“Bagian makanan aja lo semua pada semangat!” cibir Reza. Lelaki itu menatap kedua temannya yang kini menyengir lebar seraya berjalan di belakangnya. Kedua mata Reza memutar malas saat Putra memukul tangannya ala-ala perempuan alay.
“Makanan nomor satu, Za. Di mana-mana juga mikirinnya makanan dulu.” Reza mendengkus sebal. Padahal awalnya Putra dan Wahyu enggan pergi menemaninya ke rumah Naza. Namun setelah mendengar ia yang akan membelikan makanan untuk keduanya, lelaki yang menjadi teman Reza itu dengan cepat menjawab akan menemani Reza kemanapun Reza akan pergi.
“Lo kagak balik, Kia?”
Reza menolehkan kepala saat mendengar Wahyu baru saja bertanya pada perempuan yang berdiri di depan gerbang pakir. Halis Reza terangkat sebelah melihat siapa yang kini berdiri seraya memegang payung.
“Ujan udah reda dari tadi. Lo ngapa, Kak Kia?” tanya Putra saat melihat payung basah itu masih terbuka.
“Biarin. Gimana gua aja. Lagian ini masih gerimis kecil,” jawab perempuan itu dan menengadahkan tangannya. Merasakan rintik hujan yang memang hanya turun sedikit. “Lo bertiga baru mau pada pulang?”
Reza yang merasa tidak memiliki urusan dengan perempuan itu memilih berjalan menuju motornya. Lelaki itu sesekali mendengarkan percakapan antara Wahyu dan Azkia. Keduanya memiliki umur yang sama dan berasal dari SMA juga kelas yang sama. Hanya saja Azkia langsung berkuliah setelah lulus, sedangkan Wahyu memilih vakum satu tahun karena harus pergi ke luar negeri bersama orang tuanya.
“Lo biasanya dijemput. Mana si tante?” tanya Wahyu yang dijawab dengan kedikan bahu oleh Azkia. Wahyu yang melihatnya langsung mengangkat halis. “Ribut lagi lo sama nyokap? Parah lo. Nyokap lo udah jauh-jauh balik ke sini juga.”
Azkia menatap ke arah lain seraya mencebik. “Gak usah ceramahin gue. Lagian suruh siapa pulang? Gua gak minta pulang,” jawab Azkia seraya menghindar dari tatapan mata Wahyu.
Putra yang juga merasa ini bukan urusannya memilih untuk mendekati Reza. Ia akan menumpang dengan lelaki itu. Melihat Reza yang juga tidak memiliki orang untuk dibawanya bersama, membuat Putra merasa jika lelaki itu memang sengaja mengosongkan jok belakang untuknya.
“Emang temen terba—“ Putra tidak lagi melanjutkan ucapannya kala motor besar Reza melewatinya begitu saja. Lelaki itu mengernyitkan kening dan menatap motor Reza yang justru berhenti di depan Wahyu dan Azkia.
“Gua bawa motor, Za,” jawab Wahyu yang merasa jika Reza berhenti di depan mereka karena ingin memberikannya tumpangan.
“Naik,” titah Reza dengan tangan yang terulur pada Azkia. Membuat Wahyu dan Putra yang melihat itu langsung membulatkan mata. Lelaki itu benar-benar baru mengajak Azkia naik? Yang benar?!
Menjadi teman Reza sejak pertama kali orientasi sampai saat ini, Putra dan Wahyu jelas tahu bagaimana hubungan antara kedua manusia itu. Azkia yang dulunya menjadi kekasih Reza itu memang terkenal cukup dekat dengan Reza bahkan setelah menjadi rasa sakit pertama Reza di kampus. Perempuan dengan tinggi 168 cm itu mengangkat sebelah halisnya pada Reza sebelum bersedekap.
Reza memang baik. Semua jelas tahu itu. Reza juga tidak pernah memandang saat akan melakukan kebaikan. Sekalipun pada orang yang pernah membuat lelaki itu jatuh. Namun, bukankah ini berlebihan?
Reza dan Azkia memang sempat dirumorkan menjadi musuh setelah putus tahun lalu. Dan keduanya seolah membenarkan rumor itu dengan tidak terlalu dekat juga bertemu hanya ketika hal penting harus dibicarakan. Namun melihat Reza yang kini tampak dengan senang hati membawa Azkia naik lagi ke atas motornya, membuat siapapun pasti berfikir jika lelaki itu masih memiliki perasaan pada Azkia.
“Lo minta bayaran apa?” tanya Azkia yang paham dengan kebaikan Reza. Gadis itu memang tidak begitu dekat dengan Reza, namun ia cukup tahu dengan maksud Reza yang berbuat baik padanya. Reza dengan segala akal bulusnya itu memang menjadi sosok yang Azkia ingat. Reza tidak mungkin mengajaknya naik ke atas motor hanya untuk alasan mengantar pulang. Ditambah dengan hubungan keduanya yang tidak sebaik itu.
“Nanti gua pikirin,” jawab Reza dan menggerakan tangannya yang terulur. “Mau naik gak?”
