L_I_M_A.

1279 Words
“Sendirian aja?” Perempuan yang sibuk dengan makanannya itu menolehkan kepala. Matanya membulat begitu melihat siapa yang sedang duduk di sampingnya saat ini. “Kak Reza?” “Gue bolehkan ikut di sini?” tanya Reza dan melambaikan tangannya pada teman-temannya yang masih mencari bangku. Lelaki itu tersenyum manis pada adik tingkatnya yang kini hanya bisa mengangguk kecil. “Masih ada kelas hari libur gini?” “Iya, Kak. Biar semester depan gak begitu banyak.” Reza menganggukkan kepalanya pelan. “Gak pusing?” Perempuan di samping Reza itu menggelengkan kepalanya pelan. “Alhamdulillah nggak, Kak.” “Otak lo sebelas dua belas sama dia, Na,” ucap Reza pada Naza yang baru duduk di depannya. Naza mengangkat alisnya bingung. Lelaki itu menatap datar perempuan di samping Reza sebelum mengedikan bahunya acuh. “Jangan baik-baik, Dek. Nanti kena sama rayuan buaya,” bisik Putra pada perempuan di sampingnya. Lelaki itu tertawa begitu melihat Reza yang langsung mendelik kecil. Lelaki itu tampak merasa tersinggung dengan apa yang baru saja Putra katakan. “Buaya apa, Kak?” tanya perempuan itu dengan polos. Putra semakin tertawa puas mendengar pertanyaan polos yang dilontarkan perempuan di depannya. “Masa nggak tahu buaya yang dimaksud, Dek? Itu, yang duduk di pinggir kamu,” jawab Wahyu. Lelaki itu menunjuk Reza dengan sendoknya. “Oh, buaya itu. Kak Reza bukan buaya, Kak. Kak Reza baik, kok.” Reza dengan spontan mengibaskan rambut panjangnya yang memang dibiarkan terurai. Lelaki itu lalu merangkul perempuan di sampingnya sebelum mengangkat kedua alisnya naik turun pada Putra. “Lo jangan suka menyebar rumor yang nggak baik, Put. Semua orang juga tahu kalau gue baik. Iya, nggak, Dek?” Perempuan di samping Reza itu mengangguk malu. Naza yang melihatnya hanya bisa memutar bola mata malas. Bagaimana Reza tidak dipermainkan perempuan? Lelaki itu saja sudah handal dalam mendekati perempuan seperti saat ini. Memang hanya Reza yang bisa melakukan ini semua. Lulusan S1 jurusan pergombalan perempuan. “Mending lo abisin makanan lo sekarang, Za. Gue nyerah, dah kalau liat lo yang kagak mau insyaf,” seru Putra yang akhirnya menyerah menggoda Reza. Sebab, pasti Reza yang akan menang nantinya. Dengan wajah tampan dan kepopuleran yang sudah diketahui banyak orang, Reza jelas akan menang. Apalagi yang membelanya kali ini adalah perempuan. Putra sih cukup angkat tangan. “Baru juga putus dari Frizka, udah gandeng yang lain. Cepet juga lo, Za,” ujar Zayan yang datang bersama anggota yang lain. Lelaki yang saat ini mencari tempat duduk itu menggelengkan kepala melihat tangan Reza yang masih merangkul perempuan di sampingnya. “Iyalah, Yan! Mana bisa dia betah buat ngejomlo kaya yang lain,” timpal Wahyu. “Gak gitu juga, kali!” “Ya lagian, ketemu perempuan bening dikit langsung sikat. Alasannya pasti tempat duduk di kantin,” ucap Zayan yang sudah hapal dengan taktik Reza. “Jangan sampe tergoda, Mar. Lo kalau udah kena, nggak akan dilepas nanti. Sakit hati loh, kalau deket sama Reza.” “Mana ada, anjir!” seru Reza tidak terima. “Gue ini baik hati dan tidak sombong. Mana bisa nyakitin cewek.” “Alah, paling sekarang doang lo ngomong gitu. Besok jadian, seminggu kemudian juga udah putus. Udah biasa itu!” ucap anggota yang lain. Perempuan di samping Reza langsung melepaskan tangan Reza dan bergerak menjauh. “Eh, jangan didenger, Mar. Masa omongan mereka lo denger? Sirik doang mereka, tuh!” “Sirik, p****t lo bolong! Jangan mau deket sama dia, Mar. Lo bentar lagi juga ditinggal,” kompor Putra yang sempat menyerah tadi. Ada teman satu kubunya, sih, Putra gas saja! Maria. Perempuan yang duduk di samping Reza itu melirik Reza sesaat sebelum bergerak menjauh. “Maria duluan ya, Kak. Masih ada kelas.” Reza yang melihatnya langsung menatap tajam Wahyu, Zayan dan Putra bergantian. Lelaki itu mengepalkan tangannya melihat Maria yang sudah