Setelah tiba di kantor polisi, Alex di cercah puluhan pertanyaan mulai dari berapa lama dia memakai obat terlarang itu sampai pada siapa dia membeli obat terlarang itu, Alex menjawab semua pertanyaan polisi dengan lancar dia mengetahui semua jawaban dari pertanyaan yang diberikan polisi itu karena Leana perna menceritakannya mulai dari awal mula ia memakai barang haram tersebut sampai pada siapa dia membeli dan seperti apa tehnik pembeliannya, jadi cerita yang dipaparkan Leana pada Alex, Alex gunakan sebagai jawaban pada polisi.
Sementara itu di ruangan yang lain beberapa pertannyaan diajukan pada Leana dan Leana hanya menjawab tidak tahu apa-apa sembari menangis, gadis itu hanya menekan pada polisi bahwa Alex lah yang menggunakan benda haram itu bukanlah dirinya.
Setelah beberapa proses introgasi, polisi akhirnya menetapkan Alex sebagai tersangka dan membebaskan Leana.
Sebelum pulang polisi mengizinkan Leana menemui Alex. Leana menatap Alex nanar, lelaki tampan itu kini terkurung dalam keadaan lesu di balik jeruji besi.
"Maafkan aku Alex," gumam Leana lirih
"Kenapa minta maaf? Berhenti minta maaf Leana jika tidak polisi akan curiga." Ucap Alex seraya menujulurkan tanganya di sela jeruji besi guna menghampus air mata Leana. Cinta Alex yang begitu besar untuk Leana telah membuatnya buta dan bodoh hingga rela menggantikan posisi Leana sebagai pemilik nark*ba.
"Aku akan menebus semua dosa dan perbuatanku padamu, aku akan mengunjungimu setiap hari. Aku janji," ucap Leana berkali-kali sembari terisak
"Aku tahu, selama melihatmu baik-baik saja itu sudah cukup bagiku. Sekarang kau pulanglah." Ucap Alex kemudian Leanapun berlalu pergi bahkan tanpa menoleh sedikitpun.
Keesokan paginya, kabar Alex tertangkap karena menggunakan nark*ba mulai menyebar kesemua kalangan termaksud universitasnya karena berita itu Alexpun di keluarkan dari fakultasnya yang membuatnya gagal menjadi dokter.
Seorang polisi datang menghampiri sel tahanan dari Alex, wajah polisi itu terlihat tertekan untuk memberi kabar pada Alex.
"Ada apa Pak?" Tanya Alex
Polisi tak menjawab ia hanya berdiri membuka pintu sel lalu meminta Alex untuk mengikutinya, Alex hanya pasra mengikuti arahan polisi hingga dia tiba di parkiran dan menaiki mobil kepolisian.
Alex masih duduk dengan tenang dan bingung "Kita mau kemana Pak?" Tanya Alex namun 2 orang polisi yang ada dalam mobil tak ada satupun yang menjawab Alex.
"Kenapa tanganku tidak di borgol Pak?" Tanya Alex lagi kedua polisi itu lagi-lagi tak menjawab hingga beberapa saat di perjalanan Alex menyadari bahwa jalanan yang di laluinya saat ini adalah jalanan menuju rumahnya.
Tak beberapa lama Alex tiba di kompleks rumahnya, mobil polisi berhenti tepat di depan komples karena gang terlalu sempit dan mobil tidak bisa melewati gang itu jadi mau tak mau Alex beserta dua polisi itu berjalan menyusuri gang hingga mata Alex tertuju pada suasana rumahnya yang begitu ramai.
"Apa yang terjadi?" Tanya Alex namun polisi hanya menatap Alex dan berkata dengan lembut "Masuklah, untuk hari ini kami hanya akan mengawalmu."
Alex berjalan masuk dengan langkah pelan dan segudang pertanyaan di kepalanya, melihat sosok Alex para tetangga yang mengerumuni rumah Alex mulai berbisik yang bahkan Alex sendiri tidak tahu apa yang mereka sedang bisikan namun sorot mata mereka sudah dapat menjelaskan bahwa mereka merasa kecewa pada Alex.
Tiba di dalam rumah tubuh Alex langsung tumbang melihat 2 peti di dalam rumahnya.
"Hendry?" Panggil Alex pada lelaki yang terduduk di samping peti jenaza itu.
"Apa yang terjadi? Kenapa ada peti jenaza di dalam rumahku?" Tanya Alex dengan suara bergetar.