“Gua gak mau berurusan sama Frizka kalau lo lupa,” jawab Azkia dan menerima uluran tangan Reza setelah menutup payungnya. Gadis itu naik ke atas motor dengan hati-hati. Karena memakai rok span di bawah lutut, Azkia harus bisa merapatkan kakinya dengan baik.
“Rumah dia searah sama Naza. Lo berdua duluan aja. Gua sekalian mau beli makanan dulu,” ucap Reza dan menutup kaca helmnya begitu Wahyu mengangguk kecil menanggapi ucapannya. Melihat ke belakang sekali untuk memastikan Azkia yang sudah duduk dengan benar, Reza lalu menjalankan motornya. Meninggalkan Wahyu yang menghela napas dan Putra yang menggelengkan kepala.
“Temen lo emang gak bisa dibiarin, Put,” ujar Wahyu dan berjalan menuju motor maticnya. Lelaki itu menatap Putra yang hanya bisa mengangguk kecil.
“Gua juga gak paham sama otak tuh anak. Dari kemarin, ada aja kelakuannya yang buat gua kaget sama gak nyangka punya temen kek dia.”
“Azkia emang gak gampang baper dari dulu. Tapi kalau keseringan baik, gak bener juga.” Putra mengangguk setuju. “Apalagi dia baru putus dari Frizka, kan? Bisa ada rumor lagi nanti. Untung sekarang yang di kampus gak banyak.”
“Entar gua omongin dah di rumah. Kemarin aja bales chat Azkia kek lagi bales orang penting. Gercep banget.” Putra mengambil helm yang Wahyu sodorkan seraya menghela napas.
“Reza yang terlalu baik apa kita yang gak paham sama tuh anak, sih?”
“Dua-duanya, Yu. Dahlah, kita ke rumah aja. Gua mau rebahan,” ucap Putra dan naik ke atas motor Wahyu setelah lelaki itu mengeluarkannya dari parkiran.
“Bisa dimarahin Naza dia kalau liat yang tadi.”
Putra terdiam. Benar. Naza bisa saja mengatakan kalimat menyakitkan untuk Reza jika lelaki itu melihat apa yang baru saja terjadi. Mengingat Naza tidak akan menahan ucapannya saat sudah kesal. Naza lebih tahu dari siapapun mengenai Reza dan Azkia. Bahkan lelaki itu tahu apa yang dulu menjadikan Reza akhirnya memilih menyerah dengan Azkia.
Singkatnya yang Putra ketahui, Azkia dulu memacari Reza karena lelaki itu menjadi salah satu anak tertampan dan cukup terkenal di kalangan mahasiswa baru. Dan entah dari siapa, Azkia mendapat tantangan untuk memacari Reza. Gadis itu seakan diberi jalan mulus karena Reza cukup penurut kala menjadi mahasiswa baru. Reza tidak sebebas sekarang. Lelaki itu jelas tidak enak untuk menolak Azkia dan memilih untuk mencoba menyukai Azkia.
Hari demi hari mereka lalui layaknya pasangan pada umumnya. Berkencan, menonton bioskop bersama, makan malam bahkan Azkia sampai mengenalkan Reza pada keluarganya yang cukup keras dan tidak begitu akur. Namun tak lama, Azkia tiba-tiba saja meminta Reza untuk memutuskannya dan memberitahu semua kebenaran mengenai dirinya yang bertaruh. Reza yang kala itu memang sudah menyukai Azkia tidak terima dan terus mengejar gadis itu sampai Azkia merasa muak dengan kelakuan lelaki itu.
Dan kalian jelas tahu apa yang menjadi akhirnya. Azkia memutuskan untuk menjauh dari Reza dan mengganggap lelaki itu tidak ada. Yang lebih menyakitkan adalah saat Reza berkunjung ke rumah Azkia, lelaki itu melihat dengan jelas Azkia yang sedang berciuman dengan seorang lelaki. Seakan memberitahu pada Reza jika lelaki itu benar-benar hanya mainan Azkia.
Setelah hari itu, Putra tidak tahu apa yang terjadi dengan Azkia juga Reza. Hanya Naza yang tahu. Karena kebetulan rumah Azkia berada di komplek yang sama dengan tempat Naza tinggal. Lelaki itu juga cukup dekat dengan keluarga Azkia karena berasal dari SMA yang sama.
“Gua kok takut ya liat dia deket sama Azkia lagi, Put?” tanya Wahyu.
Putra diam. Ia tidak bisa menjawab sebab ia pun merasakan hal yang sama. Ketakutan Wahyu dan dirinya jelas beralasan. Ia dan Wahyu tidak ingin Reza merasakan sakit yang sama dan kejadian menyedihkan yang sama juga. Sekalipun lelaki itu memang selalu menerimanya dari beberapa wanita di kampus, setidaknya dengan perempuan berbeda rasa sakitnya tidak akan sebesar dengan orang yang sama.
“Kayanya harus kasih tahu Naza, Put.”
“Jangan,” jawab Putra seraya menggelengkan kepala. “Dia cuman mau anterin Kia doang. Kalaupun ada apa-apa, tuh anak pasti cerita sama gua.”
“Atau.. ada yang mau diomongin sama Azkia kali. Masalah orientasi nanti?”
“Kayanya,” jawab Putra mencoba berfikir positif. Semoga aja begitu.