Kenangan 5 tahun lalu

1422 Words
Alex terdiam dalam kamarnya, saat ini pandangannya terfokus hanya pada ponsel pintarnya ia berharap ponsel pintar itu akan berdering yang menandakan ada panggilan masuk dari Nhosa, namun sudah berjam-jam dia menunggu Nhosa tak menelpon ataupun mengirimkan pesan padanya. Alex memeriksa pesan singkat yang dikirimnya dan ia nampak kecewa saat mengetahui Nhosa belum membaca pesan singkatnya itu, itu terbukti dari garis dua yang ada di pesan belum centang biru. Buukkk!... Alex meninju tiang tempat tidurnya, ia kesal pada diri sendiri karena telah berlaku ceroboh, andai dia mencari tahu lebih dalam tentang Nhosa mungkin kejadian hari ini tidak akan terjadi. Dalam lamunannya Alex kembali teringat masa-masa dimana ia mulai menaruh dendam pada Leana. Semua bermula dari kejadian 5 tahun lalu. Flash back *5 tahun lalu* Alex meraih jas putih kebanggaannya, ini adalah hari pertama ia melakukan KOAS jadi ia sangat bersemangat, setelah merasa rapih dengan terburu Alex berlari menuju loby rumah sakit menunggu Profesor yang akan menjadi mentornya. Tak beberapa lama menunggu, seorang lelaki paruh bayar memasuki loby "Dia Profesor Damian, dia mentor kita." Ucap salah seorang rekan KOAS dari Alex begitu Profesor Damian melewati Alex dan 2 orang rekan KOASnya yang lain. Alex beserta temannya segera membungkuk memberi hormat namun balasan dari Profesor Damian sangatlah mengecewakan Alex dan rekannya, lelaki paruh baya itu hanya menatap mereka sekilas lalu berlalu pergi kearah ruangannya untuk mengganti bajunya. "Apa, apaan... Haah.. mentor kita kayaknya sedikit sombong, padahal aku berharap mendapatkan mentor yang ramah." Gumam salah seorang rekan Alex. Tak beberapa lama menunggu Profesor Damian terlihat keluar dari ruangannya dalam balutan jas putih kebanggaan dokternya dengan segera Alex dan kedua rekannya mengikuti Profesor Damian di belakang. Alex mencatat pada bukunya setiap apapun pelajaran atau kata-kata baru yang ia temukan saat mengikuti Profesor Damian mengunjungi beberapa pasien yang ia tangani hingga perhatian mereka di curi oleh keributan yang ada di ruangan VVIP sebelah. Profesor Damian melangkah keluar lalu memasuki ruangan tempat keributan itu berasal diikuti oleh 2 orang perawat dan juga Alex serta 2 rekan KOASnya. "Lepaskan aku, aku tidak sakit.. aku mau pulang." Seorang remaja berusia 18 tahun memberontak tak ingin berbaring di tempat tidur sesekali ia berusaha menyingkirkan selang infus dari tangannya dan dengan sigap para perawat di sana menghalaunya. "Apa yang terjadi?" Tanya profesor Damian pada 2 orang perawat yang saat itu sedang berusaha menghalau tangan remaja itu yang ingin menarik selang infusnya. "Pasien ini terus memberontak ingin melepas infusnya karena ingin pulang." Jelas salah seorang perawat yang memegangi tangan remaja itu. Melihat 2 perawat itu kesusahan dengan sigap Alex berlari membantu menghalau gerakan anak remaja itu. "Aku ingin melihat catatan medis pasiennya." Ucap Profesor Damian salah seorang perawatpun menyerahkan catatan medis kearah Profesor Damian. "Nama pasien adalah Hanna Wijaya, usia 18 tahun dia dibawa ke rumah sakit setelah ditemukan pingsan kemarin malam di rumahnya dan pasien juga menunjukan tanda-tanda kejang." Jelas Perawat itu kearah Profesor Damian. Merasa lelah akhirnya remaja bernama Hanna itu mulai tenang karena kehabisan energi dengan segera Alex membaringkannya di tempat tidur "Aku ingin pulang, aku tidak sakit Dokter." Ucap remaja itu seraya menatap lirih kearah Profesor Damian. "Bagaimana hasil diagnosanya?" Tanya Profesor Damian lagi kearah perawat yang saat itu memegangi catatan medis yang lain dari Hanna "Tidak ada yang janggal dan aneh pada hasil pemeriksaan CT Scan dan MRInya, di catatan medis ini pasien hanya di diagnosa keracunan makanan saja." Jelas perawat yang memegang catatan medis Hanna "Kalau begitu dimana dokter yang menangani pasien ini? Kenapa dia tidak ada disaat pasiennya membuat keributan seperti ini?" Tanya Profesor Damian "Aku disini Profesor Damian." Suara seorang lelaki menyerobot dari arah belakang, seorang lelaki berkaca mata memasuki ruangan "Maaf, tadi aku harus menemui pasien gawat lainnya. Dan untuk pasien Hanna ini aku sudah memperbolehkannya pulang Profesor karena tidak adanya tanda-tanda serius dari hasil pemeriksaan." Ucap Dokter berkaca mata itu mendengar ucapan sang Dokter berkaca mata Alex langsung tersenyum lalu berbisik kearah Hanna "Berhentilah membuat keributan kau sudah boleh pulang kau hanya tinggal menunggu di jemput saja." Mendengar bisikan Alex remaja itu langsung bernafas lega. Merasa masalah sudah teratasi dan Hanna juga sudah tenang, Profesor Damian dan yang lainnya termaksud Dokter berkaca mata berlalu meninggalkan ruangan diikuti oleh Alex yang mengekor di belakang, namun langkah Alex terhenti ia berbalik merasa berat meninggalkan Hanna karena wajah anak itu terlihat sangat pucat. Alex kembali menghampiri tempat tidur Hanna lalu memeriksa suhu tubuh Hanna dengan cepat Hanna menepis tangan Alex lalu bangkit dalam posisi terduduk diatas tempat tidur. "Berhentilah memeriksaku, aku baik-baik saja, pergi sana ikuti rekanmu yang lain." Ucap Hanna tanpa sopan "Biarkan aku pulang sekarang, aku sama sekali tidak sakit." Ucap Hanna lagi "Kau memang sudah boleh pulang, tapi tunggu orang tuamu datang menjemputmu dulu." Balas Alex "Aku bisa pulang sendiri tidak perlu merepotkan orang tuaku, mereka juga tidak akan perna bisa menjemputku karena terlalu sibuk mengurus bisnis mereka. Jadi kalau aku bisa pulang sendiri kenapa harus menunggu mereka." Merasa kesal dengan nada bicara Hanna, Alex reflek menjitak pelan, sangat pelan kepala dari Hanna. "Apa seperti ini caramu berbicara pada orang yang lebih tua." Ucap Alex kembali menjitak pelan kepala Hanna mendapatkan 2 jitakan pelan dari Alex, Hanna langsung terdiam memegangi kepalanya sesekali ia juga akan terbatuk cukup kencang dan terus menerus. Alex tersenyum melihat tingkah Hanna ia berpikir Hanna hanya berpura-pura sebelum kemudian mata Alex terbelalak saat Hanna muntah, reflek tangan Alex langsung menengadah menampung muntahan Hanna sesekali Alex bahkan berteriak memanggil perawat yang bertanggung jawab. "Dasar jahat, kenapa memukul kepalaku." Ucap Hanna dengan nada merengek setelah selsai mengatasi muntahnya mendengar ucapan Hanna, mata Alex langsung terbelalak kemudian berlari meninggalkan Hanna begitu seorang perawat datang memeriksa kondisi Hanna. Di loby Alex masih mendapati Profesor Damian, Dokter berkaca mata yang bertanggung jawab pada Hanna dan 2 orang rekan KOASnya beserta beberapa perawat lainnya. Alex memberhentikan langkahnya dengan