“Apel pagi lo yang pimpin, Put,” titah Reza. Lelaki yang sedang menaruh barang-barang ke atas meja itu mengedipkan matanya sebelah begitu melihat Putra yang tampak enggan.
“Lo yang bener aja, sih! Gua gak pernah jadi pemimpin gila!”
“Ya kali waktu SMA gak pernah ikut upacara. Pasti tahu tahapannya kali,” ujar Reza.
Putra mendengkus sebal. “Wahyu aja, dah. Dia dulunya kan ketua OSIS,” jawab Putra yang masih enggan. Selain tidak bisa menjadi pemimpin upacara karena belum pernah, Putra juga tidak terbiasa berdiri di hadapan banyak orang. Belum lagi apel kali ini dihadiri langsung oleh ketua yayasan. Putra semakin tidak percaya diri.
“Ya ilah, cuman jadi pemimpin doang. Siap gerak, hormat, istirahat sama maju buat laporan. Gitu doang,” celetuk Wahyu yang hapal.
Reza yang mendengarnya langsung tersenyum misterius dan menatap Wahyu yang membulatkan mata.
“Gak usah aneh-aneh lo, Za! Gua penanggung jawab! Gak bisa jadi pemimpin!” tolak Wahyu bahkan sebelum Reza meminta. Mendengarnya Reza hanya bisa menghela napas pelan. Lelaki itu melihat sekitar lapangan yang mulai penuh dengan mahasiswa baru. Beberapa dari mereka sudah siap dengan segala perlengkapannya. Beberapa lagi masih sibuk mengobrol dan sisanya sedang asik sarapan.
“Gak ada lagi yang mau, Put,” ujar Reza memelas. Lelaki itu menatap Putra dengan tatapan memohon.
“Zayan masih hidup, tuh,” tunjuk Putra pada salah satu anggota yang sedang berjalan. Lelaki dengan jas dan juga celana jeansnya itu menoleh kala Putra menunjuk. Kedua halisnya terangkat begitu Reza juga ikut melihat ke arahnya.
“Yan, dulu lo ketua OSIS bukan?” tanya Reza yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Zayan.
“Bukan, Za. Anggota doang,” jawabnya dan duduk di sebelah Wahyu yang sibuk memilih pita.
“Pernah upacara kan di sekolah lo?”
Zayan menganggukkan kepalanya pelan. “Iyalah. Tiap hari senin,” jawabnya lagi tanpa merasa curiga.
“Oke. Lo jadi pemimpin apel sekarang,” putus Reza dan mengambil satu topi sebelum memberikannya pada Zayan. Yang mana jelas membuat lelaki itu bangkit dan menatap terkejut pada topi yang Reza berikan.
“Eh, apaan?! Gak mau! Gua gak bisa!” tolak Zayan seraya mengembalikkan topi yang ia pegang pada Reza. Namun dengan cepat Reza mengangkat tangannya. Membuat topi itu mau tak mau masih dipegang oleh Zayan. “Gak lucu, Za. Gak mau gue! Yang lain aja. Lagian udah ada strukturnya, kan buat apel skearang?”
“Putra! Mau kemana lo?!”
Reza dan Zayan sama-sama menolehkan kepala begitu mendengar Azkia yang berteriak memanggil Putra. Reza mengepalkan tangannya seraya menarik napas panjang. Putra kabur dan berlari entah menuju kemana. Lelaki itu pasti enggan melaksanakan tugasnya setelah melihat banyaknya anak-anak yang berbaris.
“Gak ada lagi yang mau, Yan. Bantu gue sebentar aja. Gue gak bisa jadi pemimpin hari ini,” ucap Reza memohon. Zayan melihat ke arah lapangan sesaat sebelum mengangguk pelan dengan terpaksa. Membuat senyum Reza mengembang sempurna. Lelaki itu menepuk bahu Zayan sekali sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya.
“Buat yang masih makan, segera habiskan, ya! Yang sudah siap, silakan berbaris sesuai dengan penanggung jawabnya!” Suara keras yang berasal dari speaker di sebelah Reza itu menggema di tengah lapangan. Mengintruksikan kepada para mahasiswa baru yang sejak tadi sudah datang untuk segera berbaris. Reza menoleh pada Azkia yang sedang memegang mic. Ternyata perempuan itu yang mengambil alih.
“Hitungan 5 sudah selesai! 1! 2! 3!..”
Para mahasiswa baru secepat kilat berbaris dan mendatangi penanggung jawabnya masing-masing. Suara Azkia yang menggelegar bukan main itu membuat beberapa mahasiswa ketakutan. Ditambah dengan Azkia yang sejak tadi menunjukkan wajah dinginnya. Menambah aura tajam yang dimiliki gadis itu.
