Rintik hujan turun begitu deras. Membasahi tanah pagi ini. Reza yang baru bangun dari tidurnya itu menatap keluar sebelum akhirnya kembali menarik selimut dan memejamkan mata. Rasa malas yang datang sejak membuka mata membuat lelaki itu enggan untuk beranjak dari atas kasur. Sekalipun sudah mendengar teriakan keras dari Putra yang terus memanggilnya dengan suara khas lelaki itu.
“Lo gak bangun gua lapor kakak lo, ya!” Ancam Putra seraya menggelengkan kepala melihat tubuh Reza yang sepenuhnya ditutupi oleh selimut.
Reza yang mendengarnya hanya mengibaskan tangan dan kembali menutup rapat tubuhnya. Baru akan kembali menyelam ke alam mimpi, selimut yang baru lelaki itu pegang sudah lebih dulu ditarik oleh Putra.
“Bangun, kebo! Lo harus ngurus buat orientasi nanti!” teriak Putra lagi. Lelaki itu menarik kaki Reza dan membawanya ke depan kamar mandi. Reza yang merasa kesal langsung bangkit dan menarik kembali kakinya.
“Lo gak waras, ya? Dingin ini, Anjing! Gua udah bilang batalin pertemuannya!” ucap Reza seraya kembali merangkak menuju kasur. Putra yang tidak percaya kembali menarik kaki Reza dan membawa lelaki itu ke arah kamar mandi. “Lepasin kaki gue, Putra!”
“Gak ada pemberitahuan apapun di grup. Gak usah ngebohong lo sama gue. Mandi sana!” Titah Putra dan melempar handuk yang semula ada di pundaknya itu pada Reza. Membiarkan Reza yang duduk di depan pintu kamar mandi menatapnya dengan kesal. Putra benar-benar seperti mengurus bayi besar. Ia tidak tahu jika ternyata Reza bisa benar-benar menguras emosinya.
Walau sudah sering melihat kelakuan lelaki itu yang memang persis seperti anak kecil, tetap saja kesabarannya masih belum terbiasa. Apalagi saat melihat Reza yang merajuk seperti saat ini. Mungkin ini yang ditakuti oleh kakak Reza saat tahu lelaki itu tinggal bersama orang lain? Bukan karena takut Reza terkena sesuatu, sepertinya sang kakak takut merepotkan orang lain karena sifat adiknya ini.
“Gua gak usah mandi, Put. Gua tinggal pake minyak wangi aja. Semua orang kagak bakal tahu gua gak mandi,” ucap Reza dan bangkit. Lelaki itu memasuki kamar mandi tanpa menutup pintunya. Tangannya mengambil sikat gigi dengan tulisan Reza.A. di sana sebelum mengoleskan pasta gigi pada sikatnya.
Putra yang melihatnya tak bisa untuk tidak menggeleng. Terserah lelaki itu akan melakukan apa. Yang terpenting Putra sudah berhasil membangunkan lelaki itu. Salah satu tugasnya sejak Reza menetap di kosannya. Lelaki itu tidak tahu akan sampai kapan ia membangunkan Reza agar bisa datang ke kampus tepat waktu. Seperti sekarang contohnya.
“Gua jangan pake saos, ya!” ujar Reza dari dalam kamar mandi begitu mendengar suara kompor yang dinyalakan. Putra yang mendengarnya hanya bisa menghela napas pelan.
Kenapa bisa anak perempuan di kampus begitu menyukai sosok Reza? Padahal segudang keburukan begitu melekat pada lelaki itu. Sampai-sampai Putra sendiri tidak tahu harus melakukan apa untuk tetap menutup aib temannya satu ini. Semua orang hanya tahu jika Reza adalah sosok yang sempurna dan begitu didambakan setiap perempuan. Padahal kenyataannya tidak begitu. Reza yang mandiri, sangat setia dan begitu disiplin adalah hal palsu yang pernah Putra ketahui. Kebohongan nyata dari seorang manusia!
“Lo kalau mau ngajak ribut jangan pagi-pagi!” ujar Putra saat merasakan seseorang di belakangnya. Ia jelas tahu apa yang akan Reza lakukan di belakang tubuhnya. Lelaki itu lebih mirip anak berumur 10 tahun dibandingkan sosok dewasa dengan tato di leher.
“Kayanya lo udah terbiasa gua kagetin, ya?” tanya Reza dan mengusap rambutnya yang sedikit ia basahkan saat mencuci muka.
“Sarapan lo bikin sendiri. Gua ada perlu.” Putra membawa satu piring berisikan dadar telur dan nasi goreng buatannya. Tanpa menawari Reza atau mungkin menyisakan setidaknya satu piring untuk lelaki itu, Putra dengan santai duduk lesehan dan mulai menyantap sarapannya. Reza yang melihat itu semua jelas tidak terima.
“Kan biasanya lo yang buatin sarapan, Put,” ujar Reza seraya duduk di sebelah Putra. Matanya menatap televisi yang menayangkan kartun doraemon. Kartun kesukaan Reza dan juga Putra setiap pagi di hari libur seperti sekarang.
“Gua lagi mager. Harus berangkat juga.”
Reza menolehkan kepala pada Putra. Tanpa merasa bersalah atau mungkin meminta izin pada sang empunya, tangan Reza dengan santai mencomot sebagian nasi goreng di atas piring Putra.
“Mau kemana lo? Kan ada rapat sekarang,” tanya Reza dan kembali memakan nasi goreng buatan Putra sebelum terdiam begitu melihat Putra yang mendelik. “DIkit doang gua mintanya. Sensi banget sih lo? Biasanya juga kagak aneh gua minta. Kan lo tau gua gak bisa masak.”
