"Jadi, bagaimana bocil kamu setuju dengan apa yang aku katakan tadi?" tanya Verrel yang mengedipkan matanya ke arah Airin.
"Aku sudah katakan aku tidak mau. Jangan memaksa aku," jawab Airin dengan tegas.
Verrel meminta Airin untuk ikut dengannya bertemu dengan keluarganya dan mengakui kekasihnya. Bagaimana bisa dia bertemu dengan keluarganya di saat dia baru saja bertemu dengan Verrel belum juga satu hari Verrel sudah mengajaknya untuk datang ke rumah dan bertemu dengan ayah dan neneknya.
"Dan satu hal lagi jangan memaksa saya. Kita tidak ada ikatan sama sekali jadi jangan bermimpi untuk meminta saya datang ke rumah Anda, Om." Airin memanggil Verrel dengan om.
Dan Verrel yang tadinya tersenyum tiba-tiba terkejut. Begitu juga dengan Mohan dia menatap ke arah Verrel ternyata bocil ini berani juga. Dan bisa-bisanya dia memanggil Tuan Verrel dengan sebutan Om.
Verrel yang mendengar dirinya disebut Om marah. Apakah dia setua itu di mata bocil yang ada di depannya ini.
"Hei, dengar baik-baik bocil. Sejak kapan aku menikah dengan tantemu ?" tanya Verrel.
"Sejak tadi," sahut Airin.
Verrel melotot mendengar Airin malah menjawab apa yang dia tanyakan.
"Kenapa kamu menjawab pertanyaanku, Airin," geram Verrel dengan wajah yang kesal.
"Bukannya Anda yang bertanya tadi Tuan," sahut Mohan yang sontak saja membuat Verrel kesal.
Dia menoleh ke arah Mohan dengan sorot mata tajam dan dingin. Mohan yang keceplosan bicara langsung menutup mulutnya dia mundur selangkah ke belakang. Bisa mendapat amukan dari tuannya yang merupakan anggota gangster dan dia juga takut jika gajinya dipotong.
"Lihatlah, asistenmu saja sudah mengatakan apa yang ingin aku katakan. Sekarang sudah jelaskan om kalau begitu aku pergi dulu sampai jumpa lagi om," ucap Airin yang melambaikan tangan ke arah Verrel.
Dia cukup puas membuat Verrel mati kutu. Verrel tidak terima dengan yang dikatakan Airin. Verrel menarik ke arah baju Airin.
"Kalau begitu mulai saat ini kita pacaran," jawab Verrel dengan singkat, padat dan jelas.
Airin dan Mohan terkejut keduanya langsung teriak secara bersamaan.
"Apa? Pacaran!"
Teriakan keduanya membuat Verrel sangat puas dia memang tidak bisa membawa Airin tanpa ikatan. Dengan pacaran memudahkan dia membawa Airin ke keluarganya. Sekarang, Airin tidak akan bisa mengelak lagi. Karena dia dan Airin sudah ada ikatan.
Airin menepis tangan Verrel dengan kasar. "lepaskan tanganmu dari pakaianku dan ingat satu hal aku tidak akan datang ke rumahmu dan aku tidak akan jadi pacarmu. Aku tidak suka denganmu. Menjauh dariku 1 meter kalau perlu jangan memperlihatkan wajahmu di hadapanku mengerti!" tegas Airin yang meminta kepada Verrel untuk menjauh darinya.
Airin tidak mau dendamnya kepada Kinanti berhenti di tengah jalan karena percintaan.
Verrel tidak terima dengan jawaban dari Airin. Dia tetap kekeh meminta Airin menjadi kekasihnya.
"Aku tidak menerima penolakan. Aku tidak akan melepaskanmu dan aku tidak terima dengan jawabanmu itu. Aku tidak akan menjauh darimu 1 meter, dua meter, satu jengkal sekalipun tidak aku lakukan. Aku sudah ikrarkan kamu menjadi kekasihku di depan Dia."
"Mau tidak mau, suka atau tidak suka kamu menjadi kekasihku. Mengerti, Sayang!" Verrel dengan tegas mengatakan penolakan dia.
Verrel yang gemes menepuk kepala Airin seperti dia menepuk anak kucing.
Airin mengempalkan tangannya, dia tidak terima dengan keputusan sepihak dari Verrel.
"Dasar pria tua, pria aneh. Pacaran saja dengan wanita tua sana." Airin segera pergi meninggalkan Verrel.
Dia benar-benar tidak ingin dengan Verrel karena baginya Verrel akan menghambat balas dendamnya.
Melihat Airin pergi, Verrel tersenyum dia tidak menyangka kalau mendapatkan Airin itu sulit.
"Tuan maaf. Saya ingin bertanya Anda kenal dimana Nona bocil itu. Dan kenapa Anda memintanya untuk jadi kekasih Anda?" tanya Mohan.
"Saya kenalnya di rumah sakit semalam. Ada sisi lain yang saya sulit temukan dalam diri wanita lain. Makanya, saya ingin dekat dengannya. Ayo kita pergi," ajak Verrel.
Mohan menganggukkan kepala, dia mengikuti tuan pergi. Sedangkan Airin hanya bisa mengumpat, memaki Verrel. Airin tidak suka jika dirinya dipaksa untuk menjadi kekasih pria tersebut.
"Sudah tua, tidak tahu diri. Bisa-bisanya dia menjadiku kekasihnya. Sudah tidak tampan dan dia juga mempunyai pikiran yang sedikit aneh. Ahh! Dasar om -om tua bangka." Airin benar-benar kesal dia melampiaskan kekesalannya kepada tong sampah yang ada di depannya.
Airin menendang tong sampah hingga tumpah ke bawah. Melihat tong sampah tersebut tumpah Airin segera berlari. Airin segera pergi ke rumah sakit menemui ibunya.
Perjalanan menuju rumah sakit tidak sampai satu jam. Akhirnya Airin sampai di rumah sakit dia pun bergegas naik ke lantai dimana ibunya berada. Di lantai tepat kamar ibunya Airin yang hendak membuka pintu kamar ibunya tanpa sengaja mendengar suara dari ayahnya membentak ibunya yang sakit.
"Marcella, kamu tidak perlu mengizinkan Airin untuk bekerja di perusahaan itu. Jiwanya masih labil walaupun dia bagus di dunia pendidikan tapi belum tentu Airin bisa terjun ke dunia bisnis. Yang ada perusahaan itu akan bangkrut. Kamu mau jatuh miskin, Marcella? Mau kamu, hah?" tanya tuan Bramantyo dengan nada kencang ke istrinya Nyyonya Marcella untuk tidak menyetujui Airin bekerja di perusahaan tersebut.
Airin yang mendengarnya mengempalkan tangan dengan erat. Airin tidak menyangka kalau ayahnya masih saja tidak mengizinkan dia bekerja di perusahaan milik ibunya.
"Itu perusahaanku, kamu tidak berhak untuk melarang aku mengizinkan anakku bekerja di sana. Aku tahu kamu yang menjalankan perusahaan itu tapi kepemilikan itu punyaku."
"Aku yakin Airin bisa mengembangkan perusahaan itu menjadi lebih baik. Banyak anak muda yang bisa sukses jika kita memberikan akses kepada dia. Kamu jangan khawatir jika Airin tidak bisa maju Mas. Dia menuruni sifatku dan dia pasti bisa menjadi pengusaha hebat," jawab Nyonya Marcella yang masih kekeh mempertahankan Airin untuk bisa bekerja di perusahaan miliknya.
"Alah, turunanmu itu keras kepala dari dulu kamu tidak pernah mendengarkan apa yang aku katakan. Mana bisa sukses. Airin itu mengikuti jejakmu semuanya mengikuti sifatmu. Dia tidak mendengar apa yang aku katakan."