pergi. Sedangkan Zayan dan anggota lain langsung mencari tempat duduk lain—yang pastinya jauh dari Reza dan yang lain. Takut melihat Reza yang mungkin akan mengamuk. “Lo sih, ah! Gak seru! Gue kan udah bilang, jangan gangguin gue kalau deketin cewek!” kesal Reza pada Wahyu. “Jangan keliatan banget kalau mau deketin dia, Za. Lo baru putus dari Frizka. Ya kali langsung cari yang baru?” Wahyu menggelengkan kepalanya. “Bener-bener cap buaya.” “Lo gak liat emang tato di belakang lehernya. Baru itu. Sekarang gambarnya ganti jadi buaya,” ujar Putra sebelum tertawa melihat Reza yang mengangkat kepalan tangannya. “Tahan ngejomlo segitu susahnya, Za?” tanya Naza yang sejak tadi diam. Lelaki itu terkekeh melihat delikan tajam yang Reza berikan padanya. “Bukan susah, Na. Sepi aja gitu hati gue kalau nggak ada yang khawatirin,” ucap Reza dengan mimik wajah yang didramatisir. “Gue gak bisa hidup tanpa cinta, Na. Tidak terbiasa.” “Najis!” ucap Wahyu dan Putra bersamaan. Kedua lelaki itu bergidik ngeri melihat Reza yang tersenyum miring dan menaik turunkan alisnya. “Tahan sampe anak baru ada kan bisa.” Naza menyuapkan satu potong ayam ke dalam mulutnya. Lelaki itu menggelengkan kepala melihat Reza yang langsung menunduk lesu. “Siapa tahu ada yang lebih cantik, kan?” “Iya kalau ada yang lebih cantik. Kalau nggak ada? Ya kali gue harus ngejomlo terus?” Putra menghela napas sebal. “Di otak lo isinya cintaaa mulu. Heran banget gue sama lo.” “Udah otaknya cinta mulu, tapi nilai dia masih aja bagus. Antara pinter sama hoki,” tambah Wahyu. Reza tertawa mendengarnya. Reza tidak seperti temannya yang bisa mendapatkan nilai dengan berjuang keras. Otak lelaki itu seakan diatur agar bisa pintar dengan sendirinya. Reza tidak pernah belajar. Reza juga tidak pernah mengulang pertanyaan atau mengulang pelajaran yang sudah ia terima. Namun, setiap kuis dadakan atau ujian menunggu, nilainya tidak pernah turun. Seolah Tuhan memang menakdirkannya seperti ini. “Tapi, Za.” Putra mendongak. “Kayanya lo harus berhenti deket sama cewek dulu, deh. Ada mata-mata di belakang lo.” Reza dengan santainya mneolehkan kepala ke belakang. Lelaki itu mengernyit saat tak menemukan mata-mata yang Putra maksud. Sedangkan Putra yang melihatnya langsung memukul belakang kepala Reza dengan tangannya. “Si b**o! Malah liat ke belakang!” marah Putra. “Sumpah, lo gak ada bener-benernya ngomong sama, nih anak, Put. Emosi.” Reza yang dipukul memberenggut sebal. “Kan lo bilang tadi ada mata-mata di belakang gue. Ya gue langsung liat, lah!” “Ya tapi gak sekarang juga, dodol!” Reza menyengir lebar. “Gue takut mata-mata bokap, Put.” Wahyu mendengkus. “Susah, sih kalau berurusan sama anak konglomerat. Bawaannya waspada mulu.” Putra mengangguk mengiyakan. “Ya gitu tiap hari kegiatan gue, Yu.” Reza mencebik tak terima. Lelaki itu sesaat menatap ke arah Naza yang tampak anteng dan diam. “Lo nggak capek diem mulu, Na?” tanya Reza yang penasaran dengan keterdiaman Naza. Sekalipun ia sudah terbiasa dengan keterdiaman lelaki itu, tetap saja rasanya aneh melihat Naza yang seolah nyaman untuk tidak mengucapkan sepatah katapun. “Lo salah, Za. Harusnya Naza yang nanya sama lo. Kagak capek lo nyari cewek mulu, Za?” Naza yang tadi diam langsung tertawa kecil. “Kagaklah!” jawab Reza dengan semangat. “Jangan deket dulu, Za. Reputasi lo harus baik sampe nanti orientasi.” Wahyu dan Putra mengangguk setuju mendengar ucapan bijak dari Naza. “Kali aja ada yang lebih baik lagi waktu nanti di orientasi, kan? Apalagi kalau udah bening-bening.” “Iya, ya?” Reza mencoba berfikir. “Bisa gak, ya, gue tahan sampe orientasi?” Putra menggeram. “Orientasi tinggal seminggu! Tahan gak deket cewek seminggu aja ribet banget!” Reza menyengir dan menggaruk tengkuknya kecil. “Iya, dah. Enggak akan gue deketin cewek lagi, kalau gue inget.” “Harus ingetlah, anjir!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD