yang anda rasakan." "Baiklah, akan ku usahakan meski tidak berani janji." Ucap Nhosa. *** Alex tiba di kediamannya, di ruang tamu ia langsung mendapati Hendry sedang terduduk. "Tuan." Ucap Hendry spontan berdiri begitu melihat Alex. "Ini semua data-datanya Tuan, aku mendapatkannya dari orang terpercaya. Aku berhasil menemukan mantan pelayan keluarga Scottler 3 tahun lalu, dan anda tidak akan percaya dengan apa yang ku temukan tentang Nona Nhosa." "3 tahun lalu Tuan Tommy dan Nyonya Rose memecat kepala pelayan yang ada di kediamannya hal itu dilakukan untuk menutupi aib keluarga Scottler." Jelas Hendry "Maksudnya?" Tanya Alex. "Jadi tiga tahun lalu polisi sudah menargetkan anak dari Tuan Tommy terkait kepemilikan nark*ba." Hendry memulai ceritanya terkait penelusurannya tentang informasi dari Nhosa. "Aku tahu itu, karena tiga tahun lalu akulah yang memberi informasi pada polisi terkait kepemilikan nark*ba itu, saat itu aku tidak tahu bahwa Leana memilik seorang adik perempuan jadi aku hanya mengatakan bahwa anak dari keluarga Scottler adalah pencandu nark*ba, melalui informasiku itulah polisi mulai menargetkan keluarga Scottler." Ucap Alex mengenang tindakannya 3 tahun lalu saat ingin membalaskan dendamnya pada Leana. "Tapi tiga tahun lalu bukan Nona Leana yang di tahan polisi tapi Nona Nhosa. Entah apa yang terjadi saat itu tiba-tiba saja Nona Nhosalah yang diklaim sebagai pemilik barang haram itu." Balas Hendry membuat Alex langsung terjatuh lemas, ia mengusap wajah dengan telapak tangannya dengan kasar, kali ini Alex telah betul-betul salah target, kali ini Alex menyesal telah menjadikan Nhosa tanjakan untuk balas dendamnya. Alex meraih amplop coklat yang diberikan Hendy disana ada bukti berupa foto dan video serta rekaman suara mantan kepala pelayan keluarga Scottler yang menceritakan bagaimana Nhosa diperlakukan tidak adil, setelah melihat, mendengar semua bukti itu Alex langsung terpuruk dalam penyesalannya, Alex sungguh menyesal. Alex segera meraih ponsel pintarnya, ia menelpon Nhosa ia ingin meminta maaf pada Nhosa sekaligus ingin jujur pada Nhosa bahwa ia sangat mencintai Nhosa, ia ingin melupakan balas dendamnya pada Leana. Namun berapa kalipun Alex menelpon Nhosa tetap tak menjawab panggilan telponya tak putus asa sampai disitu Alex berusaha mengirim pesan pada Nhosa tentang penyesalannya dan tentang betapa ia mencintai Nhosa. Alex menulis panjang lebar pada pesannya itu namun Nhosa terlihat belum membaca pesannya itu. Alex beranjak berdiri hendak meninggalkan kediamannya namun terhenti karena Hendry mencekal tangannya "Anda mau kemana Tuan?" Tanya Hendry "Aku ingin menemui Nhosa, aku ingin meminta maaf dan berkata jujur padanya tentang perasaanku. Jika dia memaafkanku dan memintaku untuk melupakan dendamku pada Leana maka akan ku lakukan." Ucap Alex. "Anda bisa menjelaskannya besok, Tuan. Saat ini Nona Nhosa pasti sedang tidak ingin di ganggu, pikirannya pasti sangat kacau, saat pikiran kacau percuma anda menjelaskan seperti apapun Nona Nhosa pasti tidak akan mengerti. Jadi biarkan Nona Nhosa tenang terlebih dahulu setelahnya barulah anda jelaskan dan ungkapkanlah perasaan anda yang sebenarnya pada Nona Nhosa." Mendengar ucapan Hendry, Alexpun melunak dan menganggap ucapan Hendry ada benarnya. Bersambung!...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD