Sore harinya Alex hanya diam memandang Hanna yang kini berjalan keluar rumah sakit setelah di jemput meski bukan oleh kedua orang tuanya, wajah Hanna terlihat tersenyum ceria meski rona pucat belum hilang.
Sementara itu berita Alex yang menentang diagnosa seorang dokter mulai menyebar luas di rumah sakit membuat Alex langsung dikucilkan.
"Oh jadi dia KOAS yang sok tau itu," setidaknya itulah ucapan para perawat dan dokter saat berpapasan dengannya.
"Baru hari pertama tapi udah dapat masalah." Pikir Alex lalu melenggang pergi meninggalkan rumah sakit karena sudah waktunya ia pulang, wajah Alex saat itu sangat sedih ia merasa kecewa andai ia dapat mengulang waktu maka mungkin ia tidak akan mengajak dokter berkaca mata itu berdebat tadi pagi.
***
Malam harinya tepatnya jam 8 malam sebuah ambulance berhenti di depan rumah sakit saat membuka pintu terlihat Hanna telah terbaring diatas tempat tidur dalam keadaan mulut mengeluarkan muntahan dan nyaris kehilangan kesadarannya.
"Apa yang terjadi?" Tanya salah seorang perawat pada salah satu staff ambulance
"Dia mengalami muntah dan kehilangan kesadaran, menurut informasi dia adalah pasien yang baru saja diizinkan keluar sore ini oleh rumah sakit kalian." Jawab staff ambulance itu seraya mendorong tempat tidur troli memasuki area rumah sakit.
Proferos Damian yang saat itu sedang beberes akan pulang langsung menatap kearah pintu setelah mendengar suara ketukan pintu.
"Profesor Damian?" Panggil perawat itu panik
"Ada apa?" Tanya Profesor Damian
"Pasien bernama Hanna sekarang berada di ruangan gawat darurat setelah mengalami stupor." Jawab perawat itu "Dan lagi salah satu Dokter yang bertugas di unit gawat darurat telah melakukan pemeriksaan ulang terhadap Hanna dan dari hasil pemeriksaan ulang itu ditemukan adanya aneurisma otak yang robek." Jelas perawat itu membuat mata Profesor Damian terbelalak
"Dari hasil ronsen otak Hanna tadi tampak adanya pendarahan." Lanjut perawat itu membuat Profesor Damian menghela nafas berat
"Lalu dimana Dokter yang bertanggung jawab atas Hanna?" Tanya Profesor Damian yang saat itu melepas jas berwarna hitam dan dasinya lalu kembali mengenakan jas putihnya
"Saat ini Dokter Nich tidak bisa dihubungi, karena memang Dokter Nich sudah bebas tugas dari jam 6 sore." Jawab perawat itu mengarah pada Dokter berkaca mata teman Alex berdebat tadi pagi
"Kalau begitu biar aku yang ambil alih, untuk saat ini gunakan Manitol untuk menurunkan tekanan dalam kepala." Ucap Profesor Damian "Lalu berikan suntikan anti muntah dan anti konvulsi pada pasien." Lanjut Profesor Damian membuat perawat itu bergegas menuju ruangan gawat darurat.
Sementara Profesor Damian menyusul 2 menit kemudian setelah selsai bersiap-siap, sebelum menuju ruangan gawat darurat Profesor Damian menghampiri bagian informasih terlebih dahulu.
"Bisakah kau menelpon KOAS yang bernama Alex?" Tanya Profesor Damian pada salah satu staff yang ada di bagian informasi
"KOAS Alex, maksud anda KOAS yang berdebat dengan Dokter Nick?" Tanya staff bagian informasi itu
"Iya, minta padanya untuk datang ke rumah sakit karena aku ingin meminta maaf setelah tidak mempercayai diagnosanya."
"Baik, Prof." Jawab bagian staff informasi itu seraya mengambil ganggang telpon untuk menelpon Alex sementara Profesor Damian segera pergi ke bagian gawat darurat.
Di sisi lain, Alex yang saat itu terduduk sambil membaca buku tersentak kaget saat ponselnya berbunyi 'bagian informasi' nama yang tertera di layar ponsel lipatnya.
"Aah.. apa aku akan mendapat kabar akan diberhentikan?" Pikir Alex lalu dengan berat meraih ponselnya kemudian menjawab panggilan telpon itu.