"Sekarang dia sudah menjadi pembangkang tidak lagi menurut dengan kata-kataku. Dia tidak santun lagi terhadap orang yang lebih tua. Semalam Airin berkata yang tidak pantas kepada Kinanti, padahal Kinanti sudah membantu kita selama ini tapi dia malah bersikap ketus kepada Kinanti. Anak itu benar-benar seperti kamu." Tuan Bramantyo marah dengan sikap Airin yang tadi malam.
Jadi dia melapiskannya kepada nyonya Marcella yang saat ini tengah sakit. Airin melihat ibunya memegang d**a semakin emosi dia tahu kalau ibunya kesakitan dan tidak sanggup menahan amarah ayahnya.
Airin tidak menyangka kalau ayahnya bersikap seperti itu kepada ibunya. Saat di depannya ayahnya sangat menyayangi ibunya tapi saat di belakang dia ibunya malah dibentak seperti itu tidak ada kelembutan sama sekali.
"Pria tua ini, sudah selingkuh dengan si pelakor itu sekarang malah bersikap arogan. Ternyata dia benar-benar tidak mencintai ibuku. Dia mencintai ibuku karena hartanya. Aku tidak akan membiarkanmu menyakiti ibuku terus-terusan. Kalian akan mendapatkan balasannya," gumam Airin yang segera masuk ke dalam kamar karena tidak sanggup melihat ibunya kesakitan.
Kedatangan Airin yang tiba-tiba membuat tuan Bramantyo dan nyonya Marcella terkejut. Terlebih lagi Tuan Bramantyo yang ingin memukul nyonya Marcella berhenti. Tangan yang sudah berada di atas pura-pura dia lakukan untuk mengusap rambut Nyonya Marcella sambil tersenyum.
Airin yang melihat perubahan dari tuan Bramantyo hanya bisa diam. Begitu juga dan ibunya. Sorot mata ibunya sangat sendu dan itu bisa dilihat oleh Airin.
"Sudah makan Ma? Mana bibi?" tanya Airin yang tidak melihat keberadaan dari Bibi Sumi.
"Bibi Sumi pergi ke bawah. Papa memintanya untuk makan. Dia tidak makan sedari tadi dan dia pasti lelah. Kebetulan papa lewat di sini jadi papa jagain mama sebentar. Bagaimana kuliahmu berhasil ujiannya?" tanya tuan Bramantyo.
Airin hanya berdehem kecil menjawab pertanyaan ayahnya. Airin tidak terlalu mempedulikan tuan Bramantyo yang bertanya kepadanya.
Nyonya Marcella melirik ke arah suaminya yang menahan amarah. "Airin, papamu bertanya bagaimana hasil ujianmu. Apa hasilnya baik? Kamu mengerjakan semuanya?" tanya Nyonya Marcella.
"Ya berhasil," jawab Airin dengan singkat.
"Airin, papa liat akhir-akhir ini kamu bersikap tidak baik. Apakah ini yang mamamu ajarkan padamu?" tanya Tuan Bramantyo.
Airin tersenyum dia menyangka kalau ayahnya malah melampiaskan kepada ibunya. "mama mengajarkanku dengan sangat baik makanya aku bisa seperti ini. Kenapa papa bertanya seperti itu. Apakah papa lupa sudah mengajarkanku banyak hal selama ini? Sepertinya, papa yang berperan besar mengajarkanku dan malah lebih banyak mengajarku daripada Mama," jawab Airin yang mulai sedikit mengintimidasi ayahnya.
"Apa maksudmu ? Aku mengajarkanmu banyak karena aku sebagai ayahmu. Aku mengajarkan yang terbaik tapi aku lihat kamu selalu ketus dengan tante Kinanti apa salah dia kepadamu? Katakan padaku biar aku memarahinya," jawab tuan Bramantyo yang pasang badan jika Kinanti berbuat salah maka dia akan marahinya.
Airin tertawa geli mendengar Tuan Bramantyo akan marah dengan Kinanti.
"Papa ingin marah dengan tante Kinanti? Apa papa bisa marah dengan dia ?" Pertanyaan Airin membuat tuan Bramantyo terdiam.