“Belajar sono!” titah Putra dan menarik piringnya saat Reza akan kembali mengambil nasi goreng buatannya itu.
“Ngapain? Nanti juga kalau punya istri mereka yang masakin buat gue. Capek banget kalau gua harus bisa masak juga. Terlalu sempurna juga gak baik, Put.”
Putra mencebik mendengar lelaki itu yang selalu bisa menjawab. Dan jawabannya akan selalu sama jika Putra menanyakan hal yang sama juga. Memang ya, orang-orang yang memiliki paras bukan main terkadang otaknya agak harus diasah. Seperti Reza contohnya.
“Ada kerjaan baru. Hari ini wawancaranya. Gua izin dulu ya!”
“Lo masih nyari kerja?” tanya Reza yang diangguki pelan oleh Putra. “Ngapain?”
“Enak banget lo bilang ngapain. Gua gak kaya lo yang gak harus mikirin keluarga makan apa atau gimana biayain adik lo. Lo mah tinggal angkat kaki juga masih bisa makan direstoran,” jawab Putra yang berhasil membuat Reza menyengir lebar. Lelaki itu menyenggol lengan Putra yang kini tampak kesal.
“Kan gua udah bilang, gua aja yang kirimin uang. Lonya gak mau terus tiap gua kirimin.”
“Gua gak suka hutang budi sama lo. Nanti lo ungkit-ungkit terus, kan berabe. Gua gak bisa balikin duit lo,” ujar putra yang berhasil membuat Reza menatapnya sebal.
“Kalau gua itungan kaya yang lo pikirin, dari dulu udah gua itungin apa aja yang harus lo bales. Pernah gua mikir kaya gitu? Pernah gua mikir lo harus gantiin?”
Putra menarik napas panjang. Lelaki itu menepuk sekali bahu Reza sebelum bangkit. “Emang gak pernah. Tapi gua yang gak enak. Udahlah. Gua mau berangkat dulu. Angkat noh telepon. Dari semalem udah kaya buronan.”
Reza langsung melirik ke arah ponselnya yang memang sedang bergetar itu. Ia melihat nama yang tertera di sana sebelum mendengkus kecil. Terlalu malas mengangkatnya, Reza dengan cepat menolak panggilan itu sebelum bangkit dan mengambil pakaian dari dalam lemari.
“Lo kalau masih sempet datang aja ke kampus, Put. Gua kayanya harus ngurusin yang lain juga. Ada yang bawa-bawa masalah pribadi.”
Putra yang baru akan keluar dari kosan itu menengok sebentar pada Reza sebelum mengangguk kecil. Ia paham dengan maksud Reza. Berpamitan dengan berteriak, Putra lalu pergi begitu melihat ojol pesanannya sudah ada di depan.
Sedangkan Reza yang saat ini sedang berganti pakaian itu melirik sedikit pada ponselnya yang kembali berdering. Merasa sudah tidak memiliki kesabaran, Reza langsung mengangkat panggilan itu dan membiarkan seseorang di sebrang sana berbicara.
“Kak Reza tumben belum datang? Anak-anak yang lain udah kumpul,” ujar perempuan di sebrang sana dengan santai. Reza menarik napas panjang dan melihat sekitar. Hujan sudah mulai mereda.
“Bentar lagi gue sampe,” jawab Reza lalu mengambil jaket levisnya yang tergeletak di atas kasur sebelum mengambil minyak wangi. Lelaki itu menyemprotkan sebanyak yang ia bisa sebelum keluar dari kosan dengan kunci motor dan kunci rumah.
“Oke. Kalau gitu Frizka tutup dulu ya, Kak.”
Tanpa harus menjawab, Reza langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku. Lelaki itu mengunci rumah dan mencoba membukanya kembali. Saat knop pintu di depannya sudah terkunci, Reza bergegas menaiki motornya seraya memakai helm.
“s**t!” umpat lelaki itu saat merasakan bokongnya basah. Ia lupa jika motornya berada di luar sejak tadi. Sudah pasti air hujan itu mengenai joknya. Menggeram kecil, Reza mencoba mengabaikan apa yang sudah terjadi. Lelaki itu memilih menghidupkan motornya dan membelah jalan menuju kampus.
Reza Adyada Risolv. Anak terakhir yang menjadi salah satu pewaris di keluarganya. Cukup terkenal karena tampang dan juga prestasi yang dimiliki lelaki itu. Namun sayangnya, Reza juga cukup terkenal karena reputasi lelaki itu yang sangat mudah menaklukan hati perempuan. Ketenaran lelaki itu tidak hanya dibidang akademik dan non-akademik. Dan hal itu yang terkadang membuat Reza malas untuk pergi ke kampus. Sayangnya tahun ini ia menjadi ketua acara orientasi mahasiswa baru.
Sungguh hal yang sangat membagongkan. Belum lagi wakil ketuanya adalah mantannya ketika ia masih menjadi mahasiswa baru dulu. Azkia Lemania namanya. Perempuan yang pertama kali menjadikan Reza sebagai mainannya di kampus. Reza rasanya tidak bisa berkata-kata lagi jika mengingat kenangan percintannya di kampus untuk yang pertama.
“Za!” panggil Naza. Lelaki jangkung yang memiliki paras sebelas dua belas dengan Jeff Satur itu melambaikan tangannya pada Reza. Seolah memberitahu jika ia sedang menunggu Reza di sana. Mengangguk kecil, Reza lalu memutar stang motornya menuju Naza sebelum memparkirkannya di sebelah motor matic lelaki itu.
“Mana Putra?” tanya Naza dan melihat sekitar.
“Ada wawancara kerjaan dia. Udah datang semua?” tanya Reza balik seraya melepaskan helmnya. Naza mengangguk pelan.
“Udah.”
“Oke. Langsung ke dalam aja.”