“Kakak pulang dulu!”
Reza menganggukkan kepala dengan semangat. Lelaki itu tersenyum manis saat lambaian tangan dari keponakannya terlihat. “Hati-hati, Kak.”
“Awas aja kalau gak bilang sama Papa!” Reza menganggukan kepala lagi. Kali ini anggukan kepala lelaki itu terlihat lemas dan ogah-ogahan. Ciama yang melihat itu langsung menatap tajam sang adik.
“Terima kasih sudah membantu Reza selama ini. Kalau ada yang diperlukan, jangan sungkan untuk menghubungi saya atau istri saya,” ucap suami Ciama pada Putra dengan tegas. Putra dengan semangat mengangguk. Lelaki dengan kaos hitamnya itu mengambil kertas yang disodorkan dan menatap dengan terkejut isi dari kertas tersebut.
“Kok isinya cek?” tanya Putra dan menatap pria di depannya. “Saya kira nomor telepon Om.”
“Itu untuk kebutuhan kamu yang dipakai Reza selama ini. Sekali lagi makasih bantuannya ya, Put. Tolong jaga Reza,” ujar Ciama yang akhirnya dengan cepat diangguki oleh Putra.
“Siap, Kak! Kalau dia berulah, saya videokan. Nanti saya kirim sama Kakak.”
Ciama mengangkat ibu jarinya setuju dan mengeluarkan ponselnya. Perempuan itu lalu menyebutkan nomornya pada Putra begitu melihat Putra yang mendekat. Sedangkan Reza yang ada di depan pintu hanya bisa menatap malas teman satu kamarnya itu. Tangannya mengepal. Ia kira Putra bisa diajak kerja sama. Ternyata sama saja dengan sang kakak.
“Terima kasih, Kak,” ujar Putra dan menundukkan kepala hormat. Lelaki itu lalu mundur beberapa langkah kala mobil di depannya mulai bergerak maju.
“Emang laknat jadi temen lo!” marah Reza saat Putra kembali.
“Bukan laknat, Za. Hidup itu butuh duit. Lo yang tinggal gesek atm mana tahu hidup susah.”
“Tapi gak sekongkol sama Kakak gua juga, dong! Dia ribet orangnya! Bisa tambah runyam kalau dia kasih tahu sama bokap gue!”
Putra menepuk bahu Reza sekali. “Gampang. Lo tinggal cari kosan lain. Gua kan gak bisa kasih bahan kalau lonya aja gak ada,” jawab Putra dengan tenang. Reza yang mendengarnya langsung mendelik.
“Enak di lo!”
Putra tertawa keras. “Nah, lo tau itu.”
Reza menggerekkan bibirnya asal seraya mencebik. Lelaki itu kemudian kembali masuk ke dalam rumah yang diikuti oleh Putra. Keduanya langsung terduduk di lantai. Putra melirik pada Reza yang mengambil rokok dan mulai menghisapnya kala api dari korek membakar ujung rokok tersebut.
“Lo bisa hidup enak dari dulu, kenapa harus nyoba susah sih, Za?” tanya Putra yang sadar dengan kondisi keluarga Reza. Temannya yang dulu ia pungut di tengah jalan karena tak sengaja tertabrak olehnya itu adalah salah satu anak dari keluarga berpengaruh. Memiliki sifat yang manja dan suka dengan ketenangan, tiba-tiba saja lelaki itu berubah menjadi mandiri dan suka keributan. Segala hal yang dulu mendarah daging dalam diri Reza seakan dibuat lenyap oleh keadaan.
Tapi ada satu hal yang tidak Putra mengerti. Keluarga Reza baik-baik saja. Orang tuanya baik dan keluarga besarnya begitu perhatian. Kakak perempuan lelaki itu juga tidak seperti yang Putra bayangkan. Lantas, apa yang membuat lelaki itu berubah menjadi seperti sekarang?
“Kadang ada di bawah lebih tenang daripada dipandang orang,” jawab Reza dan mematikan rokoknya kala ponsel di saku celananya berdering.
“Hidup udah serba ada, masih aja nyari perkara sama kemiskinan.”
Reza tertawa. “Kalau ada yang rumit, kenapa harus yang gampang?”
Putra mencebik. Lelaki itu mendekat ke arah Reza dan menatap layar ponsel temannya yang terlihat dari kejauhan. Bibir tipis Putra langsung tersenyum dan melirik Reza yang tampak biasa saja.
“Masih chattan sama mantan, Za?” godanya dan menaik turunkan halis kala Reza menoleh padanya.
“Ngomongin buat acara orientasi nanti,” jawab Reza dan memperlihatkan isi pesan onlinennya dengan Azkia. Salah satu kakak tingkat di kampus Reza yang berbeda satu tahun. Perempuan yang pernah menjadi kekasih Reza ketika lelaki itu baru memasuki bangku perkuliahan.
“Aktif banget kayanya nanya sama lo. Padahal catetan sama yang lainnya udah dia pegang,” sewot Putra. “Masih suka sama lo, tuh.”
Reza tertawa kecil. “Biarin,” jawab lelaki itu tenang.
“Lah, anak orang suka malah disuruh dibiarin!”
“Ya terus gua harus gimana? Dulu juga dia yang mutusin. Kalau emang masih suka, jangan dimainin.”
Putra mengangguk seraya menepuk tangannya ke atas. “Hebat banget ucapan Pak Buaya ini ya, Bund.”
“Tapi emang bener, kan?” tanya Reza yang diangguki Putra.
“Iya, Zaa… lo selalu bener. Gak akan pernah salah.”
“Kata siapa?”
“Itu, dia bales lagi,” ucap Putra mengalihkan pembicaraan. Reza yang mendengarnya kembali melihat layar ponsel dan langsung membalas pesan yang dikirimkan oleh Azkia.
Putra terdiam beberapa saat. Wajahnya kemudian menoleh ke arah Reza sebelum sedikit menjauh. Dari apa yang baru saja Putra lihat, ia sepertinya paham kenapa banyak sekali perempuan yang mudah menipu Reza atau perempuan yang suka dengan lelaki itu. Sebab apa yang dilakukan Reza saja sudah sangat berpengaruh.
Lelaki itu baru saja membaca pesan yang dikirimkan lalu langsung membalas tanpa pikir panjang. Seolah pesan mereka adalah yang utama dari seorang Reza. Padahal alasannya bukan karena itu. Putra yakin seratus persen. Reza membalas mereka secepat kilat karena takut dirinya dianggap tidak baik dalam mengerjakan sesuatu. Reza siperfeksionis dalam segala hal adalah sosok yang Putra kenal.
Reza memang tidak bermaksud membuat para perempuan berharap pada lelaki itu, tapi kebiasaan Reza yang selalu mudah memberikan jawaban dan juga perhatian, terkadang sedikit berlebihan. Reza terlalu baik dalam hal yang tidak benar untuk perasaan perempuan.
“Za,” panggil Putra yang dijawab gumaman oleh Reza. “Lo kalau bales kebiasaan langsung cepet gitu, ya?”
Reza menolehkan kepala dan mengangguk. “Iya. Dari dulu papa gue gak suka kalau lama dibales. Kasian juga kalau dibalesnya lama. Buat apa didiemin, kan? Siapa tahu itu penting.”
Putra menggelengkan kepalanya pelan. “Tapi itu bisa buat salah paham sama yang lain loh, Za. Mereka bisa aja mikir yang nggak-nggak.”
“Maksudnya? Gua kan cuman bales chat cepet aja. Kenapa harus mikir yang nggak-nggak?”
Mengusap wajahnya kasar, Putra semakin paham kenapa otak lelaki itu mudah sekali dibodohi. Apa Reza benar-benar tidak paham dengan kelakuannya itu?
“Za, saran gue, kalau emang hidup lo mau tenang, sedikit berubah deh. Inget, Za, perempuan mainnya perasaan, bukan logika kaya kita.”