Simi mendengarkan dengan seksama obrolan antara Jayanti dan juga editornya itu, sesekali gadis itu menatap ke sekeliling kantor sambil tersenyum-senyum. Ia tersenyum karena mengingat kembali pertemuan tidak sengajanya tadi bersama dengan seorang CEO tampan, ia sudah bertekad dalam hatinya kalau ia akan mengejar cinta CEO tampan tersebut! Meskipun Simi belum pernah cinta yang benar-benar cinta sebelumnya, tetapi Simi yakin kalau apa yang dirasakannya saat ini adalah cinta. Terserah ia dianggap tidak tahu diri atau apa karena berniat mengejar cinta CEO yang tak terlalu ia kenal dan bahkan mereka baru bertemu satu kali itu. Simi yakin sekali kalau nantinya CEO tampan itu akan tertarik padanya yang imut-imut lucu ini.
Simi ingin sekali berkeliling tempat ini, tetapi sedari tadi Jayanti selalu melotot padanya ketika ia berniat berdiri dari duduknya. Simi cemberut karena Jayanti sama sekali tidak mau mengerti dirinya, katanya tadi Jayanti tidak ingin kalau nantinya suaminya direbut olehnya, tetapi giliran dirinya sudjs menemukan jodoh idamannya Jayanti malah melarangnya untuk mendapatkan hati jodohnya itu. Jayanti sungguh tega, sungguh kejam dan tak berperasaan padanya yang sedang dilanda cinta pandangan pertama. Jayanti tidak tahu saja kalau Simi saat ini sudah benar-benar tidak sabar untuk menyapa CEO yang ia belum tahu namanya itu. Karena ia tahu sifat Simi yang begitu nekat itu maka dari itu Jayanti harus bisa menjaga Simi dengan baik jika tidak mau ikutan malu dengan ulah Simi.
"Mbak, CEO perusahaan ini namanya siapa sih?" tanya Simi tiba-tiba membuat Mbak Dira—editor cerita Jayanti dan gadis itu sendiri menoleh ke arah Simi.
"Kenapa lo mau tahu? Lo naksir ya?" tanya Mbak Dira berniat menggoda Simi dan takjubnya Simi malah menganggukkan kepalanya.
"Iya, Mbak, dia ganteng banget. Bikin rahim gue anget aja," ujar Simi bertopang dagu sambil tersenyum sendiri.
"Sadar lo, Sim. Jangan ngelamun, gue nggak mau ya kalau sampai nanti lo kerasukan dan malu-maluin gue di sini." Seenaknya saja Jayanti memukul lengannya hingga lamunannya yang tengah memikirkan CEO tsmlam itu sirna.
"Apaan sih lo, Jaya!? Nyebelin banget. Gangguin gue yang lagi halu juga," decak Simi kesal.
"Nyesel gue nyuruh lo cari jodoh sendiri kalau ujungnya kayak gini," gumam Jayanti.
"Mbak, CEO di sini tuh orangnya kayak gimana? Apa dia baik? Kalau ganteng sih gue udah tahu, dia tuh ganteng banget sampai jantung gue berdebar-debar tadi. Ayo, Mbak! Jawab ...." pinta Simi tak sabar.
"Sabar ya, Simi, nanti Mbak ceritain deh setelah pembahasan naskah Jayanti selesai," ujar Mbak Dira.
"Yaah, sekarang aja, Mbak. Pembahasan ini tuh sangat penting bagi—"
"Lo kata naskah gue nggak penting dibahas gitu? Justru gue ajak lo ke sini karena gue sama Mbak Dira mau bahas naskah gue, Simi," celetuk Jayanti.
"Ya penting sih, tapi nggak lebih penting dari masa depan gue, Ti. Coba lo bayangin aja gimana—"
"Malas gue bayanginnya, Mbak ... ayo kita lanjut bahas naskah gue. Biarin aja tuh Simi ngehalu sendirian," potong Jayanti cepat.
"Lo tega banget sih sama gue?" Simi cemberut, Jayanti terlihat masa bódoh sedangkan Mbak Dira tertawa pelan melihat tingkah lucu Simi.
"Jadi lo mau desain layout yang kayak gimana?" tanya Mbak Dira pada Jayanti.
