Motor hitam Reza berhenti tepat di depan sebuah rumah berwarna putih. Pagar hitam yang bersela itu menjulang tinggi. Menutup halaman depan rumah besar di belakangnya. Reza mengulurkan tangannya kala merasakan Azkia akan turun dari motor. Lelaki itu tak lupa membantu Azkia agar bisa menapak tanah dengan nyaman. Matanya menatap Azkia yang tampak sedang membenarkan letak rok selututnya sebelum akhrinya mendongkak.
“Thank’s,” ucap gadis itu sebelum bergegas untuk masuk ke dalam rumahnya. Baru akan membuka gerbang di depannya, tangan Azkia lebih dulu ditarik Reza. Membuat gadis itu kembali berbalik dan menatap Reza yang kini tengah tersenyum. “Apa?”
“Bayarannya?” pinta Reza dengan halis yang terangkat. Azkia memutar bola matanya malas sebelum bersedekap pelan dan mendekat ke arah Reza. Gadis itu menatap sebentar wajah Reza yang masih tersenyum lebar. Lalu tanpa aba-aba gadis itu berjinjit kecil dan mengecup pipi Reza. Membuat sang empunya terdiam kaku dengan mata membulat. Bibirnya yang sejak tadi tersenyum langsung kembali ke tempatnya semula.
“Udah. Sekali lagi makasih,” ujar Azkia dengan santai lalu masuk ke dalam rumahnya. Meninggalkan Reza yang masih tidak bisa memahami apa yang baru saja terjadi. Lelaki itu memegang jantungnya yang berdegup kencang sebelum melihat ke arah pagar rumah Azkia yang sudah tertutup sempurna.
Gila! Azkia sejak dulu tidak berubah, ya?! Dulu, ketika ia masih berpacaran dengan Azkia, gadis itu memang cukup agresif. Tapi, apa sekarang juga harus se-agresif ini?
“Za!”
Reza mengedipkan matanya beberapa kali, lelaki itu menolehkan kepala pada Putra dan Wahyu yang kini berada di samping motornya.
“Baru sampe lo?” tanya Putra pada Reza yang masih terdiam. Lelaki itu membuka kaca helmnya sebelum memiringkan kepala. Melihat ke arah Reza yang seolah jiwanya menghilang entah kemana. “Za?!”
“Hah? Apa?” tanya lelaki itu dan menatap Putra dengan linglung.
“Lo kenapa?”
Reza segera menggelengkan kepalanya dan kembali menyalakan mesin motornya. Membuat Putra mengernyitkan kening dalam.
“Udah beli pizza lo?” tanya Wahyu begitu melihat motor Reza yang kosong.
“Ntar gojek-in aja. Gua gak sempet. Tadi tengah jalan hujan,” jujur Reza. Ia memang sempat meneduh sebentar saat hujan turun di tengah jalan.
“Lo beneran kagak kenapa-napa?” tanya Putra yang dijawab dengan anggukan pelan oleh Reza.
“Mau langsung ke rumah Naza?” Reza menatap Wahyu yang mengangguk. Lelaki itu langsung tancap gas menuju rumah Naza. Reza cukup tahu bahaya dekat dengan Putra yang tahu semua sifatnya. Sekarang Putra juga pasti sedang menyelidiki keanehannya. Putra cukup peka terhadap hal-hal yang seharusnya tidak menjadi urusan lelaki itu. Terutama dengan Reza.
“Perasaan gua aja apa emang ada yang aneh sih, Yu?” tanya Putra yang dijawab dengan kedikan bahu oleh Wahyu. Lelaki itu kembali melajukan motornya. Menyusul Reza yang jauh di depan saja. “Masa gua doang yang ngerasa aneh, sih?”
Wahyu menghela napasnya. “Dia kan emang udah aneh dari awal juga, Put. Nganterin Azkia pulang aja udah jadi hal aneh. Lo aja yang baru nyadar.”
Putra mengedipkan matanya. Benar juga. Kenapa kelakuan Reza hari ini sangat membingungkan, sih?
***
“Yang daftar tahun ini kayanya lebih banyak dari tahun kemarin, ya? Sampe ada 11 kelompok.”
Lelaki yang sedang sibuk dengan stik gamenya itu menolehkan kepala sesaat sebelum mengangguk kecil. “Orang waktu pendaftaran online PMBnya aja bagian operator sampe kewalahan.”
“Gila, sih. Gua yang waktu itu bagian nerima berkas aja sampe dua kardus penuh. Belum lagi sama yang ikut tahap kedua,” tambah Wahyu.
“Peminat paling banyak jurusan mana?” tanya Naza seraya memasukkan beberapa kertas ke dalam map di tangannya.
“Biasa. Fakultas ekonomi sama fakultas kedokteran.”
“Banyak yang cantik di kelas nanti, Za,” goda Wahyu yang mendengar ucapan Putra. Lelaki itu menyenggol lengan Reza yang masih asik dengan permainannya.
“Yang cantik tahun kemarin juga banyak,” jawab Reza tanpa minat. “Cantik tapi gak ada akhlaknya buat apa?”