“4! 5!” ucap Azkia sebelum menjauhkan micnya dan menunjuk beberapa anak perempuan yang masih duduk anteng di atas bangku semen. Azkia menggerakkan tangannya, meminta agar gadis-gadis itu segera masuk ke barisan mereka. Namun, bukannya mengikuti perintah Azkia, para perempuan itu justru bangkit dengan malas-malasan. Beberapa juga ada yang memainkan kuku. Seolah menyepelekan perintah dari Azkia.
“Kalian bukan miss Indonesia! Gak usah sok cantik!” ucap Azkia dan mendatangi para gadis itu dengan langkah panjangnya. Para gadis itu langsung bergegas berjalan mendatangi kelompoknya sebelum Azkia sampai. Reza yang melihat itu tidak bisa menahan tawanya. Azkia dengan segala ketegasan yang perempuan itu miliki memang tidak ada tandingannya.
Merasa semua sudah berbaris dan ketua yayasan juga sudah datang, Reza segera memanggil Azkia dan yang lain untuk berkumpul. Lelaki itu mengatur beberapa posisi yang terlihat tidak pas.
“Lo sama gue jaga di belakang anak-anak. Takut ada yang pingsan,” titah Reza pada Azkia yang dijawab dengan dengkusan pelan.
“Lemah banget apel gak sampe sejam pada pingsan,” cibir gadis itu. Azkia yang memang terlatih keras oleh ayahnya, mencebik sebal begitu melihat Wahyu dan Zayan yang menggelengkan kepala.
“Mereka gak sama kaya lo, Kia. Lo sih dibanting juga masih berbentuk,” jawab Wahyu. Azkia yang mendengarnya jelas langsung mendelik tidak terima.
“Jaga-jaga aja. Kita kan gak tahu anak mana yang fisikinya lemah. Anak kesehatan juga udah siap di belakang, kan?” Reza menatap Frizka yang memang salah satu dari anak kesehatan yang Reza maksud. Frizka melihat ke arah lapangan sebelum mengangguk kecil.
“Sudah, Kak.”
“Oke. Kalau gitu langsung masuk ke barisan masing-masing aja. Zayan yang jadi pemimpinnya. Kalau ada yang nyari gue atau Azkia, kita ada di belakang.”
“Harap tenang. Apel pagi akan segera dilaksanakan!” ucap seseorang di depan sana yang berhasil membuat lapangan seketika senyap.
Apel pagi atau lebih sering dikenal dengan upacara singkat itu berlangsung dengan khidmat. Walau masih ada beberapa anak yang mengobrol, semuanya terlihat lebih baik dari perkiraan Reza. Sayangnya, tidak dengan kondisi fisik mereka. Baru beberapa menit apel dilaksanakan, sudah ada yang pingsan. Seperti sekarang contohnya.
Reza yang melihat gerak-gerik mencurigakan di depannya langsung menghampiri barisan. Lelaki itu menatap salah satu perempuan yang terlihat pucat dan menahan tubuh dengan mencengkram rok SMAnya yang memang menjadi pakaian hari ini.
“Kamu gak pa—“
Belum selesai Reza berbicara, gadis itu langsung limbung ke belakang. Membuat Reza sigap menahan tubuh kecil di depannya dan meminta agar anak-anak yang lain mundur ke belakang beberapa langkah. Lelaki itu menatap anggota BEM yang lain. Mereka tampak tidak melihat ke arahnya. Reza lalu melambaikan tangan pada Azkia yang sedang melihat sekitar.
“Bantu!” ujar Reza tanpa suara. Azkia yang mengerti bergegas memanggil anggota kesehatan dan menghampiri Reza. Perempuan itu membantu Reza mengangkat tubuh kecil yang Reza sanggah ke atas tandu. Entah karena tubuhnya yang kecil atau memang Reza yang sudah terbiasa mengangkat tubuh yang lebih besar dari ini, membuat lelaki itu tidak begitu kesulitan.
“Kalau ada yang gak enak badan, jangan diem. Balik badan, minta bantuan sama yang dibelakang. Belajar mandiri!” ujar Azkia pada anak-anak yang menatap ke arahnya. Reza yang melihat Azkia kesal dengan sigap merangkul bahu gadis itu dan membawanya pergi setelah melihat salah satu MABA mengangguk pelan.
“Jangan marah mulu,” ujar Reza dengan suara lirihnya. Azkia yang mendengar itu bergegas melepaskan lengan Reza dan menatap lelaki di depannya dengan delikan tajam.
“Gak digituin manja semua!”