"Yang simpel aja sih, Mbak, cuma kalau bisa layout-nya tuh beda dari yang lainnya biar nggak sama kayak novel cetak punya orang lain," jawab Jayanti.
"Katanya mau yang simpel, kalo beda dari yang lain mah bikinnya pasti ribet," celetuk Simi.
"Diem lo, Sim, nggak gue kasih jatah jajan lagi lo kalau nyebelin." Simi langsung kicep mendengar ancaman Jayanti, kalau Jayanti menarik jatah jajannya bisa gawat. Kan selain Emak Meriam, Jayanti menjadi sumber penghasilan kedua bagi Simi. Bisa gawat kalau sampai Jayanti marah dan tak mau lagi memberinya uang saku, nanti ia tidak bisa top-up koin untuk membuka kunci novel kesukaannya lagi.
Simi menunggu dengan bosan sampai akhirnya pembicaraan Jayanti dan Mbak Dira selesai, ia tadi hampir ketiduran karena tak mau terlalu menyimak percakapan panjang itu. Namun, ketika akhirnya pembicaraan itu selesai, semangat Simi seakan kembali membara.
"Nah! Udah selesai 'kan pembahasan kalian. Kali ini gantian gue yang nanah sama Mbak Dira, lo diam aja nanti Anti," ujar Simi membuat Jayanti mendelik sedangkan Mbak Dira geleng-geleng kepala.
"Jadi, lo mau apa, Simi?" tanya Mbak Dira.
"Ih Mbak Dira, kok nanya lagi. Kan Mbak udah tahu tadi pertanyaan gue, gue males ah kalau harus sebut pertanyaan lagi. Mulut gue capek," ujar Simi.
"Heh, lo yang butuh harusnya lo yang tahu diri, Simi," tegur Jayanti.
"Apaan sih lo, Jaya? Mbak Dira aja nggak marah kok lo ngomel-ngomel sih? Dasar nyebelin."
"Udah, nggak apa-apa, Anti," ucap Mbak Dira melerai.
"Tuh, nggak apa-apa katanya." Jayanti hanya mencibir.
"Nama CEO di perusahaan itu Pak Remix Putra Alvaro, beliau merupakan CEO sekaligus pendiri perusahaan penerbitan dan platform novel online berbayar ini. Pak Re—"
"Namanya kok lucu gitu sih kayak remix jedag-jedug," celetuk Simi sebelum Mbak Dira selesai menjelaskan.
"Eh tapi dia tetap ganteng kok, nggak apa-apa namanya aneh. Nama gue juga aneh kok," ujar Simi.
"Sim, lo mau lanjut dengar apa ngomong sendiri?" tegur Jayanti.
"Ehem, maaf. Mbak Dira, ayo lanjut lagi," pinta Simi.
"Orang tuaPak Remix itu sebenarnya udah punya perusahaan besar yang cabangnya ada di mana-mana, tapi beliau maunya bangun perusahaan sendiri karena katanya beda gitu rasanya membangun perusahaan sendiri sama melanjutkan usaha yang sudah berjalan dengan baik. Karena Pak Remix katanya suka baca novel—"
"Wah, hobinya sama kayak gue, gue juga suka baca novel. Fiks, beneran jodoh ini." Lagi dan lagi Simi kembali memotong perkataan Mbak Dira.
"Simi," tegur Jayanti sambil melotot.
"Eh, maaf." Simi menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tak gatal sambil menyengir.
"Lanjut lagi ya, Mbak, jangan ngambek karena gue yang suka motong. Refleks ini, Mbak." Mbak Dira geleng-geleng kepala mendengarnya.
"Oke, Mbak lanjut lagi ya." Simi dan Jayanti mengangguk.
"Karena Pak Remix suka novel, makanya beliau membangun perusahaan ini. Karena katanya dia ingin agar penulis bisa memiliki wadah untuk menulis karyanya dan mendapatkan hasil dari menulisnya, makanya perusahaan ini sampai sekarang ada. Beruntung juga banyak investor yang tertarik sampai akhirnya perusahaan ini semakin berkembang," ujar Mbak Dira menyelesaikan ceritanya.
"Woah keren banget emang calon jodoh gue," komentar Simi.
"Eh, terus gimana sama dia, Mbak? Dia belum punya pacar 'kan? Pasti belum 'kan ya. Ah gue tahu itu." Simi memang aneh, dia yang bertanya dan dia pula yang menjawab pertanyaan itu.
