"Sudah-sudah jangan bahas itu lagi lebih baik kita bahas yang lain saja. Oh ya, Airin kamu mulai hari senin sudah mulai bekerja di kantor ya. Bantu Papa mengurus urusan perusahaan. Papa selalu sibuk di luar bertemu klien," jawab Tuan Bramantyo yang mengatakan kalau dirinya diminta untuk datang karena dirinya sibuk di luar.
Padahal tadi ayahnya mengatakan tidak percaya dengan kemampuannya sekarang malah sebaliknya. Airin tidak banyak bicara dia menganggukkan kepala sekarang ini dia harus bersikap baik agar bisa dipercaya oleh ayahnya terutama jika ingin menghancurkan pelakor maka dia harus menarik perhatian dari ayahnya.
"Baiklah.Senin aku datang," jawab Airin.
Sejak hari itu Airin tidak lagi berdebat dengan Tuan Bramantyo. Dia mengatur strategi yang lebih baik lagi karena jika dia bersikeras dengan Tuan Bramantyo maka tuan Bramantyo tidak akan percaya dengannya.
Jika dia ingin menghancurkan si pelakor tersebut maka harus menarik lawan.
"Airin, kamu sarapan dulu nanti mama bawakan bekal. Kamu mau tidak mama bawakan bekal?" tanya Nyonya Marcella yang sudah kembali ke rumah.
"Iya, boleh aku bawa bekal saja," jawab Airin.
Airin makan dengan tenang bersama dengan kedua orang tuanya. Sesekali Airin melirik ke arah kedua orang tuanya yang tidak ada tegur sapa sama sekali.
Entah apa yang terjadi dengan keduanya. Airin berharap agar ibunya tidak tertekan dan jantungnya tidak kambuh.
"Airin, kamu mau pergi dengan papa atau bawa mobil sendiri ?" tanya Tuan Bramantyo.
"Aku bawa mobil sendiri saja sekalian hari ini aku ingin ke kampus melihat hasil ujian," jawab Airin seperti biasa dengan nada tenang.
"Baiklah kalau begitu. Papa tunggu kamu di kantor," awab Tuan Bramantyo yang segera pergi.
Perubahan sikap ayahnya tidak begitu membuatnya dia pedulikan. Airin pun pamitan dengan ibunya sebelum pergi. Setelah pamit barulah Airin masuk ke mobil dan melajukan mobil menuju ke kantor.
"Ini saatnya aku memainkan peranku. Tidak akan kubiarkan pelakor itu menguasai harta ibuku dan aku akan membuat pelakor tersebut mendapatkan balasannya. Begitu juga dengan Tuan Bramantyo," ucap Airin yang tersenyum.
Dia mendapatkan pesan dari anak buahnya kalau barang yang diminta oleh Airin untuk dikirim ke Kinanti sudah sampai di tangan Kinanti dan sekarang Kinanti memegang barang tersebut.
"Ini pasti kado dari Mas Bram. Dia sangat romantis sekali, bisa saja dia memberikan kado ini untukku nanti tapi dia malah kirim dari kurir. Aku makin cinta padamu Mas Bram. Nanti saja aku bukanya di depan dia, biar tambah romantis," jawab Kinanti yang mengirimkan pesan menanyakan di mana posisi dari tuan Bramantyo berada saat ini.
Setelah mendapatkan pesan kalau Tuan Bramantyo yang mengatakan dia sudah berada di kantor Kinanti tersenyum dan dia segera bersiap menuju ke ruangan Tuan Bramantyo. Sekretaris Tuan Bramantyo memandang tajam ke arah Kinanti yang masuk begitu saja padahal tidak ada Tuan Bramantyo di dalam.
Namun dia tidak bisa berkata apa-apa karena Tuan Bramantyo sudah mengatakan kalau Kinanti masuk ke dalam ruangannya tidak perlu dilarang. Ada atau tidaknya dia Kinanti tetap diizinkan masuk untuk itu sekretaris Tuan Bramantyo tidak memperdulikan kedatangan dari Kinanti.
"Hah, kapan aku jadi Nyonya Bramantyo. Aku sudah lelah sekali harus seperti ini. Aku harus bisa menikmati semuanya. Harta milik Mas Bramantyo harus bisa aku nikmati. Si penyakitan itu tidak pantas menikmati semuanya. Dia pantas mati. Marcella tidk tahu diri. Sudah penyakitan kenapa masih hidup sih, menyebalkan," omel Kinanti yang tidak suka jika Marcella masih hidup.
Di dalam ruangan Kinanti mulai merapikan perhiasannya dan kotak yang tadi dia dapatkan diletakkan di meja tidak lama Tuan Bramantyo datang dia langsung memeluk Kinanti. Selama istrinya sakit Tuan Bramantyo lebih banyak berada di dekat istrinya terlebih lagi mendengar percakapan dari Airin dan istrinya dia lebih memilih untuk tidak keluar dengan Kinanti.
Walaupun Kinanti terus merengek untuk bertemu tapi Tuan Bramantyo tidak menggubrisnya baru hari ini dia memeluk selingkuhannya tersebut dengan penuh rasa rindu.