Tuan Bramantyo terlihat gugup, dia melirik ke arah istrinya yang juga menatapnya dengan tajam dan dengan senyuman palsu. Tuuan Bramantyo menganggukkan kepala.
"Tentu saja Papa akan marah dengan dia mana mungkin Papa tidak melakukan itu. Kamu itu anak papa darah daging papa. Tidak ada satu orang pun yang bisa menyakitimu termasuk Kinanti," jawab tuan Bramantyo.
"Sayang, kamu disakiti oleh Kinanti?" tanya nyonya Marcella.
Airin menatap ke arah ibunya dia ingin menjerit dan mengatakan kalau Kinanti bukan hanya menyakiti dirinya tapi menyakiti ibunya.
Apakah bisa ayahnya marah dan benci dengan Kinanti? Tidak. Sikap ayahnya ke ibunya saja seperti itu apalagi jika dia ungkapin semuanya. Mungkin dia akan dikurung.
"Tidak ada, tante Kinanti sangat baik dia terlalu baik sehingga aku sulit untuk mencari kesalahannya tapi jika dia melakukan kesalahan yang fatal maka aku sendiri yang akan turun tangan."
"Aku akan membuat hidupnya tidak tenang dan aku akan jadi orang yang akan dia takuti." Jawaban dari Airin membuat tuan Bramantyo dan nyonya Marcella terdiam.
Airin seperti orang yang berbeda dia tidak seperti Airin yang mereka kenal. Pada saat ini Airin terlihat seperti orang psikopat.
Tuan Bramantyo saja takut melihat anaknya dia mulai berpikir bagaimana kalau perselingkuhannya diketahui oleh Airin maka bukan hanya Kinanti saja yang akan menjadi tumbal Airin tapi dia juga akan ikut terseret.
"Airin apapun kesalahan orang kepada kita jangan sampai kamu melakukan kejahatan seperti mereka. Karena mama tidak mengajarkanmu untuk membalas kesalahan atau kejahatan orang lain kepadamu. Ingat Airin karma itu ada kalau kamu disakiti serahkan kepada Tuhan biarkan waktu yang akan menentukan hukuman apa yang pantas untuk mereka."
"Intinya, kamu berbuat baik saja karena Tuhan akan bersama dengan orang-orang yang melakukan kebaikan. Apa kamu mengerti?" tanya Nyonya Marcella dengan mata yang berkaca-kaca mengingatkan kepada anaknya untuk tidak berbuat kejahatan kepada orang yang sudah menyakitinya.
Tuan Bramantyo terdiam dia tidak menyangka perkataan dari Nyonya Marcela mencubit hatinya dia juga takut akan mendapatkan karmanya namun dia sudah terlanjur selingkuh dengan Kinanti sahabat dari istrinya.
Apakah dia akan menghentikan perselingkuhan ini atau tidak. Karena jujur dari hati yang paling dalam rasa cintanya kepada Kinanti begitu besar mengalahkan rasa cintanya kepada Nyonya Marcella.
"Baik, Ma. Aku akan mendengarkan kata-katamu aku ingin tanya satu hal kepadamu jika pasanganmu selingkuh apakah kamu memaafkannya dan memberikan dia kesempatan untuk memperbaiki ?" tanya Airin yang lagi-lagi melirik ke arah ayahnya yang saat ini terlihat semakin gugup dengan pertanyaan dari Airin.
Nyonya Marcella tersenyum dia menggelengkan kepala. "jika pasanganmu selingkuh jangan pernah memaafkannya karena jika sekali dia selingkuh dan dimaafkan maka dia akan melakukannya lagi karena di dalam benaknya kata maaf bisa dia ucapkan kembali jika dia melakukan kesalahan yang sama. Jadi lepaskan dia jangan maafkan dia apa kamu mengerti?" tanya Nyonya Marcella yang dijawab oleh Airin dengan menganggukkan kepala.
"Jadi kalau papa selingkuh mama juga tidak akan memaafkan juga dunk?" tanya Airin dengan senyum menyeringai dan senyuman Airin terlihat menakutkan di mata Tuan Bramantyo.