"Sim, aneh lo! Lo nanya, lo juga yang jawab." Simi hanya memberengut.
"Biarin aja sih, lagian gue terlalu takut kalau nanti dia udah punya pacar."
"Belum kok, sampai sekarang nggak ada yang berani deketin dia. Eh ada deh, tapi ya gitu langsung dia tolak karena dia sama sekali nggak tertarik. Mulai dari yang profesinya sama kayak dia, dokter sampai model cantik semua dia tolak. Mbak juga nggak tahu tuh apa alasan dia nolak," ujar Mbak Dira membuat Jayanti dan Simi saling pandang.
"Jay, mereka semua yang wow aja dia tolak. Gimana gue yang pas-pasan ini nanti? Woah, jangan-jangan gue langsung ditendang sampai mental ke langit ke tujuh lagi," tutur Simi mendadak minder.
"Kan gue bilang apa, Jay, cita-cita punya suami CEO itu terlalu tinggi bagi gue. Emang paling benar gue itu jadi istri kedua lo aja, udah paling mudah itu." Jayanti bergidik, tak bisa membayangkan jika Simi menjadi madunya. Membayangkannya saja sudah membuat hatinya nyut-nyutan, tidak ... ini tidak bisa Jayanti biarkan. Pokoknya Simi harus merubah cita-citanya itu menjadi orang normal kebanyakan.
"Lo jangan nyerah gitu lah, Simi, lo harus semangat. Belum tentu juga 'kan dia nolak lo, makanya lo harus berusaha bikin dia cinta sama lo." Demi masa depannya yang cerah bersama calon jodoh agar tak diganggu gugat oleh Simi yang absurd bin nekat itu, Jayanti menyemangati Simi.
"Benar gue harus gitu?" Jayanti mengangguk mantap.
"Cinta itu butuh perjuangan dan usaha, ya 'kan, Mbak Dira?" Jayanti meminta persetujuan Mbak Dira.
"Ada benarnya apa yang Anti bilang, siapa tahu aja Simi sama Pak Remix berjodoh. Wah, Mbak nggak bisa bayangin kalau lo benar-benar berhasil bikin Pak Relix jatuh cinta, Sim, jangan lupa undang Mbak ya nanti."
"Beres, Mbak. Mbak tenang aja, Mbak nantinya jadi tamu spesial di pernikahan gue sama itu CEO tampan nantinya." Simi mengacungkan jari jempolnya.
"Eh tapi, lo harus hati-hati karena rumor yang beredar sih kalau Pak Remix itu nggak tertarik sama perempuan."
"Maksud Mbak ... dia gay?" Mbak Dira mengangguk, wanita berusia dua puluh tujuh tahun itu meminta dua gadis di hadapannya agar mendekatkan wajahnya ke arahnya supaya ia lebih mudah berbisik.
"Iya, itu baru katanya sih. Tapi bisa jadi iya, pria normal mana coba yang nolak cewek-cewek cantik yang dengan terang-terangan mau dekat dengan dia," bisik Mbak Dira.
"Mbak Dira, jangan nakutin gue kayak gini deh, Mbak. Bisa-bisa gue mundur nih kalau rumor yang beredar kayak gitu," ujar Simi.
"Itu 'kan cuma rumor aja, Sim, belum tentu benar. Makanya lo harus usaha dapatin cinta Pak Remix supaya rumor tentang dia itu bisa hilang," tutur Jayanti begitu bersemangat mendukung Simi karena jika Simi dan Remix berhasil membangun suatu hubungan, maka itu akan sangat membuatnya lega.
"Benar juga ya itu, ah gue nggak akan nyerah sebelum gue coba. Eh tapi, sifat dia tuh kayak gimana, Mbak? Apa dia itu dingin kayak sifat CEO yang kebanyakan gue baca di dunia perorenan?" tanya Simi.
"Nggak, dia malahan orangnya baik, ramah dan kelihatannya mudah bergaul sama orang. Cuma ya kalau misal ada sesuatu yang nggak dia suka, dia bisa ngomong secara halus tapi sangat menyakitkan jika didengar," jawab Mbak Dira membuat Simi semakin penasaran dan tertantang untuk menaklukkan CEO tampan itu.
"Kalau gitu gue minta nomor teleponnya dong, Mbak, gue mau ngehibur dia," pinta Simi.
"Nomor telepon siapa?"
"Ya Pak Remix, Mbak, masa iya nomornya satpam depan perusahaan ini. Ayo, gue minta dong, Mbak."
"Gue nggak punya, Sim, lagian pegawai biasa kayak gue gini mana ada nomor dia. Yang punya itu biasanya yang dekat sama dia aja atau kolega-koleganya," ujar Mbak Dira membuat Simi cemberut.
"Terus kalau gitu gimana gue mau jalanin rencana gue kalau gue nggak tahu nomornya." Simi merasa putus asa.
"Mbak emang nggak punya nomornya, tapi Mbak punya alamat email dia. Lo mau?" Simi langsung menatap Mbak Dira.
"Mau, Mbak. Nggak ada nomor, email pun jadilah. Yang penting gue bisa interaksi sama dia," ujar Simi penuh semangat.
"Sebentar ya, Mbak cek dulu di laptop Mbak. Nanti Mbak kirim ke nomor kamu." Simi mengangguk.
Simi sudah membayangkan bagaimana serunya ia akan berbalas email dengan CEO tampan pemilik perusahaan ini. Simi terlalu banyak berangan tanpa sadar kalau kenyataan itu tak seindah angannya.
Di tempat lain, seorang pria yang tahun ini usianya hampir menginjak kepala tiga itu tengah duduk di kursi kerjanya sambil membuka laptopnya. Ia tengah memeriksa laporan-laporan yang masuk melalui email nya, dia adalah Remix Putra Alvaro. Siapa yang tak mengenal Remix si CEO tampan tersebut? Dia adalah seorang CEO sekaligus pendiri platform novel online. Selain itu, namanya dikenal karena kejayaan ayahnya—Relix dalam membesarkan perusahaannya yang bergerak di bidang properti.
(Untuk kisah orang tuanya Remix a.k.a Relix dan Syafira bisa baca judul novel : My Perfectionist CEO ya)
Tok ... tok ... tok .....
"Masuk!" ujar Remix membuat wanita yang tak lain adalah sekretarisnya itu masuk sambil membawa secangkir kopi.
"Ini kopinya, Pak," ujar wanita bernama Rissa itu sambil tersenyum.
"Taruh saja di atas meja," balas Remix tanpa melihat ke arah Rissa.
"Baik, Pak." Rissa menaruh secangkir kopi itu di atas meja Remix, kemudian wanita itu memperhatikan Remix yang nampaknya sangat serius dengan pekerjaannya.
Remix yang merasa diperhatikan pun langsung mendongak hingga tatapannya bertemu dengan mata cantik Rissa yang sedang tersenyum.
"Ada perlu apalagi kamu di sini?" tanya Remix.
"T-tidak ada kok, Pak, kalau begitu saya permisi dulu." Rissa bergegas pergi dari ruangan Remix.
Remix hanya menggelengkan kepalanya, kemudian kembali sibuk dengan pekerjaannya. Sudah beberapa kali ini ia menangkap gelagat aneh dari Rissa, ia tahu kalau sekretaris cantiknya itu menaruh rasa padanya. Namun, Remix sama sekali tidak tertarik pada Rissa, bukan karena Rissa kurang cantik. Bahkan wanita itu sangat cantik, tetapi ada sesuatu hal yang membuatnya tak ingin dekat dengan wanita untuk beberapa tahun ke depan sampai sesuatu itu terselesaikan.
Sebuah notifikasi émail membuat Remix langsung membuka aplikasi tersebut, Remix mengernyit ketika melihat isi émail tersebut. Ada sebuah pesan dari pengirim yang bernama Similikityy12@gmàil.com. Remix yang penasaran pun membuka émail tersebut, ia mengernyit saat membaca pesan itu.
Pengirim : Similikityy12@gmàil.com
Isi pesan : Hallo CEO tampan, kenalin nama gue Similikiti, lo bisa panggil gue Simi. Semoga kita bisa segera bertemu ya calon jodoh gue.
Remix menahan tawanya, entah menertawakan isi email itu ataupun nama si pengirim. Remix menggelengkan kepalanya, pria itu memutuskan mengabaikan émail misterius itu karena mengira kalau itu pesan salah kirim ataupun émail yang sengaja untuk mengerjai ya.