"Kenapa baru datang sih, mas. Kamu tidak rindu aku. Kamu selalu aaja bersama si penyakitan itu. Aku ini wanitamu mas. Beberapa hari kamu tidak masuk bekerja apa Marcella memintamu untuk tidak masuk bekerja?" tanya Kinanti dengan raut wajah yang sendu. Dan dia terus memeluk Tuan Bramantyo dengan erat.
"Aku ingin menjaganya lagi pula kita tidak perlu terlalu sering bertemu takutnya Airin curiga. Begitu juga dengan Marcella sekarang ini kamu harus jaga diri Airin sudah masuk bekerja, Marcella mengizinkannya aku sudah mengancam Marcella. Tapi tetap saja Marcella keras kepala dan menginginkan anaknya masuk ke perusahaan ini."
"Aku tidak bisa berbuat apa-apa jadi aku mengizinkan dia untuk datang hari ini. Apa kamu bisa menjaga sikapmu Kinanti ?" tanya Tuan Bramantyo yang mengusap rambut Kinanti.
"Baiklah, aku ikut saja lagi pula kenapa anakmu itu bisa menginginkan bekerja di sini. Seperti tidak ada perusahaan lain menyebalkan. Aku yakin dia yang menghasut si Marcella itu."
"Apa jangan-jangan dia sudah tahu kalau kita berhubungan di belakang dia, Mas?" tanya Kinanti dengan wajah pucat takut ketahuan dengan Airin.
Tuan Bramantyo mengangkat bahunya dia tidak tahu kalau memang sudah tahu pasti dia tidak akan dimaafkan seperti pembicaraan mereka waktu itu. Tuan Bramantyo duduk kursi tepat di sampinh Kinanti.
"Jangan dipikirkan itu. Kalau dia tahu pasti Marcella tahu dan dia akan menendang aku. Tapi, jangan khawatir kalau pun ditendang aku punya perusahaan kecil dan perusahaan itu memakai uang perusahaan ini tidak ada yang tahu. Jadi, jika aku ditendang oleh wanita itu aku tidak jatuh miskin," jawab Tuan Bramantyo.
"Wah, kamu pinter Mas. Kamu sudah siapkan semuanya. Aku makin sayang kamu," ucap Kinanti bangga karena selingkuhannya bisa memiliki perusahaan sendiri.
Tuan Bramantyo melihat ada kotak berwarna pink di atas meja. "apa itu ?" tanya Tuan Bramantyo.
Kinanti menaikkan alisnya. "kamu nggak tahu Mas itu apa? Itu pemberianmu. Kamu tidak mengingatnya ya ? Atau kamu pura-pura mas?" tanya Kinanti yang tidak mengerti kenapa Tuan Bramantyo tidak mengakui kalau kotak yang ada di mejanya itu pemberian darinya.
"Masa sih dariku ? Soalnya aku tidak ada kasih itu ke kamu. Kamu yakin dariku bukan dari yang lain?" tanya Tuan Bramantyo yang curiga dengan Kinanti.
"Iya benar itu darimu. Aku tidak berbohong lihat saja tulisannya dari atas. Kado untukmu sayang dari kekasihmu B. Siapa lagi inisial nama B itu selain kamu, Sayang. Kamu jangan membuatku merasa dicurigai dunk. Aku tidak selingkuh, aku itu setia padamu," jawab Kinanti yang mengatakan kepada Tuan Bramantyo kalau dia tidak selingkuh dengan wajah masam.
Karena penasaran isinya apa, Tuan Bramantyo membukanya. Kinanti juga penasaran apa yang ada di dalam kotak tersebut saat dia membukanya terkejut ternyata ada boneka yang berlumuran darah dan ditempeli foto wajah Kinanti ada paku dan juga bangkai tikus yang sudah mati dan beberapa kain putih mengikat boneka tersebut seperti orang yang ingin dibunuh.
Isi kotak tersebut membuat Kinanti yang melihatnya menjerit dan dia membuang kotak tersebut. Tuan Bramantyo juga ikut terkejut dia tidak menyangka ada foto seperti itu di ruangannya.
"Dari mana kamu dapat semua ini, Kinanti. Siapa yang mengirimmu ini?" tanya Tuan Bramantyo yang juga ikut terkejut dan dia menjauh dari kotak yang sudah terlempar dan jatuh ke lantai.
"Aku sudah katakan ada kurir yang datang dan dia memberikan ini. Aku tidak membukanya karena aku pikir ini darimu. Aku ingin membukanya bersamaan denganmu. Aku juga tidak tahu kenapa bisa terjadi seperti ini. Sumpah demi Tuhan aku tidak tahu, mas," jawab Kinanti dengan wajah yang benar-benar ketakutan.
Dia menggigil karena baru kali ini dia mendapatkan kotak yang berisi bangkai tikus dan beberapa hal yang menurutnya sangat tidak wajar dia terima.
Tuan Bramantyo mengusap wajahnya dengan kasar dia tidak mengerti bagaimana bisa Kinanti mendapatkan itu. Padahal sudah jelas dia tidak pernah memberikan ini kepada Kinanti tapi Kinanti mengatakan kalau ini darinya.