Wahyu dan Putra tertawa keras mendengar jawaban Reza. Tanpa akhlak yang Reza maksud jelas karena kebanyakan perempuan cantik di kedua fakultas itu selalu membuat Reza jatuh dengan permainan mereka. Di mana Reza akan menjadi permainan para perempuan yang mengikuti TOD. Entah permainan itu siapa yang memulainya duluan, namun semua perempuan cantik di kampus seolah sudah paham siapa yang menjadi targetnya.
Meski begitu, rumor tentang Reza yang menjadi bahan mainan perempuan tidak pernah menyebar sekalipun. Justru rumor buruk tentang Reza yang mempermainkan banyak wanitalah yang melambung sampai saat ini. Reza sendiri bingung kenapa hal itu bisa terjadi. Reza jadi merasa ternistakan sendiri.
“Pinter dikit kalau nyari perempuan, Za,” ujar Naza yang ikut duduk di sofa bersama Wahyu. Lelaki itu menggelengkan kepala melihat Reza yang tampak acuh. “Perempuan gak bisa didiemin aja.”
“Gua malah lebih penasaran sama dalangnya. Siapa, dah? Perasaan dulu kagak ada yang kaya gini. Gua nanya ke kakak tingkat aja kagak ada yang sampe semalang Reza.”
Naza menolehkan kepala pada Putra. Menganggukkan kepala, Naza setuju dengan apa yang dipikirkan lelaki di depannya. Mengingat apa yang Reza alami bukan hanya satu atau dua kali, pasti semua ada akarnya. Entah siapa yang menjadi ketua dari semua ini, yang pasti perempuan itu cukup paham dengan sifat Reza. Reza yang lemah di depan perempuan seakan dimanfaatkan oleh sosok ini.
“Lo sebelumnya pernah nyakitin cewek kagak, Za?” tanya Wahyu yang dijawab gelengan Reza.
“Mana bisa Reza nyakitin cewek. Dia deket cewek aja udah kaya slime, anjir!” Putra menepuk kepala Wahyu sekali. Membuat lelaki itu terkekeh pelan.
“Iya, sih. Tapi apa alesannya coba buat Reza kaya gini?”
Naza menghela napas pelan. Lelaki itu mendekatkan wajahnya pada Reza sebelum menatap Reza yang tidak terganggu sama sekali. Mata Reza masih fokus pada layar televisi besar di depannya. “Lo yakin gak pernah, Za?” tanya Naza.
Reza menganggukkan kepalanya pelan. “Siapa yang pernah gua sakitin? Gua liat mereka aja gak bisa ngapa-ngapain. Boro-boro nyakitin, mau bentak aja takut gue,” jawab Reza apa adanya.
Naza terdiam. Ia kembali duduk dengan benar. Kepalanya bersandar pada sofa dengan netra yang menatap langit-langit kamarnya. Apa yang Reza katakan benar adanya. Lelaki itu tidak mungkin berbohong. Tapi, melihat semua yang sudah terjadi, entah kenapa Naza merasa jika ini ada sangkut-pautnya dengan Reza yang melakukan kesalahan. Seolah sosok yang menjadi dalang ini memiliki sesuatu yang tidak bisa dilupakan dari Reza.
“Orang iseng kan gak mungkin sampe beberapa kali,” ucap Putra.
“Tapi bisa aja, Put. Mereka yang jadiin Reza target karena denger dari orang lain yang udah nyoba. Rumor kan bisa nyebar gitu aja. Apalagi di kalangan perempuan.”
“Bisa jadi,” jawab Naza yang sependapat dengan Wahyu. “Mereka bisa aja deketin Reza dan ngaku itu TOD karena pengen terkenal.”
“Kaya Frizka maksud lo?” tanya Reza yang akhirnya kalah dan menatap para temannya. Lelaki itu mencomot satu anggur dari piring sebelum melihat ke arah Naza yang sedang mengeryitkan kening.
“Buat sekarang lo jangan deket sama siapa-siapa dulu deh, Za,” saran Wahyu. “Bukannya apa-apa, lo harus balikin nama lo dulu. Masa ada anak baru, nama lo masih jelek.”
Putra tertawa kecil. “Muka dia doang yang gak jelek. Nama, sifat sama kebiasaannya udah jelek dari lahir, Yu,” kelakar lelaki itu dan tertawa semakin keras saat Reza melemparnya dengan satu buah anggur.
“Kalau dulu lo gak pernah kaya gini? Pacaran waktu dulu aman-aman aja?” tanya Naza. Lelaki itu tampaknya masih belum puas dengan jawaban dari para temannya. Ia masih penasaran dengan pertanyaan Putra mengenai dalang dari semua ini. Karena jika dipikirkan kembali, semuanya tidak mungkin bisa terjadi tanpa rencana yang matang.
Mengingat sosok Reza juga yang semudah itu berbaur dengan para gadis di kampusnya, membuat kejanggalan itu semakin jelas terlihat. Dan yang paling menonjol adalah, kenapa lelaki itu harus berurusan dengan para perempuan yang cantik fisiknya saja? Kenapa perempuan biasa dan tidak mencolok di kampus mereka tidak ikut mendekati Reza?
“Aman-aman aja. Gak pernah kaya gini.”
Naza terdiam. Kenapa rasanya Naza mencurigai seseorang ya?