"Iya hallo?" Ucap Alex
"Pak Alex, anda diminta Profesor Damian untuk datang ke rumah sakit." Ucap Staf bagian informasi itu
"Kenapa Profesor memintaku datang ke rumah sakit?" Tanya Alex penasaran
"Ah untuk itu Profesor sendiri yang akan memberitahukannya pada anda." Jawab bagian staff informasi itu sebelum panggilan telpon berakhir sementara Alex dengan terburu meninggalkan rumahnya menuju rumah sakit.
***
Di perjalanan menuju rumah sakit tiba-tiba ponsel Alex berdering pertanda ada panggilan yang masuk, Alex tersenyum melihat nama yang tertara di layar ponselnya bertuliskan 'My Love'
"Hallo?" Jawab Alex dengan senyum sumringahnya namun senyum Alex segera hilang ketika mendengar suara tangisan dari arah seberang telpon.
"Leana ada apa?" Tanya Alex panik pada gadis yang dicintainnya itu.
"Tolong aku, Alex... ku mohon tolong aku." Ucap gadis bernama Leana itu dengan nada panik membuat Alex terbelalak dengan wajah khawatir
"Ada apa Leana, ceritakan dan berhentilah menangis." Ucap Alex risau.
"Aku terlibat masalah besar, jika Papaku tahu maka aku pasti akan di bunuhnya." Ucap Leana diselah-selah isak tangisnya
"Ku mohon tolong aku, Alex." Rengek Leana membuat hati Alex sakit mendengarnya. Alex tidak bisa mendengar suara rengekan gadis yang telah dipacarinya selama 3 tahun itu.
"Bisakah kau menjelaskan apa yang terjadi?" Tanya Alex
"DATANGLAH SEKARANG KE APARTEMENKU!" Bentak Leana dengan suara bergetar karena tangis "Akan ku jelaskan nanti," lanjut Leana membuat Alex meminta supir taksi yang di tumpanginya untuk memutar haluan yang tadinya menuju ke rumah sakit langsung balik arah menuju apartemen gadis bernama Leana Scottler itu.
Tak beberapa lama, Alex tiba dikawasan apartemen elit ia bergegas menuju apartemen Leana, tiba di apartemen nomor 32 Alex terkejut karena begitu banyak polisi berdiri di dalam apartemen.
Alex memasuki apartemen dan mendapati Leana telah dalam keadaan lemas tangannya diborgol "Apa yang terjadi?" Tanya Alex pada salah seorang polisi
"Kami mendapat laporan bahwa penghuni apartemen 32 adalah pengguna nark*ba, dan kamipun langsung menggerebek apartemen ini, ini surat izin penggerebekan dan surat perintah kami." Polisi itu menyerahkan secarik kertas kearah Alex
"Dan kami menemukan ini di dalam laci ruang tamu apartemen ini." Ucap polisi itu lagi seraya mengangkat bungkus kecil yang terdapat bubuk putih.
Alex segera menatap Leana "bukankah kau mengatakan sudah berhenti menggunakan obat terlarang itu?" Tanya Alex seraya berbisik
"Maafkan aku, Alex. Tolong selamatkan aku, Papa bisa membunuhku jika dia tahu." Rengek Leana dengan tubuh lemasnya memohon belas kasih pada Alex
Alex menghela nafas panjang nan lelah lalu ia menghampiri polisi dan berkata "Obat terlarang itu milikku, Pak. Pacarku tidak ada sangkut pautnya dengan obat itu, kemarin aku datang berkunjung dan lupa membawa obatku." Jawab Alex seraya menyodorkan tangannya untuk di borgol
"Apa anda yakin?" Tanya polisi itu
"Aku sangat yakin, aku pemilik obat itu anda bisa cek rekaman CCTV untuk membuktikan bahwa aku benar datang ke apartemen kemarin." Jelas Alex membuat polisi itu langsung memborgol tangan Alex
"Tapi kami tetap harus membawa saudari Leana ke kantor polisi untuk mengambil keterangannya." Ucap polisi itu membuat Leana kalang kabut
"Kenapa saya juga di bawa Pak, jelas-jelas pacar saya mengakui itu barangnya bukan milikku." Ucap Leana sedikit berteriak
"Kami tahu, Nona. Kami hanya ingin anda ikut ke kantor polisi karena ingin mengambil keterangan anda saja sebagai saksi." Jelas polisi itu
Leana segera menatap Alex, Alex mengerjapkan matanya berusaha memberi kode agar Leana ikut selebihnya dia yang akan bertanggung jawab, setelah mendapat kode dari Alex, Leanapun menurut untuk ikut ke kantor polisi.
Bersambung..