nafas tersengal-sengal tepat di depan Profesor Damian dan Dokter berkaca mata. "Ku rasa kita harus melakukan pemeriksaan ulang terhadap pasien bernama Hanna," ucap Alex mencuri perhatian semua orang termaksud Dokter bercaka mata yang sangat tak terima dengan ucapan Alex. "Apa maksudmu pemeriksaan ulang? Apa kau meragukan diagnosaku?" Bentak Dokter berkaca mata itu Alex tak menatap Dokter berkaca mata itu pandangannya hanya fokus pada Profesor Damian. "Kenapa kau meminta Hanna untuk di periksa ulang?" Tanya Profesor Damian "Itu karena kemungkinan Hanna mengidap aneurisma otak." Jawab Alex dengan pandangan yakin "Waaah!..." erang Dokter berkaca mata kesal "Jadi menurutmu aku salah mendiagnosa pasien?" Ucap Dokter berkaca mata itu "Berani sekali anak KOAS seperti mu menilai diagnosa Dokter sepertiku salah. Asal kau tahu aku sudah 2 tahun menjadi dokter dan diagnosaku selama ini tidak perna salah." Ucap Dokter berkaca mata itu geram. "Atas dasar apa kau mengatakan Hanna kemungkinan mengidap aneurisma otak?" Tanya Profesor Damian "Tadi pasien mengalami batuk yang mungkin diakibatkan karena infeksi saluran nafas atas sebelumnya, selain itu Hanna juga menunjukan gejala sakit kepala sejak dia batuk-batuk hebat. Batuk yang cukup hebat itu bisa menyebabkan terjadinya peningkatan darah ke otak hingga menyebabkan pecahnya aneurisma otak." Jelas Alex dengan wajah yakinnya. "Bisa jadi batuk dan muntah serta sakit kepala yang dialami pasie itu akibat gejala keracunan makanan." Sanggah Dokter berkaca mata pada diagnosa yang dipaparkan Alex "Baiklah, jika memang benar diagnosamu Hanna mengalami Aneurisma otak lalu bagaimana cara kau menjelaskan hasil CT Scan dan MRI Hanna yang tidak menunjukan adanya gejala Aneurisma otak?" Tanya Dokter berkaca mata itu berusaha memojokan Alex. Alex terdiam sejenak apa yang dikatakan Dokter berkaca mata itu benar namun beberapa saat kemudian Alex tersenyum lalu menatap Dokter berkaca mata itu "Mungkin saja saat pemeriksaan awal belum terjadinya pendarahan yang banyak pada otak, dan juga hormon juga dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan." Jawab Alex "Jika Hanna di temukan pingsan seharusnya saat itu ia sudah mengalami Aneurisma otak, dan lagi Hanna mengatakan bahwa ia mengalami pusing dan mual sejak memakan makanan kurang higenis di sekolahannya." Ucap Dokter berkaca mata itu "Kenapa anda mempercayai Hanna, bisa saja Hanna berbohong karena tak ingin membuat orang tuanya khawatir dan repot." Balas Alex "Dalam keadaan yang sangat sakit seseorang bisa saja berbohong di mulut tapi tidak dengan gejalanya." "Tapi ada sebagian orang yang dapat menahan rasa sakit hanya untuk menunjukan dia baik-baik saja dan menekan gejala awal." Balas Alex "Apa salahnya melakukan pemeriksaan ulang, apa anda merasa terhina ketika menuruti permintaan seorang KOAS sepertiku?" Tanya Alex membuat Dokter berkaca mata itu emosi dan hampir kehilangan kendali jika saja suara Profesor Damian tidak terdengar melerai perdebatan mereka. "Hentikan perdebatan kalian, ini bukan ruang persidangan. Dan untuk kau Alex, aku lebih mempercayai diagnosa awal dari pada diagnosamu, sekarang kembalilah ke posisi kalian masing-masing." Ucap Profesor Damian membuat semua orang langsung berjalan meninggalkan Alex seorang diri. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD