Dalam mobil, Xhavier yang sedang menyetir sesekali akan menatap kearah Nhosa yang ada di sampingnya hanya sekedar mengamati dan memantau kondisi gadis itu.
Nhosa masih terdiam, meski sudah tak terlihat linglung dan tubuhnya sudah tak gemetar lagi namun Nhosa masih larut dalam diamnya, sebelum gadis itu menghembuskan nafas berat lalu berkata "Antarkan aku ke rumah Alex, Xhavier."
"Baik Nona," balas Xhavier dan mulai mengikuti rute menuju kediaman milik Alex.
Tiga puluh menit menyetir, akhirnya Xhavier dan Nhosa tiba di kediaman Alex. Nampaknya Alex belum kembali ke rumahnya karena Xhavier dan Nhosa tidak melihat mobil yang biasa Alex gunakan terparkir di kediaman Alex.
Nhosa keluar dari dalam mobil seraya menatap Xhavier lalu berkata "Pulanglah, tak perlu menungguku. Alex yang akan mengantarku pulang nanti."
"Baiklah Nona," Xhavier lagi-lagi mengiyakan semua ucapan Nhosa.
Xhavier mengemudikan mobilnya untuk meninggalkan kediaman Alex, tapi satu yang Nhosa tidak ketahui saat Xhavier mengemudikan mobilnya untuk pergi nampaknya itu hanya kepura-puraan Xhavier saja, lelaki itu mengambil haluan untuk memutar sebelum memberhentikan mobilnya cukup jauh dari kediaman Alex namun ia masih dapat melihat dan memantau Nhosa dari tempatnya berada.
Xhavier dapat melihat Nhosa yang terduduk di trotoar jalan depan rumah Alex seperti orang bodoh.
"Kenapa tidak memencet bel dan menunggu di dalam." Gumam Xhavier khawatir melihat kondisi Nhosa yang seperti itu.
Hampir 10 menit menunggu, mobil Alexpun terlihat memasuki kawasan kompleks kediamannya. Alex terbelalak melihat Nhosa duduk di samping trotoar jalan rumahnya, dengan cepat Alex memberhentikan mobilnya lalu keluar dari dalam mobil itu untuk berjalan memasuki rumahnya. Sebenarnya Alex tak ingin bertemu Nhosa saat ini, mengingat apa yang telah dilakukannya pada Nhosa, Alex sangat menyesal tapi ia tidak memiliki pilihan lain, rasa bencinya pada Leana telah membutakan hatinya.
Alex berjalan dan hendak membuka jasnya untuk diberikan pada Nhosa, namun gerakan Alex terhenti, ia berpikir tidak baik jika harus berbuat baik pada Nhosa tindakan itu akan membuat Nhosa semakin susah lepas darinya. Alih-alih memberikan jasnya, Alex justru bersikap acuh pada Nhosa dan sengaja melewati gadis itu begitu saja. Tepat saat Alex hendak membuka pintu gerbang gerakan tangan Alex terhenti karena Nhosa mencekalnya.
Dengan kepala tertunduk dan tangan yang menggenggam erat pergelangan tangan Alex, Nhosa berkata dengan nada yang lemah "Beritahu aku, alasannya? Kenapa kau melakukan itu?" Nhosa menghentikan ucapannya sejenak untuk mengatur nafas karena nyaris saja gadis itu menangis "Aku yakin kau melihatku saat di kamar hotel tadi." Lanjut Nhosa dan Alex masih tetap diam.
"Sekali saja, tolong bersikap jujur padaku dari sekian banyak masalah yang kita lewati selama ini hingga sejauh ini, pernakah kau mencintaiku? Aku hanya ingin tahu itu, terlepas apa hubunganmu dan Kakak ku Leana aku tidak perduli, yang ingin ku tahu sekarang apakah kau mencintaiku?" Nhosa mengucapkan setiap kalimatnya dengan terbatah-batah.
Alex melirik Nhosa dengan ekor matanya, melihat Nhosa begitu terpuruk membuat hatinya hancur namun Alex tidak bisa berhenti, semua rencana yang disusunnya akan berantakan jika ia goyah akan cintanya pada Nhosa, alih-alih mengakui perasaanya Alex memilih untuk berbohong dan menutupi rasa cintanya untuk Nhosa.
"Aku tidak perna mencintaimu, Nhosa. Bagiku kau hanya bidak catur yang ku gunakan untuk menghancurkan Kakakmu Leana." Mendengar ucapan Alex yang dingin Nhosa langsung terjatuh lemas namun ia masih tetap menahan tangisannya.
"Apapun keputusanmu masalah pernikahan, aku akan ikuti semua pilihanmu, jika kau ingin melanjutkan pernikahan kita akan ku lakukan jika kau ingin mengakhiri pernikahan kita makan aku akan pergi." Ucap Alex sebelum melangkah masuk ke dalam kediamanya menutup pintu gerbang tepat di depan Nhosa.
Setelah berlaku dingin dan mengeluarkan kata-kata yang menusuk hati Nhosa, Alexpun langsung jatuh lemas disisi gerbang, lelaki itu menangis tanpa suara. Sementara itu diluar gerbang, Nhosa berdiri lalu mulai menggedor pintu gerbang sembari berteriak "pikirkanlah sekali lagi Alex, ingatlah masa-masa saat kita bersama selama ini, sebelum kita memutuskan untuk menikah dan melewati masa-masa sulit saat kita meyakinkan orang tuaku tentang hubungan kita, sebelum kita mendapatkan restu dari kedua orang tuaku, benarkah tidak ada rasa cinta untukku sedikitpun dihatimu, tolong pikirkan dan ingat-ingat lagi Alex." Nhosa berteriak mengeluarkan semua yang ada di hatinya berharap Alex akan membuka pintu dan memeluknya lalu mengatakan bahwa Alex mencintainya, namun itu hanya harapan Nhosa saja nyatanya hingga akhir Alex tak keluar untuk menemui Nhosa saat itu, lelaki bernama Alex lebih memilih diam menangis tanpa suara meski sebenarnya ia sangat ingin memeluk Nhosa dan melupakan semua dendamnya pada Leana.
"Alex... buka pintunya mari kita bicara sebentar. Alex... Alex..." Nhosa berteriak dengan suara lirihnya namun Alex tetap tak membuka pintu.
Xhavier yang berada dalam mobil bergegas keluar dari mobilnya lalu menghampiri Nhosa.
"Apa yang Nona lakukan?" Wajah Xhavier begitu marah melihat Nhosa yang seakan mengemis cinta pada Alex.
"Xhavier," gumam Nhosa menatap nanar kearah pengawal sekaligus sekretaris pribadinya itu.
"Ayo berdiri, dan kita pulang." Ajak Xhavier pada Nhosa yang masih memegang pintu gerbang kediaman Alex sembari terduduk.
"Tunggu sebentar Xhavier, Alex dia bersikap aneh tidak seperti biasanya dia seperti ini."
"BANGUN NONA!!.." Teriak Xhavier lepas kendali namun Nhosa masih kukuh duduk dan bergelayutan di pintu gerbang milik Alex.
Xhavier kehilangan kesabaran, lalu berjongkok memapah tubuh Nhosa agar berdiri kemudian membimbing gadis itu berjalan meninggalkan kediaman Alex.
Baru beberapa langkah Nhosa terjatuh, kakinya lemas seakan tak ada tenaga, tanpa pikir panjang Xhavier duduk berjongkok dihadapan Nhosa meraih tangan gadis itu, saat tubuh Nhosa menempel di punggungnya Xhavier lalu berdiri menggendong Nhosa di belakangnya dan segera berjalan menuju mobil mereka yang terparkir cukup jauh dari kediaman Alex.
Sementara di dalam kediamanya Alex menangis sembari bergumam "Maafkan aku Nhosa, Maafkan aku."
***
Tiba di kediamannya yaitu kediaman Scottler, Nhosa telah ditunggu dan disambut oleh Leana.
Melihat wajah Leana membuat Nhosa geram namun ia berusaha menahan emosinya.
"Ada yang ingin ku bicarakan." Ucap Leana memberhentikan langkah Nhosa yang nyaris saja masuk ke dalam kamarnya.
"Besok saja, saat ini aku tidak memiliki mood untuk berbincang denganmu Leana." Tolak Nhosa
"Ini penting, ini menyangkut masalah pernikahanmu dengan Alex." Mendengar itu Nhosa memberhentikan gerakan tangannya yang hampir saja memutar knop pintu.
"Aku tahu, tapi mari kita bicara besok saja, saat ini aku sangat lelah." Nhosa masih berusaha menolak tanpa menatap lawan bicaranya.
"Batalkan pernikahanmu dengan Alex," nada suara Leana terdengar bukan seperti seseorang yang meminta namun terdengar seperti orang yang memberikan perintah.
Mendengar ucapan Leana, Nhosa langsung tersenyum tipis dengan segera ia membalikan tubuhnya menatap kearah Leana.
"Aku tidak akan perna membatalkan acara pernikahanku dengan Alex." Jawaban Nhosa membuat Leana terkejut dan kehabisan akal, dia juga tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada Nhosa tentang hubungannya dengan Alex dimasa lalu.
Bersambung!...