"Sudah tenanglah dulu jangan berisik nanti didengar orang yang ada di luar. Sudah-sudah, aku akan panggilkan OB untuk membersihkan ini semua kamu tenanglah dulu," jawab Tuan Bramantyo yang memeluk selingkuhannya dan mengecup selingkuhannya agar tenang.
Dan barulah dia berdiri mendekati meja dan langsung menghubungi sekretaris untuk segera datang ke ruangannya. Tidak berapa lama sekretaris datang bersama OB.
Keduanya juga terkejut melihat apa yang terjadi. "cepat bersihkan ini dan ingat jangan sampai ada yang tahu. Ayo cepat bersihkan," perintah Tuan Bramantyo yang duduk di kursi kebesarannya.
Sedangkan Kinanti duduk di sofa yang biasanya untuk menyambut tamu. Dia hanya bisa diam dan menundukkan kepala tubuhnya benar-benar gemetar takut dengan teror yang terjadi.
Dia tidak mengerti siapa yang sudah melakukan ini kepadanya. Setelah selesai dan dibersihkan sampai tidak tersisa sedikitpun aroma dan ceceran darah di lantai serta di meja. OB dan sekretaris segera pergi.
"Mas, aku benar-benar takut aku tidak tahu harus seperti apa saat ini. Aku tidak ingin sampai ada teror kedua kalinya mas. Aku takut sekali. Tinggallah denganku di apartemen Mas." Kinanti meminta kepada Tuan Bramantyo untuk tinggal di apartemennya.
Namun Tuan Bramantyo tidak mungkin tinggal dengan Kinanti yang ada dia benar-benar ditendang dari rumah karena saat ini ada satu hal yang belum dia selesaikan setelah itu selesai barulah ia akan meninggalkan Marcella wanita yang sudah menerima semua kekurangannya. Walaupun dulu hubungan mereka ditentang oleh keluarga besar Marcella tapi tetap Marcella kekeh menerima dirinya.
Tapi sekarang malah dia berkhianat hanya karena kekuasaan.
"Tenang saja tidak akan ada teror lagi jika ada yang memberikanmu kotak seperti ini jangan diambil minta Security untuk membuangnya mengerti," tegas Tuan Bramantyo yang meminta kepada Kinanti untuk tidak menerima barang apapun.
"Kalau begitu aku pindah apartemen saja, Mas. Aku tidak ingin di situ karena aku yakin peneror itu pasti akan datang kembali. Bagaimana menurutmu. Apakah aku harus pindah rumah?" tanya Kinanti.
"Ya sudah kalau memang kamu mau pindah rumah kita akan cari nanti untukmu dan ingat kamu jangan memberitahukan di mana kamu tinggal,' jawab Tuan Bramantyo.
Kinanti menganggukkan kepala dia masih syok dengan apa yang terjadi. Tidak berapa lama Airin datang dia masuk ke ruangan ayahnya dan terkejut melihat Kinanti ada di ruangan tersebut dan wajahnya juga pucat.
Dia yakin kalau kotak tersebut sudah dibuka oleh Kinanti. Dengan sikap yang ramah Airin tersenyum ke arah Kinanti. Dan dia segera duduk tepat di depan ayahnya.
"Aku ingin tanya pekerjaanku di sini apa?" tanya Airin yang menanyakan posisinya di kantor ini di bagian apa.
"Kamu hari ini temui CEO yang akan bekerja sama dengan kita. Pergilah dengan Ella dia akan menemanimu. Negoisasi lah proyek resort kita dengan dirinya dan ingat kamu harus mendapatkan proyek itu," jawab Tuan Bramantyo.
"Baiklah aku akan pergi sekarang," jawab Airin yang segera pergi tanpa basa-basi.
Saat di luar Airin bertemu dengan Ella yang sudah menunggunya. Keduanya pun segera pergi ke perusahaan yang Tuan Bramantyo katakan. Sesampainya di perusahaan klien Airin dan Ella langsung diantar ke ruangan CEO yang sudah menunggu mereka.
Saat pintu ruangan terbuka Airin terkejut melihat siapa yang ada di depannya.
"Halo, Airin kita ketemu lagi," jawab pria tersebut dengan senyuman mengembang dan yang menyapa Airin tidak lain dan tidak bukan adalah Verrel.
"Mimpi apa aku semalam bertemu dengan pria tua ini," gumam Airin tapi masih didengar oleh Ella dan dia tersenyum mendengar Airin mengatakan Verrel pria tua.
Padahal Verrel termasuk pengusaha yang banyak diincar oleh wanita. Namun Airin malah sebaliknya tidak suka Verrel.
"Ayo, Sayang masuklah. Kenapa kamu datang ke sini. Apa kamu merindukanku sehingga kamu mencari alamat kantorku?" tanya Verrel yang sontak saja membuat Ella menoleh ke arahnya.
"Anda pacaran dengan Tuan Verrel, Nona?" tanya Ella yang memandangnya dengan lekat.