"Hendry jawab aku!" Bentak Alex
"Om dan Tante mengalami kecelakaan saat hendak menghampirimu ke kantor polisi, nampaknya Om yang begitu kaget mendengar berita kau masuk penjara karena menggunakan obat-obatan terlarang, kurang fokus membawa mobilnya hingga terjadilah kecelakaan tunggal, mobil Om menabrak pembatas jembata dan.." ucapan Hendry terhenti melihat Alex langsung terjatuh lemas disamping kedua peti orang tuanya, Alex menangis cintanya pada Leana membuatnya tidak bisa berpikir jerni dan memikirkan kedua orang tuanya hingga ia menerima dengan lapang d**a mengakui bahwa obat terlarang itu miliknya.
Alex meraung menangis sejadi-jadinya, tangisan penyesalan dan kesedihan bercampur jadi satu saat ia melihat kedua orang tuanya telah terbujur kaku, andai dapat ia mengulang waktu ia ingin memutarnya sekarang juga.
"Alex!" Panggil Hendry sembari memegang bahu lelaki itu "Apa yang terjadi? Kau tidak mungkin menggunakan obatan terlarang, aku tahu dirimu. Apa jangan-jangan obat itu milik Lea..." Ucapan Hendry terhenti saat Alex menggelengkan pelan kepalanya.
Alex tersentak saat ia sadar, ia tak melihat Helen, adik perempuan Alex dimanapun dari tadi.
"Dimana Helen?" Tanya Alex
"Helen masih berada di rumah sakit karena koma, karena semalam Om, Tante dan Helen pergi bertiga." Lagi-lagi Alex harus menerima kenyataan pahit dalam 1 hari.
Perbincangan Alex dan Hendry terhenti saat salah satu polisi menghampiri mereka "Maaf mengganggu, jika boleh tau jam berapa pemakamannya akan dilaksanakan. Karena kami tidak bisa berlama-lama disini." Ucap polisi itu
"2 jam lagi Pak," jawab Hendry karena ialah yang mengurus semuanya menggantikan Alex.
"Lalu sampai berapa lama kau akan di penjara?" Tanya Hendry membuat Alex menggeleng
"Aku tidak tahu karena belum menjalani persidangan, tapi ku pikir 3 atau 2 tahun atau mungkin 1,5 tahun mengingat ini adalah kasus pertamaku jadi ku pikir ada pengurangan." Jawab Alex
"Kau ingin ku sewakan pengacara?" Tanya Hendry "Setidaknya pengacara akan membelamu dan dapat meringankan hukumanmu, mungkin saja kau dapat mengajukan rehab alih-alih masuk penjara. Bagimana?"
"Terserah padamu saja, Hendry." Jawab Alex dengan nada lemah
"Lihatlah, gadis yang kau lindungi yaitu Leana, dia bahkan tidak datang kemari padahal aku sudah memberitahunya bahwa Om dan Tante telah berpulang karena mengalami kecelakaan." Ucap Hendry.
"Mungkin dia belum membaca pesanmu, Hendry." Ucap Alex
"Dia membacanya, pesan yang ku kirim sudah dibaca." Balas Hendry.
"Boleh aku meminjam ponselmu, Hendry?" Tanya Alex dengan cepat Hendry menyerahkan ponsel lipatnya dan Alex segera mencari nomor telpon Leana setelah ponsel itu tersambung Alex segera menepi ke pojok ruangan mencari posisi yang cukup sepih untuk berbincang dengan Leana.
Alex tersentak saat panggilan telponnya dirijec oleh Leana, saat itu Alex masih berpikir positif lalu ia kembali menelpon Leana dan lagi telponnya di rijec, 6 kali Alex menelponnya dan 6 kali pula Leana menolak panggilan itu bukannya berpikir negatif terhadap Leana, Alex justru khawatir takut Leana mengalami masalah saat ini, yeah cinta telah membuat Alex buta hingga ia tidak bisa melihat kelakuan buruk dari kekasihnya itu yang jelas-jelas telah membuangnya begitu saja.
"Alex?" Panggil Hendry mencuri perhatian Alex
"Sudah waktunya kita ke pemakaman menghantar OM dan Tante." Ucap Hendry dan Alexpun mengangguk lalu berjalan menghampiri Hendry yang saat itu berdiri tepat di antara kedua peti orang tuannya.
Bersambung